Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memastikan Kamu Aman
Setelah badai yang dibawa Arjuna dan Briana reda, keheningan di lorong rumah sakit itu terasa begitu pekat. Di sana hanya ada Qais dan Aiza yang sedang menatap kembali harinya yang tadi sempat terbawa suasana.
Qais hanya menatap dalam diam Aiza yang sedang mengatur nafasnya.
Setelah keheningan itu, Aiza menoleh pada Qais. Pria itu cepat-cepat menundukkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari Aiza.
“Sudah larut, Aiza. Lebih baik kamu istirahat dulu." Qais tersenyum tipis, namun sopan.
“Baik, Gus. Kalau begitu Aiza duluan. Assalamualaikum."
“Waalaikumsalam."
Malam semakin larut, suasana sangat sunyi di koridor VVIP, hanya ada langkah perawat yang sesekali lewat.
Di dalam kamar rawat Warih, Aiza tak benar-benar istirahat. Usai melaksanakan shalat isya, gadis itu lanjut berzikir di atas sajadah yang kebetulan disediakan di kamar itu.
Namun, ketika pintu digeser pelan, Aiza menoleh. Qais berdiri di depan pintu, di tangannya ada dua cup coklat hangat dan selimut tebal yang tersampir di lengan.
"Maaf mengganggu…. saya hanya ingin memberikan ini," katanya sambil menunjukkan apa yang ia bawa.
Aiza buru-buru berdiri untuk menghampiri.
"Tidak apa-apa, Gus. Saya juga sudah selesai.”
Mereka berdiri dengan jarak yang sopan, pintu dibiarkan terbuka agar tak terjadi khalwat.
"I-ini untuk saya, Gus?” tanya Aiza sambil menatap selimut dan dua cup coklat itu.
"Iya. Kebetulan tadi saya mau minum coklat, jadi sekalian bikin buat kamu. Ini.”
Qais menyerahkan salah satu coklat di tanyanya pada Aiza, juga selimut yang tadi ia bawa.
"Gunakan selimut itu. AC di sini sangat dingin saat tengah malam. Jangan sampai kamu jatuh sakit," lanjut Qais. Suaranya rendah, menenangkan badai di hati Aiza.
Aiza menatap selimut itu, lalu menatap Gus Qais dengan haru. "Terima kasih, Gus. Dan... maaf jika keberadaan kami merepotkan tugas Gus.”
Gus Qais tersenyum tipis, matanya menatap Aiza dengan keteduhan yang luar biasa.
"Menjagamu—em...maksud saya, menjaga pasien saya, tidak pernah menjadi beban, Aiza. Jika butuh sesuatu, tekan saja tombol di samping tempat tidur. Perawat akan memanggil saya, atau saya sendiri yang akan datang.”
Qais diam sejenak, ia ingin bertanya lebih, tentang Arjuna, tentang Briana dan tentang pernikahan mereka yang kandas, tapi ia tahu batasan. Tapi meskipun begitu, ia tetap akan mencari tahu demi keadilan.
“Perempuan seperti ini… membangkang di bagian mana?” bisiknya dalam hati.
Matanya mengarah pada Aiza, tapi tak benar-benar menatap lama. Ia hanya heran dengan cerita Sarah saat pertama kali dia ke rumah Arjuna, menjadi dokter pribadi adik perempuan Arjuna. Waktu itu:
"Q-qais to? K-kamu sudah jadi dokter?” Sarah tampak ketakutan dengan pikirannya sendiri, takut jika Qais akan membalas dendam atas perlakuannya pada Qais saat di kampung dulu. Nyatanya, Qais hanya tersenyum santun kayaknya menghormati yang lebih tua.
"Alhamdulillah, Bi.” Qais terdiam sesaat, tatapannya sedikit ragu saat ingin menanyakan sesuatu pada wanita paruh baya itu.
"Maaf, Bi. Semenjak saya di sini, saya tidak melihat Mbah dan Aiza, apa mereka pulang kampung?" tanya Qais hati-hati.
Awalnya Sarah terlihat gugup, tapi akhirnya menjawab juga. “Tapi…..kamu jangan membahas di depan keluarga ini ya. Saya takut. Jadi, Aiza dan den Arjuna itu sudah lama bercerai.”
Qais sontak saja terkejut, tapi ia memilih membiarkan Sarah selesai bercerita. "Aiza itu pembangkang. Mungkin karena masih mikirin kamu, makanya den Arjuna marah dan langsung diceraikan,” adu Sarah.
"Terus dimana sekarang mereka tinggal? Apa Bibi tau?”
“Ya ndak tau e. Wong Aiza pergi ndak ngasih tau."
___
“Gus…. Gus ndak papa?”
“Eh iya, Za. Alhamdulillah saya tidak apa-apa."
Qais terkesiap, fokusnya kini sepenuhnya kembali. Namun ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu pada Aiza.
“Aiza, saya sepertinya masih ada pekerjaan, saya permisi dulu. Kalau butuh sesuatu, langsung kasih tau saya saja, kebetulan saya shift malam.”
Aiza mengangguk cepat namun tetap sopan. Dia memberikan senyum paling tulus sebelum Qais benar-benar keluar dari ruang rawat Warih.
Malam itu, Aiza bisa tidur dengan nyenyak. Selimut dan coklat hangat pemberian Qais bukan hanya menghangatkan tubuhnya, tapi juga hatinya.
Matahari mulai masuk melalui celah gorden. Aiza sudah bangun sejak pukul tiga tadi, melaksanakan shalat malam sebagai rutinitasnya setiap malam, lalu dilanjutkan dengan shalat subuh wajib yang tak pernah tertinggal sekalipun.
Sementara Qais sudah rapi dengan jas putih dokternya, sedang memeriksa denyut nadi Warih dengan stetoskopnya.
“Gimana, Gus, kondisi Mbah?"
Qais menarik stetoskopnya dan meletakkan kembali di pundaknya.
"Kondisi Mbah sudah stabil, tidak adai yang begitu serius lagi. Cuma, saran saya lebih baik Mbah tetap dirawat beberapa hari lagi sampai pulih. Lagipula disini ada perawat yang memantau keadaannya 24 jam.”
Aiza nyengir, sedikit sungkan. “Tapi…kalau bisa pulang hari ini, saya bawa Mbah pulang aja, Gus. Saya juga harus kerja,” katanya. Akan tetapi selain alasan kerja, sebenarnya Aiza juga tak enak hati jika harus membebani Qais lebih lama lagi.
"Ya sudah, mana yang menurutmu baik saja. Tapi jika ada sesuatu, jangan sungkan kasih tau saya. Saya akan kasih kamu nomor HP saya, kamu bisa telpon saya nanti kalau ada apa-apa sama Mbah."
“Baik, Gus, in syaa Allah. Kalau begitu saya permisi pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya. Assalamualaikum," ucap Aiza sambil mendorong kursi roda Warih keluar dari ruangan itu.
"Waalaikumsalam.”
Qais hanya mengangguk pelan, tatapannya tak lepas dari punggung Aiza yang menjauh. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia tidak bisa membiarkan Aiza pergi begitu saja ke antah berantah.
Tanpa melepas jas dokternya, Qais berjalan menjaga jarak. Ia mengikuti angkot yang dinaiki Aiza dengan mobilnya dari kejauhan, hingga akhirnya ia sampai di sebuah kawasan kumuh yang terhimpit gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
Qais turun dari mobil, memarkirkannya di pinggir jalan besar, lalu berjalan kaki menyusuri gang sempit yang becek dan berbau pengap. Langkah sepatunya yang mahal terasa sangat kontras dengan genangan air limbah di sana. Sampai akhirnya, ia melihat Aiza membantu Warih masuk ke sebuah bangunan kayu yang atapnya miring dan dindingnya penuh tambalan kardus.
Qais terpaku di pojok gang. Jantungnya serasa diremas. Tapi dia hanya diam, menatap dari balik pagar rumah warga, memastikan bahwa kedua orang itu benar-benar masuk dan menutup pintu.
Namun, tiba-tiba, seorang ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian di depan rumahnya—menyapanya dengan suara nyaring.
“Eh, cari siapa, Mas ganteng? Rapih amat, mau cari Neng Aiza ya?”
Qais tersentak, ia tak sempat bersembunyi. Suara itu membuat Aiza yang baru saja akan menutup pintu rumah reotnya menoleh. Mata mereka bertemu. Aiza membeku, tangannya yang memegang pintu kayu lapuk itu gemetar. Malu sekaligus merasa rendah diri karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengetahui keadaannya sekarang.
“Gus? Kenapa Gus bisa ada disini?"
Qais tergagap malu, seperti orang yang baru saja tertangkap basah sedang memata-matai.
“Eh, Aiza….. maaf, tadi saya hanya ingin memastikan kalian aman sampai rumah," jawabnya sambil nyengir.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍