Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Pagi itu belum benar-benar beranjak siang ketika Rionegro kembali memutar setir mobilnya menjauh dari area rumah sakit.
Bangunan tinggi itu perlahan mengecil di kaca spion. Pintu masuk yang tadi menjadi titik perpisahan singkat mereka kini kembali dipenuhi aktivitas seperti biasa—perawat yang keluar masuk, ambulans yang datang, dan orang-orang dengan wajah penuh harap.
Rionegro tidak langsung memacu mobilnya cepat.
Ia membiarkannya melaju pelan.
Entah kenapa… suasana pagi tadi masih tertinggal jelas di kepalanya.
Cara Yusallia tersenyum tipis saat duduk di depannya. Cara dia berbicara yang tenang tapi tidak dibuat-buat. Dan bagaimana percakapan sederhana itu terasa… cukup.
Tidak berat.
Tidak canggung.
Tapi juga tidak kosong.
Rionegro menghela napas pelan, lalu sedikit menggeleng.
“Cuma kebetulan,” gumamnya singkat, seolah mencoba menutup pikirannya sendiri.
Lampu lalu lintas di depannya berubah merah. Ia berhenti.
Tangannya mengetuk pelan setir mobil, ritme yang tidak ia sadari.
Beberapa detik kemudian, lampu berubah hijau.
Mobilnya kembali melaju.
___________________________________________
Apartemennya tidak terlalu jauh dari sana.
Gedung tinggi dengan desain modern, lobby yang selalu rapi, dan suasana yang… tenang. Terlalu tenang, bahkan.
Ia memarkir mobilnya di basement, lalu berjalan menuju lift dengan langkah santai.
Pintu lift terbuka.
Kosong.
Seperti biasa.
Ia masuk, menekan tombol lantai tempat unitnya berada, lalu bersandar ringan.
Suara mesin lift yang halus memenuhi ruang kecil itu.
Dan lagi-lagi… pikirannya tidak sepenuhnya kosong.
Nama itu muncul lagi.
Yusallia.
Ia menghela napas kecil.
“Ganggu banget sih…” gumamnya pelan, tapi tanpa benar-benar merasa terganggu.
Lift berhenti.
Pintu terbuka.
Ia keluar, berjalan menyusuri koridor yang sunyi, lalu berhenti di depan pintunya.
Bunyi klik pelan terdengar saat ia membuka kunci.
Dan begitu masuk—
Hening.
Apartemen itu rapi. Terlalu rapi untuk ukuran tempat tinggal seseorang yang sibuk. Tidak banyak barang. Tidak banyak dekorasi. Semuanya terlihat fungsional.
Tidak ada yang benar-benar “hidup”.
Rionegro meletakkan kunci mobil di meja dekat pintu, lalu membuka kancing kemejanya satu per satu sambil berjalan ke dalam.
Ia menuju kamar.
Mengganti pakaian.
Menyiapkan diri.
Semua dilakukan dengan ritme yang sudah terbiasa.
Cepat. Efisien. Tanpa banyak jeda.
___________________________________________
Tidak butuh waktu lama sampai ia kembali keluar dari apartemen.
Kali ini dengan tampilan yang sedikit lebih formal.
Kemeja yang lebih rapi. Sepatu yang sudah dipoles bersih. Jam tangan di pergelangan tangannya kembali terpasang dengan presisi.
Ia masuk ke mobilnya lagi.
Mesin menyala.
Dan kali ini, arah tujuannya jelas—
Kampus.
___________________________________________
Jam menunjukkan hampir pukul sembilan ketika mobil Rionegro memasuki area Universitas Indonesia.
Suasana sudah ramai.
Mahasiswa berjalan berkelompok. Beberapa terlihat terburu-buru. Beberapa lagi santai, tertawa kecil di pinggir jalan.
Rionegro memarkir mobilnya seperti biasa.
Langkahnya tenang saat berjalan menuju gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Beberapa mahasiswa yang mengenalnya menyapa.
“Pagi, Pak!”
“Pagi,” jawabnya singkat, tapi tidak dingin.
Ia masuk ke dalam gedung, menuju ruang kelasnya.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri di depan kelas.
Puluhan mahasiswa duduk di hadapannya. Buku terbuka. Laptop menyala. Beberapa sudah siap mencatat.
Rionegro menatap mereka sebentar.
Lalu mulai.
“Hari ini kita lanjut ke topik sebelumnya—ekonomi pembangunan, khususnya tentang ketimpangan distribusi pendapatan.”
Suaranya tenang.
Tidak terlalu keras. Tidak terlalu pelan.
Tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu fokus.
Ia berjalan perlahan di depan kelas, sesekali menulis di papan.
“Kalau kita bicara pembangunan, kita tidak hanya bicara pertumbuhan ekonomi. Tapi juga… bagaimana hasil dari pertumbuhan itu didistribusikan.”
Ia berhenti sebentar.
Menatap mahasiswa di depannya.
“Karena pertumbuhan yang tinggi tidak selalu berarti kesejahteraan yang merata.”
Beberapa mahasiswa mengangguk.
Beberapa lainnya mulai mencatat lebih serius.
Rionegro melanjutkan penjelasannya dengan ritme yang stabil.
Tidak terburu-buru.
Tapi juga tidak bertele-tele.
Ia sesekali melempar pertanyaan. Membuat kelas tetap hidup.
“Kalau menurut kalian, apa indikator yang bisa kita gunakan untuk mengukur ketimpangan ekonomi?”
Seorang mahasiswa mengangkat tangan.
“Gini ratio atau yang disebut juga koefisien gini, Pak. Lalu, bisa juga kurva Lorenz, Rasio Palma, Rasio Pendapatan, Indeks Theil, dan terakhir tingkat kemiskinan dan distribusi aset, Pak."
Rionegro mengangguk kecil.
“Betul.”
Ia menuliskan istilah itu di papan.
“Dan dari situ kita bisa melihat… seberapa besar kesenjangan yang terjadi di suatu negara.”
Kelas berjalan lancar.
Tanpa hambatan.
Seperti biasa.
___________________________________________
Waktu berlalu tanpa terasa.
Dan ketika jam hampir menunjukkan akhir sesi—
“Baik, kita cukupkan sampai di sini untuk hari ini.”
Suara kursi bergeser.
Buku ditutup.
Mahasiswa mulai keluar satu per satu.
Rionegro merapikan catatannya.
Menghapus sebagian papan tulis.
Lalu mengambil tasnya.
___________________________________________
Waktu sudah menunjukkan siang hari.
Matahari di luar terasa lebih terik dibanding pagi tadi.
Rionegro berjalan keluar dari gedung, menuju parkiran.
Tepat saat ia hendak membuka pintu mobilnya—
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Savira.
Ia mengangkat panggilan itu.
“Halo.”
Di seberang sana, suara Savira langsung terdengar santai seperti biasa.
“Lo di kampus sekarang?”
Rionegro membuka pintu mobilnya, lalu masuk.
“Iya.”
“Udah kelar ngajar?” tanya Savira di telpon.
“Barusan.” Jawab Rionegro singkat.
Savira terdengar menghela napas ringan. “Pas banget.”
Rionegro menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kenapa?” tanya Rionegro mengernyitkan dahinya, meskipun tidak terlihat oleh Savira.
“Makan siang yuk. Di cafe biasa.” ajak Savira di telpon.
Rionegro melirik jam sebentar.
Tidak ada jadwal mendesak setelah ini.
“Boleh.” jawab Rionegro.
Savira langsung tertawa kecil. “Tumben lo nggak banyak mikir.”
“Laper.” jawab Rionegro lagi. Singkat dan Padat.
“Alasan klasik,” goda Savira.
Rionegro mendengus kecil. “Lo juga kan.”
“Ya jelas,” jawab Savira santai. “Gue udah nungguin dari tadi.”
Rionegro menyalakan mesin mobil.
“Yaudah, gue ke sana.”
“Cepetan.”
“Iya.”
“Jangan lama-lama, gue udah pesen minum duluan.”
Rionegro sedikit menggeleng.
“Lo nggak berubah.”
Savira tertawa kecil di seberang sana. “Makanya lo cepet.”
“Iya.”
“Gue tunggu.”
Panggilan terputus.
___________________________________________
Rionegro meletakkan ponselnya ke saku.
Kemudian, keluar dari mobilnya lagi. Ia memilih berjalan menuju cafe yang sudah terlalu sering mereka kunjungi dan dekat dengan fakultasnya itu.