Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ROTI COKLAT DAN JANJI MENJAGA
Motor Rian membelah jalanan sore hari yang mulai menggelap. Di atas motor, angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membawa suasana yang jauh lebih santai setelah peresmian hubungan di atas meterai tadi.
"Rin, jadi kita sudah resmi berpacaran ya?" tanya Rian memastikan lewat kaca spion.
"Iya," jawab Arini singkat, namun nada suaranya terdengar sangat bahagia.
Rian terdiam sejenak, lalu suaranya berubah sedikit lebih rendah dan serius. "Tolong, kamu jangan pernah bercerita tentang siapapun yang menyakitimu,".
Arini berfikir heran di balik pundak Rian. Ia tertawa kecil. "Kenapa?"
"Nanti orang itu akan hilang," jawab Rian dengan nada misterius.
Arini tertawa, menganggap itu hanya candaan khas kekasih barunya. "Wah, peramal sekarang seram banget, haha!" serunya sambil mencubit pinggang Rian.
Sesampainya di rumah Arini, Rian menunjukkan sikap sopan dengan menyalami kedua orang tua Arini yang sedang bersantai di teras. "Kalau begitu, Rian langsung pamit ya, Pak, Bu," pamit Rian santun.
"Gimana makan barengnya tadi di rumah Rian? Enak?" tanya Ibu Arini menyambut mereka.
"Enak banget, Mah! Sepertinya Mama harus mencoba masakan Bunda Rian deh," puji Arini bersemangat.
Rian tertawa bangga. "Masakan Bunda memang paling juara, haha! Kalau begitu aku pulang dulu ya, Rin,".
"Iya, Rian. Kamu hati-hati ya!" Arini melambaikan tangan sampai motor Rian menghilang di tikungan jalan.
Begitu Rian pergi, Ibu Arini langsung menggoda anak gadisnya. "Ciee... makin dekat saja nih sama Rian. Sudah jadian ya?"
Wajah Arini seketika memerah. "Iya, Mah," jawabnya malu-malu.
"Apa? Serius sudah jadian?" Ibu Arini langsung memeluk Arini dengan penuh kasih sayang. "Mama ikut senang ya, sayang, kalau kamu bahagia. Sudah, sekarang masuk dan istirahat yuk,".
"Terima kasih ya, Mah," ucap Arini.
Ayah Arini yang sejak tadi menyimak pun ikut angkat bicara. "Ayah juga setuju kamu berpacaran sama Rian. Dia anaknya baik dan sepertinya dia juga bertanggung jawab lewat ramalan-ramalannya,".
Arini tertawa geli mendengar komentar ayahnya. "Ih, Ayah apa sih! Masa tanggung jawab lewat ramalan?"
Ayah Arini tertawa lebar sambil melirik istrinya. "Memang lucu ya, Mah, kalau anak muda yang lagi jatuh cinta digoda sedikit langsung salah tingkah!"
Ibu Arini pun ikut tertawa melihat putri mereka yang sedang berbunga-bunga.
Malam itu, Arini berbaring di kasurnya dengan perasaan yang bahagia Langit-langit kamarnya seolah dipenuhi bayangan wajah Rian yang konyol namun menenangkan. "Lucu juga... ternyata Rian benar-benar jadi pacarku," gumamnya sambil memeluk guling. "Awalnya cuma ramalan, tapi sekarang aku benar-benar bahagia dan menyukainya."
Arini pun tertidur dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya.
Keesokan harinya, Rian sudah setia menjemput Arini di rumah nya.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arini merogoh tasnya dan menyodorkan roti coklat. "Makan ya, ini roti cokelat untukmu," ucap Arini perhatian.
"Roti cokelat? Wah, aku suka!" Rian langsung melahapnya dengan lahap.
Arini tersenyum lebar melihat kekasihnya makan dengan lahap. "Enak tidak?"
"Enak banget!" sahut Rian dengan mulut yang masih penuh roti.
"Ini buatan Mamaku," tambah Arini bangga.
Rian menyeringai jahil. "Pantas enak banget, ternyata buatan calon mertua Hehe,".
"Ih, kamu apa sih!" Arini mencubit lengan Rian pelan, namun pipinya memerah.
Tiba-tiba, Yusa dan Siska datang menghampiri mereka. "Ciee... suap-suapan lagi nih! Sudah jadian ya?" goda Siska dengan mata berbinar.
Rian menegakkan tubuhnya, menatap Siska dengan serius namun tetap santai. "Siska, tolong jagain Arini ya. Kalau ada yang berani dekat-dekat, bilang ke gue. Arini sekarang pacar gue," ucap Rian dengan tegas.
Siska melongo sesaat sebelum berteriak heboh. "Apa? Pacar lo? Oh my God! Ini serius? Really? Kalian pacaran?!"
Arini hanya bisa mengangguk malu-malu.
"Ahh, gila gila! Tapi btw, selamat ya! Lu tenang saja, Rian, gue jagain pacar lo ini, hehe," janji Siska penuh semangat.
Namun, di balik kehebohan Siska, Yusa hanya terdiam. Ia melirik Rian dengan tatapan tajam dan panas. Hatinya terasa terbakar mendengar pengumuman itu. Tanpa sepatah kata selamat pun, Yusa membalikkan badan. "Ya sudah, kalau begitu gue ke kelas duluan ya," ucapnya dingin.
"Yee... Yusa malah pergi! Jangan bilang cemburu sama Rian, haha!" teriak Siska menyindir.
"Ih, Siska, apaan sih" Arini merasa tidak enak.
Rian tidak menjawab. Ia hanya diam, melirik tajam ke arah punggung Yusa yang berjalan menjauh. Insting "peramal"-nya mulai memberikan sinyal kegelisahan.
"Ya sudah, aku masuk kelas dulu ya, Rian," pamit Arini sambil melambaikan tangan.
Rian membalas lambaian itu dengan senyum, meski pikirannya mulai menerawang jauh ke depan.
Tiba-tiba, sebuah tepukan keras mendarat di bahu Rian. Gery datang dengan cengiran khasnya. "Woi, Rian! Dari kapan lu datang?" tanya Gery santai.
"Dari tadi," jawab Rian singkat.
Gery melihat pemandangan di sekitar. "Gokil, tumben lu tidak sama Arini?"
"Arini sudah masuk ke kelas. Btw, gue mau minta tolong sama lu nih," ujar Rian dengan nada yang tiba-tiba berubah serius.
Gery. "Minta tolong apa?"
"Tolong liatin Yusa. Kalau dia dekatin Arini, kasih tahu gue," pinta Rian tegas.
Gery tertawa kecil, merasa heran. "Lah, gimana ceritanya? Mereka kan sekelas, pengurus kelas lagi. Pasti bakal sering barengan lah,".
Rian menatap sahabatnya itu dengan tatapan tajam "Arini itu sekarang pacar gue, Ger,".
Gery tersontak kaget Apa?! Gokil! Lu beneran bisa dapetin Arini?!" serunya tidak percaya.
"Ya maksud gue, kalau Yusa dekatin Arini lebih dari soal pelajaran, lu kasih tahu gue," tambah Rian menekankan maksudnya sebagai Pelindung Arini.
Gery menepuk-nepuk pundak Rian dengan bangga. "Iya, iya. Btw, selamat ya! Tidak sia-sia perjuangan lu deketin Arini, haha! Ya sudah, gue masuk kelas dulu. Bye-bye lu!"
"Iye, lu juga bye-bye," balas Rian.
"Jam istirahat gue tunggu di lapangan basket ya! Ajak saja Arini biar nonton kita main," teriak Gery sambil berlari menuju kelasnya.
"Iya, sudah sono lu masuk kelas ah!" usir Rian sambil tertawa.
"Haha, iya! Mentang-mentang habis jadian, maunya sendirian saja dah, Bre!" goda Gery sebelum menghilang di balik pintu kelas.
Rian kemudian mulai berjalan menuju kelasnya sendiri. Saat melewati kelas Arini, langkahnya melambat.
Dari balik jendela, matanya beradu dengan mata Yusa. Mereka bertatapan sangat tajam, seolah ada percikan api yang menyambar di antara keduanya.
Arini yang sedang merapikan buku di mejanya, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Ia melihat mata Yusa tidak berkedip, menatap lurus ke arah jendela kelas. Penasaran, Arini mengikuti arah pandangan itu yang ternyata tertuju pada Rian yang baru saja lewat di depan kelas mereka.
Tatapan Yusa begitu tajam dan penuh permusuhan, sangat berbeda dari biasanya. Arini pun merasa suasana di sekitarnya mendadak menjadi dingin.
"Lo kenapa, Yus?" tanya Arini.
Yusa tersentak. Ia segera membuang muka dan pura-pura sibuk dengan ponselnya. "Gak... gak apa-apa," jawabnya pendek, suaranya terdengar sedikit bergetar karena menahan emosi.
Arini heran, Ia tahu Yusa berbohong, yang padahal Yusa melihat Rian yang berjalan di depan kelas karna Arini juga melihatnya tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
Apakah Rian sudah meramal bahwa Yusa akan menjadi ancaman bagi hubungan mereka?