💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 : Rasa yang tak bisa dikendalikan.
"Arsen."
Suara itu terdengar jelas di tengah ruang tengah yang sepi, menusuk kesunyian yang baru saja menyelimuti langkahnya. Arsen yang baru saja berjalan beberapa langkah dengan tangan kanannya memegang buku yang baru saja dia baca segera menghentikan langkahnya.
Perlahan dia memutar kembali tubuhnya, melihat Saskia yang sudah berdiri tidak jauh dibelakangnya. Wanita itu berdiri dengan sikap yang tenang, salah satu tangannya berada di atas sandaran sofa.
"Arsen, kakak melihat kamu membelikan beberapa barang untuk Viona." Senyuman hangat melengkung di bibirnya, matanya memancarkan ketulusan. "Terimakasih, akhirnya kamu bisa menerima keberadaan Viona di sini sebagai tunangannya Farel."
Arsen hanya terdiam sebelum akhirnya dia mengangguk pelan. Tidak ingin membenarkan pemikiran salah Saskia ataupun menjelaskan keadaan yang sebenarnya, jika dia memberikan barang-barang itu sebagai permintaan maaf, bukan karena menyetujui hubungan Viona dan Farel.
"Maaf kak, aku mau pergi ke kamarku dulu," ucapnya akhirnya dengan suara yang lembut.
Saskia mengangguk dengan senyuman yang tetap hangat, bahkan ada sentuhan perhatian di dalamnya. "Ya, selamat malam."
Arsen mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah tangga. Sementara itu dikamar Farel, Viona merasakan jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi kaku. Dia dengan cepat mengangkat kedua tangannya untuk menghalangi wajah Farel sebelum mereka bersentuhan, telapak tangannya menempel di dada tunangannya itu.
"Tidak, Farel. Jangan lakukan ini sekarang," ucapnya dengan suara gemetar tapi tetap terdengar jelas. "Ini sudah terlalu larut, aku akan kembali ke kamarku sekarang,"
Mata Farel yang tadinya penuh hasrat kini sedikit memudar, digantikan oleh rasa kebingungan dan sedikit rasa kecewa. Viona menurunkan tangannya dari dada Farel dan berbalik, melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu.
Pintu kamar Farel terbuka, Viona melangkah keluar dengan langkah tergesa-gesa. Hatinya masih berdebar kencang, wajahnya masih hangat karena kekhawatiran dan rasa tidak nyaman yang baru saja dia rasakan. Saat kakinya hendak melangkah meninggalkan depan kamar Farel, langkahnya tertahan saat kedua matanya secara tidak sengaja bertemu dengan pandangan Arsen yang baru saja tiba di lantai dua.
"P-paman..."
Langkah Arsen terhenti seketika, matanya yang tadinya tenang dan datar kini tampak khawatiran saat melihat wajah Viona yang tampak terkejut dan sedikit pucat. Tanpa berpikir panjang dia melangkah cepat ke arah Viona, menatap sebentar ke arah pintu kamar Farel yang sudah tertutup sebelum meraih tangan Viona dan membawanya menjauh dari depan kamar Farel.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu tidak berada di luar kamar," ucap Arsen saat sudah sampai di depan pintu kamar gadis itu, Arsen hendak melepaskan tangannya namun Viona segera menahannya.
Arsen menatap tangannya yang sedang digenggam oleh Viona, lalu menatap wajah gadis itu kembali, "Masuk dan istirahatlah, aku akan menghukummu jika kamu sampai terlambat datang ke kantor besok,"
Viona mengangguk pelan, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Arsen. "Paman... Bolehkah aku menghubungi Paman jika aku sedang dalam keadaan darurat?"
Arsen mengangguk pelan, senyuman tipis muncul di sudut bibirnya, sebuah ekspresi yang jarang dia tunjukkan. "Tentu saja boleh, kamu bisa menghubungiku kapan saja jika kamu mau,"
Viona tersenyum lebar, beban yang sebelumnya ada perlahan sirna saat mendengar jawaban Arsen. "Terima kasih, Paman,"
Arsen mengangguk, melepaskan tangannya dari genggaman Viona dan menggeser sedikit tubuhnya untuk membantu membuka pintu kamar. "Sekarang masuklah dan istirahat, Jangan sampai besok kamu terlambat ke kantor, aku tidak suka karyawan yang tidak tepat waktu,"
Viona mengangguk, membalikkan tubuhnya dan memasuki kamarnya. Sebelum menutup pintu, dia melihat sekali lagi ke arah Arsen. "Terimakasih, Paman. Sampai jumpa besok pagi,"
Setelah pintu kamar tertutup dengan lembut, Arsen masih tetap berdiri disana. Dia melihat ke arah pintu kamar Farel kembali, lalu menghela napas perlahan sebelum melangkah menuju kamarnya sendiri.
-
-
-
Viona sudah duduk di mejanya yang baru di divisi Strategi Bisnis, dia meletakkan tas kerjanya dan mulai membuka laptop. Di sebelahnya, Dinda sudah mulai menyusun berkas-berkas yang diberikan Pak Bobby barusan, wajahnya fokus menatap layar monitor.
"Vio, bagaimana rasanya bekerja di perusahaan paman tunangan sendiri?" tanya Dinda dengan suara rendah, tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.
Viona sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu, dia menoleh ke arah Dinda dengan senyum yang sedikit paksaan.
"Rasanya... cukup menegangkan," jawabnya dengan suara rendah, lalu menoleh kembali ke layar laptopnya. "Selain itu aku juga takut orang akan berpikir jika aku mendapatkan pekerjaan ini hanya karena hubungan keluarga."
Dinda mengalihkan pandangannya dari monitor dan menoleh ke arah Viona. "Tapi kamu lulusan manajemen bisnis dengan nilai bagus, jadi aku rasa kamu pantas berada di sini dengan kemampuanmu sendiri."
Viona mengangguk pelan, namun wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran. Tiba-tiba pandangannya terpaku pada Arsen yang sedang berjalan melewati area kerja mereka bersama Sinta. Wajah pria itu penuh fokus saat sedang mendengarkan penjelasan dari Sinta yang berjalan di sisinya.
"Kalau dilihat dari jauh memang sangat tampan ya, Pak Arsen," bisik Dinda, "Pria setampan dan semapan dia kenapa masih betah melajang ya, Vi? Kriteria wanita idaman Pak Arsen ini yang seperti apa ya kira-kira,"
Viona tidak merespon ucapan Dinda, saat ini dia sedang merasakan jantungnya yang berdebar lebih cepat. Pandangannya masih terpaku pada Arsen, terpesona oleh aura profesional dan keanggunan yang terpancar dari tubuhnya.
Arsen seolah merasakan adanya pandangan yang mengikutinya. Pandangannya menyapu sebentar ke arah area kerja divisi. Ketika matanya secara tidak sengaja bertemu dengan pandangan Viona, untuk sesaat keduanya saling menatap dalam diam.
Setelah beberapa saat, Arsen mengangguk kecil dengan ekspresi yang tenang dan sedikit memberikan senyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya bersama Sinta meninggalkan area kerja.
Viona baru bisa menarik napas dalam-dalam setelah sosok Arsen benar-benar hilang dari pandangannya. Dia berbisik pelan, "Selain jantungku, mataku juga sepertinya mulai bermasalah setiap kali berada didekat pria itu."
-
-
-
Saat jam istirahat tiba, karyawan mulai bergerak dari mejanya masing-masing dan sudah bersiap untuk pergi makan siang. Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan.
"Vio, ayo cepat sedikit, aku sudah tidak tahan lagi menahan lapar," ucap Dinda sambil menarik lengan Viona yang baru saja menyelesaikan satu bagian analisis data.
Viona mengangguk dan menutup laptopnya. "Iya-iya, ayo."
Mereka berdiri dan melangkah menuju lift bersama beberapa rekan kerja lainnya. Ketika pintu lift kembali terbuka di lantai dasar, Viona menghentikan langkahnya beberapa langkah didepan lift. Matanya terpaku pada seorang wanita yang sedang mengobrol dengan Arsen di dekat meja resepsionis.
Wanita itu tidak berpakaian resmi, namun setiap gerakannya terlihat elegan. Bibirnya sedikit membentuk senyum manis saat mengangguk pada apa yang dikatakan Arsen, tangan kanannya menyentuh lembut lengan pria itu sebagai bentuk keakraban.
Viona menurunkan sedikit pandangannya, matanya menatap lantai dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Entah mengapa hatinya merasa sakit seolah ditusuk duri saat melihat kedekatan Arsen dengan wanita itu. Dia tidak berhak merasa begitu, tapi perasaan itu datang dengan sendirinya tanpa bisa dia kendalikan.
"Kamu makan sendiri saja ya, Din, sepertinya aku sudah tidak lapar."
Kalimat itu keluar dengan suara yang lembut namun tegas. Dia menarik tangannya perlahan dari genggaman Dinda, lalu membalikkan badannya dan siap berjalan kembali ke arah lift. Namun sebelum dia sempat mengangkat kakinya, suara keras dan jelas dari Arsen menghentikan gerakannya.
"Viona, tunggu!"
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...