Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 12: Dendam tidak bermoral [2]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Mobil Rakes berhenti dengan suara decitan tajam di parkiran asrama. Mereka bertiga turun dengan langkah terburu-buru, wajah Saka masih pucat pasi, sementara Hamu terlihat sangat tegang. Rakes, seperti biasa, tetap tenang namun tatapannya jauh lebih tajam dari biasanya.
Tanpa mengetuk, mereka langsung merangsek masuk ke ruang tengah asrama tempat Kale dan Zack sedang bersantai—atau setidaknya mencoba bersantai sebelum melihat muka panik teman-temannya.
"Woi! Lo bertiga habis dikejar setan apa gimana? Muka lo udah kayak kain pel, Sak," celetuk Kale sambil mengangkat sebelah alisnya.
Zack yang tadinya sedang mengutak-atik stetoskopnya langsung berdiri. Dia menangkap ada aura yang ngga beres. "Apa yang terjadi? Lo berdua... lo bertiga kenapa?"
Saka ngga banyak bicara. Tangannya yang masih gemetar menyodorkan ponselnya ke tengah meja.
"Liat ini. Di kampus tadi. Aris... Aris mati sekitar satu jam yang lalu."
Kale dan Zack langsung mendekat, menatap layar ponsel Saka yang menampilkan foto-foto hasil jepretan di studio jahit.
"Astaga... ini apa, Sak?" suara Kale mendadak rendah, matanya membelalak melihat tubuh Aris yang terbungkus jahitan kain perca dengan pola yang nggak masuk akal.
"Ini bukan pembunuhan biasa. Mana ada orang bisa ngejahit secepat dan serapi ini dalam hitungan menit?"
Zack mengambil ponsel itu, men-zoom foto mayat Aris dan simbol-simbol di sekitarnya. "Organ dalamnya seolah 'hilang' tapi kulitnya utuh? Ini gila. Dan apa ini?" Zack menunjuk foto manekin yang roboh membentuk formasi lingkaran. "Ini kayak sebuah pesan, tapi bukan medis, bukan juga kriminal biasa."
"Ada teka-tekinya, Bang Zack," sela Saka dengan suara parau. "Ada suara mesin jahit tanpa orang, manekin yang gerak sendiri, dan pesan-pesan aneh soal 'pola yang ngga pernah digunting'. Gua hampir aja terjebak di sana kalau Rakes sama Bang Hamu nggak dateng."
Rakes menggebrak meja pelan. "Masalahnya, begitu kita mau ngelawan atau bertindak lebih jauh, semuanya tiba-tiba roboh. Kayak ada yang sengaja 'matiin saklar' horornya begitu ngerasa kita kumpul bertiga. Tapi Aris udah keduluan tetep mati."
Hamu yang sejak tadi bersandar di pintu akhirnya angkat bicara. "Bukan cuma soal kematian, tapi soal teror yang sistematis. Ada seseorang di kampus itu yang tau jadwal kita, tau siapa teman Saka, dan tau gimana cara ngebangun tekanan mental pake teka-teki."
Zack menatap Saka, lalu beralih ke Hamu dan Rakes. "Lo bertiga difoto atau diikutin pas keluar?"
"Kita ngga tau, Zack. Yang jelas, suasananya bener-bener gila. Bau bunga kamboja campur logam," jawab Saka sambil duduk lemas di sofa.
Kale mengusap wajahnya frustrasi. "Kampus lo biasanya aman-aman aja. Kenapa sekarang jadi kayak wahana rumah hantu yang mematikan gini? Dan kenapa harus prodi lo, Sak?"
Suasana di ruang tengah asrama mendadak jadi sangat berat. Teka-teki yang ditemukan Saka bukan sekadar coretan iseng, itu adalah ancaman nyata yang sudah memakan satu nyawa.
"Kita nggak bisa diem aja," tegas Zack sambil mengembalikan ponsel Saka. "Kalau ini teka-teki, berarti ada babak selanjutnya. Dan kemungkinan besar, targetnya bukan cuma anak-anak prodi fashion lagi."
Tiba-tiba, dari arah luar gedung asrama, terdengar suara tak... tak... tak... yang pelan namun berirama.
Suara itu persis seperti suara mesin jahit yang didengar Saka di kampus tadi.
Suasana di ruang tengah langsung mencekam.
Suara tak... tak... tak... itu terdengar konsisten, seolah-olah ada seseorang yang sedang menjahit tepat di balik dinding asrama mereka.
"Suaranya sama... itu suara mesin jahitnya," bisik Saka, wajahnya semakin pucat.
Zack langsung sigap. Dia mengambil jaketnya dan memberikan instruksi dengan nada memerintah yang tak terbantahkan. "Kita nggak bisa cuma nunggu di sini sampai asrama ini berubah jadi butik mayat. Kita bagi tugas!"
Hamu, yang memang punya jaringan luas dan otak yang cepat dalam urusan informasi, langsung membuka laptopnya. Jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan luar biasa.
"Gua bakal masuk ke server CCTV kampus dan data mahasiswa," kata Hamu serius. "Gua mau liat siapa yang terakhir kali bareng Aris sebelum kejadian, dan gua bakal lacak nomor misterius yang ngirim pesan ke Saka. Kalau ini teror sistematis, pasti ada jejak digitalnya."
"Bisa lo lakuin secepatnya, Ham?" tanya Rakes.
"Kasih gua tiga menit. Gua juga bakal cek apa ada riwayat kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya yang ditutup-tutupi kampus," jawab Kale tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang mulai dipenuhi barisan kode.
Sementara itu, Zack sudah berada di depan pintu. "Rakes, Saka, ikut gue. Kita cari sumber suara itu. Kale, lo tetep di sini jagain Hamu. Jangan sampai ada yang ganggu konsentrasi dia."
Kale mengangguk pelan, berdiri di dekat meja Hamu dengan sikap waspada.
Zack, Rakes, dan Saka keluar ke koridor asrama yang sepi.
Suara tak... tak... tak... itu semakin jelas saat mereka mendekati gudang di ujung lorong lantai satu. Bau amis darah yang diceritakan Saka mulai tercium, bercampur dengan aroma kain lama yang lembap.
"Gua yang buka pintunya. Rakes, lo di belakang gua, siap-siap kalau ada yang tiba-tiba nodong pakai pistol. Saka, lo tetep di tengah, jangan jauh-jauh," instruksi Zack pelan.
Zack menendang pintu gudang itu hingga terbuka lebar.
BUM!
Di dalam gudang, mereka tidak menemukan orang. Tapi ada sebuah mesin jahit manual tua yang pedalnya bergerak sendiri dengan cepat. Yang mengerikan, mesin itu tidak menjahit kain, melainkan sedang menjahit selembar foto besar.
Saka mendekat dengan ragu, lalu hampir muntah saat melihatnya. Foto yang dijahit itu adalah foto kebersamaan mereka berlima di depan asrama, dan jarum mesin itu baru saja selesai menusuk tepat di bagian mata foto Saka.
"Ini peringatan," geram Rakes.
"Dia tahu kita semua ada di sini."
Titi
Tiba-tiba, suara Kale terdengar dari walkie-talkie di ponsel mereka. "Woi! Gue nemu sesuatu yang nggak beres! Gue barusan bypass data arsip kampus yang udah dihapus sepuluh tahun lalu."
Zack menempelkan ponselnya ke telinga. "Apa yang lo dapet, Le?"
"Aris bukan korban pertama," suara Kale terdengar tegang. "Setiap sepuluh tahun sekali, di tanggal yang sama dengan hari ini, selalu ada satu mahasiswa dari prodi yang berbeda yang hilang atau tewas dengan kondisi 'kosong'. Dan yang lebih gila... semua korban itu adalah pemenang beasiswa dari yayasan yang sama Yayasan Mutiara. Itu yayasan yang juga membiayai sebagian operasional kampus lo sekarang!"
Saka tertegun. "Gua... gua tau yayasan itu, Mas."
Zack menatap mesin jahit yang tiba-tiba berhenti bergerak begitu Kale selesai bicara. Di atas foto yang dijahit itu, muncul tulisan yang baru saja selesai dijahit oleh mesin otomatis tersebut:
"Hutang harus dibayar dengan apa yang melekat di badan."
"Kita ngga bisa nunggu besok," tegas Rakes. "Saka, lo ikut gua. Bang Zack, Hamu, kalian susul kalau urusan Mas Kale beres. Kita bagi dua tim aja gua sama Saka ke rumah Aris, sementara kalian nanti harus tau lokasi kantor Yayasan Mutiara itu di mana."
Mereka berlima langsung bergerak. Keheningan malam Jakarta terasa lebih mencekam dari biasanya saat mobil meluncur membelah jalanan.
Rumah Aris terletak di sebuah gang sempit yang tertutup rimbunnya pohon kamboja. Begitu Saka dan Rakes sampai, gerbang depan tidak terkunci. Rumah itu gelap, hanya lampu teras yang berkedip redup.
"Aris tinggal sendiri di sini, orang tuanya di luar kota," bisik Saka.
Mereka masuk menggunakan kunci cadangan yang Saka tahu disimpan di bawah pot bunga, kebiasaan Aris. Begitu pintu terbuka, bau benang baru dan lilin malam menyeruak kuat. Di tengah ruang tamu, sebuah kejutan menanti mereka.
Bukan mayat, tapi seluruh dinding ruang tamu Aris dipenuhi oleh pola-pola baju yang dijahit langsung ke tembok menggunakan benang hitam. Pola-pola itu membentuk sebuah siluet besar manusia yang sedang menunjuk ke arah kamar tidur Aris.
Zack masuk ke kamar Aris dan menemukan meja kerja temannya itu masih rapi, namun di atas mesin jahitnya, ada sebuah amplop cokelat besar berlogo Yayasan Mutiara. Di dalamnya bukan surat beasiswa, melainkan akta kematian Aris yang tanggalnya tertulis besok.
"Mereka sudah merencanakan ini," geram Zack. Di bawah akta itu, ada sebuah kartu nama berwarna emas dengan alamat: Mutiara Center.
Tanpa membuang waktu, Rakes langsung mengarahkan mobil ke arah Mutiara Center, sementara Kale dan Zack sudah menunggu di sana setelah mendapat koordinat dari Hamu.
Gedung itu modern, berkaca gelap, dan berdiri angkuh di antara bangunan mewah lainnya. Anehnya, meski sudah tengah malam, lantai paling atas gedung itu menyala terang benderang.
"Liat itu," Hamu menunjuk ke arah lobi. Di sana tidak ada petugas keamanan, melainkan deretan manekin yang mengenakan seragam satpam, berdiri kaku dengan mata kancing yang seolah mengikuti gerak-gerik mereka.
Begitu mereka berlima berkumpul di depan pintu lobi, ponsel Saka berdering. Sebuah pesan suara masuk:
"Selamat datang, para pemegang beban. Pintu sudah terbuka. Masuklah, atau pola hidup kalian akan kami potong sekarang juga."
"Anjir, dikata beban kita loh. " kompor Rakes mendengar pesan itu.
"Lo kali beban Keluarga. " celetuk Kale.
"Dih, gapapa beban keluarga daripada beban negara?"
"Ya, sama aja bego!"
Zack mendengus dan menengahi mereka berdua. Saka menggenggam tangan Zack, ia bisa merasakan aura dingin yang sama dengan yang ia rasakan di kampus tadi.
"Ini jebakan, kan?"
"Pasti," jawab Rakes sambil diam-diam memercikkan listrik kecil di ujung jarinya. "Tapi kalau kita ngga masuk, kita ngga bakal tau siapa yang udah bunuh Aris dan kenapa Yayasan ini ngincer Saka."
Zack memimpin di depan, menendang pintu kaca lobi yang ternyata tidak terkunci. Begitu mereka masuk, lampu lobi padam, dan suara mesin jahit raksasa mulai bergema dari arah lift yang terbuka secara otomatis.
Rakes dan Kale tidak mau mengambil risiko terjebak di dalam lift yang bisa saja menjadi perangkap maut. Sementara Zack dan Saka mengawasi lobi yang dipenuhi manekin satpam, Kale dengan cepat menyambungkan laptopnya ke terminal data di belakang meja resepsionis.
"Gue dapet sesuatu!" bisik Kale, matanya bergerak cepat memindai skema digital gedung. "Ada jalur lift servis yang nggak terdaftar di panel utama. Jalurnya tersembunyi di balik dinding ruang panel listrik di basement. Tapi... dia butuh listrik gua bergerak. "
Rakes berjalan mendekati. "Coba sini, kayaknya gua bisa deh benerin nya. "
"Kaga bisa, kita butuh listrik Rak. "
"Percaya sama gua, dicoba dulu napa. Makanya minggir, jauh jauh dari gua dulu."
Kale bingung, tapi dia mundur mengikuti instruksi Rakes.
Rakes yang sudah melihat Kale menjauh, tangan nya menyentuh aliran kabel dengan sedikit percikan listrik terkontrol ke kunci magnetik, sebuah pintu tersembunyi yang tersamar sebagai panel dinding terbuka. Di baliknya terdapat lorong sempit yang berbau oli dan debu tua.
"Lah, kok bisa?" tanya Kale cengo, tapi ngga dijawab sama Rakes.
"Ini jalur pengiriman barang khusus," kata Rakes sambil menyinari lorong dengan senter ponselnya. "Dan liat ini, ada bekas seretan kain di lantai."
Mereka berlima masuk ke jalur rahasia itu. Tangga besinya terasa dingin dan bergetar setiap kali suara mesin jahit raksasa itu berbunyi. Saat mereka mendaki, mereka melewati celah ventilasi yang memperlihatkan lantai-lantai tengah gedung. Saka mengintip ke salah satu celah dan hampir berteriak.
"Di lantai 5... mereka semua di sana," bisik Saka gemetar. "Mirip sekali mahasiswa-mahasiswa yang tadi terkunci di studio jahit kampus. Mereka berbaris kaku kayak manekin, matanya tertutup tapi tangan mereka bergerak seolah-olah lagi menjahit udara kosong."
Zack menahan bahu Saka. "Jangan diliat dulu, Sak. Kita harus ke lantai paling atas. Sumbernya di sana."
Mereka sampai di pintu keluar jalur rahasia di lantai teratas. Begitu Rakes mendobrak pintu itu, mereka masuk ke sebuah ruangan yang sangat luas tanpa sekat. Ruangan itu tampak seperti gabungan antara kantor modern dan bengkel tekstil abad pertengahan.
Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas sangat rapi, sedang menyesap teh di depan sebuah mesin jahit raksasa yang terbuat dari perak murni.
"Ah, anak-anak bagaimana kalian bisa kesini," pria itu tersenyum tenang tanpa menoleh. "Kalian tepat waktu. Akta kematian Aris sudah hampir kering tintanya. Sekarang, siapa yang mau menyerahkan 'beban' pertama untuk menggantikan posisinya?"
"Idih, beban beban apanya.. " gumam Rakes.
Saka melangkah maju dengan berani, meski tangannya masih dingin. "Kenapa harus Aris? Kenapa Yayasan kalian ngelakuin ini?!"
Pria itu berdiri, menunjukkan sebuah potret besar di dinding belakangnya, bukan foto orang, tapi pola jahitan rumit yang membentuk wajah yang sangat mirip dengan Saka.
"Aris cuman pancingan untuk memancing ikan yang sebenarnya."
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...