NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nggak ada artinya?

"Tapi jujur, Nona... aku masih penasaran kenapa Nona Muda suka sekali dengan jajanan itu," celetuk Hans tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.

Vivi yang sedang terpaku pada pemandangan di balik jendela pun menoleh. Ia menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi yang empuk, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya.

"Ya... tentu karena rasanya enak, hehehe," jawab Vivi dengan tawa kecil yang renyah. "Selain itu... nggg... bagaimana ya? kue ini bisa mengurangi stres, lho, Pak Hans!"

Hans tertawa mendengar alasan jujur majikannya itu. "Hahaha... benarkah, Nona?. Obat stres yang manis, ya?" ujarnya sembari tetap fokus mengendalikan laju kuda. Yang dijawab Vivi dengan anggukan.

Beberapa saat kemudian, kereta kuda itu berhenti tepat di depan Gerbang Timur akademi. Aroma hutan yang segar dari seberang jalan terbawa angin pagi, menyambut kedatangan mereka. Vivi melangkah turun. Suasana akademi masih sangat sepi karena kelas pertama baru akan dimulai 1 jam 30 menit lagi.

"Terima kasih, Pak Hans. Nanti sore aku pulang naik kereta umum seperti biasa saja... Jemput aku di Dermaga 21, ya," pesan Vivi.

Hans mengangguk patuh, lalu memutar balik kereta kudanya. Setelah sosok Hans menghilang di tikungan, Vivi melangkah masuk melewati gerbang. Ia memilih tempat duduk di bawah naungan pohon besar di samping lapangan, tempat yang kemarin digunakan untuk pelatihan fisik, namun hari ini dijadwalkan untuk pelatihan mantra.

Di sana, di tengah keheningan pagi yang tenang, Vivi mulai menikmati jajanan manis dan berminyaknya. Ia bersenandung kecil dengan perasaan bahagia, telinga runcingnya melemas rilex, ia menikmati momen di mana ia bisa merasa menjadi dirinya sendiri.

Vivi menyeka sisa gula di sudut bibirnya, menghabiskan jajanan manis dan berminyak itu hingga tandas. Tak ingin membuang waktu, ia segera membuka buku pelajaran sihir mantranya. Lembar demi lembar ia balik, mencoba mengingat kembali baris-baris rapalan yang sekiranya akan diuji dalam pelatihan mantra hari ini. Ia begitu tenggelam dalam bacaannya, tidak menyadari waktu berlalu hingga murid-murid lain mulai berdatangan satu per satu.

Vivi tetap fokus pada buku pelajaran di hadapannya, sampai seseorang mendarat dengan santai di sampingnya.

"Pagi, Vi..." sapa Ursha'el.

Wajah hijau zaitunnya tampak berseri-seri pagi ini, memperlihatkan luka samar di pipi dan taring kecil yang justru menambah kesan manis. Ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang sama dengan Vivi, menghela napas lega.

"Oh, Ursha'el! Pagi!" sahut Vivi sembari terkekeh ringan. Ia menutup bukunya dan berputar menghadap sahabatnya itu. "Wah, wah... cerah sekali wajahmu hari ini. Tidak ada mimpi aneh lagi, ya?"

"Syukurlah, malam ini tidak ada gangguan sama sekali, hehe," jawab Ursha'el dengan tawa kecil. "Lagi pula... sebentar lagi kita akan segera tahu artinya, kan? Hahaha! Astaga, rasanya beban di pundakku makin ringan saja."

Vivi ikut tersenyum melihat kegembiraan Ursha'el yang menular, meski dalam hati ia tetap penasaran apakah buku yang dicari Luce benar-benar bisa memberikan jawaban atas mimpi "Titan Kotoran" yang mengerikan itu.

"Iya... semoga segera terjawab," sahut Vivi dengan senyum tipis tulus. Ia mengembuskan napas lega, lalu kembali menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang kokoh itu.

"Nah, lihat! Itu mereka!" seru Ursha’el sembari memberikan isyarat dengan dagunya ke arah Gerbang Timur.

Vivi menoleh dan mendapati Kenny serta Luce baru saja melangkah masuk ke area akademi. Namun, ada yang aneh dengan cara jalan Luce, langkahnya tampak gontai, seolah separuh kesadarannya masih tertinggal di tempat tidur.

"Lah? Dia kenapa?" tanya Ursha’el heran, alisnya bertaut.

Luce dan Kenny terus mendekat ke arah pohon tempat mereka berteduh. Namun, tepat saat sudah berada di depan Ursha’el dan Vivi, tubuh Luce tiba-tiba kehilangan tumpuan. Ia ambruk perlahan ke atas rumput lapangan yang masih lembab oleh embun pagi, membiarkan wajahnya mendarat pasrah di sana.

"Loh, kau sedang apa, Luce?" tanya Ursha’el datar, sementara Vivi ikut memperhatikan dalam bingung.

Di sisi lain, Kenny justru dengan santai mengambil tempat untuk duduk di samping Vivi. Ia menyandarkan punggungnya ke dahan pohon seolah tidak terjadi apa-apa.

"Sepertinya dia kurang tidur," gumam Kenny pendek sembari meregangkan badan dan membenamkan punggungnya lebih dalam ke kulit pohon yang kasar.

"Vivi... Ursha’el..." Luce mengerang lirih, suaranya teredam karena ia masih membiarkan wajahnya terbenam di antara rerumputan. "Semuanya tidak ada artinya..." ujarnya dengan nada sedih yang lebay.

"Maksudmu?" tanya Vivi dan Ursha'el serempak.

Luce berguling perlahan, lalu dengan gerakan lemas ia membuka tas punggung usangnya. Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit dan menyerahkannya kepada Ursha’el. "Mimpi yang kau alami... tidak ada catatannya dalam buku ini. Sia-sia aku terjaga hampir semalaman suntuk mencari jawabannya... Huaaa!"

Setelah merengek, ia kembali membalikkan tubuh dan membenamkan wajahnya ke tanah, tengkurap dalam keputusasaan yang komikal.

Ursha’el menatap buku itu dengan binar kecewa yang sulit disembunyikan. "Ah... benarkah?" gumamnya tak percaya.

"Iya, Ursha... Coba saja kalian cek sendiri," sahut Luce dari balik rumput, suaranya terdengar makin tak berdaya.

Vivi dan Ursha’el saling berpandangan, lalu mulai membuka lembaran-lembaran yang sudah menguning itu dengan teliti. Benar saja, saat mereka menelusuri daftar mimpi, tidak ada satu pun penjelasan mengenai 'Titan Kotoran' atau 'Raksasa Kotoran'.

"Haaahh..." Ursha’el mengembuskan napas panjang penuh kekecewaan. Ia menutup buku itu dan kembali menyandarkan punggungnya ke pohon dengan lesu.

"Ah, tidak apa-apa, Ursha’el. Jangan terlalu dipikirkan," hibur Vivi pelan sembari menepuk bahu sahabatnya itu. "Ilmu ramalan memang sering kali tidak pasti. Makannya,kan? peminatnya saja sangat jarang sekarang..."

"Tidak... buku ini pasti punya penjelasan jika memang suatu mimpi memiliki makna penting. Kalau tidak ada di sini, ya berarti... memang tidak ada artinya. Hanya angin lalu," ujar Luce sembari beranjak duduk, merasa perlu untuk melindungi harga dirinya.

"Mungkin hanya bunga tidur, Ursha'el," sambung Vivi dengan nada datar yang berusaha menenangkan. Ursha'el terdiam, tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan."

"Tapi... itu benar-benar terasa nyata, Vi," bisik Ursha'el lirih. "Sangat nyata. Aku bahkan merasa tersiksa karena mimpi itu terus datang berulang kali, seolah mencoba mengatakan sesuatu."

Vivi mengembuskan napas panjang, menatap Ursha'el dengan rasa iba. Ia benci melihat telinga runcing hijau sahabatnya itu terkulai layu karena cemas. "Sudahlah... kita cari di tempat lain saja. Bagaimana kalau akhir pekan ini kita ke Perpustakaan Kota? Kita cari di arsip yang lebih lengkap, oke?"

"Wah! Boleh ikut?" celetuk Kenny penuh semangat tiba-tiba. Pertanyaan yang muncul di saat yang kurang tepat itu sempat menciptakan keheningan canggung selama beberapa detik.

Luce berdeham, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. Kantung mata di wajahnya terlihat jelas, menunjukkan bahwa dia pun sebenarnya kelelahan. "Silakan saja kalian cari ke mana pun... tapi, pertama-tama, kau harus yakin dulu, Ursha’el... apakah itu benar-benar sebuah mimpi?"

Kalimat Luce yang menggantung itu sempat membuat suasana terasa sedikit berat, sebelum tiba-tiba...

Plak! Plak! Plak!

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!