Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perisai di Balik Bayangan
Pagi itu, suasana di sekitar gapura hijau yang biasanya hanya dihiasi oleh pedagang sayur dan suara bising knalpot motor, terasa sedikit berbeda. Laras Maheswari, dengan tas sanggarnya yang tersampir di bahu, sempat terhenti sejenak saat melihat dua pria berbadan tegap berdiri di dekat tiang listrik. Mereka tidak memakai seragam, hanya kaos hitam polos dan celana kargo, namun aura yang mereka pancarkan sangat kontras dengan penduduk gang itu.
Laras sempat mengerutkan dahi. Mereka tidak terlihat seperti warga sini, tapi juga tidak tampak seperti penjahat. Mereka hanya diam, berdiri dengan posisi sigap seolah sedang menunggu sesuatu—atau seseorang.
"Laras! Buruan, nanti telat ke sanggar!" seru Maya dari dalam kamar kos mereka yang pintunya masih terbuka.
"Iya, May! Ini jalan," balas Laras, mengabaikan rasa herannya. Baginya, mungkin itu hanya petugas keamanan baru atau orang-orang yang sedang mencari alamat. Di Jakarta, orang asing datang dan pergi adalah hal biasa. Ia tidak punya waktu untuk berprasangka; ia harus melatih otot-ototnya yang masih sedikit kaku pasca pertunjukan di The Eagle.
Namun, sepanjang perjalanannya menuju sanggar, Laras merasa seperti ada pasang mata yang mengikutinya. Bukan tatapan yang mengancam, melainkan tatapan yang menjaganya dari jarak jauh. Ah, mungkin aku hanya kelelahan, pikirnya menenangkan diri.
*
Sore harinya, matahari Jakarta mulai meredup, meninggalkan jejak jingga yang membara di ufuk barat. Laras berjalan kaki pulang dari sanggar dengan sisa tenaga yang hampir habis. Keringat masih menempel di dahinya, dan helai rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah kesan cantik yang alami.
Untuk sampai ke kamar kosnya, Laras harus melewati pos ronda di persimpangan gang. Tempat itu adalah markas "penguasa lokal"—sekelompok pemuda pengangguran yang hobinya menggoda perempuan yang lewat. Nama mereka sudah cukup terkenal karena seringkali melampaui batas, namun warga tidak berani bertindak karena salah satu dari mereka adalah anak ketua RT setempat.
"Euy, Neng Laras! Baru pulang menari, ya?" seru Jaka, pemimpin kelompok itu, sambil menyesap kopi hitamnya.
Laras tidak menoleh. Ia mempercepat langkahnya, matanya lurus ke depan.
"Sombong amat sih, Neng. Masa calon bidadari jalannya buru-buru begitu. Sini dong, duduk sebentar. Abang pengen liat goyangannya yang katanya bikin panggung bergetar," timpal pemuda lain yang disambut gelak tawa cabul rekan-rekannya.
Laras sudah terbiasa dengan ini. Sejak ia tinggal di sana, gangguan verbal adalah makanan sehari-hari. Ia selalu memilih diam dan tulus bersikap masa bodoh, karena ia tahu menanggapi mereka hanya akan memperpanjang masalah. Baginya, mereka hanya debu yang mengganggu penglihatan sejenak.
Namun, hari ini berbeda. Jaka berdiri dari duduknya dan melangkah menghalangi jalan Laras. "Eh, tunggu dulu. Aku dengar kemarin kamu pulang diantar mobil mewah, ya? Wah, sudah dapat 'om' baru, nih? Berapa harganya semalam, Ras?"
Laras berhenti. Napasnya memburu. Penghinaan itu terasa sangat menyakitkan karena ia bekerja keras dengan keringat dan harga diri yang utuh. Ia mendongak, menatap Jaka dengan mata yang teduh namun penuh ketegasan. "Minggir, Mas. Saya mau lewat."
"Wih, galak juga ya kalau didekati," Jaka mencoba menyentuh bahu Laras dengan tangan yang kotor.
Laras refleks mundur selangkah. Namun, sebelum tangan Jaka sempat menyentuh kain kemeja Laras, sebuah bayangan besar melesat dari balik tembok.
Bugh!
Tangan Jaka dipelintir dengan kecepatan yang mengerikan oleh salah satu pria yang pagi tadi Laras lihat di depan gapura.
"Argh! Siapa kamu?! Lepasin!" teriak Jaka kesakitan.
Teman-teman Jaka yang lain segera berdiri, emosi mereka terpancing. "Woy! Siapa lu berani-berani main fisik di sini?"
Keributan pecah dalam sekejap. Dua pria penjaga kiriman Elang itu bertindak dengan presisi profesional. Mereka tidak banyak bicara, hanya menggunakan gerakan-gerakan taktis untuk melumpuhkan para pemuda itu tanpa mengeluarkan senjata. Laras terpaku di tempatnya, matanya membelalak ketakutan melihat kekacauan di depannya.
"Cukup! Berhenti!" teriak Laras, namun suaranya tenggelam dalam riuh baku hantam.
Salah satu pria penjaga itu menatap Laras sejenak. "Mbak Laras, silakan masuk ke dalam. Biar kami yang selesaikan sampah ini."
Laras gemetar. Bagaimana pria ini tahu namaku? Siapa mereka sebenarnya? Pikiran Laras berkecamuk. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran orang-orang ini bukan kebetulan. Ia merasa ada tangan tak terlihat yang sedang mengendalikan sekitarnya.
***
Di ujung gang, di dalam sebuah mobil SUV hitam dengan kaca anti-peluru, Elang Dirgantara menyaksikan semuanya melalui monitor yang terhubung dengan kamera kecil di kancing baju salah satu penjaganya.
Rahangnya mengeras saat melihat tangan kotor Jaka hampir menyentuh Laras. Matanya berkilat penuh kemarahan. Ia ingin sekali turun sendiri dan mematahkan leher pria itu, namun ia tahu itu akan merusak rencananya. Laras tidak boleh tahu siapa dia secepat ini. Laras harus tetap menganggapnya sebagai "Tuan" yang misterius atau sekadar keberuntungan belaka.
"Mereka hampir membocorkan identitas mereka sendiri," gumam Elang dengan nada berbahaya pada asisten di sampingnya. "Selesaikan sekarang. Sebelum dia bertanya macam-macam."
Elang mengambil radio panggilannya. "Unit Satu, mundur. Jangan biarkan dia tahu kalian mengenalnya. Buat ini terlihat seperti perkelahian jalanan biasa."
Tepat saat Jaka hendak membalas pukulan, sebuah klakson mobil yang sangat keras memecah keributan. Dari arah berlawanan, sebuah mobil operasional kepolisian—yang sebenarnya sudah diatur oleh Elang melalui koneksinya—masuk ke gang sempit itu dengan sirine menyala singkat.
Para penjaga Elang segera menghilang ke dalam bayang-bayang gang sempit dengan gerakan yang sangat terlatih, seolah mereka tak pernah ada di sana. Sementara itu, para pemuda kampung yang ketakutan melihat polisi langsung kocar-kacir melarikan diri ke dalam rumah-rumah mereka.
Laras berdiri sendirian di tengah jalan, napasnya tersengal. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun orang-orang tegap itu sudah lenyap. Hanya ada polisi yang turun dan bertanya apakah dia baik-baik saja.
Laras mengangguk pelan, meski pikirannya masih dipenuhi tanda tanya. Ia merasa ada yang aneh. Kenapa polisi datang tepat waktu? Dan kenapa orang-orang tadi seolah melindunginya dengan sangat posesif?
*
Laras sampai di kamar kosnya dengan lemas. Maya langsung menyambutnya dengan cemas karena mendengar ada keributan di depan.
"Ras! Kamu nggak apa-apa? Katanya ada preman berantem?"
Laras hanya menggeleng, ia duduk di tepi tempat tidur dan memijat pelipisnya. "Aku baik-baik saja, May. Cuma... aku merasa ada yang aneh hari ini."
Belum sempat Laras bercerita lebih lanjut, sebuah ketukan lembut terdengar di pintu kayu kos mereka yang sudah lapuk. Maya membukanya dan menemukan seorang pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi, mengenakan kacamata, dan membawa sebuah koper kulit yang elegan.
"Maaf mengganggu malam-malam. Apakah benar ini kediaman Mbak Laras Maheswari?" tanya pria itu dengan nada yang sangat sopan dan profesional.
Laras berdiri, merapikan bajunya. "Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"
Pria itu tersenyum tipis. "Perkenalkan, saya adalah perwakilan dari Nusantara Arts Foundation. Kami telah melihat rekaman tarian Anda—yang entah bagaimana sampai ke meja direksi kami—dan kami sangat terkesan."
Maya melongo. Nusantara Arts Foundation adalah yayasan seni terbesar dan paling bergengsi di negara ini. Mereka tidak pernah datang ke kos-kosan kumuh seperti ini.
Pria itu membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi yang tebal. "Kami ingin menawarkan kontrak eksklusif sebagai Penari Utama dalam proyek kolosal 'Cinta di Ujung Samudera' yang akan dipentaskan di lima negara. Anda akan mendapatkan tunjangan tempat tinggal yang layak, asuransi kesehatan, biaya latihan privat, dan gaji bulanan yang..." Pria itu menyebutkan sebuah nominal yang membuat Maya hampir pingsan di tempat.
Laras terpaku. Tawaran itu... terlalu sempurna. Ini adalah impian setiap lulusan seni tari di negara ini. Menjadi penari utama di yayasan tersebut adalah puncak karir yang hampir mustahil dicapai tanpa koneksi orang dalam.
"Pak... maaf, tapi saya tidak pernah mendaftar di yayasan Bapak," ucap Laras jujur, ketulusannya membuatnya merasa ada yang salah dengan semua keberuntungan ini.
"Seni yang indah akan selalu menemukan jalannya sendiri, Mbak Laras," jawab pria itu dengan kalimat yang seolah sudah disiapkan. "Kami hanya ingin bakat sebesar Anda tidak terkubur di gang sempit ini. Bagaimana? Apakah Anda bersedia menandatanganinya?"
Laras menatap dokumen itu, lalu menatap Maya yang matanya sudah berkaca-kaca penuh harap. Bagi Laras, ini adalah pintu keluar dari kemiskinan. Namun di sudut hatinya, ia merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam sebuah jaring laba-laba yang ditenun dengan sangat halus dan indah.
Ia tidak tahu, bahwa di kejauhan, Elang Dirgantara sedang menyesap wiskinya sambil menatap layar monitor. Ia adalah pemilik yayasan itu secara anonim. Ia adalah orang yang mengirim polisi. Ia adalah orang yang memerintahkan penjagaan.
"Terima tawaran itu, Laras," bisik Elang pada kegelapan. "Menarilah menuju pelukanku."