NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22.Lubang lumpur.

Perubahan pada tubuh Yun Lan terjadi perlahan, tapi pasti.

Bukan perubahan yang mencolok dalam sehari dua hari.

Melainkan perubahan yang hanya bisa disadari oleh orang-orang yang melihatnya setiap hari.

Pipi yang dulu penuh kini mulai mengempis.

Lehernya terlihat lebih jenjang.

Bahu lebarnya tidak lagi tampak berat, melainkan kokoh.

Lengan yang dulu tampak tebal kini memperlihatkan garis otot yang tegas.

Langkahnya ringan.

Napasnya lebih teratur.

Dan yang paling terasa bukan pada tubuhnya.

Melainkan pada cara ia bergerak.

Yun melihat itu dengan tenang dari kejauhan.

Yun Lan tidak lagi bergerak dengan tenaga mentah yang meledak-ledak seperti dulu.

Kini setiap gerakannya lebih terarah.

Lebih terkontrol.

Lebih hemat.

Seperti sungai deras yang kini mengalir di alur yang tepat, bukan lagi banjir yang meluap tanpa arah.

“Tenagamu dulu seperti orang memukul dinding dengan palu,” kata Yun suatu pagi ketika mereka selesai latihan.

Yun Lan mengusap keringat di dahinya.

“Sekarang?”

“Sekarang seperti seseorang yang tahu di mana tembok itu rapuh.”

Yun Lan tersenyum kecil.

Ia mulai mengerti.

Yun tidak pernah benar-benar mengajarinya cara menjadi kuat.

Yun mengajarinya cara tidak membuang kekuatannya.

Dan dari situlah semuanya berubah.

Ia tidak lagi lelah lebih cepat dari yang lain.

Tidak lagi merasa berat di akhir latihan.

Bahkan kadang, ia merasa masih punya tenaga saat yang lain sudah terengah.

Shi yang pertama menyadarinya.

“Kau makin cepat.”

Han yang berikutnya.

“Kau tidak lagi terdengar seperti kerbau berlari.”

Qiao hanya mendengus.

Tapi matanya mengakui.

Xin tidak banyak bicara.

Ia hanya memperhatikan.

Lalu suatu pagi, sebelum latihan dimulai, Komandan Zhou berdiri di tengah lapangan dengan suara lantang.

“Hari ini tidak ada latihan biasa.”

Ratusan prajurit berhenti bergerak.

Semua menoleh.

“Kita adakan turnamen satu lawan satu.”

Suara riuh langsung pecah.

“Lapangan berlumpur. Tangan kosong. Tidak ada senjata.”

Sorak-sorai makin keras.

“Yang bertahan paling lama akan mendapat jatah tambahan dan cuti jaga malam selama tiga hari.”

Tawa dan teriakan langsung membahana.

Lapangan di sisi barat kamp segera disiram air dari ember-ember besar.

Tanah kering berubah menjadi kubangan lumpur tebal.

Licin.

Lengket.

Berbahaya.

Prajurit-prajurit berdiri mengelilingi, menunggu giliran.

Pasangan demi pasangan maju.

Bergulat.

Tergelincir.

Saling dorong.

Saling banting.

Tawa, teriakan, lumpur, dan keringat bercampur menjadi satu.

Xin menoleh ke Yun Lan.

“Kau ikut.”

Yun Lan terdiam.

“Aku?”

“Ya. Kau yang paling cocok.”

Shi mengangguk setuju.

Han menyeringai.

“Sudah lama ingin lihat kau melawan orang yang seukuranmu.”

Qiao hanya menyilangkan tangan.

Yun berdiri di tepi, memandang tanpa ekspresi.

Nama Yun Lan dipanggil.

Ia melangkah masuk ke lapangan lumpur.

Kakinya langsung tenggelam setengah betis.

Di seberangnya, lawannya sudah menunggu.

Seorang prajurit senior.

Tubuhnya hampir dua kali lebih besar.

Dada lebar.

Lengan seperti batang kayu.

Sorak-sorai langsung pecah.

“Yun lan lawan raksasa!,badan sudah kecil apa bisa melawan prajurit senior.”

Tawa terdengar lagi.

Yun Lan berdiri tenang.

Lumpur dingin merayap di kulit kakinya.

Ia tidak terburu-buru.

Komandan Zhou mengangkat tangan.

“Mulai!”

Prajurit besar itu langsung menerjang.

Cepat.

Brutal.

Ia berniat menjatuhkan Yun Lan dengan berat tubuhnya.

Tapi Yun Lan tidak lagi seperti dulu.

Ia tidak melawan dengan tenaga.

Ia melangkah menyamping.

Satu langkah kecil.

Tubuh besar itu kehilangan keseimbangan di lumpur.

Tergelincir.

Sorak tawa pecah.

Prajurit itu bangkit dengan wajah merah.

Ia menyerang lagi.

Kali ini lebih hati-hati.

Yun Lan menunggu.

Mengamati.

Saat tangan besar itu mengayun, Yun Lan menahan pergelangannya, memutar tubuh, dan menggunakan momentum lawan.

BRAK!

Tubuh besar itu terhempas ke lumpur.

Lumpur muncrat ke segala arah.

Suasana mendadak hening sepersekian detik.

Lalu meledak.

Yun Lan tidak langsung menyerang.

Ia menunggu.

Prajurit itu bangkit dengan marah.

Mereka saling mendekat.

Kini bergulat.

Tangan melawan tangan.

Bahu melawan bahu.

Lumpur membuat semuanya licin.

Tapi Yun Lan tahu cara mengatur pijakan.

Tahu kapan harus menekan.

Kapan harus melepaskan.

Ia tidak membuang tenaga.

Dan saat prajurit itu mulai kehabisan napas—

Yun Lan memanfaatkan celah.

Menarik kakinya.

Mendorong bahunya.

Menjatuhkannya telentang.

Lalu menahan dadanya dengan lutut.

Komandan Zhou mengangkat tangan.

“Cukup!”

Sunyi.

Prajurit besar itu terbaring di lumpur.

Terengah.

Yun Lan berdiri di atasnya.

Napasnya teratur.

Wajahnya tenang.

Sorakan pecah lebih keras dari sebelumnya.

Shi melompat-lompat.

Han berteriak.

Qiao tertawa keras.

Xin tersenyum tipis.

Yun hanya memandang dengan mata yang dalam.

Ia tahu.

Ini bukan karena Yun Lan makin kuat.

Ini karena ia akhirnya tahu bagaimana menggunakan kekuatannya.

Setelah beberapa ronde, turnamen selesai.

Tubuh mereka penuh lumpur yang mulai mengering dan mengeras di kulit.

Shi mengibaskan lumpur dari lengannya.

“Kita mandi di sungai saja!”

Han langsung setuju.

“Ya! Kalau kembali ke barak begini, kita bisa dikira patung tanah!”

Qiao tertawa.

Xin mengangguk.

“Mari.”

Yun Lan langsung berkata cepat.

“Aku kembali ke barak saja.”

Semua menoleh.

“Kenapa?” tanya Shi.

“Aku lelah.”

Han mendengus.

“Kita semua lelah.”

Qiao menyipitkan mata.

“Kau tidak pernah mandi bersama kami.”

Yun Lan terdiam.

Xin memandangnya lama.

Memikirkan sesuatu.

Lalu berkata tegas.

“Hari ini kau ikut.”

Yun Lan hendak menolak lagi.

“Aku benci air dingin, cukup aku basuh saja dengan air hangat saja. ”

“Kata siapa kita mandi di sungai yang dingin, di tengah musim dingin seperti ini. kita mandi di mata air panas dekat disini. ”Sahut Shi.

“Benar juga, Yun dan Yun lan belum tahu kalau disini ada mata air panas. ”ucap Qiao sambil merangkul pundak Yun lan.

Yun lan lalu memberikan isyarat pada Yun. Dewa tolong aku!, sambil menatap Yun.

Yun yang mengerti maksudnya tiba-tiba berkata santai.

“Aku dan dia pernah mandi bersama disana. Mungkin Yun lan sedang lelah, biarkan saja dia di barak sebaiknya kita pergi saja.”

Semua menoleh ke Yun.

Qiao menaikkan alis.

“Oh?”

Shi tertawa nakal.

Xin tetap menatap Yun Lan.

“Justru karena itu. Hari ini ikut.”

Keputusan sudah dibuat.

Mereka berjalan bersama ke tempat air panas di luar kamp.

Airnya jernih.

Mengalir pelan di antara batu-batu besar.

Satu per satu, mereka melepas pakaian luar dan terjun.

Tanpa rasa sungkan.

Tanpa malu.

Yun Lan berdiri kaku di tepi.

Masih berpakaian lengkap.

Lumpur mengering di bajunya.

Ia tidak tahu harus melihat ke mana.

Pandangan itu tidak bisa dihindari.

Tubuh-tubuh pria dewasa di sekelilingnya.

Air yang berkilau di kulit mereka.

Tawa mereka.

Jarak yang terlalu dekat.

Jantung Yun Lan berdegup keras.

Ia menahan napas.

Yun mendekat pelan.

Berdiri di sampingnya.

Lalu dengan suara cukup keras berkata, “Shi! Kau masih menyisakan lumpur di punggungmu!”

Shi langsung menoleh panik.

“Di mana?!”

Yun berjalan mendekat ke arah mereka.

“Di sini. Banyak sekali.”

Shi berteriak.

Han ikut tertawa.

Qiao dan Xin ikut mendekat.

Perhatian mereka berpindah.

Yun Lan memanfaatkan momen itu.

Dengan cepat, ia melangkah masuk ke air.

Masih dengan pakaian lengkap.

Air hangat menyentuh kulitnya.

Ia menahan napas.

Lalu berenang menjauh.

Ke sisi aliran air hangat yang lebih sepi.

Menjauh dari mereka.

Menjauh dari pandangan.

Di kejauhan, Yun melirik sekilas.

Memastikan Yun Lan sudah cukup jauh.

Lalu ia kembali sibuk mengomentari punggung Shi yang sebenarnya sudah bersih.

Yun Lan berhenti di balik batu besar.

Air menutupi tubuhnya.

Dadanya naik turun.

Jantungnya masih berdebar.

Ia menatap pantulan dirinya di air.

Wajah yang kini lebih tegas.

Tubuh yang berubah.

Kekuatan yang kini bisa ia kendalikan.

Tapi rahasia itu…

Masih harus ia lindungi mati-matian.

Dan Yun…

Adalah satu-satunya orang yang selalu berdiri di antara dirinya dan dunia.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!