"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Audisi "MasterCobek" dan Diplomasi Ulekan Mama Ratna
Pagi itu, studio kompetisi masak paling bergengsi di Indonesia mendadak riuh. Peserta lain datang dengan membawa pisau set profesional seharga motor, timbangan digital yang presisi sampai mikrogram, dan bahan-bahan impor seperti truffle atau saffron.
kemudian, muncullah rombongan Bagas.
Mama Ratna berjalan paling depan dengan kebaya merah menyala, sanggul setinggi menara BTS, dan sebuah tas kain besar yang bunyinya klotak-klotak karena isinya cobek batu.
Di belakangnya, Bagas dan Dira mengekor seperti asisten yang sedang menjalani hukuman kerja paksa. Bagas memakai celemek gambar ayam jago (tentu saja), sementara Dira sibuk menyemprotkan parfum ke udara untuk menetralisir aroma terasi yang sudah mulai merembes keluar dari tas Mama Ratna.
"Ma, plis ya, jangan galak-galak sama jurinya," bisik Dira cemas. "Ini MasterChef, Ma. Bukan lomba masak antar RT."
"Halah! Juri-juri itu palingan cuma pinter hias piring pake saus titik-titik doang!" sahut Mama Ratna pede. "Mereka belum pernah ngerasain sambal yang diulek pake emosi dan dendam masa lalu. Itu kuncinya, Dira!"
Giliran Mama Ratna tiba. Mereka bertiga masuk ke ruangan audisi yang dingin dan sangat formal. Di sana duduk tiga orang juri legendaris yang mukanya lebih datar daripada ulekan Mama Ratna.
"Selamat pagi. Silakan perkenalkan diri dan jelaskan apa yang akan Anda masak hari ini," ujar Juri 1 dengan suara berat.
Mama Ratna maju, meletakkan cobek batunya di atas meja masak yang kinclong dengan bunyi BRAK! yang membuat para juri berjengit.
"Nama saya Ratna, Manager Internasional dari seniman Bagas, dan hari ini saya mau masak 'Sambal Terasi Guncang Dunia'."
Para juri saling berpandangan. "Hanya sambal? Anda tidak mau memasak protein atau karbohidrat yang lebih kompleks?" tanya Juri 2 heran.
Bagas langsung maju, memasang gaya Alpha-Creative-nya. "Mohon maaf, Chef. Sambal Mama saya ini bukan sekadar pelengkap. Ini adalah representasi dari peradaban agraris yang terhimpit oleh modernitas. Ini adalah liquid gold (emas cair) dalam bentuk pasta cabai. Karbohidratnya? Nanti saya sediakan kerupuk kaleng yang sudah dikurasi secara metafisika oleh rekan saya, Manda."
Dira mencubit pinggang Bagas. "Diem lo, Pir!"
"Silakan dimulai. Waktu Anda lima menit," ujar Juri 3 sambil menahan tawa.
Mama Ratna mulai beraksi. Cabai merah, bawang, dan terasi udang yang baunya langsung menguasai seluruh studio mulai masuk ke cobek. Mama Ratna mengulek dengan kekuatan yang bisa menghancurkan fondasi gedung. Suara ulekannya begitu kencang: SREK! SREK! DUG! DUG!
"Ma, pelan-pelan! Meja jurinya goyang semua itu!" bisik Dira panik.
"Diem kamu! Ngulek itu harus pake tenaga dalam!" seru Mama Ratna.
Tiba-tiba, Bagas merasa harus memberikan "sentuhan seni" pada masakan Mamanya. Tanpa sepengetahuan Mama Ratna, Bagas mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celemeknya. Isinya adalah bubuk kencur murni yang dia campur dengan serbuk emas sisa pameran Jago kemarin.
"Biar estetik, Ma!" bisik Bagas sambil menaburkan bubuk itu ke dalam sambal.
"Apa itu, Bagas?!" tanya Mama Ratna kaget.
"Ini bumbu rahasia 'Pangeran Semen', Ma! Biar sambalnya berkilau pas kena lampu studio!" jawab Bagas bangga.
Tapi, yang terjadi justru di luar dugaan. Bubuk itu bereaksi dengan uap panas terasi dan mulai mengeluarkan asap berwarna ungu kebiruan yang sangat tebal. Dalam hitungan detik, meja masak Mama Ratna tertutup kabut misterius yang aromanya seperti campuran antara bunga mawar dan knalpot bajaj.
"UHUK! UHUK! Ini apa-apaan?!" teriak Juri 1 sambil mengipasi udara dengan tangannya.
"Ini adalah... 'Efek Kabut Pagi di Desa', Chef!" teriak Bagas dari balik asap. "Sebuah pengalaman multisensori di mana Anda tidak hanya merasakan rasa, tapi juga visualisasi dari polusi Jakarta!"
Jaka dan Manda, yang entah bagaimana bisa menyelinap masuk ke area penonton, malah bersorak. "BRAVO! TEROBOSAN DIMENSI BARU!" teriak Manda sambil mengayunkan kristalnya.
Petugas keamanan mulai panik dan menyalakan exhaust fan maksimal. Setelah asapnya menipis, terlihatlah Mama Ratna berdiri dengan rambut yang sedikit acak-acakan, tapi sambalnya sudah jadi. Dan anehnya, sambal itu benar-benar berpendar keemasan.
"Silakan dicoba, Chef," ujar Mama Ratna dengan napas terengah-engah tapi tetap sombong.
Ketiga juri mendekat dengan ragu. Mereka mengambil sendok kecil. Juri 2 yang paling berani, mengambil sedikit sambal keemasan itu dan mencicipinya.
Hening. Satu detik... lima detik... sepuluh detik...
Suasana di studio MasterChef yang dingin mendadak berubah menjadi hangat dan pengap. Asap ungu kebiruan hasil reaksi bubuk emas Bagas dan terasi Mama Ratna perlahan mulai menghilang ditarik oleh mesin penyedot udara tadi, meninggalkan aroma yang sangat unik: seperti bau dapur keraton yang baru saja kena ledakan kosmetik mahal.
Tiga juri di depan sana masih tampak termangu. Juri 2 terus-menerus mengelap keringat di dahi, sementara Juri 3 masih sibuk mengunyah kerupuk kaleng yang dibawa Bagas dengan tatapan kosong.
"Ibu Ratna," Juri 1 akhirnya membuka suara setelah suasana sedikit tenang. "Seumur-umur saya menjadi juri di sini, saya sudah mencicipi ribuan hidangan. Ada yang mewah, ada yang aneh, tapi belum pernah ada yang membuat saya merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang sangat lezat."
Mama Ratna berdiri tegak, memegang ulekannya seperti seorang ksatria memegang pedang. "Itu namanya rasa kejujuran, Chef! Sambal saya ini tidak pakai akting, tidak pakai pengawet, hanya pakai perasaan seorang ibu yang lelah melihat anaknya tiap hari ngomong sama patung ayam."
Bagas mengangguk-angguk di belakang, mencoba memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Betul, Chef. Sambal itu adalah representasi dari luka batin saya yang sembuh oleh pedasnya cabai rawit pilihan Mama."
Dira hanya bisa membatin, "Luka batin pala lo peyang, Pir! Lo mah emang doyan pedas aja!"
Juri 1 menatap sambal keemasan yang masih tersisa di piring. "Masalahnya, Ibu Ratna... teknik Anda tadi sangat berbahaya. Anda memasukkan bahan yang kami sendiri tidak tahu itu apa. Mas Bagas, apa sebenarnya bubuk emas itu?"
Bagas maju satu langkah, merapikan celemek ayam jagonya. "Itu adalah serbuk emas murni 24 karat yang saya kumpulkan dari sisa-sisa restorasi patung Jago saya, Chef. Secara ilmiah, emas adalah logam mulia yang inert, jadi aman dimakan. Secara estetika, itu adalah simbol bahwa kemiskinan rasa di studio ini telah saya 'sepuh' dengan kemewahan spiritual."
Juri 3 tiba-tiba tertawa kencang. "Gila! Kamu bener-bener gila, Bagas! Tapi jujur, bubuk itu memberikan tekstur crunchy yang aneh tapi nagih. Ini seperti makan perhiasan di pinggir jalan!"
Ketiga juri kemudian berdiskusi dalam bisikan yang sangat serius. Sesekali mereka melirik ke arah Mama Ratna, kemudian ke arah Bagas yang sekarang malah asyik melakukan gerakan moonwalk kecil di belakang meja masak.
"Oke, kami sudah punya keputusan," ujar Juri 1.
Mama Ratna menahan napas. Dira memejamkan mata, sudah siap-siap mau pingsan kalau Mamanya gagal dan ngamuk di studio. Di pojok penonton, Jaka dan Manda sudah menyiapkan spanduk bertuliskan "TEAM COBEK HARGA MATI".
"Ibu Ratna... masakan Ibu secara teknis berantakan. Meja masak Ibu penuh cipratan. Ibu juga hampir memicu alarm kebakaran karena asap ungu tadi. Kalau ini kompetisi kebersihan, Ibu sudah kami usir dari tadi."
Wajah Mama Ratna mulai mendung. Dia sudah siap mengangkat cobeknya untuk melakukan "protes keras".
"TAPI," Juri 1 tersenyum tipis. "Rasa sambal terasi ini adalah yang terbaik yang pernah masuk ke studio ini dalam lima tahun terakhir. Ini adalah rasa yang punya nyawa. Jadi... Ibu Ratna, silakan ambil celemek putih ini!"
Mama Ratna mematung. Dira melongo. Bagas langsung teriak, "ALLAHU AKBAR! MAMA JAGO MENANG, MAAA!"
Mama Ratna berlari ke meja juri, bukannya mengambil celemek dengan anggun, malah memeluk Juri 1 dengan sangat kencang sampai sang juri hampir sesak napas.
"Terima kasih, Chef! Terima kasih! Nanti saya kirimin terasinya sekilo ke rumah!" teriak Mama Ratna kegirangan.
Mama Ratna kembali ke meja masak sambil mengayun-ayunkan celemek putihnya yang sekarang sudah terkena sedikit noda sambal dari tangannya. "Bagas! Dira! Kita masuk TV! Kita bakal terkenal!"
"Ingat ya, Bu," potong Juri 2 sambil mencoba melepaskan diri dari aroma terasi yang menempel di jasnya. "Minggu depan kompetisi sesungguhnya dimulai. Jangan bawa-bawa serbuk emas lagi, atau kami akan panggil polisi, bukan juri!"
Sore harinya, mereka keluar dari gedung studio dengan langkah kemenangan. Mama Ratna memakai celemek putihnya di luar kebaya, bahkan saat dia berjalan menuju mobil. Jaka dan Manda menyambut mereka dengan sorak-sorai bak menyambut pahlawan yang baru pulang dari medan perang.
"Selamat, Tante Ratna!" seru Manda sambil menaburkan kelopak bunga melati ke atas kepala Mama Ratna. "Saya liat tadi aura kompornya berubah jadi ungu, itu tandanya Tante sudah direstui oleh Dewa Dapur!"
"Makasih, Manda. Besok kita mulai latihan lagi. Mama mau belajar gimana caranya bikin kue sus tapi isinya sambal teri," ujar Mama Ratna semangat.
Tapi, di tengah keriuhan itu, Dira melihat Jaka yang wajahnya mendadak berubah jadi serius sambil memegang ponselnya.
"Ada apa, Jak? Kok muka lo kayak abis liat tagihan kartu kredit?" tanya Dira.
Jaka menelan ludah. "Ini... ada email masuk ke alamat manajer Supra yang gue buat di Singapura kemarin. Isinya dari Nekonami Corp Jepang. Mereka liat video Supra yang lagi ngejar laron di bandara Singapura kemarin dan jadi viral di TikTok Jepang!"
Bagas langsung mendekat. "TikTok Jepang? Supra masuk fyp di sana?"
"Bukan cuma fyp, Gas! Mereka bilang Supra punya 'wajah yang sangat sinis tapi menggemaskan'. Mereka mau nawarin kontrak iklan global buat Supra sebagai ikon 'Kucing Anti-Mainstream'. Dan mereka minta kita semua ke Tokyo minggu depan buat tanda tangan kontrak!"
Dira tertegun. "Minggu depan? Pas banget sama jadwal Mama audisi babak kedua?"
Bagas menatap Mama Ratna, kemudian menatap Supra yang sedang asyik menjilati celemek putih Mama Ratna.
"Ndoro... ini namanya dilema antar bangsa," ujar Bagas dengan nada filosofis. "Di satu sisi, Mama mau jadi ratu dapur nasional. Di sisi lain, Supra mau jadi raja iklan internasional. Apa kita harus membagi diri kita jadi dua?"
Mama Ratna berhenti sejenak, menatap celemek putihnya, kemudian menatap Supra. "Bagas... Mama punya ide. Gimana kalau Mama ikut audisinya di Jepang aja? Siapa tahu di sana ada MasterChef versi Jepang, Mama bisa kenalin sambal terasi ke orang-orang sushi itu!"
"Ma, MasterChef itu beda-beda tiap negara!" protes Dira.
"Gak ada bedanya!" sahut Mama Ratna mantap.
"Selama ada lidah, sambal Mama akan berkuasa! Kita berangkat ke Jepang semua! Supra jadi artis, Mama jadi koki internasional, dan Bagas tetap jadi asisten yang nggak jelas kerjanya!"
Bagas bertepuk tangan kencang. "GILA! Ini adalah rencana paling ambisius abad ini! Pasukan Tapir akan melakukan invasi rasa dan bulu ke negeri Sakura!"
Dengan tiket MasterChef di satu tangan dan tawaran kontrak Jepang di tangan lain, rombongan absurd ini resmi memulai persiapan keberangkatan mereka yang paling heboh.
Tapi masalahnya cuma satu: Bagaimana caranya meyakinkan maskapai penerbangan bahwa satu koper penuh cobek batu dan satu kucing pincang berpita merah adalah "peralatan medis darurat" yang harus masuk kabin?
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍