NovelToon NovelToon
SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

SANG PENDAKI RERUNTUHAN: MELAMPAUI MANUSIA KERTAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Sistem / Fantasi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 SANG KURCACI GRAVITASI

Ketinggian ini bukan lagi sekadar angka di atas permukaan laut, ia adalah sebuah pengadilan bagi daya tahan jiwa. Di titik ini, udara tidak lagi menyuplai kehidupan, ia hanya menyuplai rasa sakit. Setiap tarikan napas Abimanyu terasa seperti menelan serpihan kaca yang membekukan paru-parunya. Namun, rasa sakit fisik itu hanyalah gangguan kecil dibandingkan dengan apa yang mulai ia rasakan di pundaknya—sebuah beban yang melampaui berat materi, sebuah tekanan yang seolah-olah seluruh sejarah Lembah Nama sedang menumpang di punggungnya.

Abimanyu mencoba melangkah, namun kakinya terasa seberat timah panas yang baru saja mengeras. Ia berhenti, membungkuk dalam, dan di sanalah ia merasakannya: sebuah kehadiran yang dingin, kerdil, namun memiliki massa yang mampu meruntuhkan gunung.

"Kau terlalu berisik dengan pikiranmu tentang 'melampaui', Pendaki," sebuah suara berbisik tepat di telinganya. Suara itu tidak datang dari angin, melainkan dari sesuatu yang sedang duduk bertengger di pundaknya.

Abimanyu menoleh dengan susah payah. Di sana, di atas bahunya yang kini miring karena beban, duduklah seorang Kurcaci. Sosok itu tidak mengenakan jas tweed atau memegang pulpen emas, namun wajahnya adalah kumpulan dari setiap keraguan yang pernah dimiliki Abimanyu. Mata kurcaci itu kecil, sipit oleh rasa sinis, dan kulitnya tampak seperti perkamen tua yang penuh dengan coretan angka statistik yang membosankan.

"Aku adalah Roh Gravitasi," desis kurcaci itu, suaranya terdengar seperti gesekan batu nisan di atas lantai marmer. "Aku adalah berat dari setiap buku yang kau bakar, berat dari setiap gelar yang kau buang, dan berat dari setiap hukum fisika yang kau coba khianati di jurang tadi."

Abimanyu mencoba berdiri tegak, namun Kurcaci itu menekan lebih keras. "Lihatlah dirimu," kurcaci itu tertawa, sebuah tawa yang kering dan berat. "Kau baru saja membangun jembatan di atas ketiadaan? Kau pikir kau telah menang? Kau hanyalah sebutir debu yang dilemparkan ke atas, dan setiap debu yang naik harus kembali ke tanah. Itulah hukumku. Itulah kepastianku."

"Enyahlah!" raung Abimanyu, suaranya parau oleh debu granit. "Aku telah membakar asalku! Aku bukan lagi milikmu!"

"Kau bisa membakar kertasnya, tapi kau tidak bisa membakar gravitasi yang menarik abu itu kembali ke bumi," jawab Sang Kurcaci dengan tenang. "Setiap langkah yang kau ambil ke atas hanya akan membuat kejatuhanmu nanti terasa lebih menyakitkan. Kau ingin menjadi Übermensch? Itu adalah kata-kata yang terlalu berat untuk lidah yang masih merindukan air minum dari dispenser universitas. Kau adalah narapidana logikamu sendiri, Abimanyu."

Abimanyu merasakan penglihatannya mulai dihiasi bintik-bintik putih. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di atas batu cadas—seorang pria yang tampak kerdil dan bungkuk, memikul setan batinnya sendiri. Di Lembah Nama, beban ini disembunyikan di balik protokol dan sopan santun. Di sini, di bawah cahaya matahari yang brutal, beban itu menjadi sosok yang nyata dan mencekik.

Abimanyu sampai di sebuah celah sempit yang membentuk gerbang alami di antara dua puncak karang. Di bawah kakinya, terdapat garis retakan yang membelah jalan: satu jalan menuju ke belakang, kembali ke arah lembah yang nyaman, satu jalan menuju ke depan, menghilang ke dalam kabut puncak yang tak terpetakan.

"Berhentilah di sini," Sang Kurcaci berbisik lagi, kini suaranya terdengar seperti suara Profesor Danu yang bijaksana. "Gerbang ini disebut 'Momen'. Lihatlah ke belakang, jalan itu membentang ke masa lalumu yang panjang—dua puluh tahun pengabdian, gaji tetap, dan rasa hormat kolega. Lihatlah ke depan, jalan itu menuju ke masa depan yang tak menjanjikan apa pun selain kedinginan. Bukankah keduanya sama saja? Bukankah segalanya hanya akan berulang?"

Abimanyu terdiam. Ini adalah godaan yang paling mematikan: gagasan bahwa perjuangannya hanyalah sebuah lingkaran yang sia-sia—Eternal Recurrence yang disalahartikan sebagai hukuman. Jika segala sesuatu kembali, mengapa harus mendaki? Mengapa tidak menyerah saja pada gravitasi dan tidur selamanya di bawah selimut kabut?

"Keberanian adalah pembunuh yang terbaik!" teriak Abimanyu tiba-tiba, sebuah deklarasi yang ia ambil dari sumsum tulangnya sendiri.

Ia menyadari bahwa Sang Kurcaci hanya memiliki kekuatan selama ia membiarkan dirinya merasa "berat" oleh penyesalan. Roh Gravitasi adalah personifikasi dari keseriusan yang berlebihan—sikap akademik yang kaku yang selalu butuh landasan teori untuk bergerak.

Abimanyu mulai tertawa. Awalnya tawa itu terdengar seperti rintihan, namun perlahan berubah menjadi ledakan kegembiraan yang murni dan liar. Ia tertawa pada Sang Kurcaci, ia tertawa pada hukum fisika, dan ia tertawa pada dirinya sendiri yang pernah menganggap gelar profesor sebagai sesuatu yang suci.

"Kau tahu apa yang paling kau takuti, Roh Gravitasi?" tanya Abimanyu sambil membusungkan dadanya. "Kau takut pada kaki yang menari! Kau takut pada jiwa yang mampu menertawakan penderitaannya sendiri!"

Abimanyu mengambil satu langkah meloncat—sebuah gerakan yang tidak logis bagi orang yang sedang memikul beban berat. Saat kakinya melayang di udara, ia merasakan tekanan di pundaknya tiba-tiba lenyap. Sang Kurcaci, yang terbuat dari timah penyesalan dan batu nisan dogma, tidak bisa bertahan pada jiwa yang sedang menari. Ia merosot jatuh dari pundak Abimanyu, menciut menjadi seukuran kerikil biasa, dan menggelinding jatuh ke dasar jurang ketiadaan.

"Aku telah mengalahkanmu bukan dengan otot, tapi dengan tawa!" teriak Abimanyu pada kegelapan di bawahnya.

Abimanyu berdiri tegak di ambang gerbang "Momen". Punggungnya yang tadi membungkuk kini terasa lurus seperti menara yang ia bakar semalam. Ia menyadari bahwa gravitasi akan selalu ada, namun ia tidak lagi harus memikulnya sebagai beban batin. Ia telah belajar untuk menggunakan gravitasi sebagai pegangan, bukan sebagai penjara.

Matahari kini mulai condong ke arah barat, mewarnai hamparan es dengan warna ungu dan emas. Abimanyu tidak lagi merasakan kehadiran Roh Gravitasi sebagai bisikan. Yang ada hanyalah suara detak jantungnya yang stabil—musik dari Akal Besar yang telah memenangkan kedaulatannya.

"Tujuanku bukan lagi puncak yang statis," pikirnya sambil melangkah melewati gerbang itu. "Tujuanku adalah setiap detik di mana aku berani melangkah meskipun bumi menarikku jatuh. Aku adalah api yang sedang mendaki, dan tidak ada timah yang bisa memadamkanku."

Ia meninggalkan gerbang "Momen" di belakangnya. Di hadapannya, jalan kian terjal, namun jiwanya kini seringan angin gunung. Konfrontasi dengan Sang Kurcaci telah mengajarinya bahwa musuh terbesar bukan berada di tebing-tebing granit, melainkan pada keinginan untuk menjadi "berat" dan "serius" demi pengakuan dunia. Kini, ia siap untuk ujian berikutnya: melepaskan belas kasihan terakhirnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!