Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Semalaman Iren tidak memejamkan mata karena ia terus mencoba menghubungi Kevin, tetapi panggilannya tidak pernah tersambung sehingga setiap kali nada dering itu terputus, dadanya terasa semakin sesak. Ucapan Fatwa tentang pengadilan terus berputar di kepalanya dan membuat pikirannya semakin kacau.
Ia tidak mengerti bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Apa sebenarnya yang diinginkan Kevin? Apakah ini soal saham yang telah dialihkan atas namanya, atau memang hanya satu kemungkinan yang sejak tadi ia hindari untuk dipikirkan, yaitu perceraian.
Iren menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menarik napas panjang. “Kevin, apa perlu sampai begini?” gumamnya lirih dengan suara serak karena menahan kantuk dan emosi yang menumpuk.
Ia bersandar di kepala ranjang tanpa benar-benar tertidur sampai akhirnya matahari mulai menampakkan cahayanya dan sinar pagi menyelinap melalui celah tirai. Namun Iren masih berada di posisi yang sama dengan ponsel yang terus ia genggam seolah benda itu satu-satunya penghubung antara dirinya dan lelaki yang kini entah berada di mana.
Beberapa menit kemudian notifikasi masuk ke ponselnya.
[Bu Iren apa hari ini Anda akan ke kantor? Ada masalah di perusahaan.]
“Masalah?” ulang Iren pelan sambil mengernyit. Tanpa menunggu lama ia langsung menekan nomor bawahannya dan panggilan itu tersambung setelah dua kali dering.
“Ada apa?” tanyanya cepat meski suaranya terdengar lelah.
“Bu, perusahaan mengalami kesulitan uang kas. Ada beberapa pembayaran tertunda sejak kemarin sore dan pihak bank belum memberi konfirmasi pencairan dana,” jelas suara di seberang dengan nada tegang.
Iren langsung duduk tegak. “Pembayaran apa saja?”
“Gaji karyawan divisi produksi dan dua vendor utama, Bu. Mereka sudah menagih sejak tadi malam. Selain itu...” suara itu sempat terhenti.
“Selain itu apa?” desak Iren.
“Ada pembekuan sementara pada salah satu rekening perusahaan.”
“Rekening yang mana?”
“Rekening operasional utama, Bu.”
Iren terdiam sejenak. Rekening operasional utama berada di bawah otorisasi bersama dirinya dan Kevin, sehingga tidak mungkin dibekukan tanpa persetujuan atau permintaan dari salah satu pemegang kuasa.
“Sejak kapan dibekukan?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih dingin.
“Subuh tadi, Bu. Notifikasi resmi dari bank baru masuk.”
Subuh tadi. Saat ia masih mencoba menghubungi Kevin tanpa hasil.
“Bagus, Kevin. Jadi kamu pakai cara ini untuk membuatku tunduk?” gumam Iren sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada rasa marah yang perlahan menggeser kepanikan di dadanya.
Ia segera mengembuskan napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang sebelum kembali berbicara pada bawahannya. “Baik, tahan dulu semua transaksi besar. Jangan keluarkan pernyataan apa pun ke media atau pihak luar. Saya akan ke kantor sekarang, dan siapkan laporan lengkap dalam satu jam.”
“Baik, Bu.”
Setelah panggilan terputus, Iren menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama. Jika semalam ia masih mencoba meyakinkan diri bahwa kata pengadilan hanya luapan emosi, maka pembekuan rekening ini membuatnya sadar bahwa semuanya sudah melangkah lebih jauh. Ini bukan sekadar masalah rumah tangga, melainkan permainan kendali dan keputusan yang diambil tanpa sepengetahuannya.
Ia bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Di depan cermin, wajahnya tampak pucat karena kurang tidur, tetapi sorot matanya perlahan berubah menjadi lebih tajam.
“Kalau memang ini yang kamu mau, Kevin,” ucapnya pelan namun tegas, “aku tidak akan dengan mudah memaafkanmu.”
***
Di tempat lain, Kevin masih berdiri di dekat jendela ruang kerjanya ketika panggilan dari Nurma berakhir.
“Bagus, terima kasih,” ucapnya singkat setelah mendengar laporan bahwa pembekuan rekening operasional telah membuat arus kas perusahaan Iren terguncang dan beberapa transaksi terhambat.
Ia mematikan ponselnya lalu menatap hamparan gedung di luar sana dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum hangat, melainkan kepuasan yang tertahan.
“Ini baru permulaan, Iren,” gumamnya pelan. “Aku ingin lihat sampai sejauh mana kamu bisa bertahan.”
Ketika ia masih tenggelam dalam pikirannya, pintu ruangannya diketuk pelan sebelum akhirnya terbuka. Lidya melangkah masuk dengan membawa tablet di tangannya. Setelah mempertimbangkan cukup lama, Kevin akhirnya menerima kembali posisinya sebagai direktur utama HK Group, dan kini ia benar-benar duduk di puncak, perlahan mengambil kembali kendali yang sempat lepas dari tangannya.
“Hari ini ada jadwal kontrol kesehatan,” ujar Lidya dengan nada profesional namun tetap lembut. “Sudah empat tahun perusahaan dan para pemegang saham tidak menerima laporan kesehatan resmi dari Kakak, padahal itu menjadi salah satu syarat utama dalam perjanjian.”
Kevin tidak langsung menjawab. Ia masih menghadap jendela dengan kedua tangan di saku celana, lalu beberapa detik kemudian berbalik dan menatap Lidya.
“Aku tahu,” katanya tenang. “Ayo kita pergi sekarang.”
“Denganku?” Lidya mengangkat alisnya, sedikit terkejut.
Kevin menatapnya sekilas sebelum menjawab ringan, “Lalu dengan siapa lagi? Calon istriku juga berhak tahu kondisiku.”
Lidya mengerutkan dahi, jelas tidak menyangka ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Kevin. Ia masih belum sepenuhnya terbiasa dengan perubahan sikap lelaki itu yang kini jauh lebih terbuka dan bahkan terkesan menggoda.
“Kalau begitu aku ganti baju dulu,” ucapnya canggung.
“Kenapa harus ganti baju?” Kevin tersenyum samar. “Justru aku yang harus ganti supaya bisa mengimbangimu.”
Tanpa banyak peringatan ia melepaskan jasnya, lalu mulai membuka kancing kemeja tepat di depan Lidya.
Lidya sempat terpaku beberapa detik sebelum refleks membalikkan badan dan memunggunginya. “Apa Kakak tidak malu?”
“Kenapa harus malu?” jawab Kevin santai.
“Ya Tuhan… kalau begitu aku tunggu di luar saja,” ucap Lidya cepat sambil melangkah menuju pintu. Dalam buru-burunya ia hampir menabrak sofa sebelum akhirnya berhasil keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup dan Kevin terkekeh pelan melihat reaksi tersebut.
“Satu lagi aku menemukan sesuatu di dirimu,” gumamnya lirih, kali ini bukan dengan nada penuh perhitungan, melainkan rasa ingin tahu yang tipis namun nyata.
Beberapa menit kemudian pintu ruang kerja kembali terbuka. Kevin melangkah keluar tanpa setelan formal khas direktur utama. Ia hanya mengenakan kemeja gelap tanpa dasi dengan lengan digulung rapi, membuat penampilannya terlihat lebih sederhana, tetapi justru memancarkan ketegasan yang berbeda.
Lidya yang sejak tadi menunggu di luar sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersuara pelan, “Kakak yakin dengan penampilan ini?”
Kevin menatapnya sekilas lalu tersenyum tipis. “Kenapa? Tidak pantas?”
“Bukan begitu, hanya saja… pakaian ini tidak seharusnya Kakak pakai lagi, kan?” ujar Lidya hati-hati.
Kevin tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka menyempit dan membuat Lidya tanpa sadar menahan napas.