Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Rasta tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan Vita. Rasanya ia ingin terus bersama Vita untuk menebus waktu lima tahun yang kemarin terbuang sia-sia. Siang hari itu, Rasta mendatangi rumah Viola. Beruntung, Sinta mengizinkan Vita pergi dengannya.
Jika kemarin mereka menghabiskan waktu bertiga, kali ini Rasta menikmati waktu hanya berdua dengan Vita. Rasta jadi teringat, dia pernah membayangkan anak ini kurus kerempeng dan ingusan. Ternyata, Rasta salah besar. Anak kandungnya ini tumbuh menjelma menjadi anak yang sangat cantik dan begitu mengemaskan.
Rasta tidak ragu, Viola pandai merawatnya.
"Vita kapan masuk sekolahnya?" Rasta bertanya. Mereka sedang duduk di taman sambil memakan es krim.
"Kata mama sih nggak lama lagi. Vita udah daftar sekolah."
"Wow ... Nanti papa boleh kan antar jemput Vita ke sekolah?"
Vita mengangguk. "Boleh dong, Vita malah seneng kalau papa mau anter jemput Vita ke sekolah."
"Oke ... habis ini Vita pengen pergi ke mana lagi?"
"Emm...." Vita nampak sedang berpikir. "Nggak tau."
Rasta tertawa. "Pergi ke tempat mama kerja yuk? Ke restorannya papa."
"Boleh."
"Oke. Habiskan dulu es krimnya ya."
Lima menit kemudian, mobil Rasta kembali membelah jalanan kota. Tak sampai lima belas menit, mobil sudah parkir di pelataran restorannya. Rasta mengajak Vita turun, menggandeng tangannya memasuki resto.
"Selamat siang, Pak Rasta," beberapa karyawan menyapa Rasta sambil menatap heran ke arah anak perempuan yang sedang digandeng Rasta. Kemudian mereka akan semakin heran saat menyadari anak itu sangat mirip dengan Rasta.
"Ini adeknya Pak Rasta, ya?" tebak Gia. Tapi sepertinya Gia salah menebak. Usia Rasta hampir tiga puluh tahun, dan rasanya tidak mungkin di usia segitu, Rasta baru mempunyai adik yang masih balita.
Anak itu lebih cocok menjadi anaknya Rasta, tapi kan owner kafe itu belum pernah menikah apalagi punya anak.
"Bukan," jawab Rasta tersenyum tipis. "Ini namanya Vita," Rasta mengenalkan Vita kepada Gia serta beberapa karyawan bagian depan. Ia mencari Viola, namun Viola sedang tidak terlihat. Kata Gia, Viola baru saja izin ke kamar mandi.
"Anaknya tetangga, Pak?" tebak Ariel. Detik berikutnya dia mendapatkan lirikan maut dari Rasta.
"Nggak mungkin," sangkal yang lain. "Mirip banget sama Pak Rasta. Keponakan ya, Pak?"
"Tapi kan Pak Rasta nggak punya saudara, woy."
"Mungkin anak dari saudara jauhnya Pak Rasta. Iya kan, Pak?"
"Coba tebak. Yang tebakannya benar saya kasih reward." Rasta mengulum senyum dan membiarkan semua orang menebak-nebak siapa Vita.
Widia dengan sukarela dan senang hati berseru, "Saya tau. itu kan anaknya Pak Rasta. Ya kan? Namanya Vita."
Semua pasang mata menatap sinis Widia dengan tatapan yang seolah berkata, "Dih, sok tau."
Rasta tidak heran kalau Widia sudah tahu lebih dulu. Dia yang paling dekat dengan Viola, mungkin saja Viola pernah cerita. Dan Rasta juga pernah beberapa kali melihat Widia bersama Viola berbisik-bisik sambil mengamatinya diam-diam.
"Mama! Mama!" Vita tiba-tiba berseru saat Viola baru datang setelah dari kamar mandi. Semua orang membuka mulutnya begitu mendengar Vita memanggil Viola mama.
"Eh, Vita?" Viola mendekat. Metatap ke sekeliling, semua orang sedang menatapnya penuh tanya.
Semuanya sedang menebak-nebak. Kenapa anak yang mirip sekali dengan Rasta ini, memanggil Viola mama? Jika benar dia anaknya Viola, kenapa dia datang bersama Rasta? Dan kenapa mirip sekali dengan Rasta?
"Yap. Widia benar. Vita ini anak saya, dan ibunya Vita ini Viola," kata Rasta. Dia tidak akan ragu menunjukkan kepada dunia jika dia mempunyai Vita dan pernah memiliki hubungan dengan Viola di masa lalu.
Biarlah, jika setelah ini semua orang akan menghakiminya.
"Btw, reward buat saya apa nih, Pak?" celetuk Widia.
*
Selesai bekerja, Viola naik ke rooftop menyusul Rasta dan Vita yang sedang berada di sana. Begitu membuka pintu rooftop, dia disuguhkan pemandangan Rasta dan Vita yang sedang bermain layang-layang.
"Mama, liat deh papa jago banget main layang-layangnya," puji Vita dengan penuh semangat. "Tinggi banget."
Rasta tertawa mendengar pujian yang Vita lontarkan. "Hebat kan papa?" sahutnya membanggakan diri sambil terus menarik ulur tali benang.
"Iya, Papa hebat."
Viola langsung mencibir, meski begitu dia senang melihat kedekatan Rasta dan Vita. Dia benar kan? Rasta pasti akan mengusahakan segalanya agar Vita terus bahagia. Dia tak akan meragukan kesungguhan kasih sayang Rasta.
"Ternyata udah tua juga masih suka main layang-layang," Viola berdiri di samping Rasta, ikut mendongak ke atas. Bibirnya tersenyum.
"Vi ... Masa aku ngajakin Vita main masak-masakan atau main boneka barbie sih, kan gak mungkin. lagian kamu jangan panggil aku tua ya, aku masih muda tauk."
Viola tergelak. "Jangan menolak kenyataan, Ta. Kalau udah punya anak, itu berati udah tua."
Rasta tersenyum jahil, menatap wajah cantik Viola yang dari dulu selalu bisa membuatnya jatuh cinta. "Tua ya? Gimana kalau kita menua bersama? Biar waktu di hidupku selanjutnya nggak sia-sia," tukas Rasta.
Viola diam sejenak. Lalu ia berkata, "Nggak ada waktu yang akan terbuang cuma-cuma, Ta."
Hari semakin beranjak sore. Viola menyuruh Rasta untuk segera menyudahi permainan layang-layangnya. Sebelum terang berganti gelap, mereka memutuskan untuk pulang.
"Kamu tadi jemput Vita jam berapa?" tanya Viola saat mereka sedang berada dalam mobil Rasta yang melaju pelan. Tadinya, Viola akan pulang naik motor. Namun Rasta memaksa agar Viola pulang bersamanya naik mobil. Dan motornya dibawa oleh salah satu karyawan resto yang kebetulan rumahnya searah.
"Sekitar jam sepuluh."
"Dia jadinya nggak tidur siang? Makanya jam segini udah ngantuk." Viola mengusap kening Vita yang tiba-tiba terlelap. mungkin dia sangat kelelahan karena Rasta mengajaknya pergi seharian.
"Oh maaf ya, Vi. Keasyikan main aku sama Vita jadi lupa deh nggak ngajakin dia tidur siang," kata Rasta.
Viola hanya menghela napas pelan.
Rasta merasa kasihan saat melirik wanita itu yang duduk di sampingnya. Kepalanya sedang dia sandarkan di kaca mobil.
"Vi, aku beneran nggak tega biarin kamu kerja terus. Kamu berhenti kerja aja ya?" bujuk Rasta. Dia lebih dari mampu untuk menghidupi Viola dan Vita, bahkan beserta mamanya Viola. Restorannya tergolong ramai, omsetnya banyak. Rasanya Rasta terlalu jahat jika tetap membiarkan Viola bekerja.
"Aku emang mau resign kok, Ta. Tapi nanti kalau udah genap satu bulan, biar aku dapat gaji dulu."
Rasta mendesah. "Ya ampun, Vi ... Kamu resign sekarang juga nggak apa-apa kok. Aku bakalan tetap ngasih kamu gaji full satu bulan. Dan bulan-bulan berikutnya aku akan tetap ngasih kamu."
Viola tersenyum tipis. "Makasih, Ta. Tapi aku nggak ada hak untuk ikut menikmati uang dari kamu. Itu haknya Vita."
"Buat Vita ada sendiri, buat kamu juga beda lagi. Maksud aku gitu, Vi."
Viola menggeleng. Belum sempat dia menjawab ucapan Rasta, Viola tersentak ketika merasakan tangannya tiba-tiba digenggam oleh Rasta.
Rasta berkata, "Kita buka lembaran baru bertiga, Vi. Aku nggak akan tenang melanjutkan hidup kalau nggak sama kamu. Aku akan terus dihantui rasa bersalah—"
Viola menarik paksa tangannya dari genggaman Rasta. "Aku udah maafin kamu, Ta, jadi gak perlu kamu ngerasa bersalah lagi."
Tanpa sadar, mereka telah sampai di depan rumah Viola.
"Thanks ya, Ta." Viola membuka pintu mobil, bersiap untuk turun sambil menggendong Vita. Gerakannya dicegah oleh pertanyaan Rasta selanjutnya.
"Vi, bilang sama aku. Apa yang harus aku lakukan biar aku bisa mendapatkan kesempatan lagi? Please... Aku benar-benar nggak bisa hidup tanpa kamu dan Vita."
Viola hanya menoleh sesaat tanpa berkata apa-apa. Dia langsung turun, menggendong Vita masuk ke dalam rumah.
Nggak bisa hidup tanpa Viola dan Vita katanya. Lalu selama lima tahun kemarin itu dia ngapain?
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu