"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Kabut Cemburu
[Waktu: Minggu, 26 April, Pukul 14.30 PM]
[Lokasi: Depan Cafe "Moonlight Script", Distrik Bao'an, Shenzhen]
Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan suara rem yang halus di depan cafe. Suasana di dalam kabin masih terasa mencekam. Gu Jingshen menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras, sementara Lin Xia masih merasa bingung dengan perubahan sikap pria di sampingnya itu.
Lin Xia melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Gu Jingshen. Ia merasa tidak enak jika harus berpisah dengan suasana tegang seperti ini, apalagi Jingshen baru saja menjemputnya (meski dengan cara menyeret) dari kantor Yanran.
"Tuan Gu," panggil Lin Xia lembut. "Terima kasih sudah mengantarku. Mumpung Anda sudah di sini... apakah Anda ingin mampir sebentar ke cafe? Aku bisa membuatkan kopi yang lebih enak daripada yang Anda minum di kantor."
Lin Xia mencoba mencairkan suasana dengan senyum manisnya. Ia berharap tawaran ini bisa meredam amarah pria itu. Namun, Gu Jingshen justru merasa semakin kesal. Bayangan Lin Xia yang tertawa bersama Yanran dan sosis gurita itu kembali berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Tidak perlu," jawab Gu Jingshen ketus tanpa menoleh. "Aku punya banyak pekerjaan di kantor daripada sekadar minum kopi di tempat seperti ini. Lagipula, bukankah kau sudah kenyang makan bento 'spesial' dari Yanran?"
Lin Xia tertegun. "Apa hubungannya bento itu dengan kopi di cafeku? Tuan Gu, kenapa Anda jadi sinis begitu? Bukannya tadi kita baik-baik saja di dalam mobil?"
Gu Jingshen tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat tangan kepada asistennya. "Ah Cheng, jalan. Kita sudah membuang terlalu banyak waktu."
"Baik, Tuan," jawab Ah Cheng patuh, meski ia melirik Lin Xia lewat spion dengan tatapan meminta maaf.
Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis dan Lin Xia yang berdiri mematung di pinggir jalan. Lin Xia menatap mobil yang semakin menjauh itu dengan perasaan dongkol bercampur heran.
Ada apa dengan pria itu? batin Lin Xia kesal. Tadi dia menyelamatkanku, lalu posesif seperti singa, sekarang malah membuang muka seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Benar-benar CEO yang tidak bisa ditebak!
[Waktu: Minggu, 26 April, Pukul 14.45 PM]
[Lokasi: Di dalam Cafe "Moonlight Script", Shenzhen]
Di balik jendela kaca cafe yang lebar, dua kepala tampak mengintip dengan sangat serius. Mereka adalah Xiao Li dan Lin Feng. Sejak mobil mewah itu berhenti, keduanya sudah berdiri di sana layaknya detektif amatir.
"Lihat itu, Xiao Li! Wajah Lin Xia merah padam. Sepertinya pria di dalam mobil itu baru saja mencampakkannya," bisik Lin Feng sambil menyipitkan mata.
Xiao Li menyikut perut Lin Feng. "Ssst! Jangan bicara sembarangan. Tapi kau benar, pria itu tampak sangat sombong. Siapa sih dia? Mobilnya mahal sekali, pasti bukan orang sembarangan."
Xiao Li menoleh ke arah Lin Feng dengan tatapan menyelidik. "Ngomong-ngomong, kau kan pemilik klub di depan, masa kau tidak tahu siapa pemilik mobil mewah seperti itu di Shenzhen? Kau pasti sering melihatnya di kalangan atas, kan?"
Lin Feng tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat perintah suci dari Gu Jingshen: Jangan sampai identitas kita terbongkar.
"Eh? Aku?" Lin Feng tertawa canggung, mencoba terlihat sealami mungkin. "Aduh, Xiao Li, kau ini ada-ada saja. Shenzhen ini kota besar, banyak orang kaya baru yang pamer mobil. Aku ini kan cuma pengusaha klub kecil-kecilan, mana mungkin aku kenal dengan bos besar setingkat itu."
"Benarkah?" Xiao Li menyipitkan matanya, menatap Lin Feng dari atas ke bawah. "Tapi kau punya gaya bicara yang mirip dengan orang-orang kantoran di pusat kota."
"Itu karena aku sering menonton drama China tentang CEO! Hahaha!" Lin Feng berbohong dengan lancar, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Aku sama sekali tidak kenal pria itu. Sumpah!"
Pintu cafe berdenting keras. Lin Xia masuk dengan wajah cemberut dan langsung melempar tasnya ke atas meja bar.
"Dasar pria aneh! Es kutub! Marsekal gadungan!" teriak Lin Xia frustrasi.
Xiao Li segera menghampiri sahabatnya. "Wah, wah, ada apa ini? Tadi itu siapa, Xia? Kenapa dia menurunkanmu seperti mengantar paket kilat?"
Lin Xia menghela napas kasar. "Itu Gu Jingshen. Dia baru saja mengacaukan makan siangku dengan Yanran, lalu menyeretku pulang, dan sekarang dia marah entah karena apa. Dia benar-benar merusak hariku!"
Lin Feng yang berdiri di belakang Xiao Li hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar nama "Gu Jingshen" disebut dengan begitu penuh emosi. Ia segera berpura-pura sibuk mengelap meja agar tidak perlu berkomentar.
"Tunggu, Yanran?" Xiao Li memekik. "Kau benar-benar menemui Yanran? Bagaimana hasilnya? Apa dia mau membantu?"
Lin Xia mengangguk, sedikit tenang saat mengingat tujuannya. "Iya, dia mau membuka akses servernya. Dia bahkan menyuruhku datang ke kantornya lagi besok. Tapi masalahnya... Jingshen melarangku keras. Dia sangat posesif, padahal aku sudah bukan karyawannya lagi."
Lin Feng mendengarkan dalam diam. Wah, Jingshen benar-benar terbakar cemburu sampai ke ubun-ubun, pikirnya geli. Ia harus segera melaporkan ini pada sahabatnya itu, tapi ia juga harus menjaga agar Lin Xia tidak mencurigai perannya sebagai mata-mata.
[Waktu: Minggu, 26 April, Pukul 19.00 PM]
[Lokasi: Kantor CEO Gu Corp, Shenzhen]
Gu Jingshen duduk di kursinya, namun bukannya memeriksa laporan keuangan, ia justru menatap layar ponselnya yang menampilkan foto profil Lin Xia di aplikasi pesan. Ia berkali-kali mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi.
“Maaf soal tadi, aku hanya tidak suka kau dekat dengan Yanran.” — Hapus.
“Kopinya masih tersedia?” — Hapus.
“Jangan pergi menemui Yanran besok!” — Hapus.
"Argh!" Jingshen melempar ponselnya ke meja. "Kenapa aku jadi sekacau ini hanya karena seorang wanita?"
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Lin Feng masuk.
"Jingshen, Lin Xia marah besar. Dia menyebutmu 'Es Kutub' dan 'Marsekal Gadungan'. Kau benar-benar merusak citramu sendiri. Dan hati-hati, dia tetap berencana menemui Yanran besok secara diam-diam. Kau harus melakukan sesuatu yang lebih romantis daripada sekadar marah-marah, kawan."
Gu Jingshen membaca pesan itu dan wajahnya semakin gelap. "Es kutub? Marsekal gadungan?"
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah kerlip lampu kota. Ia teringat kembali adegan di Suzhou. Di sana, ia adalah seorang Marsekal yang berwibawa dan berani mengungkapkan perasaannya. Tapi di dunia nyata, ia merasa seperti pengecut yang bersembunyi di balik jas mahalnya.
"Ah Cheng!" panggil Jingshen keras.
Ah Cheng masuk dengan sigap. "Ya, Tuan?"
"Cari tahu apa yang paling disukai Lin Xia selain kopi dan naskah. Dan siapkan mobil besok pagi pukul enam. Kita akan ke cafe sebelum dia berangkat ke kantor Yanran."
"Tapi Tuan, Anda ada rapat dengan dewan direksi pukul delapan pagi," Ah Cheng mengingatkan.
"Batalkan! Atau tunda!" bentak Jingshen. "Urusan dewan direksi bisa menunggu, tapi urusan 'Es Kutub' ini harus segera diselesaikan."
[Waktu: Minggu, 26 April, Pukul 22.00 PM]
[Lokasi: Apartemen Lin Xia, Shenzhen]
Di dalam kamarnya, Lin Xia sedang membuka laptop. Ia melihat sebuah notifikasi hijau di pojok layar. Akses server "Script of Love" telah terbuka sebagian. Yanran benar-benar menepati janjinya.
Lin Xia mulai membaca baris demi baris kode yang terbuka. Tiba-tiba, ia menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama "Memory_J_Y".
"Apa ini?" bisik Lin Xia. Ia mencoba membukanya, namun dibutuhkan kunci enkripsi ganda.
Ia teringat kata-kata Yanran tadi siang tentang "menunjukkan sesuatu yang penting". Apakah ini memori masa kecil mereka? Ataukah ini data Yanran yang hilang yang selama ini dicari Tuan Gu?
Lin Xia bersandar di kursinya, menatap sapu tangan berdarah yang diletakkan di samping laptopnya. "Jingshen, kau mungkin membenciku sekarang karena aku keras kepala. Tapi aku tahu, di balik sikap dinginmu itu, kau hanya takut kehilangan orang yang kau sayangi lagi."
Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Jingshen saat mereka di Suzhou. Ada luka yang dalam di sana, luka yang sama dengan yang ia lihat pada Yanran.
"Aku akan menyatukan kalian kembali," janji Lin Xia. "Meski aku harus menjadi 'pisang raksasa' atau kurir makanan selamanya."
Tanpa ia sadari, di depan cafe di bawah apartemennya, mobil Lin Feng masih terparkir. Pria itu menatap jendela kamar Lin Xia yang masih menyala, lalu menyesap kopinya yang sudah dingin.
"Drama ini semakin seru," gumam Lin Feng. "Semoga saja Jingshen tidak meledakkan gedung ini besok pagi karena cemburu."
Malam di Shenzhen semakin larut, membawa rahasia-rahasia baru yang siap meledak saat matahari terbit esok hari. Antara cinta, cemburu, dan dendam persaudaraan, Lin Xia berada tepat di tengah pusarannya.
...****************...