NovelToon NovelToon
Sumpah Cinta Matiku

Sumpah Cinta Matiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.

Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.

Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.

Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.

Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?

Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transisi

Gedung Galeri Nasional sore itu bertransformasi menjadi sebuah ruang yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menggelitik indra penciuman. Spanduk besar bertuliskan "TRANSISI: Sebuah Dialog Ruang dan Rasa" terpajang megah di depan pintu masuk. Ini bukan sekadar pameran seni rupa biasa; ini adalah puncak kolaborasi antara pakar seni senior, akademisi muda, dan seorang pengusaha kuliner yang sedang naik daun.

Idris berdiri di tengah lobi, mengenakan setelan jas kasual tanpa dasi—penampilan khas kurator muda yang modern.

Di sampingnya, Pak Gunawan tampak gagah dengan kemeja batik tulis sutra, wajahnya berseri-seri menyambut para kolektor dan kritikus seni papan atas Jakarta. Namun, pusat perhatian sesungguhnya berada di instalasi utama di tengah galeri.

Di atas sebuah podium melingkar yang minimalis, terdapat kolaborasi yang memukau. Pak Gunawan memamerkan serangkaian lukisan abstrak berukuran masif yang menggambarkan gradasi langit dari fajar hingga senja. Di bawah lukisan-lukisan tersebut, Tia—bersama Anggun dan Lita yang berseragam hitam elegan—telah menyusun "instalasi rasa".

Bukan sekadar kue di atas piring, Tia menciptakan miniatur pegunungan dari tumpukan brownies yang diukir sedemikian rupa, lengkap dengan lelehan cokelat putih yang menyerupai kabut dan taburan bubuk taro yang memberikan efek bayangan ungu pada tebing-tebing kue tersebut.

"Ini bukan makanan, ini adalah narasi," bisik seorang kurator senior sambil membenarkan letak kacamatanya.

Tia berdiri di dekat instalasi itu, mengenakan gaun simpel berwarna krem yang senada dengan dekorasi ruangan. Ia tampak tenang, meski di dalam hatinya detak jantungnya lebih kencang daripada saat ia menyerahkan surat pengunduran dirinya dulu.

Pak Gunawan maju ke depan pengeras suara untuk membuka acara. "Selamat malam rekan-rekan. Pameran ini dinamakan 'Transisi' karena hidup adalah tentang pergeseran. Dari gelap ke terang, dari rasa takut ke keberanian. Dan di sini, Anda tidak hanya melihat transisi warna di atas kanvas saya, tapi Anda juga akan mengecap transisi rasa melalui karya putri saya, Tia."

Idris kemudian mengambil alih sebagai kurator. "Seni selama ini dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan tak boleh disentuh. Tapi malam ini, kami ingin Anda menyentuh, mencium, dan memakan seni itu sendiri. Silakan nikmati 'The Merbabu Path'—sebuah perjalanan rasa yang dimulai dari pahitnya cokelat hitam 70% dan berakhir pada manisnya jeruk aprikot."

Tia memberikan aba-aba kepada Lita dan Anggun. Dengan gerakan yang anggun, mereka mulai memotong bagian-bagian dari instalasi kue tersebut dan membagikannya kepada para tamu dalam wadah porselen kecil yang artistik.

...----------------...

Di tengah kerumunan, Eyang Ratu muncul dengan kursi rodanya yang didorong oleh seorang asisten. Kehadirannya seketika membuat suasana menjadi lebih khidmat. Ia berhenti tepat di depan lukisan Pak Gunawan, lalu beralih menatap instalasi Tia.

"Gunawan," panggil Eyang Ratu. "Kamu selalu pintar memilih komposisi. Tapi kali ini, cucuku telah melampauimu. Lukisanmu indah, tapi kue Tia... ia memiliki nyawa yang bisa dirasakan oleh lidah."

Pak Gunawan tertawa bangga, merangkul pundak Tia. "Saya tidak keberatan kalah dari murid saya sendiri, Ibu."

Eyang Ratu kemudian memanggil Idris. "Idris, kurasimu berani. Menggabungkan makanan ke dalam galeri itu berisiko, tapi kamu berhasil menjaga martabat seninya tetap tinggi. Ini adalah pameran paling 'jujur' yang pernah aku hadiri dalam sepuluh tahun terakhir."

Idris tersenyum "Suatu kehormatan bagi saya eyang. Dan terimakasih sudah datang".

...----------------...

Seorang kritikus seni terkenal yang dikenal pedas ucapannya, menghampiri Idris dan Tia. "Menarik. Tapi apakah ini bukan sekadar strategi pemasaran untuk toko kue kalian? Di mana letak 'seni murni'-nya jika akhirnya kue ini habis dimakan?"

Idris tersenyum, tidak terpancing emosi. "Seni yang paling murni adalah seni yang paling fana, Bung. Seperti pertunjukan teater atau musik, ia ada untuk dinikmati pada momennya, lalu menjadi memori. Kue ini adalah performance art. Saat Anda memakannya, Anda sedang menyelesaikan proses kreatif Tia. Anda membawa seni itu masuk ke dalam tubuh Anda. Bukankah itu bentuk apresiasi yang paling intim?"

Kritikus itu terdiam sebentar, mencicipi potongan kue di tangannya, lalu mengangguk pelan. "Penjelasan yang cerdas, Dosen. Saya hargai argumennya."

Saat tamu-tamu mulai sibuk berdiskusi di sudut-sudut lain, Tia dan Idris menyelinap sebentar ke balik salah satu sekat pameran.

"Kita berhasil, Mas," bisik Tia, menyandarkan kepalanya di bahu Idris. "Liat Anggun dan Lita, mereka kelihatan sangat bangga bisa ada di sini."

"Aku lebih bangga sama kamu, Tia," sahut Idris sambil menggenggam tangan Tia yang kini dihiasi cincin tunangan. "Hari ini, dunia seni rupa Jakarta tahu kalau 'Crumbs & Clouds' bukan cuma soal bisnis, tapi soal jiwa. Dan lihat Pak Gunawan, beliau terlihat sepuluh tahun lebih muda malam ini."

Tia menatap lukisan Ayahnya yang berjudul The Leap. "Dulu aku cuma bisa liat lukisan Ayah dan merasa minder. Sekarang, aku merasa karyaku dan karya Ayah saling berbicara. Makasih ya, Mas, sudah jadi kurator buat hidupku."

"You don't need to thank me sayang, pasti aku akan melakukan apa yang membuatmu bahagia dan juga mendorongmu untuk berani maju".

Pameran "Transisi" malam itu berakhir dengan sukses besar. Hampir seluruh lukisan Pak Gunawan terjual, dan Tia mendapatkan tiga tawaran kolaborasi baru dari galeri internasional yang ingin menyajikan instalasi serupa.

Saat galeri mulai sepi, Anggun dan Lita menghampiri Tia. "Mbak Tia, tadi ada kolektor yang bilang kalau brownies kita adalah 'seni yang bisa dimakan'. Kami terharu banget," ujar Lita sambil menyeka air mata bahagianya.

"Kalian luar biasa hari ini," puji Tia. "Ini kemenangan kita bersama."

Mereka semua—Tia, Idris, Pak Gunawan, Anggun, dan Lita—berdiri bersama di depan pintu galeri untuk foto terakhir.

Di belakang mereka, lampu-lampu Jakarta mulai benderang, sama terangnya dengan masa depan yang kini membentang di depan mata.

Pameran itu memang tentang transisi, dan malam itu, Tia benar-benar telah bertransformasi sepenuhnya. Dari seorang yang takut akan ketidakpastian, menjadi seorang seniman yang mampu mengubah remah-remah menjadi keindahan yang abadi.

1
partini
hah belum siap ,, aneh kali ya kalau masih pacaran ok lah kan dah nikah pasangan yg aneh
partini
salah kamu dris harusnya istrimu di ajak bertemu aihhh malah peluk segala pula ,,semoga sebelum pulang tuh video udah yampe biar berantem salah salah sendiri ga jujur
partini
hemmm so sweet
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
partini
sinopsisnya di rubah ya Thor
mantan ga ada
dtf_firiya: yes thank you sebentar ya I'll look for a fitting description
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!