NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Pagi itu, Desa Asih dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa. Di depan posko KKN yang sederhana, sebuah mobil SUV putih mengkilap berhenti, kontras dengan jalanan tanah yang berdebu. Dari pintu kemudi, turunlah seorang wanita dengan penampilan yang sangat "kontras" dengan lingkungan pedesaan.

Ia mengenakan kacamata hitam oversized, setelan blazer linen berwarna krem yang rapi, dan sepatu hak tinggi yang langsung amblas ke tanah gembur begitu ia menapak. Itu adalah Amelia, kakak kandung Mika yang bekerja di bidang manajemen artis di Jakarta.

Mika yang baru saja keluar dari pintu posko bersama Siti dan Asia—masing-masing membawa plastik belanjaan untuk sarapan—langsung melongo.

"Loh, Kak Amel?! Ngapain di sini pake baju kayak gitu? Aduuh, Kakak mau main artis-artisan ya di tengah sawah?!" seru Mika sambil menghampiri kakaknya dengan wajah panik. Ia segera menarik Amel agar tidak terlalu menonjol di depan warga yang mulai melirik.

Amelia melepas kacamatanya, mengibaskan tangan ke depan wajahnya seolah menghalau hawa panas. "Kakak cuma mau ngecek kamu, Mika. Mama khawatir kamu beneran jadi 'anak air' yang lupa pulang. Sekalian... kata Siti di grup WhatsApp, Pak Kadesnya ganteng banget ya? Pantesan kamu betah banget, padahal biasanya baru kena nyamuk dikit udah minta pulang ke Jakarta."

Mika langsung melotot ke arah Siti yang pura-pura sibuk melihat awan. "Dih, apa-apaan sih! Ganteng iya, tapi nyebelinnya itu loh, Kak! Kayak Dajjal versi kaku. Nggak usah bahas dia, mending Kakak masuk dulu, ganti baju!"

"Nggak usah. Kakak mau liat proyek kamu. Katanya hari ini mau pasang alat besar di sungai? Kakak bakal jadi mandor kalian hari ini," ucap Amel dengan nada final yang tidak bisa dibantah.

Dua jam kemudian, tim KKN Mika sudah berada di pinggir sungai, tepat di tikungan yang dikatakan Mbah Darmo sebagai titik paling berbahaya. Amel benar-benar menepati janjinya. Ia mengganti sepatunya dengan sepatu boots milik Siti, tapi tetap memakai kacamata hitam dan membawa payung cantik, berdiri di bawah pohon rindang seolah sedang mengawasi syuting film kolosal.

"Mika! Itu kayunya kurang miring lima derajat! Nanti arusnya nggak keputar sempurna ke arah filter!" teriak Amel sambil menunjuk-nunjuk dengan payungnya.

Mika yang sudah basah kuyup bersama Arga dan Rendy di dalam air hanya bisa mengelap keringat yang bercampur air sungai. "Iya, Kak! Sabar! Ini lumpurnya licin banget!"

Di tengah keriuhan itu, deru motor Ninja yang sudah sangat akrab di telinga Mika terdengar. Alvaro datang. Namun kali ini ia tidak turun sendirian. Ia membawa beberapa balok kayu ulin tambahan di atas motornya yang dimodifikasi.

Alvaro turun dari motor, matanya langsung tertuju pada sosok asing berpayung (Amelia) yang tampak sangat berkuasa di pinggir sungai, lalu beralih pada Mika yang sedang berjuang menahan beban kayu di tengah arus.

"Siapa dia? Produser film?" tanya Alvaro datar saat ia sampai di dekat Siti.

Amelia yang mendengar itu langsung menoleh. Ia menurunkan kacamatanya sedikit, menatap Alvaro dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan profesional seorang manajer artis. "Oh... jadi ini Pak Kadesnya? Not bad. Potensi visualnya masuk kategori A-List kalau dipoles dikit," gumam Amel pelan yang membuat Siti menahan tawa.

Mika yang menyadari kehadiran Alvaro langsung berteriak dari tengah sungai. "Pak Kades! Jangan cuma nonton! Katanya mau bantu kalau saya beneran kerja?!"

Alvaro terdiam sejenak. Ia melihat betapa kerasnya Mika berjuang. Rambutnya berantakan, pipinya tercoret lumpur, tapi matanya berbinar penuh semangat. Tanpa berkata-kata, Alvaro melepas sepatunya, menggulung celana cargo-nya hingga paha, dan langsung terjun ke sungai.

BYUUR!

Kehadiran Alvaro di dalam air langsung membawa perubahan besar. Dengan kekuatannya, ia menahan balok ulin utama yang tadi hampir hanyut terbawa arus. Dada bidangnya bersentuhan dengan punggung Mika saat mereka bersama-sama menekan kayu itu ke dasar sungai.

"Tekan di sisi kanan, Mikayla. Jangan cuma pakai otot, pakai berat badanmu," bisik Alvaro tepat di telinga Mika. Hembusan napasnya membuat tengkuk Mika meremang di tengah dinginnya air sungai.

"Iya, tahu! Nggak usah sedeket ini juga kali!" balas Mika sewot, meski ia tidak menjauh.

"Nah, bagus! Pak Kades, tolong pegang yang itu! Mika, kamu ambil bornya! Action!" teriak Amel dari pinggir sungai layaknya sutradara.

Alvaro melirik ke arah Amel dengan kening berkerut. "Kakakmu memang selalu seperti itu?"

"Anggap saja dia gangguan sinyal, Pak. Fokus ke kayunya aja!" sahut Mika sambil berusaha mengebor kayu ulin di bawah air.

Seharian penuh mereka berjibaku dengan arus. Berkali-kali alat mereka hampir terbawa air, berkali-kali pula Alvaro harus menangkap tubuh Mika yang limbung karena diterjang arus deras. Setiap kali Alvaro memegang pinggang atau lengannya untuk menstabilkan posisinya, Mika merasa ada aliran listrik yang lebih kuat dari arus sungai di sekeliling mereka.

Saat matahari mulai condong ke barat, alat itu akhirnya berdiri tegak. Sebuah konstruksi filter mekanik yang tampak kokoh, menyatu dengan alam namun terlihat sangat canggih.

Mika naik ke daratan dengan tubuh gemetar karena kedinginan. Amel segera menyampirkan handuk ke bahu adiknya. "Kerja bagus, Tim! Pak Kades, makasih ya bantuannya. Tanpa Bapak, mungkin adik saya sudah hanyut sampai ke kabupaten sebelah."

Alvaro yang baru keluar dari air, dengan kaos hitam yang kini mencetak jelas bentuk otot perutnya karena basah, hanya mengangguk singkat. Ia mengambil botol minumnya dan menegaknya hingga habis, memperlihatkan jakunnya yang naik turun—pemandangan yang membuat Asia dan Siti diam-diam saling menyenggol lengan.

"Alatnya cukup kuat," puji Alvaro singkat sambil menatap hasil kerja Mika. "Tapi kita lihat besok pagi. Kalau masih berdiri, saya akan akui kamu bukan cuma mahasiswi kota yang manja."

Mika tersenyum sombong meski giginya gemeletuk kedinginan. "Siapkan saja tanda tangan bapak di lembar persetujuan saya."

Saat teman-teman yang lain dan Amel sudah berjalan lebih dulu kembali ke posko untuk menyiapkan makan malam, Mika masih tertinggal di pinggir sungai untuk merapikan sisa-sisa kabel. Alvaro pun masih di sana, sedang membersihkan kakinya dari lumpur.

"Kakakmu... dia orang yang ekspresif," ucap Alvaro tiba-tiba, memecah kesunyian senja.

Mika terkekeh. "Dia emang gitu, Pak. Terlalu sering megang artis jadi ngerasa dunia ini panggungnya dia. Maaf kalau dia tadi agak... yah, Bapak tahu sendiri."

Alvaro menatap Mika. Tatapannya kali ini sangat berbeda. Tidak ada ejekan, tidak ada kedinginan. Hanya ada ketulusan yang tenang. "Dia benar soal satu hal."

"Soal apa?"

"Kamu betah di sini." Alvaro melangkah mendekat. "Awalnya saya pikir kamu akan menangis minta pulang di hari ketiga. Tapi melihatmu berendam di lumpur seharian tadi... kamu punya sesuatu yang jarang dimiliki orang kota. Daya tahan."

Mika tertegun. Pujian itu terasa lebih manis daripada sate yang dibayarkan Alvaro semalam. "Makasih, Pak. Tapi jangan pikir saya bakal lunak ya kalau Bapak nyebelin lagi besok."

Alvaro tersenyum tipis—kali ini senyum asli, bukan seringai. Ia merogoh saku celananya yang basah dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah cokelat batangan kecil yang bungkusnya sedikit lecek.

"Makan ini. Gula darahmu pasti turun setelah berendam seharian. Jangan sampai pingsan di posko, nanti kakakmu makin repot," ucap Alvaro sambil menyerahkan cokelat itu ke tangan Mika.

Mika menerima cokelat itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Bapak... selalu bawa cokelat ke mana-mana?"

"Hanya kalau saya tahu akan ada orang keras kepala yang kelelahan," sahut Alvaro misterius. Ia kemudian berjalan menuju motornya, memakai jaket denimnya yang ikonik (yang entah kapan sudah kering), dan melesat pergi.

Mika berdiri sendirian di pinggir sungai yang mulai gelap, menggenggam cokelat pemberian Alvaro. Di belakangnya, Amel tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.

"Tuh kan! Kakak bilang juga apa! Tatapan Pak Kades ke kamu itu bukan tatapan ke mahasiswa KKN, Mika. Itu tatapan ke... leading lady di film romansa!" goda Amel sambil tertawa kencang.

"Kak Amel! Ih, balik ke Jakarta aja sana!" teriak Mika malu, wajahnya merah padam seirama dengan warna langit senja Desa Asih.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!