Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.
Dandelion, adakah kesempatan untukku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK USAH
Rico membantu Deya memasuki rumahnya, laki-laki itu mebawa slim bag dan beberapa kantong plastik yang tak tersentuh sedari tadi. Deya hanya menerima perlakuan baik itu dengan segudang pertanyaan di benaknya. Namun, karena sakit yang semakin menjadi-jadi membuat dia mengabaikannya untuk saat ini.
“De, kamu kenapa nak ?” Tanya Kia setelah mendengar ketukan pintu.
Pandangan Kia tertuju pada Rico yang mematung dibelakang Deya.
“Dia lagi sakit bu, lagi siklus katanya. Jadi saya menawarkan diri mengantarkannya pulang.” Jelasnya untuk memangkas pikiran buruk Kia.
Medengar suara Rico, sontak saja Samsu bergegas menuju arah suara. “Rico.”
“Eh iya pak. Ini nganterin Deya pulang.” Jelasnya kembali dan menyerahkan beberapa barang Deya pada Samsu.
Deya sudah tak kuasa menahan sakit perutnya memilih untuk meninggalkan mereka bertiga. Dengan gontai ia menaiki undakan tangga menuju kamarnya.
Rico memilih untuk duduk di teras rumah sembari menunggu temannya mengantarkan motor Deya. Ditemani Samsu dengan berbagai obrolan ringan yang tak jarang mengundang gelak tawa dari keduanya.
Setelah dilihatnya motor Deya terparkir rapi di depan rumah, laki-laki itu memilih untuk pamit pulang.
“Loh, nggak makan dulu disini Co.” Tawar Samsu.
“Lain kali saja pak.” Tolak Rico.
Sebelum meninggalkan rumah Deya, Rico merogoh kantong celananya. Mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai mencari nama Deya di kontaknya.
“De, aku pulang dulu yah. Nanti sampai rumah ku kabarin lagi yah. Kamu istirahat yah.” Pesan singkat Rico dan mulai meniggalkan rumah gadis itu.
***
Setelah mengantarkan temannya pulang, Rico kembali membelah jalanan menuju rumahnya. Malam ini jalanan masih terbilang ramai, berbeda dengan malam yang lalu. Akan tetapi Rico masih saja merasa bahwa dari tadi dia di ikuti seperti malam sebelumnya. Ia coba mempermainkan pemotor yang mengikutinya, sengaja dia melajukan kecepatannya dan benar saja dari arah belakang dia semakin melihat jelas dia di ikuti. Begitu juga ketika memelankan laju kecepatannya, hal yang sama juga dilakukan oleh pemotor itu.
Kompleks perumahannya sudah semakin dekat, sengaja Rico memelankan laju motornya. Awalnya dia mengira, bahwa pemotor yang mengikutinya tinggal di kompleks yang sama dengannya. Namun saat dia berbelok pemotor itu memilih jalan terus. Rico sempat melihatnya dengan ekor mata, rupanya pemotor itu kembali mengikutinya.
“Mas Rico, beberapa hari ini saya perhatikan ada dua orang yang sering duduk di depan situ.” Curhat sang satpam perumahan.
“Kenapa nggak di tanya pak ?” Saran Rico setelah sempurna berhenti di depan pos satpam.
“Mereka duduknya nggak lama, cuma sering sih mas. Besok kalau mereka ada lagi saya tanya.”
Rico hanya mengangguk dan menepuk pundak satpam tersebut, kemudian memilih untuk menuju rumahnya.
Malam ini Rico pulang tidak selarut malam itu. Namun omelan Ani sang ibu, tepat saat membuka pintu untuk sang putra. Ani langsung memborbardirnya dengan berbagai pertanyaan.
“Dari mana saja kamu seharian ini abang ?”
“Main bu.” Rico melenggang ke arah meja makan.
Helaan nafas kasar terdengar dari sang ibu. “Abang, kamu belum ada kemas-kemas nak. Besok pagi-pagi kamu harus berangkat.” Papar sang ibu disertai rasa cemas dalam setiap untaian kalimatnya.
“Deya lagi sakit bu.” Ia mengalihkan topik.
“Iya terus, kenapa lagi dengan perempuan itu. Dia sakit, lantas hubungannya dengan mu apa ?”
“Jelas ada dong bu, kan dia calon menantu kita.” Seloroh Handoko dari depan TV.
“Abang, dia jelas-jelas sudah menolak mu mentah-mentah. Apa tidak bisa kamu cari perempuan yang lain. Yang lebih segala-galanya dari dia ?”
“Nggak ada perempuan lain bu, abang cuma mau dia. Deya.” Ucapnya disela kunyahannya menikmati makan malamnya.
Ani hanya melihat datar putra sulungnya, kekeuh sekali dia ingin mendapatkan gadis itu. Tak ingin lagi berdebat dengan sang putra, perempuan paruh baya itu memilih untuk menuju kamar dan beristirahat.
“Sebelum berangkat besok, sempatkan hubungi adikmu dulu.” Ucap sang ibu sebelum menutup pintu kamarnya dari dalam.
***
Setelah makan, Rico memilih untuk kembali ke kamarnya. Laki-laki itu menggunakan waktu malam untuk membersihkan diri dan mengemas pakaian yang akan dibawanya besok pagi buta. Laki-laki harus meninggalkan kota itu untuk kesekian kalinya dalam waktu berbulan-bulan.
Namun ia teringat ponsel yang sedari tadi belum di ceknya. Pesan singkat yang dikirimnya tadi tak terbaca apalagi terbalas oleh Deya.
Gadis yang di pikirkan oleh Rico saat ini tengah meringkuk di atas tempat tidurnya. Sejak di antar pulang ia hanya sanggup untuk mengganti pakaiannya dan mencicipi sedikit rujak yang siang tadi mereka beli.
Matanya terpejam namun sakitnya tak kunjung reda, setiap bulan dia merasakannya, pernah ia memeriksakan diri ke dokter, namun jawaban dokter dia baik-baik saja. Sakit yang di rasakannya adalah hal yang masih dalam batas wajar.
Saat ia akan menyelami alam mimpi, ponsel pintar yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya berdering. Ya, Rico melakukan panggilan suara, laki-laki itu tengah khawatir dan ia hendak memberi tahu sesuatu pada Deya.
“Assalamualaikum De.” Sesaat setelah telepon suara itu terhubung.
“Iya, Waalaikumussalam.” Jawabnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
“Aku mengganggu waktu istirahat mu ya ?”
“Iya, aku hampir terlelap.” Jawab Deya jujur dan to the point.
“Oh maaf kalau gitu. Aku hanya ingin memastikan keadaan mu baik-baik saja.” Ucap Rico dengan rasa bersalah karena telah mengganggu waktu istirahat Deya.
“Ada apa ?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengkhawatirkan mu saja. Masih sakit perut mu ? Apa aku jemput untuk periksa ke dokter ? Mumpung masih jam 8, gimana ?” Usulnya kembali dengan asal.
Terdengar suara tawa pelan dari Seberang telepon. “Ngapain ?”
“Iya periksa De, masa makan malam ?”
“Nggak usah, aku sudah pernah memeriksa nya dan kata dokter itu masih wajar.”
“Beneran kan ?” Tanya nya kembali memastikan.
“Iya tuan urak-urakan.” Deya meyakinkan.
“Apaa ? Kamu melabeli ku seperti itu De ?”
“Bukankah kenyataannya begitu ?”
“Ya iya. Sesuka dan sesenang hati mu saja De.”
Jawaban yang datar itu sungguh berbanding terbalik dengan yang dirasakannya kini. Hatinya saat ini seperti tengah tergelitik oleh sesuatu yang di rasa amat lucu dan menggemaskan. Bagiamana tidak, gadis itu sudah meluangkan waktu untuknya hari ini, sudah bersedia di antar pulang dan kini mereka melakukan panggilan suara. Ternyata usaha yang di lakukannya beberapa bulan terakhir ini mulai ada titik terangnya. Ia sungguh merasa selangkah lebih maju.
“De.” Panggilnya kembali.
“Ada apa lagi ?” Tanya gadis yang mulai merasa nyeri perutnya mulai mereda.
“Besok aku harus ke luar kota De, entah sampai berapa lama. Aku juga tidak tahu.”
“Ada urusan apa ?”
“Ada hal yang harus ku selesaikan. Namun aku hampir saja mengurungkannya jika kamu tak mengangkat telepon ku tadi.” Candaannya di sela pembahasan yang di anggap nya serius itu.
Helaan nafas dijadikan Deya sebagai jawaban dari candaan Rico. Deya mulai diselimuti rasa bingung dan bersalah datang secara bersamaan. Dia tidak ingin Rico nantinya akan kecewa dengan keputusannya. Sedangkan sang ayah sangat menginginkan pernikahan bagi mereka berdua.
“Pergi saja, selesaikan urusanmu.”
“Iya, aku harus pergi besok pagi-pagi buta. Mungkin aku juga akan jarang menghubungi mu. Namun aku akan mencari cara untuk menghubungimu. Kamu yang baik-baik ya De, jangan kayak tadi lagi ya. Jangan karena sibuk kamu melupakan kesehatan mu.” Ucap Rico tulus dari hatinya.
“Iyaa, aku usahakan.” Jawabnya singkat. “Kamu juga hati-hati yah. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa untuk selalu kabarin orang-orang rumah mu.” Ia sengaja tak menyebutkan namanya. “Aku tutup ya, kamu istirahat ya, kan besok pagi-pagi berangkat.”
Setelah panggilan itu berakhir, Rico mulai diliputi rasa cemas karena akan meninggalkan kota ini. Dia tidak tahu akan bagaimana keadaannya saat kembali ke kota ini lagi.
“Aku mengharapkan kamu akan menunggu ku Deya.”