Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meyakinkan Kamila
Suasana di ruang tamu yang megah itu mendadak mencekam. Siska, yang sudah kehilangan akal sehatnya karena cemburu, melesat seperti anak panah menuju Kamila. Matanya menyala penuh kebencian, tangannya sudah terangkat tinggi di udara, siap mendaratkan tamparan keras pada wajah Kamila yang pucat pasi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Kau sudah meracuni pikiran Evan!" teriak Siska histeris.
Kamila refleks memejamkan mata dan mundur satu langkah, menunggu rasa panas menghantam pipinya. Namun, hantaman itu tak pernah datang.
Set!
Sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangan Siska di udara dengan cengkeraman yang sangat kuat hingga Siska memekik kesakitan. Evan sudah berdiri tegak di depan Kamila, menjadikan tubuhnya sebagai tameng hidup.
"Berani kau sentuh wanitaku, kau akan menyesal, Siska!" desis Evan. Suaranya rendah namun penuh ancaman yang mematikan.
Evan tidak menoleh pada Siska. Ia justru menatap dalam ke manik mata Kamila yang mulai berkaca-kaca. Di sana, Kamila menemukan sesuatu yang asing, tatapan Evan begitu teduh, kontras dengan rahangnya yang mengeras menahan amarah terhadap Siska. Jantung Kamila berdegup kencang, kata-kata "wanitaku" terus terngiang, membuat dunianya seolah jungkir balik.
"Tidak! Kau tidak boleh memilih wanita kampungan itu! Kau tidak pantas untuknya, Evan!" jerit Siska pecah. Ia mulai memukul-mukul punggung Evan dengan kedua tinjunya, meluapkan kemarahan yang membabi buta.
Evan hanya memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya agar tidak meledak di depan Kamila. Ia mengabaikan rasa sakit di punggungnya demi tetap berdiri teguh melindungi wanita di hadapannya.
"Kamila..." Evan memajukan langkahnya sedikit, mempersempit jarak hingga Kamila bisa mencium aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu. "Kau mau kan menikah denganku? Demi Zevan?"
Pertanyaan itu lebih terdengar seperti permintaan mendesak daripada sebuah lamaran romantis. Mata Evan mengunci pandangan Kamila, menuntut jawaban yang bisa membungkam keluarga Rahadian selamanya.
Kamila merasa sesak. Di satu sisi, ada rasa hangat karena dilindungi, namun di sisi lain, ia merasa seperti bidak catur di tengah perselisihan keluarga kaya ini. Ia melirik Siska yang masih mengamuk dan Tuan Chen yang mengamati dengan tenang.
"Maaf... saya tidak bisa," bisik Kamila hampir tak terdengar.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Kamila memutar tubuhnya dan berlari menaiki tangga menuju kamar Baby Zevan. Ia tidak sanggup memberikan jawaban yang hanya akan memperkeruh keadaan, apalagi jika pernikahan itu hanya didasari atas nama "kebutuhan" untuk sang bayi.
Di bawah, Evan hanya bisa menatap punggung Kamila yang menghilang di balik pintu lantai dua. Tangannya terkepal kuat.
"Puas kau, Siska?" tanya Evan dingin tanpa menoleh. "Sekarang, keluar dari rumahku. Dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu lagi di hadapan Kamila atau putraku."
Tuan Chen berdiri, memberikan isyarat pada petugas keamanan rumah. "Antar keluarga Rahadian keluar. Pertemuan ini selesai."
Setelah keluarga Rahadian meninggalkan kediaman Chen dengan kemarahan dan rasa malu yang mendalam, kesunyian yang berat menyelimuti ruang tamu. Tuan Chen berjalan mendekat, menepuk bahu putranya yang masih berdiri mematung dengan tatapan kosong.
"Evan," panggil Tuan Chen pelan. "Mengenai perkataanmu tadi... apa kau sungguh-sungguh ingin menikahi Kamila? Atau itu hanya caramu mengusir Siska?"
Evan menghela napas panjang, tangannya naik memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. "Aku... aku juga bingung, Pah. Semuanya terjadi begitu saja. Kata-kata itu keluar secara spontan karena aku sudah sangat muak dengan keangkuhan Siska."
Tuan Chen menggelengkan kepalanya, namun sorot matanya menunjukkan dukungan. "Tapi, Papah justru lebih setuju kalau kau benar-benar menikahi Kamila. Itu satu-satunya cara agar Siska berhenti mengusik hidupmu dengan alasan wasiat palsu itu. Papah yakin Siska tidak akan tinggal diam."
Beliau terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih serius, "Cepatlah nikahi Kamila demi keselamatannya juga, Evan. Dia harus memiliki status yang jelas di rumah ini agar Siska tidak lagi bisa merendahkannya atau menyakitinya. Jika dia istrimu, tidak akan ada yang berani menyentuhnya."
Evan mengangguk dalam. Ia paham betul bahwa melindungi Kamila berarti harus memberinya benteng hukum dan status yang kuat.
Sementara itu, di lantai atas, Kamila duduk bersimpuh di tepi ranjang. Ia memandangi wajah mungil Baby Zevan yang sedang terlelap, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang terjadi di luar kamarnya. Air mata Kamila luruh tanpa bisa dicegah.
"Kenapa... Kenapa aku harus berada dalam situasi serumit ini?" isaknya pelan. "Kalau bukan karena Baby Zevan, mungkin aku sudah pergi. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia, tanpa harus menjadi duri bagi orang lain."
Krieet...
Suara pintu terbuka membuat Kamila tersentak. Melihat Evan melangkah masuk, ia buru-buru mengusap sisa air mata di pipinya dan berdiri dengan canggung.
"T.. Tuan... Untuk apa Anda datang ke sini? Bukankah saya sudah menjawab pertanyaan Tuan yang tadi?" tanya Kamila dengan suara bergetar.
Evan berhenti tepat di hadapan Kamila. Ia bisa melihat mata wanita itu yang sembab dan memerah. "Maafkan aku, Kamila. Aku..."
"Saya mohon, jangan libatkan saya dalam masalah ini, Tuan," potong Kamila cepat, suaranya parau karena menahan tangis. "Saya hanya ingin hidup dengan tenang bersama Baby Zevan sebagai pengasuhnya. Saya tidak ingin status apa pun."
Mendengar penolakan itu, Evan justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan beban.
"Aku butuh bantuanmu kali ini, Kamila. Keputusanku untuk menikahi mu adalah nyata. Aku ingin Siska berhenti membahas wasiat mendiang istriku, dan ini juga demi kebaikan Zevan. Bukankah kau menyayanginya seperti putramu sendiri?"
Evan menatap Kamila lurus, berusaha meyakinkannya. "Jika kita menikah, kau akan menjadi ibunya seutuhnya di mata hukum. Dan kau tenang saja, Kamila... pernikahan ini hanya sebatas status di atas kertas. Aku tidak akan menuntut hak layaknya suami pada umumnya, apalagi soal hubungan suami istri. Jujur, sampai saat ini aku masih sangat mencintai mendiang istriku. Tolong, pikirkan baik-baik."
Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang itu, Evan berbalik dan bergegas pergi meninggalkan kamar, memberikan ruang bagi Kamila untuk bernapas. Ia berharap logika dan rasa sayang Kamila pada Zevan akan memenangkan keraguan wanita itu.
Kamila kembali terduduk lemas. Ia mencerna setiap kata yang diucapkan Evan. Di satu sisi, ia merasa terhina dengan konsep "pernikahan di atas kertas", namun di sisi lain, ia berhutang budi pada keluarga ini.
'Tuan Evan sudah banyak menolongku dari kesulitan. Apa salahnya jika kali ini aku yang membalas budinya? Dan... Zevan... aku tidak sanggup jika harus dipisahkan darinya...tapi aku seperti nya belum siap untuk menikah lagi, aku takut jika sampai kejadian itu terulang kembali, pengkhianatan yang sangat menyakitkan yang telah merenggut seluruh kebahagiaan ku, sampai aku harus kehilangan putraku...,' batin Kamila bimbang.
Bersambung...
kopi untuk mu👍