Ding! [Sistem Fate Breaker Aktif: Mengubah skenario dunia!]
Dibuang dan difitnah sebagai putri sampah? Itu bukan gaya Aruna. Masuk ke tubuh Auristela Vanya von Vance, ia justru asyik mengacaukan alur game VR ini dengan sistem yang hobi error di saat kritis.
Tapi, kenapa Ksatria Agung Asher de Volland yang sedingin es malah terobsesi melindunginya?
Ding! [Kedekatan dengan Asher: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh tapi menarik."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Akhirnya Pulang
"AURISTELA!"
Asher, yang seharusnya masih terbaring lemah karena luka-lukanya belum sepenuhnya menutup, melakukan hal yang gila. Dia menyentak selimutnya dan terjun dari ranjang, mengabaikan rasa perih luar biasa yang seolah menyobek kembali dadanya.
Brukk!
Asher mendarat dengan lututnya di lantai kayu tepat saat tubuh Aruna hampir menghantam permukaan keras itu. Dengan ia menangkap dan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. DEG! DEG! DEG! Tangan Asher yang besar gemetar hebat saat menyentuh wajah Aruna yang pucat pasi dan berkeringat dingin.
"TABIB!! SCWARTZ!! SESEORANG, SIAPA PUN!! CEPAT KE SINI!!" teriak Asher lagi. Suaranya bergema di sepanjang koridor Sanatorium yang sunyi, membuat burung-burung yang hinggap di jendela pohon terbang berhamburan.
Asher tidak peduli jika perbannya kembali memerah karena d4rah. Pikirannya kosong. Hanya ada bayangan Aruna yang baru saja menangis di hadapannya, lalu tiba-tiba ambruk seolah nyawanya ditarik paksa.
"Bertahanlah... Putri, kumohon... jangan tutup matamu!" bisik Asher, suaranya serak menahan emosi. Dia mengeratkan pelukannya, menyandarkan keningnya di bahu gadis itu dengan tubuh yang bergetar. Asher seolah mencoba memastikan detak jantung Aruna masih ada di sana, mengabaikan rasa perih di dadanya sendiri yang kini terasa terbakar.
Pintu jalinan akar terbuka dengan hantaman keras. Scwartz dan tiga tabib Elf berlari masuk dengan wajah yang tak kalah panik. Mereka mengira ada serangan susulan yang berhasil menembus pertahanan Sanatorium.
"Ada apa?! Apa yang terjadi?! Asher, lukamu terbuka lagi!!" teriak Scwartz panik melihat d4rah merembes di jubah pasien Asher.
"Jangan urus aku! Lihat dia! Dia tiba-tiba ambruk! Cepat lakukan sesuatu!" Asher dengan mata yang berkilat tajam, penuh kepanikan dan keputusasaan terus memeluk Aruna.
Para tabib segera mengerumuni Aruna. Salah satu dari mereka meletakkan tangan di kening sang Putri, memejamkan mata untuk meraba aliran mana di dalam tubuhnya. Suasana menjadi sangat tegang selama beberapa menit. Asher sama sekali tidak melepaskan Aruna, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahan gadis itu di dunia ini.
Hening.
Sampai akhirnya, tabib Elf itu membuka matanya dan mengembuskan napas panjang—bukan napas sedih, melainkan napas yang sangat... lelah.
"Lord de Volland," panggil tabib itu pelan.
"ada apa? bagaimana keadaannya? kenapa dia tiba-tiba pingsan? Apa ada masalah di jantungnya? cepat katakan!!" serbu Asher beruntun.
"Tenangkan dirimu, Lord de Volland. Putri Auristela... baik baik saja. Dia hanya mengalami stres ringan dan sedikit kelelahan mental," jawab tabib itu dengan nada datar. "Sederhananya, dia terlalu banyak berpikir dan kurang istirahat. Dia butuh ketenangan, bukan teriakan yang bisa merobek telinga."
Asher tertegun. Kata-kata itu seolah menampar wajahnya. "Apa? Stres?"
"Benar. Kondisi emosionalnya tidak stabil, mungkin karena kejadian traumatis belakangan ini. Ditambah lagi, sepertinya dia tidak istirahat dengan benar," tambah sang tabib sambil melirik sinis ke arah Asher yang masih memeluk Aruna dengan posisi yang sangat dramatis.
Scwartz di belakang tertawa sambil memeluk perutnya sendiri. "PUFF... BWAHAHAHA... Jadi... kamu berteriak seolah-olah dunia akan runtuh hanya karena Putri perlu tidur?"
Wajah Asher yang pucat mendadak berubah menjadi merah padam. Dia melihat ke arah Aruna yang masih pingsan, namun bibir gadis itu bergerak sedikit, menggumamkan sesuatu yang nyaris tak terdengar.
"Ngum... berisik... Sekali... nyum..." gumam Aruna dalam ketidaksadarannya.
Asher terdiam seribu bahasa. Dia perlahan melepaskan pelukannya dan membiarkan para tabib memindahkan Aruna ke ranjang sebelah. Di dalam hatinya, rasa malu mulai membakar, tapi rasa lega yang meluap jauh lebih besar hingga ia tak tahu harus berekspresi seperti apa.
3 Hari Kemudian
Sinar matahari menyusup di antara celah daun jalinan atap Sanatorium, menerangi Aruna yang sedang sibuk mengemas beberapa barang kecil ke dalam tas kainnya. Wajahnya sudah kembali segar, meski sistemnya masih sesekali memberikan notifikasi stuttering yang mengganggu.
"Kita berangkat hari ini," ujar Aruna mantap saat melihat Asher masuk ke ruangannya.
Asher, yang kini sudah mengenakan pakaian perjalanannya meski tetap terlihat kaku karena perban di bawah bajunya, mengerutkan kening. "Tidak. Tabib bilang kau butuh satu minggu lagi. kamu masih belum sembuh total."
Aruna memutar bola matanya. "Es Batu, aku sudah tidur selama tiga hari penuh! Kalau aku tinggal di sini lebih lama lagi, aku bisa tumbuh akar di kakiku! Kita harus segera keluar dari hutan ini sebelum assasin lain menemukan cara untuk masuk."
"Keamanan di sini adalah yang terbaik di Xyloseria," bantah Asher keras kepala. "Berangkat sekarang hanya akan membahayakan nyawamu."
Aruna berjalan mendekat, menatap Asher tepat di matanya—jarak yang sangat dekat hingga Asher bisa mencium aroma buah persik dan bunga lili putih dari tubuh Aruna. "Aku adalah Putri dari Vance, dan kau adalah pelindung-ku. Sejak kapan ksatria sepertimu jadi begitu penakut, hm?"
Asher terdiam, tenggorokannya mendadak kering. "Aku tidak takut. Aku hanya... khawatir."
"Aku tahu. Tapi kita harus pulang, Asher. Ke wilayahmu. Di sana aku bisa beristirahat dengan lebih tenang dan kita bisa menyelidiki siapa dibalik assasin yang terus menyerang," ucap Aruna dengan nada yang sedikit melembut.
Asher menghela napas panjang, tanda bahwa dia kalah telak. "Baiklah. Tapi satu langkah saja kau terlihat lemas, aku akan menggendongmu sepanjang jalan."
"Humph!"
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 97%.]
[Catatan: Target telah kehilangan kemampuan untuk mendebat Anda jika menyangkut keinginan Anda yang keras kepala.]
Tepat saat mereka hendak melangkah keluar, sesosok Elf tua dengan jubah yang seolah terbuat dari lumut muncul di ambang pintu. Itu adalah Tetua Agung Aethelgard.
"Yggdrasil telah bicara," ujar sang Tetua dengan suara yang berat seperti gesekan dahan. "Sang Pohon Dunia mengenali resonansi mana yang kau miliki, Putri. Sebagai tanda persahabatan, Hutan Primordial akan membukakan jalan untukmu."
Sang Tetua menghentakkan tongkat kayunya ke lantai. Seketika, akar-akar besar di koridor bergerak, saling menjalin dan membentuk sebuah lengkungan cahaya yang berpendar hijau keemasan.
"Ini adalah Jalan Akar," jelas Tetua. "Jalan ini akan membawa kalian langsung ke perbatasan wilayah manusia dalam sekejap mata. Hutan ini ingin kau segera mencapai tujuanmu, Putri Auristela."
Aruna menatap jalan rahasia itu dengan takjub, lalu melirik Asher. "Lihat? Bahkan pohon pun ingin aku segera pulang."
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam cahaya itu. Rasa hangat menyelimuti tubuh mereka selama beberapa detik, sebelum pemandangan hutan hijau yang lebat berganti menjadi hamparan padang rumput luas dengan benteng batu yang berdiri megah di kejauhan.
Mereka telah sampai. Perbatasan wilayah kekuasaan Archduke Asher de Volland.
Namun, senyum di wajah Aruna perlahan memudar saat melihat ekspresi Asher. Sang Ksatria Agung itu tidak terlihat senang. Matanya menyipit menatap gerbang wilayahnya sendiri.
"Asher? Ada apa?" tanya Aruna cemas.
Asher mencengkeram hulu pedangnya, Solis-Aeterna. "Ada tamu yang tidak diundang di rumahku, Putri. Dan sepertinya mereka bukan datang untuk minum teh."
ayo Aresh, musnahkan ikan² bau amis itu semuanya