Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stadion Baru dan Benih Kecemburuan
Keesokan siangnya, suasana di sekolah terasa berjalan lebih lambat bagi Vilov. Pikirannya sudah melayang jauh ke Stadion Utama Cilegon. Begitu bel pulang berbunyi nyaring, Vilov tidak membuang waktu. Ia, Tika, dan Tije segera bergegas keluar dari gerbang sekolah. Sesampainya di rumah, Vilov yang sudah menyiapkan baju latihan sejak semalam langsung berganti pakaian dengan gerakan gesit. Tas besar berisi perlengkapan hockey itu ia sandang dengan penuh semangat.
Sesuai janji, kakaknya mengantarkan Vilov tepat waktu sampai di depan gerbang stadion yang megah. Begitu kakaknya pergi, Vilov melangkah masuk dengan perasaan campur aduk antara grogi dan bangga. Di pinggir lapangan sintetis yang luas itu, ternyata Tika dan Tije sudah sampai lebih dulu. Mereka sedang duduk sambil merapikan sepatu mereka
"Woi!" teriak Vilov dengan suara lantangnya, mencoba memecah kecanggungan di tempat baru tersebut sembari berjalan menghampiri kedua sahabatnya.
Tika langsung menoleh dan meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Vil! Ini kita masih baru loh di sini, jangan asal teriak-teriak begitu. Jaga image dikit napa!" tegur Tika dengan suara setengah berbisik.
Vilov hanya menyengir lebar tanpa dosa, ia meletakkan tasnya di samping Tije. "Haha, ya udah sih, nggak apa-apa. Kan biar semangatnya nular!" jawab Vilov santai, tidak terlalu mempedulikan tatapan beberapa pemain lain yang juga baru datang.
"Tuh, liat deh, Putra datang," ucap Tije tiba-tiba sambil menunjuk ke arah pintu masuk sisi utara.
Vilov segera melirik ke arah yang ditunjuk Tije. Terlihat Putra berjalan masuk dengan tas ransel di pundaknya. Yang membuat Vilov terkesima adalah bagaimana Putra langsung tampak akrab dan membaur dengan pemain-pemain senior di sana. Putra bersalaman, tertawa kecil, dan terlihat sangat percaya diri di lingkungan yang lebih profesional itu. Pemandangan itu membuat Vilov tersenyum tipis dan diam-diam merasa kagum akan kemampuan sosial Putra.
"Senyum-senyum aja lu liatin Putra. Oh ya, kok tumben lu nggak berangkat bareng dia, Vil?" tanya Tije dengan nada penuh selidik.
"Putra sih sebenarnya ajakin gue bareng tadi. Cuma karena kakak gue bilang mau anterin, jadi ya udah, gue berangkat sama kakak gue aja," jawab Vilov jujur sambil mulai mengeluarkan leg guard-nya dari tas.
"Oh, gitu," sahut Tije singkat.
"Eh, itu Pelatih datang! Ayo, siap-siap!" ajak Tika saat melihat sosok pelatih klub kota memasuki area lapangan. Mereka pun segera bangkit dan merapikan perlengkapan masing-masing untuk memulai sesi latihan perdana.
Saat semua pemain berkumpul di tengah lapangan, Putra dan pemain putra lainnya pun bergegas bergabung. Di tengah kerumunan itu, mata Putra tak sengaja bertemu dengan mata Vilov. Putra memberikan senyuman tipis yang hangat, yang langsung dibalas Vilov dengan senyuman yang tak kalah manis. Dunia seolah milik berdua sesaat, sebelum akhirnya Pelatih meniup peluit tanda latihan dimulai.
Sesi latihan diawali dengan pemanasan dan stretching statis maupun dinamis. Semua pemain melakukannya dengan serius. Saat mereka sedang asyik melakukan pemanasan, dari kejauhan nampak beberapa pemain wanita tambahan yang baru aja datang karena sedikit terlambat. Mereka segera bergabung masuk ke dalam barisan.
Di tengah latihan tersebut, seorang pemain wanita menghampiri Vilov yang sedang melakukan peregangan kaki.
"Hey, kamu Vilov, kan?" ucap wanita itu dengan ramah.
Vilov tertegun sejenak. Ia terheran-heran karena merasa belum sempat memperkenalkan diri kepada siapa pun selain teman sekolahnya, namun wanita asing ini sudah mengetahui namanya. "Oh, iya... benar, gue Vilov," jawab Vilov sedikit kikuk.
"Aku gabung di sebelah kamu ya?" ucap wanita itu. Ia lalu mengulurkan tangannya dengan senyum yang sangat manis. "Kenalin, aku Adinda."
Vilov pun menyambut uluran tangan itu, merasakan genggaman tangan Adinda yang ramah. "Iya, gue Vilov. Boleh, silakan aja di samping gue," balas Vilov mencoba bersikap terbuka. Mereka berdua pun melanjutkan pemanasan kembali berdampingan.
Setelah sesi fisik selesai, para Pelatih mengumpulkan seluruh pemain. Pelatih menunjuk para pemain baru, termasuk Vilov, untuk memperkenalkan diri secara resmi kepada para pemain senior dan pengurus klub agar lebih akrab. Vilov pun melangkah maju ke depan barisan. Namun, saat ia baru saja membuka mulut untuk menyebutkan namanya, salah satu pemain senior berteriak sambil tertawa.
"Udah tahu ini mah! Smudah terkenal! Nggak usah kenalan lagi!" seru salah satu pemain senior tersebut, yang kemudian disambut tawa oleh pemain senior lainnya. Rupanya aksi Vilov di final kemarin benar-benar membekas di ingatan para pengurus hockey kota.
"Et dah... nggak gitu ya konsepnya, Kak! Hahaha. Kan ada juga yang mungkin belum kenal gue," protes Vilov dengan gaya lucunya.
"Udah tahu! Vilov si kiper toak, kan?" sahut para pemain senior secara kompak.
Vilov langsung merasa malu bercampur senang. Ia melirik ke arah Pelatih dengan wajah yang memelas dibuat-buat. "Kaaaaakkkk!" rengek Vilov yang membuat suasana lapangan pecah oleh tawa semua orang.
Namun, di tengah gelak tawa itu, Vilov tak sengaja menangkap pandangan Putra. Alih-alih tertawa melihat tingkah konyolnya, Putra justru tampak terfokus menatap ke arah Adinda, pemain wanita baru yang tadi berkenalan dengannya. Ada sesuatu dalam tatapan Putra yang tidak bisa Vilov jelaskan, dan seketika itu juga, perasaan tidak enak mulai merayap di hati Vilov. Sebuah benih kecemburuan kecil mulai tumbuh tanpa ia minta.
Latihan perdana pun selesai. Langit Cilegon mulai berubah jingga. Vilov merasa tubuhnya cukup lelah, namun rasa tidak enaknya terhadap Putra tadi masih mengganjal. Ia memutuskan untuk menghampiri Putra yang sedang membereskan tasnya.
"Put, hari ini gue bareng ya pulangnya?" ajak Vilov berharap bisa memperbaiki suasana hatinya dengan mengobrol di atas motor.
Putra menoleh, ekspresinya tampak datar. "Ah... kayaknya nggak bisa deh, Vil. Gue ada keperluan mendadak soalnya," jawab Putra singkat.
Vilov terdiam. Rasa curiga mulai muncul karena selama ini Putra jarang sekali menolak permintaannya, apalagi setelah kedekatan mereka belakangan ini. Namun, Vilov berusaha menepis pikiran negatifnya. Mungkin dia benar-benar ada urusan keluarga, pikirnya mencoba positif.
"Oh, oke kalau gitu. Hati-hati ya, Put," ucap Vilov pelan.
Vilov berdiri di pinggir lapangan, menatap punggung Putra yang sudah menjauh lebih dulu meninggalkan stadion. Perasaannya mendadak sunyi. Di tengah kebingungannya mencari kendaraan untuk pulang, seorang pemain senior pria menghampirinya.
"Vil, belum pulang? Pulang sama siapa?" tanya pemain senior itu ramah.
"Belum, Kak. Masih sendiri nih," jawab Vilov seadanya.
"Kenalin, nama gue Jaje," ucap pemain senior itu sambil tersenyum tulus.
"Oh, iya Kak Jaje. Salam kenal ya," balas Vilov mencoba tetap sopan meskipun hatinya sedang gundah.
"Udah, bareng gue aja. Di area stadion ini kalau jam segini agak susah loh cari kendaraan umum, angkot juga jarang lewat," tawar Kak Jaje.
Vilov melirik ke arah jalan raya di luar stadion yang mulai sepi. Ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Kak Jaje benar. Jika ia menunggu lebih lama, ia mungkin akan kesulitan pulang. "Boleh deh, Kak. Maaf ya Kak Jaje kalau jadi ngerepotin," ucap Vilov merasa tidak enak.
"Santai aja, Vil. Yuk!"
Vilov pun akhirnya menaiki motor Kak Jaje. Di sepanjang jalan, Kak Jaje mencoba mengajak Vilov mengobrol ringan, membuat perasaan Vilov sedikit lebih baik meskipun bayangan Putra dan Adinda masih membekas di kepalanya.
Sesampainya di depan rumah, Vilov turun dari motor dan melepas helm pinjaman itu. "Makasih ya Kak Jaje, sekali lagi makasih banyak udah diantar sampai depan rumah."
"Sama-sama, Vil. Santai saja. Gue duluan ya!" ucap Kak Jaje sambil menyalakan mesin motornya dan melaju pergi.
Vilov berdiri di depan pagar rumahnya, menghela napas panjang. Hari pertama latihan yang seharusnya menjadi momen paling membahagiakan, justru berakhir dengan banyak pertanyaan di kepalanya.