NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:463
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Alana dan satria

Waktu berlalu seperti deru hujan yang tak lagi dingin bagi Alana. Selasa demi Selasa yang mereka habiskan di kursi pojok jendela itu telah mengubah percakapan canggung menjadi tawa, dan rasa penasaran menjadi komitmen. Satria, pria dengan kemeja navy itu, ternyata bukan sekadar orang asing yang kebetulan duduk di kursinya; ia adalah tempat berlabuh yang selama ini Alana cari.

Hari ini, aroma di sekeliling Alana bukan lagi kopi hitam dan kayu manis, melainkan harum bunga melati yang segar. Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kebaya putih panjang yang elegan.

"Alana berdiri di depan cermin besar, gaun putihnya menjuntai indah. Di balik pintu, Satria menunggu dengan gugup. Pernikahan yang awalnya dianggap sebagai 'tugas' itu kini terasa seperti awal dari segalanya. Saat Satria mengucapkan janji suci, Alana sadar bahwa pria yang ia temui di kafe waktu itu adalah takdir yang akhirnya ia ikat dalam janji sehidup semati."

"Siap, Alana?" tanya ibunya lembut dari balik pintu. Alana mengangguk pelan, meremas jemarinya yang dingin.

Di ruang utama, Satria duduk tegak di hadapan penghulu. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, namun matanya tetap memancarkan ketegasan yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Ketika Alana berjalan mendekat, Satria mendongak. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah hilang—persis seperti suasana kafe sore itu.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alana Pramesti..." Suara bariton Satria menggema mantap di ruangan itu.

Hanya dengan satu tarikan napas, status mereka berubah selamanya. Saat Satria menyematkan cincin di jari Alana, ia berbisik sangat pelan, "Terima kasih sudah tidak mengusirku dari kursi favoritmu hari itu."

Alana tersenyum, matanya berkaca-kaca. Pertemuan yang tak sengaja itu kini telah menjadi ikatan yang sengaja mereka jaga seumur hidup.

*****

Pesta pernikahan itu berlangsung hangat, tidak terlalu mewah namun sangat personal—persis seperti karakter mereka berdua. Alana dan Satria berdiri di pelaminan, menyalami tamu yang hadir dengan senyum yang tak kunjung pudar.

Di tengah keriuhan musik akustik, Satria menggenggam tangan Alana. "Lelah?" tanyanya perhatian. Alana menggeleng, meski kakinya mulai terasa pegal karena sepatu hak tinggi. "Melihat semua orang yang kita sayangi berkumpul di sini, rasa lelahnya hilang," jawab Alana tulus.

Tiba-tiba, lampu aula meredup. Satria menuntun Alana ke tengah lantai dansa. Bukan lagu pop modern yang diputar, melainkan instrumen lo-fi yang sering mereka dengar di kafe tempat mereka bertemu.

"Aku meminta mereka memutar ini," bisik Satria sambil merangkul pinggang Alana. Mereka berdansa kecil, bergerak mengikuti irama pelan. Di sela gerakan itu, Satria mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan berisi perhiasan, melainkan sebuah kartu loyalitas kafe yang sudah penuh dengan cap.

"Ini kartu dari hari pertama kita bicara. Aku menyimpannya sebagai pengingat bahwa setiap Selasa bersamamu adalah investasi terbaik dalam hidupku," ucap Satria.

Alana tertawa kecil dalam haru. Ternyata, Satria yang terlihat kaku adalah pria paling romantis yang pernah ia kenal. Pernikahan ini bukan sekadar pesta, tapi sebuah perayaan atas keberanian mereka untuk saling menyapa di hari itu.

Malam semakin larut, dan saat mereka duduk berdua di pelaminan yang mulai sepi, Satria menoleh. "Jadi, setelah ini, kita tidak perlu menunggu hari Selasa untuk bertemu, kan?"

Alana menyandarkan kepalanya di bahu Satria.

"Setiap hari akan menjadi Selasa favoritku sekarang."

*******

Pesta hampir usai, tapi bagi Alana dan Satria, ini adalah awal dari segalanya. Di sela-sela pergantian baju dari kebaya ke gaun resepsi yang lebih ringan, ada momen tenang yang mereka bagi di ruang rias.

Satria berdiri di belakang Alana, membantu merapikan ritsleting gaunnya. Melalui cermin, mata mereka bertemu. Tidak ada lagi orang lain, hanya mereka berdua dan pantulan kebahagiaan yang nyata.

"Kamu terlihat luar biasa, Alana," puji Satria tulus. Ia mengecup puncak kepala istrinya, menghirup aroma melati yang masih lekat.

Sebelum kembali ke pelaminan untuk sesi foto terakhir, Satria memberikan sebuah amplop cokelat kecil. Alana membukanya dengan penasaran. Di dalamnya terdapat dua tiket pesawat dan sebuah foto lama kafe tempat mereka bertemu, namun dalam bentuk ilustrasi cat air yang indah.

"Bulan madu?" tanya Alana dengan mata berbinar.

"Ke tempat yang kamu ceritakan waktu itu. Kota yang selalu ingin kamu kunjungi tapi tak pernah punya teman untuk pergi," jawab Satria.

Kembali ke lantai dansa, di bawah lampu gantung yang temaram, mereka bergerak perlahan. Satria membisikkan janji yang tidak didengar oleh tamu manapun, hanya untuk telinga Alana.

"Aku tidak menjanjikan hidup yang selalu mudah, Alana. Tapi aku janji, setiap kali kamu merasa lelah, aku akan menjadi 'kursi pojok kafe' tempatmu pulang dan beristirahat."

Alana mengeratkan pelukannya pada leher Satria. Di tengah sorak-sorai sahabat yang melemparkan kelopak bunga mawar, Alana tahu bahwa Satria adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya. Pernikahan ini bukan sekadar ikatan hukum, tapi penyatuan dua jiwa yang memang sudah ditakdirkan bertemu di satu Selasa yang hujan.

Pesta pernikahan itu memasuki puncaknya saat malam semakin larut. Suasana formal yang kaku perlahan mencair menjadi kehangatan yang intim di bawah temaram lampu gantung outdoor.

Momen Lempar Bunga

Alana berdiri membelakangi kerumunan teman-temannya yang sudah bersiap dengan heboh. Satria berdiri tepat di sampingnya, memegang satu sisi buket bunga mawar putih itu.

"Satu... dua... tiga!"

Bunga melayang di udara, diiringi teriakan ceria. Alana menoleh dan tertawa melihat sahabat baiknya berhasil menangkap buket itu. Di tengah kegaduhan itu, Satria justru menarik Alana sedikit menjauh dari kerumunan, membawa istrinya ke tepi area pesta yang lebih tenang, dekat pancuran air kecil.

"Semua orang terlihat sangat bahagia," bisik Alana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Satria. Satria melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Alana agar istrinya tidak kedinginan.

"Tapi tidak ada yang sebahagia aku hari ini, Lan," jawab Satria pendek. Ia mengambil tangan Alana, memainkan cincin emas putih yang kini melingkar manis di jari manis istrinya. "Terima kasih sudah memilihku di antara jutaan kemungkinan."

Tiba-tiba, suara dentingan gelas terdengar. Sahabat-sahabat Satria maju ke depan panggung kecil untuk memberikan toast dadakan. Mereka menceritakan betapa "payahnya" Satria saat pertama kali jatuh cinta pada Alana—bagaimana pria kaku itu berlatih bicara di depan cermin sebelum menemui Alana di kafe.

Seluruh tamu tertawa, termasuk Alana. Satria hanya bisa menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu sekaligus tersentuh.

Sebagai penutup, kembang api kecil dinyalakan di area taman. Cahayanya menyinari wajah keduanya. Di bawah langit yang kini bertabur cahaya buatan itu, Satria mencium kening Alana lama sekali.

"Pestanya akan usai sebentar lagi," kata Satria.

"Dan hidup kita yang sesungguhnya baru saja dimulai," balas Alana dengan senyum paling cantik yang pernah Satria lihat.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!