Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 8
Malam harinya Daniel membaca dokumen yang diberikan oleh Bima dengan serius. Jika prediksinya tidak salah seharusnya ada begitu banyak kejanggalan yang terjadi di kasus pembunuhan 15 tahun yang lalu. Tempat yang menjadi TKP hingga saat ini masih ada, jika di lihat dari luar itu memang terlihat seperti bangunan yang kosong kumuh dan tidak berpenghuni, namun jika diperhatikan dengan seksama bagaimana mungkin bangunan yang sudah tidak ditinggali selama 15 tahun punya kaca yang cenderung terawat. Tidak ada yang pernah memasuki tempat itu setelah kejadian itu, tidak ada yang memastikan apakah masih ada kehidupan di sana.
Lambang pentagram terbalik pertama kali ditemukan pihak kepolisian dalam kasus ini dan tidak muncul lagi dalam kurun waktu 15 tahun. Kedua kasus ini sama-sama memakai metode penyiksaan yang tidak berperasaan. Apakah pelakunya adalah orang yang sama? Tapi bagaiman mungkin kepolisian tidak menyadari pergerakan residivis kelas kakap yang bergerak di tengah pusat kota?
Pikirannya melayang pada percakapan yang tidak sengaja ia dengar dari kedua orang tua Yulia. Mereka membicarakan tentang tanda pentagram yang tidak sempurna dan membuat ritualnya tidak sempurna. Mereka juga bergumam tentang ‘usaha yang sia-sia’ . Apakah mereka sedang membicarakan tentang kasus penemuan mayat itu, ada tanda pentagram di TKP?
Daniel segera membuka beberapa halaman terakhir yang melampirkan file gambar, lalu ia membuka laptopnya untuk membandingkan apa yang dipublikasikan oleh kepolisian dalam kasus baru-baru ini. Kedua gambar itu sekilas memang tampak sama, namun jelas gambar yang dipublikasikan oleh polisi tidak serapi apa yang ada dalam dokumen yang ia terima. Pelakunya adalah 2 orang yang berbeda.
Ia memperhatikan gambar-gambar yang terlampir. Hanya satu hal itu yang menjadi kesamaan kasus ini, yang lain jelas berbeda. Pandangannya tertuju pada sebuah foto yang berisi 4 orang. 2 orang dewasa, seorang remaja yang berusia kurang lebih 17 tahun dan bayi yang masih terbalut dalam selimut berwarna biru muda. Sekilas ia mengingat 2 arwah lainnya yang tinggal di kamar Yulia. Namun ia menepisnya, ada hal yang lebih penting. Jika 3 orang ini adalah korban yang ditemukan meninggal di TKP, lalu di mana bayi itu sekarang?
Ia kembali membalik halaman utama dokumen dan membacanya dengan serius. Menurut keterangan tetangga terdekat, saat kejadian pembunuhan itu berlangsung bayi berusia 2 tahun itu telah dititipkan ke nenek dari pihak ibu sejak beberapa hari sebelumnya. Namun setelah ditelusuri ternyata tidak ada satu pun keluarga korban yang masih hidup. Kakeknya telah meninggal saat bayi itu berusia 2 bulan dan neneknya sudah meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Lalu di mana bayi itu?
Pelaku yang menjadi buronan kepolisian hingga saat ini adalah seorang residivis kelas kakap yang kabur dari lapasnya. Lalu mengapa ia harus repot-repot mengambil bayi itu? Mengurus seorang bayi di tengah pelarian bukan lah hal yang mudah apa lagi dia seorang laki-laki yang tidak punya banyak kesabaran, mana mungkin ia mau mengurus seorang bayi. Lagipula jejaknya sudah tertinggal di TKP, tidak mungkin ia dapat membersihkan namanya dengan mudah.
Ia membaca sebuah kertas kecil yang ditulis dengan tulisan tangan dan disatukan dengan plaster tambahan.
Tempat tidur bayi itu sudah tidak ditempati selama beberapa hari, namun masih ada jejak kehangatan di sekitarnya, susu yang setengah habis, dan selimut yang berantakan seperti baru saja digunakan. Masih banyak pakaian dan selimut bayi yang belum selesai dicuci, membuat pihak forensik curiga bayi itu masih ada di TKP.
Apa yang tertulis dalam laporan pihak forensik dengan apa yang dipublikasikan sepertinya sangat berbeda. Sepertinya kepolisian juga berusaha menutupi kasus aslinya, ada begitu banyak koreksi yang ditulis dalam satu dokumen ini. Apa kepolisian sebenarnya tahu kalau pelaku pembantaian itu bukan residivis bernama Angga itu?
Pikirannya melayang pada percakapan yang terjadi di kelasnya sore ini. Yulia bahkan tidak tahu menahu tentang keluarganya, ia hanya tahu apa yang ia lihat dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada dokumen atau data yang bisa ia baca. Tapi mereka pendatang baru di kota ini, mengapa begitu mudah masuk tanpa dokumen? Bagaimana caranya mereka menghindari pajak?
Apa yang membuat mereka begitu mudah mengelabuhi orang? Daniel berpikir dengan keras untuk memecahkan masalah ini. Sampai sebuah ketukan pintu membuyarkan apa yang ada dalam otaknya.
“Pintunya tidak dikunci” ucap Daniel.
“Apa yang membuatmu begitu sibuk?” Tanya sang ibu begitu ia masuk.
“Hanya tugas sekolah” jawab Daniel “Bu, apa kau tahu bagaimana caranya mengendalikan pikiran seseorang agar dia bisa menuruti semua perintah kita?” tanya Daniel tanpa ragu.
“Pertanyaan apa itu?” kaget sang ibu.
“Itu materi sosiologi, itu ilmu sosial yang mempelajari tentang ketergantungan makhluk hidup kepada makhluk lainnya” jawab Daniel meyakinkan.
“Ah, ibu pernah membacanya. Hal besar yang dapat mengendalikan seseorang, mungkin kau bisa memberi mereka uang, barang atau jabatan. Namun jika kamu tidak mau mengeluarkan itu, mungkin kamu bisa belajar bagaimana hipnotis bekerja” ujar sang ibu setelah berpikir sesaat.
Yah itu dia jawabannya, hipnotis. Kenapa ia tidak pernah berpikir ke arah situ? Keluarga Yulia mungkin orang yang kaya, namun mereka bahkan tidak mau memperkerjakan seseorang. Mana mungkin mereka memberi orang asing uang.
“Sudah bereskan dulu buku mu dan turun untuk makan malam, ayahmu menunggu jangan sampai ia marah” ucap sang ibu sambil beranjak untuk keluar.
Daniel segera menyusul di belakangnya. Ayahnya sudah duduk di bangku utama dengan ponsel yang masih menyala. Namun begitu melihat mereka datang ia segera menutup ponsel itu dan meletakkannya begitu saja. Ia tidak menyembunyikan sesuatu di ponselnya, namun berusaha tidak melibatkan pekerjaan di meja makan.
“Bagaimana sekolahmu Dan?” tanya sang ayah.
“Tidak ada yang spesial” jawab Daniel singkat. Ia memperhatikan meja yang kini tampak lebih penuh dari biasanya.
“Kau yakin tidak ada yang spesial?” tanya Erwin lagi.
“Nanti saja tanyanya aku sangat lapar” ucap Daniel sambil memenuhi piringnya dengan makanan. Dia melewatkan lirikan maut yang dilemparkan kedua orang tuanya.
Acara makan malam itu berjalan dengan khidmat tanpa ada satu pertanyaan pun. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring selama beberapa saat. Makan malam adalah hal yang paling penting dalam keluarga ini, karena saat itu lah mereka dapat berkumpul. Saat sarapan terkadang sang ayah akan berangkat sangat pagi, sementara saat jam makan siang jelas tidak ada satu orang pun di rumah. Solusi terakhir adalah makan malam.
30 menit kemudian meja itu dibersihkan dan diganti dengan hidangan penutup. Dari situ lah obrolan berlanjut.
“Jadi siapa orang spesial itu?” tanya Erwin kembali.
“Aku sudah bilang tidak ada yang spesial, aku sibuk memperbaiki nilaiku bagaiman caranya punya orang spesial?” jawab Daniel sambil balik bertanya.
“Lalu mengapa ayah mendapat laporan dari Mas Rian kalau kamu suka pulang terlambat akhir-akhir ini. Dia juga bilang kalau ada seorang gadis yang selalu pulang bersamamu, apa dia pacarmu?” tanya sang ayah sedikit bersemangat.
Daniel terdiam dan menghentikan sendok buah yang sudah hampir masuk ke mulutnya. Ia lupa ada manusia lain yang selalu ada bersamanya. Mengapa orang-orang sangat bersemangat untuk tahu kisah cintanya?
“Bukankah kalian berkencan kemarin?” imbuh sang ibu.
“Kami tidak berkencan, hanya sedang menjalankan tugas. Ayah dan ibu ini buru-buru sekali usiaku baru 17 tahun, aku bahkan belum punya pekerjaan atau penghasilan yang tetap. Sabar sedikit donk” jawab Daniel sedikit kesal. Mengapa semua orang berpikir bahwa mereka menjalin hubungan?
“Baiklah ibu percaya saja. Yang pasti kalau yang ini ibu tidak akan menolak” jawab sang ibu.
“Dari pada memikirkan siapa pacarku, mengapa kita tidak membicarakan bisnis saja” ucap Daniel mengalihkan pembicaraan. Ia juga ingin mengorek informasi sendiri.
“Bisnis apa?” tanya sang ayah tertarik
“Apa ayah mengenal Pak Teguh Santoso? Dia adalah orang tua Yulia, seorang teman baruku. Aku dengar dia pebisnis hebat” pancing Daniel.
“Ah aku ingat. Aku mengenalnya meski tidak cukup baik. Dan aku tidak ingin bekerjasama dengan dia, aku dengar dia berbisnis dengan orang yang tidak beres. Istrinya adalah seorang pemilik sebuah klinik aborsi berkedok klinik kecantikan. Hampir semua rekan bisnisku di kota memberi cap mereka buruk” jawab Erwin tanpa minat. Ia memakan potongan buah yang dipotong tidak simetris itu dan tersenyum kecil.
“Jadi mereka menjalani bisnis aborsi?” Tanya Daniel terkejut.
“Itu tidak pasti tapi kemungkinan iya. Kliniknya ada di pinggiran pusat kota tidak jauh dari Danau angsa. Dari luar memang tampak seperti klinik kecantikan namun jika ditelusuri lebih dalam kamu akan melihat hal yang tidak digunakan untuk kecantikan. Mungkin kamu akan melihat arwah banyak bayi di tempat itu. Mengapa kamu tertarik dengan orang ini? Apa anaknya membuat masalah, atau dia melakukan sesuatu?” jelas sang ayah sambil kembali bertanya.
“Tidak dia tidak membuat masalah, aku hanya penasaran mengapa tidak ada satupun data tertulis tentang dirinya. Tapi jika ayah tahu bisnis itu, artinya ada banyak orang yang tahu. Mengapa belum dilakukan penangkapan?” Tanya Daniel. Ia ingat beberapa bulan sebelum akhir tahun ada begitu banyak klinik ditutup paksa karena kasus aborsi ini, mengapa klinik itu tidak menjadi salah satunya? Apalagi tempatnya yang relatif mudah ditemukan.
“Aku tidak terlalu tahu mengapa, tapi aku dengar istrinya ini ahli hipnoterapi. Ada banyak orang yang melakukan aborsi di tempat itu karena metodenya yang cenderung aman meski harganya mahal. Mungkin dia menggunakan hipnotis ini untuk mengelabuhi petugas, tidak banyak orang yang bisa lepas dari hipnotis” jawab Erwin. Ia memejamkan matanya, tidak menyangka akan menceritakan hal seburuk ini pada keluarganya.
“Jadi pasangan ini berkolaborasi untuk usaha ini?” tanya sang ibu merinding.
“Ya, suaminya mencari mangsa dan istrinya melakukan eksekusi. Aku tidak terlalu faham bagaimana cara mereka berjalan, tapi yang pasti target utama mereka itu anak-anak SMA atau mahasiswa. Dengan adanya hal seperti itu kenakalan remaja jadi semakin tidak terkendali” jawab Erwin lagi. Ia melirik Daniel yang tampak termenung memikirkan sesuatu. Ia tidak pernah berharap putranya tidak melakukan hal-hal tidak terpuji seperti itu.
“Pantas saja ada begitu banyak mahluk mengerikan yang tinggal di rumah mereka, ternyata profesi asli mereka itu benar-benar ilegal. Berarti kemungkinan tidak ada satu pun arwah bayi yang akan aku lihat, karena arwah mereka sudah menjadi makanan makhluk-makhluk itu. Sebenarnya sekte sesat macam apa yang mereka ikuti. Pemuja setan?” gumam Daniel. Ia mengingat kembali makhluk-makhluk aneh yang menempati rumah itu.
Kedua orang tuanya bertukar pandang khawatir.
“Apa yang kau lakukan di rumah mereka?” Tanya Erwin khawatir.
“Tidak ada. Aku hanya mengantarkan Hani ke tempat itu, ia punya urusan dengan Yulia. Tapi anehnya yah, mengapa tidak ada satu pun makhluk mengerikan itu yang tinggal di kamar Yulia. Padahal tempat itu lebih mirip dengan rumah hantu dari pada rumah manusia” jawab Daniel lagi.
“Mungkin si Yulia ini masih berhati murni” jawab Erwin singkat.
“Tapi yah, mereka tidak punya satu pun data diri. Bagaimana caranya mereka menghadapi pemerintah atau hal-hal umum lainnya” tanya Daniel lagi.
“Kau lupa bahwa istrinya adalah seorang hipnoterapis, ia bisa saja membuat semua orang percaya bahwa datanya sudah lengkap. Meski faktanya tidak ada satu pun data yang tertulis” jawab Erwin lagi.
“Mereka seperti buronan” gumam Daniel.
Keheningan terjadi setelah gumaman yang diucapkan Daniel. Namun itu tidak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian suara alaram dari jam antik ayahnya berbunyi.
“Sudah tidak usah dipikirkan sekarang masuk dan istirahat, kamu masih harus pergi sekolah besok” ucap Erwin begitu alaram itu berhenti berbunyi.
Daniel dengan patuh pergi ke kamarnya, namun pikirannya masih dipenuhi oleh pernyataan yang baru saja ayahnya katakan. Aborsi, hipnotis, dan Yulia yang berhati murni. Sekilas ia mengingat Danila yang sampai saat ini belum di temukan, dan arwahnya sudah ada di kamar Yulia. Seperti apa dirinya, seperti Yulia yang polos atau kedua orang tuanya yang seperti iblis. Lalu apakah orang tua itu tidak menyadari kalau anaknya yang lain telah tiada?
Daniel segera membuka kembali dokumen yang tadi ia terlantarkan begitu saja. Ia membaca sedikit demi sedikit bagian-bagian yang sudah ditandai. Tidak ada keterangan waktu pasti dalam kejadian ini.
Laporan dimulai dari seorang petugas polisi bernama Ridwan yang melihat sebuah rumah dengan tirai putih tertutup darah. Ia yang curiga bergegas mengetuk, tetapi tidak ada jawaban setelah beberapa saat menunggu. Ia dengan tidak sabar membuka pintu dan menemukan seorang residivis yang menjadi buronan tengah mengancam seorang wanita. Tapi sebelum dia sempat berteriak, ada seseorang yang memukul tengkuknya dari belakang, itu membuatnya kehilangan kesadaran. Namun sebelum ia kehilangan kesadaran ia sudah mendengar lonceng jam dinding berdentang dengan nyaring yang menunjukan waktu tengah malam.
Ia sadar dari pingsannya pada pukul 00.15, dan polisi tiba di TKP tepat pukul 00.30. Ke-3 anggota keluarga itu sudah tewas dengan kondisi yang parah, TKPnya pun sangat berantakan dan mengenaskan, beberapa barang berharga dan sejumlah uang tunai hilang. Pencurian yang disertai pembunuh, apakah benar residivis itu pelakunya?
Daniel membaca kembali note kecil yang dipasang di sudut kosong halaman
Menurut keterangan Pak Ridwan ia masih melihat residivis itu mencekik leher korban wanita sebelum pingsan, ia masih mendengar lonceng jam yang menunjukan tengah malam. Itu artinya korban perempuan masih hidup saat tengah malam. Tapi hasil pemeriksaan menunjukkan sudah terjadi adanya livor mortis dan Rigor mortis, itu artinya korban sudah meninggal 2 jam sebelumnya. Lalu tidak ditemukan tanda adanya cekikan di leher korban meski ditemukan sidik jari terduga pelaku.
Itu artinya ada pelaku lain dalam kasus ini. Jika residivis itu masih ada di dalam ketika tengah malam, lalu siapa orang yang memukul polisi itu? Daniel perlu bantuan. Ia segera mencari ponselnya dan mengirim pesan pada Bima.
Pak Bima tolong temui aku di kafe dekat sekolah sepulang sekolah. Tolong bawa dokumen yang berkaitan dengan kasus tahun baru itu. Salinannya juga tidak masalah.