NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Yang tertinggal setelah hujan

Hujan belum juga reda saat Rahmalia akhirnya duduk di balik kemudi.

Payung milik Dio ia letakkan di kursi sebelah. Air hujan masih menetes pelan dari ujungnya, membentuk bercak-bercak kecil di jok mobil.

Rahmalia tidak langsung menggesernya. Pandangannya justru tertahan di sana—pada kain payung yang basah, pada Warna-warna yang terasa… tidak biasa.

Motifnya mencolok.

Seekor ikan hiu kecil, dengan ekspresi lucu yang hampir tidak cocok dengan suasana hujan sore itu.

Baby shark.

Sudut bibir Rahmalia terangkat tanpa ia sadari.

Ada sesuatu yang aneh tentang bagaimana benda sekecil itu bisa mengubah suasana hatinya.

Seolah hujan yang tadinya terasa berat mendadak kehilangan sebagian dinginnya. Seolah payung itu membawa sisa kehadiran seseorang yang barusan pergi—bukan hanya fisiknya, tapi juga caranya membuat segala hal terasa lebih ringan.

Ia terdiam sesaat.

Lalu tersenyum tipis.

Dio memang selalu begitu. Selalu datang dengan hal-hal yang tidak ia rencanakan, tidak ia minta, dan sering kali tidak masuk akal. Lagu-lagu aneh, gerakan konyol, selera yang kekanak-kanakan—semua itu biasanya membuat orang lain menggelengkan kepala.

Tapi sekarang, di dalam mobil yang sunyi, Rahmalia justru merasa…

hangat.

Seolah payung itu bukan sekadar benda penahan hujan, melainkan potongan kecil dari Dio yang tertinggal. Sesuatu yang diam-diam menolak untuk dilepaskan.

Senyumnya bertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya memudar perlahan.

Rahmalia meraih ponselnya dan membuka WhatsApp.

Jarinya mengetik cepat.

[Rahmalia]

Kamu hujan-hujanan. Awas aja kalau besok nggak masuk.

Pesan terkirim.

Ceklis satu.

Rahmalia menatap layar itu beberapa detik, lalu meletakkan ponselnya kembali di samping. Tidak ada balasan. Dio belum aktif.

Ia menyalakan mesin mobil.

Suara mesin mengisi kabin yang sunyi.

Namun pikirannya tidak benar-benar berada di dalam mobil itu.

Sebagian darinya masih tertinggal di parkiran— di bawah hujan yang jatuh tanpa jeda, di udara dingin yang dipenuhi suara langkah dan percikan air.

Ia mengingat langkah-langkah kecil yang tadi ia lalui. Tidak cepat. Tidak tergesa. Langkah yang ditemani oleh seseorang yang nyaris tidak banyak bicara.

Azmi.

Ia tidak berkata apa-apa saat itu. Tidak mencoba mencairkan suasana. Tidak melontarkan candaan. Tidak pula mencari alasan untuk diperhatikan.

Ia hanya berjalan di sampingnya.

Dalam Diam.

Payung di tangannya sedikit dimiringkan— cukup untuk melindungi Rahmalia sepenuhnya, dan membiarkan sisi bahunya sendiri menerima hujan.

Seragamnya perlahan basah, tanpa satu keluhan pun terucap.

Azmi tidak menoleh. Tidak memastikan apakah Rahmalia menyadarinya atau tidak.

Ia hanya berjalan.

Dan di tengah hujan yang dingin, pilihan kecil itu terasa jauh lebih keras daripada kata-kata apa pun.

Ia memilih basah sendiri.

Dalam pikirannya, ia seharusnya berterima kasih pada Azmi waktu itu. Mengatakan sesuatu. Apa pun.

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Kedatangan Dio, payung yang tiba-tiba berpindah tangan, hujan yang semakin deras—dan dirinya yang mendadak panik.

Ia malah buru-buru masuk ke mobil.

Meninggalkan Azmi dengan kalimat yang tidak pernah sempat diucapkan.

Sekarang, rasa malu itu datang terlambat.

Bukan karena orang lain—

melainkan karena dirinya sendiri.

Rahmalia menghela napas pelan.

Tatapannya jatuh ke dashboard mobil. Jemarinya bergerak tanpa sadar, menggeser beberapa kertas yang terselip di sana.

Undangan.

Ia terhenti.

“Oh iya…” gumamnya lirih.

Ia menarik kertas itu, membuka dan membaliknya perlahan. Di salah satu sudut bawah—kecil, nyaris tak mencolok—tertera sebuah nomor.

Nomor Azmi.

Rahmalia terdiam beberapa detik.

Ragu.

Namun akhirnya, ia membuka ponsel dan menyimpan nomor itu.

Jantungnya berdebar kecil saat jarinya mulai mengetik.

Bukan gugup.

Lebih seperti takut mengganggu.

Pesan pun terkirim.

[Rahmalia]

Ini benar nomor Azmi?

Azmi, ini aku—Rahmalia.

Maaf tadi aku nggak sempat bilang terima kasih.

Aku harap kamu sampai tujuan dengan selamat.

Setelah itu, Rahmalia meletakkan ponselnya di pangkuan.

Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya.

Lalu ponselnya bergetar.

Nama Azmi muncul di layar.

[Azmi]

Iya, betul.

Sama-sama. Lagian nggak perlu bilang makasih, aku cuma nganter sebentar kok. Nggak sampai ke mobil juga.

Senyum kecil perlahan muncul di wajah Rahmalia.

Ia mengetik balasan, sempat berhenti sebentar, lalu melanjutkan.

[Rahmalia]

Tetap aja…

Kamu kehujanan gara-gara aku.

Jadi aku pingin bilang makasih dengan benar.

Tak lama kemudian, balasan lain masuk.

[Azmi]

Eh, tapi kamu dapet nomor aku dari mana?

Rahmalia menghela napas kecil, lalu membalas cepat.

[Rahmalia]

Dari undangan yang kamu kasih.

Kamu sendiri yang nyantumin nomormu.

Agak aneh sih, nomor pribadi ditulis di undangan 😅

Beberapa detik kemudian—

[Azmi]

Oh itu.

Aku sengaja taruh.

Takutnya ada yang bingung soal pestanya, jadi bisa langsung nanya ke aku.

Rahmalia menatap layar ponselnya agak lama.

Jarum waktu seakan melambat di antara detik-detik yang sunyi.

Lalu senyum tipis itu muncul lagi.

Ia mengetik pesan terakhir.

[Rahmalia]

Kalau gitu aku pulang dulu, ya.

Hati-hati di jalan.

Pesan itu terkirim.

Dua centang biru langsung muncul.

Dibaca.

Namun tidak ada balasan.

Rahmalia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil dan meletakkannya kembali di pangkuan. Tangannya meraih setir, bersiap menyalakan mesin.

Tiba-tiba—

Tet. Tet.

Suara klakson terdengar dari luar.

Rahmalia tersentak.

Kepalanya refleks menoleh ke arah suara itu.

Dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Di balik hujan yang masih turun, Azmi berdiri di samping mobilnya. Seragamnya masih sedikit basah, rambutnya tampak lembap, tapi wajahnya tenang—seolah kemunculannya barusan adalah hal paling wajar di dunia.

Rahmalia buru-buru menurunkan kaca mobil.

Azmi mencondongkan tubuh sedikit, mengangkat tangannya memberi salam kecil.

“Ya… kamu hati-hati ya,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

“Aku juga mau pulang.”

Untuk sesaat, Rahmalia hanya terdiam.

Lalu senyum cerah merekah di wajahnya—lebih terang dari senyum-senyum sebelumnya.

“Iya,” balasnya pelan.

“Kamu juga.”

Ia melambaikan tangan kecil dari balik kaca.

Azmi membalasnya sebelum pergi, siluetnya perlahan menjauh di tengah hujan.

Rahmalia menatapnya sampai benar-benar hilang.

Baru setelah itu, ia menutup kaca, dan melajukan mobilnya keluar dari parkiran.

Namun sepanjang perjalanan pulang,

bayangan Azmi di balik hujan

terus muncul di pikirannya.

Dan untuk pertama kalinya,

Rahmalia bertanya pada dirinya sendiri—

apakah perasaan yang mulai tumbuh ini

benar-benar hanya soal hujan…

atau tentang seseorang yang tak sengaja membuatnya ingin berhenti sejenak,

dan menoleh kembali.

1
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: Waktu aku baca, ceritanya bagus kak! meskipun aku baru baca sampai eps 6 sih hehe...mungkin nanti aku lanjutin bacanya! Semangat terus ya thor!
total 2 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
real life makan di kelas di jam pelajaran🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!