NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Cinta Yang Tidak Seharusnya Terjadi Oleh Gadis Yang Datang Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: TOKOPAIJO

UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.

Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.

Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.

Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.

Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.

Namanya Raka.

Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.

Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Sebuah Takdir

Tubuh Nara terasa seperti baru saja dilindas truk pengangkut pasir.

Kelopak matanya seberat timah.

Saat ia mencoba membuka mata, cahaya lampu kamar kos Sinta yang menyala terang langsung menusuk retinanya, membuatnya mengerang pelan dan kembali menutup mata.

Tenggorokannya seringsek padang pasir.

Dan yang paling parah, seluruh persendiannya terasa ngilu seolah baru saja ditarik paksa dari tulangnya.

"Nara? Kamu sudah bangun?"

Suara Sinta terdengar dari arah meja belajar.

Ada suara langkah kaki mendekat.

Nara merasakan sebuah punggung tangan menyentuh dahinya.

Dingin.

Namun kemudian Sinta menarik napas tajam.

"Astaga Nara, badanmu panas sekali," gumam Sinta panik.

Nara memaksa matanya terbuka.

Siluet Sinta terlihat buram di atasnya, ibunya itu sudah rapi dengan kemeja kampus, namun wajahnya memancarkan kekhawatiran yang luar biasa.

"Aku... nggak apa-apa," suara Nara keluar sangat serak, nyaris seperti bisikan putus asa. "Cuma... butuh air."

Sinta dengan sigap mengambil gelas dari meja dan membantu Nara meminumnya pelan-pelan.

Nara kembali merebahkan kepalanya ke bantal dengan napas terengah-engah.

Duduk semalaman di atap ruko beton yang berangin kencang, ditambah dengan stres emosional dan fisik yang kelelahan karena melintasi waktu, akhirnya menagih bayaran. Tubuhnya yang berasal dari masa depan rupanya tidak bisa berkompromi lagi.

"Kamu demam tinggi, aku nggak akan ke kampus hari ini," putus Sinta tegas. Ia mulai membongkar laci mejanya, mencari kotak P3K kecil. "Aku harus cari obat penurun panas, tapi kamu belum sarapan, perutmu kosong."

Sinta menggigit bibir bawahnya, terlihat bingung harus melakukan apa dulu.

Meninggalkan Nara sendirian untuk beli makan? Atau mencari obat?

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan di pintu terdengar.

Sinta mengerutkan kening, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Ceklek.

"Pagi, Nona Kalkulator!"

Suara cengiran itu terdengar begitu ceria hingga membuat kepala Nara semakin berdenyut.

Raka berdiri di ambang pintu.

Pemuda itu mengenakan kaus putih oblong yang dilapisi kemeja flanel merah pudar yang kancingnya dibiarkan terbuka. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi wajahnya terlihat jauh lebih segar daripada semalam.

Di kedua tangannya, ia menenteng beberapa kantong plastik kresek.

"Ngapain kamu ke sini pagi-pagi?" desis Sinta galak, namun suaranya ditahan agar tidak terlalu berisik.

"Mau absen pagi," jawab Raka santai, ia melongokkan kepalanya melewati bahu Sinta, mencari sosok Nara.  "Teman turismu mana? Udah bangun belum? Aku bawa sarapan nih."

"Dia sakit, demam tinggi," jawab Sinta cepat. "Aku baru mau keluar cari bubur sama obat."

Cengiran Raka langsung lenyap.

Ia mendorong pelan bahu Sinta untuk menyingkir dari pintu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tanpa permisi.

"Eh! Raka! Kebiasaan main nyelonong aja!" omel Sinta sambil menutup pintu.

Raka tidak mempedulikan omelan itu, ia berjalan lurus ke arah kasur tempat Nara berbaring.

Ia meletakkan kantong kreseknya di atas karpet.

Nara menatap Raka dengan mata sayu.

Melihat wajah pemuda itu, Nara tiba-tiba merasa ingin menangis, walau ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena efek demam yang membuatnya menjadi cengeng.

"Kamu ini ya, Nar," Raka berkacak pinggang di samping kasur, menggelengkan kepalanya. Nada bicaranya sama sekali tidak panik, malah terdengar usil. "Semalam sok-sokan naik ke atap. Jatuh nabrak aku, sekarang malah tepar. Ketahuan banget fisik orang kotanya."

Nara hanya bisa memberikan tatapan membunuh yang sayangnya sama sekali tidak mengintimidasi karena matanya yang merah dan berair.

"Raka, jangan ngajak berantem dulu! Dia lagi sakit!" Sinta memukul lengan pemuda itu dari belakang.

"Siapa yang ngajak berantem? Aku lagi diagnosa," kilah Raka santai.

Raka tiba-tiba membungkuk.

Tanpa aba-aba, ia menempelkan punggung tangannya yang besar dan sedikit kasar ke dahi Nara.

Nara menahan napas.

Sentuhan itu terasa sangat kontras dengan suhu tubuhnya yang mendidih.

Tangan Raka terasa sejuk, ada aroma sabun mandi murah dan samar-samar wangi tembakau yang menguar dari kemeja flanelnya.

Wajah mereka sangat dekat.

Nara bisa melihat bulu mata Raka, ia bisa melihat rahang pemuda itu yang tegas.

Jantung Nara berdegup dengan ritme yang tidak menentu. Entah karena demam, atau karena pesona pemuda ini yang tidak pernah gagal mengacaukan kewarasannya.

Raka menatap wajah Nara cukup lama.

Tatapan matanya berubah, tidak ada lagi kilat jahil di sana. Hanya ada kekhawatiran murni yang sunyi.

Namun, menyadari bahwa Sinta sedang memperhatikan mereka, Raka dengan cepat menarik tangannya kembali. Seringai khasnya langsung terpasang lagi bagai tameng otomatis.

"Wah, gila. Panas banget, Nar," celetuk Raka sambil mengibas-ngibaskan tangannya seolah baru saja menyentuh panci panas. "Keningmu bisa buat ceplok telor ini mah."

Nara mendengus lemah, memalingkan wajahnya ke arah tembok. "Nggak usah lebay."

"Serius!" Raka tertawa, lalu beralih menatap Sinta yang sedang terlihat panik membaca buku tentang penanganan demam. "Udah Sin, nggak usah baca buku tebalmu itu. Ini bukan ujian."

Raka berjongkok, membongkar isi kreseknya.

"Nih, aku bawa bubur ayam Mang Udin dari perempatan. Masih panas, kamu suapin dia makan. Biar aku yang lari ke apotek beli parasetamol."

Sinta menatap kantong kresek itu dengan curiga. "Bubur pinggir jalan? Kamu mau bikin dia makin sakit? Mangkoknya dicuci pakai air keruh kan?"

Raka memutar bola matanya malas. "Astaga, Nona Kalkulator. Kuman Mang Udin itu kuman baik, udah disterilisasi pakai doa. Daripada temanmu kelaparan nungguin kamu masak air? Udah, kasih aja. Nggak bakal mati kok."

"Kamu ini kalau dikasih tahu ngeyel terus ya!" Sinta berkacak pinggang.

Nara menatap kedua orang di depannya itu dari balik selimut.

Sinta yang mengomel dengan mata melotot.

Raka yang membalas dengan santai sambil terus membela bubur ayam yang dibawanya.

Mereka sama sekali tidak terlihat seperti mahasiswa dan pengamen yang bermusuhan.

Mereka terlihat persis seperti sepasang suami-istri muda yang sedang panik dan berdebat konyol tentang cara mengurus anak pertama mereka yang sedang sakit.

Nara tidak bisa menahan ujung bibirnya yang melengkung ke atas.

Sebuah senyum tipis, lemah, namun sangat tulus terbit di wajah pucatnya.

Ternyata, melihat kedua orang tuanya berinteraksi sedekat ini, rasanya sangat menghangatkan dada.

"Udah, jangan berantem," suara Nara keluar serak. "Aku... mau buburnya."

Mendengar itu, Raka langsung menatap Sinta dengan senyum penuh kemenangan yang luar biasa menyebalkan. "Tuh kan, pasiennya aja mau makan bubur Mang Udin. Udah, kamu urus dia, aku ke apotek depan dulu."

Sinta mendengus kesal, merampas kantong kresek berisi bubur itu dari tangan Raka. "Cepat sana, jangan mampir nongkrong dulu."

"Siap, Bos!" Raka memberi hormat dengan gaya militer yang berlebihan, lalu melesat keluar kamar kos.

Sinta menutup pintu dan mulai menyiapkan bubur itu di mangkuk bersih kesayangannya. Sambil menyuapi Nara dengan hati-hati, Sinta tidak berhenti mengomel tentang betapa sembrono dan tidak teraturnya hidup Raka.

Namun, Nara bisa melihatnya.

Dari cara Sinta mengomel, tidak ada lagi rasa jijik atau benci. Hanya ada perhatian yang diselubungi oleh logika kaku.

"Sudah cukup," Nara menolak suapan kelima, perutnya benar-benar menolak diisi lebih banyak.

"Ya sudah, kamu tiduran lagi," kata Sinta lembut, ia meletakkan mangkuk itu ke meja. "Aku harus ke warung telepon depan sebentar ya, Nar. Aku harus titip absen ke teman kelasku, kamu nggak apa-apa aku tinggal lima menit?"

Nara mengangguk pelan. "Nggak apa-apa."

Sinta keluar dari kamar, menutup pintu dengan sangat pelan.

Ceklek.

Kamar kos itu kembali hening.

Hanya terdengar suara detak jam weker.

Tik. Tik. Tik.

Nara memejamkan matanya, merasakan hawa panas kembali menjalar di sekujur tubuhnya.

Ia merasa damai, ia baru saja melihat ayah dan ibunya saling peduli, dan itu adalah bayaran yang sepadan untuk demam ini.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, suhu di dalam kamar merosot drastis.

Udara yang tadinya hangat, berubah sedingin es dalam hitungan detik.

Bulu kuduk Nara meremang.

Bersamaan dengan itu, pandangan Nara berkedip.

Bukan kedipan mata biasa.

Pandangannya seperti layar televisi rusak yang kehilangan sinyal sesaat. Ruangan kamar Sinta bergetar, dinding-dindingnya seolah memudar menjadi transparan sebelum kembali solid.

Glitch.

Nara tersentak, napasnya memburu, kepalanya berdenyut semakin hebat.

Lalu, dari sudut ruangan yang remang-remang, terdengar suara petikan senar gitar.

Satu petikan lambat yang menggema secara aneh, seolah tidak berasal dari dimensi ini.

Nara menoleh dengan susah payah.

Di sudut dekat lemari pakaian Sinta, berdiri seseorang.

Perempuan berjaket usang warna hijau lumut, rambut sebahu yang berantakan.

Aruna.

Perempuan itu berdiri menyender pada dinding, menatap Nara dengan tatapan yang sangat dingin dan mematikan. Gitarnya berada di pelukannya.

"Sakit?" tanya Aruna.

Suaranya terdengar menggema, seperti diucapkan dari dalam air.

Nara memaksakan diri untuk setengah duduk, menyandarkan punggungnya ke dinding. "Aruna... apa yang kamu lakukan di sini?"

"Memperhatikanmu menghancurkan segalanya," jawab Aruna tanpa ekspresi.

Aruna melangkah maju, sepatu botnya tidak menghasilkan suara sedikit pun saat menyentuh lantai.

"Demam ini bukan sekadar flu biasa, Nara. Ini adalah penolakan waktu, tubuhmu bereaksi karena masa depan tempat asalmu sedang mulai ditulis ulang. Dan itu... salahmu."

Nara menelan ludah, keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.

"Aku tidak merusak apa pun," bantah Nara serak. "Aku justru membuat mereka dekat! Sinta dan Raka mulai peduli satu sama lain."

"Tapi kamu menyelamatkan Raka!" desis Aruna tajam.

Aruna mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nara lurus-lurus. Mata cokelat perempuan itu memancarkan keputusasaan yang gelap.

"Semalam di atap, kamu memuji musiknya. Kamu menyuruhnya untuk tidak membuang gitarnya, kamu menyuruhnya melawan ayahnya."

Nara mencengkeram selimut Sinta kuat-kuat. "Apa yang salah dengan itu? Aku hanya ingin dia bahagia!"

"Masa depannya bukan tentang kebahagiaan!"

Suara Aruna tiba-tiba meninggi, menggetarkan kaca jendela kamar kos.

"Dengar aku baik-baik, Nara," ucap Aruna penuh penekanan, setiap katanya terasa seperti paku yang dipalu ke otak Nara. "Ayahmu di masa depan adalah pria yang kaku dan dingin, karena dia membuang mimpinya. Dia mematahkan gitarnya sendiri setelah bertengkar hebat dengan kakekmu, demi bisa mendapatkan restu untuk menikahi Sinta."

Dunia Nara seakan runtuh mendengarnya.

"Raka memilih jalur realistis," lanjut Aruna getir. "Dia menjadi pria kantoran yang membosankan, yang mampu membelikanmu rumah dan membiayai sekolahmu, dengan mengorbankan jiwanya sendiri."

Aruna menunjuk tepat ke dada Nara.

"Kalau kamu terus menyemangatinya untuk bermain musik... kalau kamu membuat Raka mempertahankan gitarnya dan melawan ayahnya... Sinta tidak akan pernah menikah dengannya. Sinta butuh kepastian finansial, bukan melodi cinta!"

Nara menahan napas, rasa mual yang hebat menghantam perutnya.

"Jika dia terus menjadi pengamen," bisik Aruna pelan, namun suaranya sangat mematikan. "...kamu tidak akan pernah lahir, Nara. Eksistensimu akan terhapus, demam ini hanya peringatannya."

Air mata mulai menggenang di mata Nara yang memerah.

Kebenaran itu terlalu kejam.

Terlalu brutal.

Untuk bisa hidup di masa depan, Nara harus membiarkan ayahnya mati rasa di masa lalu.

Ia harus membiarkan pria yang pagi ini tersenyum dan membelikannya bubur ayam, hancur berkeping-keping dan membuang mimpinya.

"Aku... harus membunuh jiwanya?" bisik Nara hancur, suaranya pecah oleh isakan.

Aruna menatapnya dalam diam, ada belas kasihan yang sangat tipis di mata perempuan itu.

"Ini bukan soal membunuh jiwa, Nara," jawab Aruna pelan. "Ini soal harga yang harus dibayar untuk sebuah takdir, kamu tidak bisa menyelamatkan semua orang."

Sebelum Nara sempat membalas, suara langkah kaki terdengar berlari di lorong luar.

"Nara! Ini obatnya!"

Suara Raka.

Pandangan Nara kembali berkedip hebat.

Glitch.

Sosok Aruna di sudut ruangan memudar seperti asap yang tertiup angin.

Pintu terbuka kasar.

Raka berdiri di sana, terengah-engah memegang sebungkus plastik apotek. Wajah usilnya hilang, digantikan kepanikan melihat Nara menangis sambil memegangi dadanya.

"Nar? Nara! Kenapa nangis? Sesak napas? Bagian mana yang sakit?!"

Raka langsung melempar plastiknya ke lantai dan berlutut di samping kasur, ia meraih kedua bahu Nara dengan panik.

Nara menatap wajah Raka.

Wajah pemuda yang sangat hidup, penuh kepedulian, dan kebebasan.

Dan menyadari bahwa dirinyalah yang harus menghancurkan kebebasan pria ini demi bisa bertahan hidup...

Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis meledak sejadi-jadinya di hadapan pemuda itu.

Hancur, tak bersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!