NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pulang ke Akar

Udara dingin Berastagi perlahan memudar, berganti dengan hawa hangat khas dataran rendah saat bus yang membawa Gia dan Rian kembali memasuki wilayah kabupaten mereka. Perjalanan dari Sumatera Utara memang melelahkan, tapi kali ini tidak ada lagi beban yang menghimpit dada. Rian bahkan sempat tertidur pulas di bahu Gia hampir sepanjang jalan, dengkuran halusnya menjadi musik latar yang menenangkan bagi Gia.

"Rian, bangun. Kita sudah sampai," bisik Gia sambil menggoyangkan lengan pria itu pelan.

Rian mengerjap, mengusap wajahnya yang masih tampak sedikit kuyu. "Sampai mana kita? Masih di Medan?"

"Sudah di gerbang desa kita, Tukang Tidur," tawa Gia pecah melihat wajah bingung Rian yang rambutnya acak-adakan.

Begitu mereka turun di depan Kedai Harapan, pemandangan mengharukan menyambut mereka. Bukan hanya Pak Jaya yang berdiri di depan pintu, tapi hampir setengah warga desa berkumpul di sana. Sebuah spanduk kain sederhana terpasang di pagar, bertuliskan: "Selamat Pulang, Pahlawan Kopi Kami."

"Wah, Neng, sambutannya kayak kita habis menang medali emas Olimpiade aja," gumam Rian, berusaha merapikan kemeja flanelnya yang sudah sangat kusut.

Gia berlari memeluk ayahnya. Pak Jaya tampak jauh lebih sehat dan bugar, senyumnya tidak lagi dipenuhi kecemasan. "Semuanya sudah beres, Gia? Rian?"

"Sudah, Pak. Danu sudah diproses, semua datanya sudah aman," jawab Gia mantap.

Malam harinya, Kedai Harapan menyelenggarakan syukuran kecil. Aroma gulai kambing dan nasi hangat bercampur dengan wangi kopi yang sedang diseduh. Warga duduk melingkar di atas tikar pandan yang digelar di halaman kedai.

Rian, meskipun bahunya masih dibalut perban tipis, tidak bisa diam. Ia berkeliling menyalami warga, tertawa, dan sesekali melemparkan candaan jail yang membuat suasana semakin cair.

"Mas Rian, katanya habis dari Jakarta mau jadi Direktur lagi? Kok malah balik ke sini?" tanya salah satu pemuda desa sambil menyodorkan segelas kopi.

Rian duduk bersila di sampingnya, menyesap kopi itu pelan. "Jadi Direktur itu capek, Jon. Harus mikirin untung rugi tiap detik. Di sini, aku cuma perlu mikirin gimana caranya supaya kopi buatan Neng Gia nggak kepahitan gara-gara dia lagi cemberut."

Tawa warga meledak. Gia yang sedang sibuk menuangkan kopi hanya bisa melotot dari balik bar, meski rona merah di pipinya tak bisa ia sembunyikan.

Setelah suasana sedikit tenang, Rian berdiri di tengah kerumunan. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas kalkir yang cukup tebal.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan teman-teman semua," suara Rian mendadak serius namun tetap hangat. "Waktu saya pertama kali datang ke sini, saya cuma pengin sembunyi. Tapi desa ini, Pak Jaya, dan terutama Gia... kalian kasih saya rumah yang lebih kokoh dari gedung mana pun yang pernah saya bangun."

Ia membuka gulungan kertas itu di atas meja kayu. Sebuah sketsa arsitektur yang sangat indah terpampang di sana. Bukan desain hotel mewah atau pabrik limbah, melainkan sebuah kompleks bangunan kayu yang sangat selaras dengan alam desa.

"Ini adalah rancangan Balai Kreatif Sukamaju," lanjut Rian. "Di sini, saya mau buka kelas arsitektur dasar dan desain buat adik-adik kita. Kita bakal belajar cara bangun rumah yang kuat, ramah lingkungan, dan punya nilai jual tanpa harus merusak tanah kita sendiri. Dan di lantai bawah, Gia bakal buka pusat pelatihan barista dan pengolahan kopi pascapanen."

Warga terdiam, menatap sketsa itu dengan mata berbinar. Ini bukan janji manis investor seperti Mahendra. Ini adalah rencana nyata dari orang yang sudah membuktikan kesetiaannya pada desa mereka.

"Biayanya dari mana, Rian?" tanya Pak Kades.

"Nama baik saya sudah pulih di Jakarta. Beberapa proyek lama saya yang sempat mandek karena fitnah, sekarang cair royaltinya. Firma Maya juga sepakat buat kasih dana CSR (tanggung jawab sosial) sebagai bentuk ganti rugi atas kerugian yang dibuat Mahendra dulu," jelas Rian. "Tapi saya butuh satu hal dari kalian."

"Apa itu, Rian?"

"Saya butuh tenaga kalian buat gotong royong bangun ini. Kita nggak pakai kontraktor luar. Kita bangun pakai tangan kita sendiri."

"SETUJU!" teriak warga serempak.

Larut malam, saat warga sudah pulang dan hanya tersisa suara jangkrik, Gia dan Rian duduk berdua di bangku kayu depan kedai.

"Kamu beneran mau ngelakuin ini, Rian? Nggak kangen sama kemewahan Jakarta?" tanya Gia pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Rian.

Rian menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit desa yang bersih. "Kemewahan itu relatif, Gia. Dulu aku pikir mewah itu punya kantor di lantai 50. Sekarang aku sadar, mewah itu kalau aku bisa lihat kamu tersenyum tiap pagi tanpa perlu takut ada polisi atau penjahat yang dateng."

Rian merangkul pundak Gia. "Lagian, aku masih punya utang besar sama kamu."

"Utang apa lagi? Perasaan utang kopi kamu sudah lunas semua," canda Gia.

Rian menoleh, menatap Gia dengan sorot mata yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang. "Utang buat bahagiain kamu. Itu bunga-berbunganya seumur hidup, Neng. Kayaknya aku nggak bakal sanggup bayar kalau nggak dapet bantuan dari kamu."

Gia tersenyum, lalu meraih tangan Rian yang besar dan kasar. "Kalau gitu, cicil aja pelan-pelan. Mulai dari besok pagi, bikin sarapan buat Bapak, terus bantuin aku bersihin gudang."

"Waduh, berat juga ya cicilannya," tawa Rian pecah.

Di kegelapan malam, Kedai Harapan berdiri dengan gagah. Di sana, di antara aroma kopi dan sisa-sisa perjuangan, sebuah babak baru yang lebih indah sedang dirajut. Perang melawan naga-naga kota memang sudah usai, tapi perjuangan untuk membangun mimpi di atas tanah sendiri baru saja dimulai.

Dan kali ini, tidak ada lagi rahasia. Hanya ada dua jiwa yang saling menemukan di antara seduhan kopi dan janji yang tulus.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!