Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Pesan di Balik Jahitan
Pagi setelah malam ulang tahun yang penuh air mata itu, Nika terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, meski matanya masih sedikit sembab. Ia melihat sisi tempat tidur Devan yang sudah kosong, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di atas bantal suaminya, terdapat secarik kertas kecil bertuliskan: "Terima kasih untuk ikan asinnya. Itu kado terbaik tahun ini. Aku pergi pagi-pagi untuk presentasi. Doakan lancar."
Nika memeluk kertas itu di dadanya, tersenyum kecil. Namun, senyum itu berubah menjadi garis tegas saat ia teringat wajah kemenangan Clarissa semalam. Nika adalah seorang desainer; jika Devan bertarung dengan beton dan baja, maka Nika bertarung dengan jarum, benang, dan kain. Dan ia tahu persis bagaimana cara memberikan "pelajaran" tanpa harus mengotori tangannya.
Ia segera mandi dan meluncur ke butiknya dengan semangat yang membara. Begitu sampai, ia langsung memanggil asisten kepercayaannya, Maya.
"Maya, siapkan kain sutra krep warna merah marun yang paling mahal. Aku ingin mendesain sebuah gaun malam khusus. Dan cari tahu ukuran tubuh Clarissa dari profil publiknya atau LinkedIn, dia sering menghadiri acara gala, pasti datanya ada," perintah Nika dengan nada otoriter yang elegan.
"Untuk siapa, Mbak? Klien baru?" tanya Maya heran melihat bosnya yang biasanya santai kini tampak sangat fokus.
"Untuk 'rekan bisnis' suamiku. Aku ingin memberinya apresiasi karena sudah membantu Mas Devan merevisi proyek hingga larut malam," jawab Nika sambil mulai menggoreskan pensil di atas kertas sketsa.
Nika mendesain sebuah gaun yang sangat cantik, namun ia memasukkan unsur-unsur psikologis ke dalamnya. Gaun itu memiliki potongan leher yang tinggi dan tertutup—seolah memberikan pesan tentang kesopanan dan batas—namun memiliki detail jahitan di bagian pinggang yang sangat rumit. Di balik furing gaun itu, tepat di bagian yang menyentuh kulit pemakainya di area dada, Nika menyulam sebuah kalimat kecil dengan benang merah yang senada dengan kainnya, sehingga tidak terlihat dari luar namun akan selalu terasa oleh si pemakai.
Kalimat itu berbunyi: "Property of Devan's Heart is Already Taken."
Ini adalah cara Nika. Ia tahu Clarissa menyukai kemewahan dan pengakuan. Dengan mengirimkan gaun rancangan eksklusif dari "Arunika Batubara", Clarissa pasti tidak akan bisa menolak untuk memakainya di acara gala perusahaan minggu depan. Dan setiap detik Clarissa mengenakan gaun itu, ia akan diingatkan bahwa pria yang ia coba dekati sudah memiliki pemilik yang sah.
Selama tiga hari berikutnya, Nika menghabiskan waktu di butik, mengawasi setiap jahitan gaun tersebut. Ia tidak lagi mengejar Devan ke kantor atau ke lokasi proyek. Ia ingin memberikan Devan ruang, sekaligus menunjukkan bahwa ia juga punya dunia di mana ia adalah ratunya.
Pada hari keempat, gaun itu selesai. Nika mengemasnya dalam kotak beludru hitam yang mewah, menyertakan sebuah kartu ucapan berparfum mahal.
"Untuk Clarissa yang luar biasa, terima kasih telah menjaga suamiku tetap fokus pada proyeknya. Terimalah sedikit apresiasi dari butikku. Pakailah di acara Gala Adiguna Group besok malam. Aku yakin kamu akan terlihat sangat... profesional."
Nika mengirimkan paket itu lewat kurir pribadi ke kantor Clarissa. Ia membayangkan bagaimana wajah wanita itu saat menerima paket dari istri pria yang sedang ia incar. Antara rasa bangga mendapatkan gaun desainer gratis, atau rasa curiga akan niat di baliknya.
Malamnya, Devan pulang dengan wajah yang tampak lebih segar. Presentasinya sukses besar, dan dewan komisaris menyetujui revisi yang dibuatnya.
"Nika, kamu mengirimkan sesuatu ke Clarissa?" tanya Devan saat mereka duduk di ruang santai. Devan tampak bingung namun tidak marah.
"Hanya sebuah hadiah, Mas. Sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah bekerja keras bersamamu. Salah ya?" Nika bertanya dengan wajah polos yang sangat meyakinkan.
Devan menatap istrinya lama, mencoba mencari tanda-tanda kecemburuan atau kemarahan, namun yang ia dapati hanyalah ketenangan. "Dia menghubungiku tadi, katanya gaunnya sangat indah. Dia merasa sedikit tidak enak karena sempat bersikap kurang sopan semalam."
"Oh ya? Baguslah kalau dia sadar," jawab Nika sambil menyesap tehnya. "Besok malam di acara Gala, aku ingin kita datang bersama, Mas. Sebagai suami istri. Bukan sebagai pengamat atau asisten magang. Bagaimana?"
Devan terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana selama enam bulan ini Nika selalu menolak datang ke acara perusahaannya, atau jika datang pun, ia akan berdiri jauh dan bersikap seolah tidak mengenal Devan.
"Kamu yakin?" tanya Devan ragu. "Akan banyak media dan rekan bisnis di sana."
Nika berdiri, berjalan mendekati Devan yang duduk di sofa, lalu ia duduk di lantai di depan kaki suaminya, meletakkan tangannya di lutut Devan—posisi yang sangat tunduk namun penuh kasih. "Aku sangat yakin, Mas. Aku ingin seluruh dunia tahu kalau pria hebat yang memimpin Adiguna Group itu adalah suamiku. Dan aku adalah wanita paling beruntung karena mendapatkan kesempatan kedua darimu."
Devan mengusap rambut Nika pelan. Ada rasa haru yang menjalar di hatinya. Perubahan Nika terasa begitu drastis, namun ia bisa merasakan ketulusan di setiap gerakannya. "Baiklah. Kita datang bersama. Pakailah baju terbaikmu, karena besok malam akan menjadi pengumuman besar untuk proyek Bali."
"Aku sudah menyiapkan baju yang senada denganmu, Mas Bos," goda Nika sambil mengedipkan sebelah matanya.
Malam Gala pun tiba. Ballroom hotel berbintang itu dipenuhi cahaya kristal dan aroma kemewahan. Saat Devan dan Nika masuk ke ruangan, seluruh mata tertuju pada mereka. Devan tampak sangat gagah dengan tuksedo hitamnya, dan Nika terlihat luar biasa cantik dengan gaun malam berwarna biru safir yang ia desain sendiri—menunjukkan keanggunan sekaligus otoritas sebagai istri sang CEO.
Tak lama kemudian, Clarissa muncul. Ia memang mengenakan gaun merah marun kiriman Nika. Ia terlihat sangat memukau, dan ia berjalan mendekati Devan dengan penuh percaya diri.
"Terima kasih atas gaunnya, Nika. Ini sangat pas di tubuhku," ucap Clarissa dengan senyum miringnya.
"Sama-sama, Clarissa. Aku senang kamu menyukainya," jawab Nika dengan senyum yang jauh lebih manis. "Bagaimana rasanya? Apakah bahannya nyaman menyentuh kulitmu?"
Clarissa sedikit mengernyit, seolah merasakan sesuatu yang sedikit mengganjal di bagian dadanya—jahitan sulaman rahasia itu. "Iya... sedikit terasa ada jahitan yang menonjol di dalam, tapi tidak masalah."
"Oh, itu memang detail khusus yang aku buat hanya untukmu. Agar kamu selalu ingat pada tempatmu," ucap Nika pelan, hanya bisa didengar oleh Clarissa.
Wajah Clarissa seketika berubah kaku. Ia menyadari ada sesuatu di balik keramahan Nika. Saat ia melihat bagaimana Devan merangkul pinggang Nika dengan posesif dan penuh kasih di depan para tamu, Clarissa sadar bahwa tembok yang ia coba retakkan semalam kini sudah dibangun kembali menjadi benteng yang jauh lebih kokoh.
Malam itu, Nika memenangkan babak ini dengan sangat elegan. Ia tidak perlu berteriak, ia tidak perlu melabrak. Ia hanya perlu menunjukkan pada dunia—dan pada Clarissa—bahwa meskipun suaminya sempat mendingin, ia adalah satu-satunya api yang bisa menghangatkan kembali hati Devan Adiguna.