bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sesuatu yang berbeda
Beberapa waktu setelah itu—
makanan sudah habis.
Namun mereka tidak banyak bergerak.
Arabella masih berada dalam pelukan Yoga.
Seolah di sanalah satu-satunya tempat ia merasa aman saat ini.
Tangannya masih menggenggam baju Yoga.
Sementara Yoga tetap memeluknya erat.
Sesekali ia mengusap punggung Arabella dengan pelan.
“Semua akan baik-baik saja…”
Bisiknya berulang kali.
Arabella tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk kecil di dada Yoga.
Menahan tangis yang kembali naik.
Waktu terus berjalan.
Detik demi detik terasa sangat panjang.
Hingga akhirnya—
lampu merah di atas pintu operasi…
berubah.
Mati.
Pintu perlahan terbuka.
Arabella langsung tersentak.
“Yoga…”
Suaranya panik.
Mereka berdua langsung berdiri bersamaan.
Dokter keluar dengan masker yang sudah diturunkan.
Arabella langsung mendekat.
“Dok! Ibu saya… gimana, Dok?!”
Suaranya bergetar.
Yoga berdiri di sampingnya, siap menahan jika Arabella kembali lemas.
Dokter menatap mereka, lalu mengangguk pelan.
“Operasi berjalan dengan lancar.”
Kalimat itu—
langsung membuat tubuh Arabella lemas.
Namun kali ini karena lega.
Air matanya jatuh lagi.
“Alhamdulillah…”
Ia menutup mulutnya, menangis.
Yoga menghela napas panjang.
Ketegangan di wajahnya perlahan hilang.
“Terima kasih, Dok.”
Dokter melanjutkan penjelasannya.
“Saat ini pasien masih dalam pengaruh anestesi, jadi belum sadar.”
Arabella mengangguk cepat, mencoba fokus.
“Kira-kira kapan beliau sadar, Dok?”
“Biasanya dalam beberapa jam ke depan. Bisa 6 sampai 12 jam, tergantung kondisi tubuhnya.”
Arabella menelan ludah.
“Apakah… ada risiko, Dok?”
Dokter mengangguk pelan.
“Untuk sementara kondisi sudah stabil. Tapi tetap harus dipantau ketat. Masa pemulihan pasca operasi jantung itu penting.”
Yoga memperhatikan dengan serius.
“Yang penting sekarang, pasien harus istirahat total dan tidak boleh stres.”
Arabella mengangguk berkali-kali.
“Baik, Dok…”
“Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.”
Dokter lalu pamit.
—
Beberapa saat kemudian, perawat mulai mendorong tempat tidur ibunya keluar dari ruang operasi.
Arabella langsung mendekat.
“Ibu…”
Wajah ibunya pucat.
Dipenuhi alat medis.
Namun napasnya teratur.
Itu sudah cukup membuat Arabella kembali menangis.
Ia berjalan di samping ranjang itu.
Tidak ingin jauh.
—
Saat proses administrasi—
Yoga berbicara dengan pihak rumah sakit.
“Saya minta dipindahkan ke ruang VVIP.”
Arabella langsung menoleh cepat.
“Yoga, jangan!”
Yoga menatapnya.
“Kenapa?”
“Itu mahal…”
Suaranya pelan, penuh rasa tidak enak.
“Aku nggak bisa bayar…”
Yoga menghela napas.
“Sudah, nggak usah dipikirin.”
Arabella menggeleng.
“Jangan terus-terusan kayak gini…”
Yoga menatapnya lebih dalam.
“Kondisi ibu kamu butuh tempat terbaik.”
“Tapi—”
“Aku yang tanggung.”
Nada suaranya tegas.
Tidak memberi ruang untuk ditolak.
Arabella terdiam.
Hatinya terasa sesak.
Ia ingin menolak.
Tapi…
ia tidak punya pilihan.
Akhirnya—
ia menunduk.
Kalah lagi.
—
Tak lama kemudian—
ibunya dipindahkan ke ruang rawat VVIP.
Ruangan itu luas.
Tenang.
Jauh lebih nyaman dari ruang biasa.
Arabella berdiri di tengah ruangan itu.
Menatap sekeliling.
Semua terasa… terlalu mewah.
Tidak seperti dunianya.
Ia menatap ibunya yang terbaring.
Lalu perlahan menoleh ke Yoga.
Ada rasa haru…
tapi juga beban yang semakin besar.
“Terima kasih…”
Suaranya lirih.
Yoga hanya mengangguk.
“Jaga ibu kamu.”
Arabella menatapnya lama.
Ia ingin berkata sesuatu…
tentang perasaan bersalahnya…
tentang hutang yang semakin menumpuk…
tentang hatinya yang semakin tidak terkendali…
Namun—
ia tidak sanggup.
Yang ia lakukan hanya—
mendekat ke sisi tempat tidur.
Menggenggam tangan ibunya.
Sementara di belakangnya—
Yoga berdiri diam.
Menatapnya.
Dengan perasaan yang semakin dalam.
Dan hubungan mereka—
yang awalnya hanya sebuah perjanjian—
perlahan berubah menjadi sesuatu…
yang jauh lebih rumit.
...****************...
Waktu terus berjalan.
Jam di dinding berdetak pelan, seolah ikut menunggu.
Arabella duduk di samping tempat tidur ibunya.
Tangannya tidak pernah lepas dari genggaman itu.
Sesekali ia menatap wajah ibunya…
masih belum sadar.
Sementara di sisi lain, Yoga berdiri tidak jauh dari sana.
Matanya sesekali tertuju pada Arabella.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Satu panggilan masuk.
Ia melirik layar.
Dari ayahnya.
Yoga menghela napas pelan sebelum mengangkat.
“Ya, Pa.”
Suaranya rendah.
Dari seberang terdengar suara tegas.
“Yoga, kamu di mana? Meeting penting hari ini. Semua sudah menunggu.”
Yoga terdiam sejenak.
Pandangannya kembali ke arah Arabella.
“Pa… aku—”
Sebelum ia selesai bicara, panggilan lain masuk.
Sekretarisnya.
Yoga menutup mata sebentar.
Situasi ini… tidak mudah.
Ia akhirnya menjawab singkat.
“Iya, saya segera ke sana.”
Panggilan berakhir.
Yoga menurunkan ponselnya perlahan.
Ia berjalan mendekat ke arah Arabella.
“Bela…”
Arabella menoleh.
Melihat raut wajah Yoga yang sedikit berubah.
“Ada apa?”
Yoga terlihat ragu.
“Aku harus ke kantor.”
Arabella terdiam.
Yoga melanjutkan,
“Ada meeting penting. Aku sebenarnya mau batalin, tapi…”
Ia tidak melanjutkan.
Arabella langsung menggeleng pelan.
“Jangan dibatalin.”
Yoga menatapnya.
“Kamu yakin?”
Arabella mengangguk.
“Iya. Ini penting buat kamu.”
“Tapi kamu di sini sendirian…”
“Aku nggak sendirian,” potong Arabella pelan. “Ada perawat. Ada dokter.”
Ia mencoba tersenyum.
“Lagipula… ibu juga lagi istirahat.”
Yoga masih terlihat ragu.
“Aku bisa tunggu sampai kamu balik.”
Arabella menggeleng lagi.
“Kerjaan kamu lebih penting, Yoga.”
Suaranya lembut, tapi tegas.
“Aku janji, kalau ada apa-apa aku langsung hubungi kamu.”
Yoga menatapnya lama.
Seolah memastikan.
“Beneran?”
“Iya.”
Beberapa detik hening.
Akhirnya Yoga menghela napas.
“Baik.”
Ia sedikit mendekat.
Arabella tidak menyangka—
tiba-tiba Yoga menariknya ke dalam pelukan.
Pelukan itu hangat.
Lebih lama dari biasanya.
“Jaga diri kamu baik-baik…”
Bisiknya pelan.
Arabella membeku sesaat.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Iya…”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Yoga perlahan melepaskan pelukannya.
Namun belum sempat Arabella sepenuhnya bereaksi—
Yoga menunduk sedikit…
dan mencium keningnya.
Lembut.
Singkat.
Namun cukup membuat Arabella terdiam.
Wajahnya memanas.
Ia tidak bergerak.
Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Yoga menatapnya sebentar.
“Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Jangan dipendam sendiri.”
Arabella hanya bisa mengangguk.
Masih tertegun.
“Aku pergi dulu.”
Yoga melangkah mundur.
Beberapa langkah menuju pintu.
Namun sebelum benar-benar keluar—
ia sempat menoleh lagi.
Menatap Arabella.
"jika terjadi apa apa apa yang harus kamu lakukan Arabella?" ucap yoga
"langsung hubungi mu?"
"pintar"yoga memejamkan satu matanya.
Membuat Ara Bella kembali merasakan panas di wajahnya.
"aku pergi"
Pintu tertutup.
Ruangan kembali hening.
Arabella masih berdiri di tempatnya.
Tangannya perlahan menyentuh keningnya sendiri.
Bekas ciuman itu…
masih terasa.
Hangat.
Ia menunduk sedikit.
Senyum kecil muncul tanpa sadar.
Di tengah semua kekacauan ini—
di tengah rasa takut dan beban yang ia rasakan—
perlakuan Yoga barusan…
memberikan sesuatu yang berbeda.
Hangat.
Namun juga…
membuat hatinya semakin tidak aman.
Karena ia tahu—
semakin ia merasa seperti ini—
semakin sulit baginya untuk mengingat…
bahwa semua ini…
awalnya hanya sebuah perjanjian.