Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Hilangnya Segel Kacamata dan Gaya Rambut Quif
Matahari sore mulai condong ke barat, memanjangkan bayang-bayang di jalanan aspal.
Aku mengayuh sepeda Polygon-ku menuju Pondok Cafe Kanka, sebuah tempat nongkrong yang sedang hits di kalangan anak muda Pontianak. Namun, pikiranku tidak berada di jalanan, melainkan melayang jauh ke dua minggu ke depan.
Festival Olahraga.
Permintaan Bu Zeni tadi siang berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. "Ibu tahu pilar itu bukan Kevin, bukan Rafan. Tapi kamu."
Sambil mengayuh, otakku mulai menyusun simulasi strategi, tanpa bisa dicegah. Kebiasaan lamaku.
Kelas X-A hanya punya 15 orang. 8 laki-laki, 7 perempuan, batinku menganalisis.
Kevin, kapten basket, stamina bagus tapi egonya tinggi. Rafan, serba bisa tapi fisiknya standar. Sisanya rata-rata. Untuk memenangkan Juara Umum, kami butuh poin maksimal di cabang individu yang poinnya besar.
Aku membelokkan setang sepeda menghindari lubang jalan.
Aku harus menempatkan Kevin di Basket dan mungkin Lari 400 meter. Rafan di Badminton dan Catur. Zea... dia atletis untuk ukuran perempuan, mungkin Lari 100 meter dan Lompat Jauh. Sisanya... aku harus menambal lubang di cabang yang tidak diminati.
Aku menghela napas panjang. Menembak, Memanah, dan Karate. Tiga cabang itu biar aku yang ambil alih. Kalau perlu, aku akan jadi cadangan untuk estafet.
Sebenarnya aku sangat malas. Aku tidak mau melakukan ini. Tapi bayangan wajah Bu Zeni yang berharap, dan wajah teman-teman sekelas yang mungkin akan dibantai oleh kakak kelas... ah, sudahlah. Anggap saja ini amal jariyah.
Sepedaku akhirnya berhenti di parkiran Cafe Kanka. Tempatnya cozy, banyak tanaman hijau dan lampu-lampu gantung estetik.
Aku masuk ke dalam, lonceng pintu berdenting pelan. Hawa dingin AC menyapa. Mataku memindai ruangan dan langsung menemukan sosok yang kucari.
Zea duduk di sofa pojok dekat jendela besar. Dia melambaikan tangan dengan antusias begitu melihatku.
Tapi dia tidak sendiri.
Di sebelahnya, duduk seorang gadis lain yang mengenakan seragam SMA Cendekia juga, tapi dengan badge kelas 11. Rambutnya panjang bergelombang, wajahnya memiliki kemiripan dengan Zea tapi terlihat lebih dewasa dan tajam.
Aku berjalan mendekat. "Sore."
"Sore, Cal! Duduk, duduk!" Zea menepuk tempat kosong di sofa seberangnya.
Aku menurunkan tas, lalu menatap gadis asing di sebelah Zea.
"Oh iya, kenalin Cal," kata Zea cepat. "Ini Kak Vania. Sepupuku. Dia kelas 11 IPA 2. Tadi kebetulan ketemu di jalan, jadi aku ajak sekalian."
Gadis bernama Vania itu menatapku lekat-lekat, tatapan menilai dari ujung rambut sampai kaki.
"Jadi ini Callen yang sering kamu ceritain, Ze?" tanya Vania, suaranya terdengar skeptis tapi penasaran.
"Iya, Kak. Ini Callen," jawab Zea bangga.
Vania menyipitkan mata. "Namanya santer banget lho di angkatan kelas 11. Ada gosip bilang kalau Bagas dan dua temannya dibuat pingsan di belakang perpus sama anak kelas 10 bernama Callen. Itu kamu, kan?"
Jantungku berdegup satu ketukan lebih cepat. Gosip itu menyebar lebih cepat dari virus.
Vania menatap tubuhku yang terbalut seragam longgar. "Tapi... kok kurus begini? Apa bener dia orangnya, Ze? Jangan-jangan cuma nama yang sama?"
Zea buru-buru menggelengkan kepala, wajahnya sedikit panik takut aku tidak nyaman. "Ah, Kak Vania apaan sih. Udahlah, nggak usah bahas gosip nggak jelas. Cal ikut ke sini mau belajar bareng, sekalian makan."
Aku mengangguk pelan, memasang wajah polos andalanku. "Saya cuma kebetulan lewat situ, Kak. Mungkin Kak Bagas kelelahan."
Vania masih terlihat curiga, tapi dia mengangkat bahu. "Ya sudahlah. Pesanan kalian bentar lagi dateng."
Zea segera mengalihkan topik. Dia mengeluarkan buku-buku paket dari tasnya dan menumpuknya di meja.
"Ayo mulai, Cal! Otakku udah siap diisi," seru Zea semangat.
"Materi apa yang nggak kamu paham?" tanyaku sambil membuka tas, mengeluarkan pulpen.
"Banyak," Zea meringis. "Terutama Stoikiometri di Kimia sama Fungsi Kuadrat di Matematika. Itu bikin pusing."
Zea menyodorkan catatan kusamnya. Tulisannya rapi tapi isinya penuh coretan tanda tanya.
Aku menggeser dudukku sedikit lebih maju. Tanpa sadar, posisi kami menjadi cukup dekat karena meja kafe yang tidak terlalu besar. Aku mengambil kertas kosong, lalu mulai menuliskan beberapa soal turunan dari materi yang dia bingungkan.
"Coba kerjain ini dulu," kataku, menyodorkan kertas itu. "Konsepnya sama kayak contoh nomor 3, tapi angkanya aku ganti biar kamu paham polanya."
Zea mencondongkan tubuhnya untuk melihat soal itu. Bahu kami bersentuhan. Aroma parfum vanilla-nya kembali tercium jelas.
"Ehm... oke..." gumam Zea. Dia mulai mengerjakan, tapi aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar. Dia tidak fokus pada soal, tapi fokus pada jarak wajah kami yang hanya terpaut sejengkal.
Aku memperhatikannya menulis. "Itu salah, Ze. Pangkatnya dikalikan dulu, bukan ditambah."
Aku menunjuk bukunya dengan ujung pulpen, tanganku melewati depan dadanya. Zea menahan napas, wajahnya memerah. Dia hanya mengangguk kaku. "O-oke... paham..."
Vania yang duduk di samping Zea hanya bisa memutar bola matanya malas melihat pemandangan itu.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan nampan besar. Ada chicken nuggets, sosis goreng jumbo, kentang, dan dua gelas ice chocolate ukuran besar.
Aku mengerutkan kening. "Aku nggak pesen ini."
Zea tersenyum lebar sampai matanya menyipit. "Nggak apa-apa, Cal! Aku yang traktir. Anggap aja ini jasa karena kamu mau jadi guru privat dadakan aku."
"Nggak usah, Ze," tolakku halus. "Aku nggak mau ngerepotin kamu. Cukup air putih aja."
Mata Zea langsung melotot garang. Bibirnya manyun. "Hmm... jadi kamu nolak rejeki? Kamu nggak mau makanan yang aku beli khusus buat kamu?"
Melihat wajah cemberutnya yang, harus kuakui, terlihat lucu, pertahananku runtuh. Berdebat dengan Zea soal makanan adalah hal yang sia-sia.
Aku menghela napas pasrah. "Oke. Makasih ya."
Zea langsung bersorak senang. "Nah gitu dong! Makan yang banyak biar pinter!"
"Bucin banget sih kalian," celetuk Vania tiba-tiba, memecah momen itu. Dia menatap kami dengan tatapan julid. "Bisa nggak bucinnya ditahan dikit? Kepala gue pusing liatnya. Berasa jadi obat nyamuk tau nggak."
Zea tersedak minumannya. "Uhuk! Apaan sih Kak! Siapa yang bucin!"
Aku juga sedikit kaget, lalu buru-buru menegakkan punggung dan menjaga jarak. "Maaf, Kak. Kami nggak bermaksud gitu."
Aku menoleh ke Zea, berusaha kembali profesional. "Ayo Zea, serius. Jawab soal nomor 4. Waktumu 5 menit."
Melihat ketegasan pura-puraku dan tatapan iri sepupunya, Zea mengangguk patuh dan kembali fokus ke kertas soal.
Sepuluh menit berlalu dengan tenang. Tiba-tiba aku merasakan panggilan alam. Mungkin efek minum es cokelat terlalu cepat.
"Aku ke toilet bentar ya," pamitku.
Aku bangkit berdiri dan berjalan menuju arah toilet yang letaknya di lorong belakang kafe.
Lorong itu agak sempit dan penerangannya remang-remang estetik. Tepat saat aku berbelok di tikungan lorong, seorang pegawai kafe berjalan tergesa-gesa dari arah berlawanan. Dia membawa tumpukan kardus stok sabun cuci piring yang sangat tinggi, menutupi seluruh wajah dan tubuh bagian atasnya.
"Awas!"
Terlambat.
BUKK!
Pegawai itu tidak melihatku. Kardus yang dia bawa menghantam bahuku keras. Karena kaget, kakinya terpeleset di lantai yang ternyata sedikit basah. Dia jatuh ke depan, menubrukku.
"Argh!"
Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terbanting ke lantai keramik. Pegawai itu jatuh menimpaku. Kardus yang dia bawa terbuka, isinya—botol-botol sabun cair yang tutupnya longgar—tumpah ruah.
Cairan sabun licin membanjiri lantai.
Kacamataku terlepas dari wajah akibat benturan.
"Aduh... Mas! Maaf Mas!" seru pegawai itu panik.
Aku mencoba bangun, tapi lantai yang penuh sabun membuatku tergelincir lagi.
Sret!
Kakiku menendang sesuatu di lantai. Benda kecil, ringan.
Klotak... Plung.
Suara itu berasal dari saluran pembuangan air (selokan kecil) yang terbuka di pinggir lorong karena sedang dibersihkan.
Mataku menyipit, pandanganku sedikit buram karena minus, tapi aku tahu suara apa itu. Kacamataku. Masuk ke dalam selokan gelap yang penuh air keruh.
Hening.
Aku duduk di lantai yang licin, basah oleh sabun, menatap lubang selokan itu dengan tatapan kosong. Tamat sudah. Itu kacamata satu-satunya yang kubawa.
"Mas... Ya ampun Mas, maaf banget!" Pegawai itu buru-buru berdiri, membungkuk berkali-kali. Wajahnya pucat ketakutan. "Saya nggak liat jalan tadi... Mas nggak apa-apa? Ada yang luka?"
Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku yang terciprat sedikit sabun. Marah pun tidak akan mengembalikan kacamataku. Lagipula ini kecelakaan.
Aku menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mas. Saya nggak luka. Cuma kacamata saya... yah, sudah nasib."
"Saya ganti Mas! Nanti saya ambil duit dulu!"
"Nggak usah," potongku sambil berdiri hati-hati. "Mas bersihin aja ini biar nggak ada korban lain. Saya mau ke toilet dulu."
Pegawai itu menatapku dengan rasa bersalah yang luar biasa, tapi dia mengangguk dan tersenyum lega karena aku tidak memperpanjang masalah.
Aku masuk ke dalam toilet, mengunci pintu, dan berdiri di depan wastafel.
Aku menatap cermin.
Tanpa kacamata, mataku terlihat tajam. Alis tebalku yang biasanya tertutup bingkai kini terlihat jelas. Tapi masalahnya ada di rambut.
Rambut poniku yang basah terkena cipratan air dan sabun kini turun menutupi mata, lepek, dan berantakan. Tanpa bingkai kacamata yang menopang wajah, gaya rambut "poni lempar" ini justru membuatku terlihat sangat suram. Culun. Seperti hantu di film horor Jepang.
"Jelek banget," gumamku kritis. "Kalau aku balik ke meja kayak gini, Zea bakal ilfeel seumur hidup."
Aku tidak bisa keluar dengan tampang menyedihkan ini. Aku harus melakukan sesuatu.
Kacamata hilang. Artinya, fitur wajahku terekspos. Kalau begitu sekalian saja.
Aku menyalakan keran air. Membasuh wajahku sampai bersih dan segar. Lalu, aku membasahi kedua telapak tanganku dengan air.
Aku menyisir rambutku ke belakang dengan jari. Menggunakan sedikit sabun cuci tangan yang ada di wastafel sebagai pengganti gel darurat (hanya sedikit, agar tidak berbusa, tapi cukup kaku).
Aku menaikkan seluruh poniku ke atas, membentuk gaya Quiff klasik. Bagian samping kuusap rapi ke belakang telinga.
Selesai.
Aku menatap cermin lagi.
Sosok di sana bukan lagi Callen si murid pendiam.
Tanpa kacamata dan dengan dahi yang terekspos penuh, wajahku berubah total. Tulang rahangku terlihat tegas. Hidung mancung warisan Mam Genevieve menjadi pusat perhatian. Mata biru terangku yang tajam kini tidak terhalang apa pun. Tatapanku terlihat intens, dewasa, dan... dominan.
"Lumayan," gumamku. "Setidaknya nggak kelihatan culun."
Aku merapikan kerah seragamku yang sedikit berantakan, menarik napas panjang, lalu membuka pintu toilet.
Aku berjalan kembali menyusuri lorong, melangkah dengan percaya diri karena pandanganku sedikit buram jika menunduk (efek minus), jadi aku harus mendongak dan menatap lurus ke depan.
Aku sampai di area meja kafe.
Zea sedang mengaduk es cokelatnya sambil mengobrol dengan Vania.
"Cal kok lama banget ya?" gumam Zea, melirik jam tangannya.
"Paling dia sakit perut," sahut Vania cuek.
Aku berhenti tepat di samping meja mereka.
"Sorry lama. Tadi ada sedikit insiden," ucapku tenang, suaraku terdengar lebih berat.
Zea menoleh sambil cemberut. "Cal... kamu lumayan lama di kamar mandi, kamu—"
Kalimat Zea terhenti di tenggorokan.
Matanya melebar. Sendok di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke gelas.
Dia mendongak, menatap sosok laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Rambut hitam legam yang ditata naik (Quiff) memperlihatkan kening yang bersih. Tidak ada kacamata tebal. Mata tajam yang biasanya sembunyi kini menatapnya langsung. Wajah yang... Tuhan, tampan sekali.
Mulut Zea terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.
Vania di sebelahnya juga ikut melongo. Dia sampai harus membetulkan posisi duduknya. "Wah..."
"Se-sebenarnya..." Zea tergagap, wajahnya memerah padam sampai ke akar rambut. Jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dari saat di belakang sekolah. "Wahhh... Cal... i-itu kamu kah?"
Aku menatap mereka bingung—sedikit menyipitkan mata untuk memfokuskan pandangan.
"Iya, ini aku," jawabku datar. "Kacamataku jatuh ke selokan. Jadi ya... begini deh."
Zea masih mematung, menatapku seolah aku adalah makhluk mitologi yang baru turun dari kahyangan. Dalam hatinya, dia menjerit histeris: INI DIA! INI CALLEN VERSI RAMBUT BIRU TAPI VERSI HITAM! DAN DIA LEBIH GANTENG ASLINYA!
Sore itu, di Cafe Kanka, segel penampilanku resmi terbuka. Dan sepertinya, hidupku tidak akan pernah tenang lagi setelah ini.