Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Lagi Korban Kebengisan Rey
"Gadis itu sekarat!" teriak salah satu gadis dari dalam bilik kacanya, menunjuk pada seorang gadis yang terbaring di meja, di tengah ruangan.
"Da-darah!" seru gadis lainnya saat melihat darah segar merembes banyak dari pergelangan gadis itu.
Di ruangan lain, Rey yang tengah menikmati sarapannya, menoleh panik ke arah layar tempatnya memantau ruang yang ia gunakan untuk menyekap para gadis.
Melihat kekacauan itu, ia pun bergegas beranjak menuju ke ruangan yang berada tepat di sebelah dapurnya.
Rey membuka pintu, kemudian menutupnya sekuat mungkin hingga menimbulkan suara break yang memekak. Tanpa sepatah katapun, langkahnya tegas, dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam, ia menghampiri meja tempatnya menyiksa korban-korbannya.
Para gadis membungkam mulutnya sendiri sekuat mungkin, tak ingin membuat keributan lain, tubuh mereka menggigil, membayangkan kemarahan Rey yang mungkin saja tak akan sanggup mereka lihat.
Begitu juga dengan Khalila, ia duduk terdiam, membungkam mulutnya sendiri berusaha menahan air mata yang sudah terlanjur menggenang di setiap sudut kelopaknya. Bukan karena takut, melainkan rasa bersalah yang membuatnya gemetar. "Maafkan aku, aku berjanji untuk tetap hidup dan menghukum pria jahat itu!" lirihnya pilu.
Rey berdiri memandangi tubuh yang menggelepar, seolah seluruh otot gadis itu menegang untuk terakhir kalinya dan kemudian lemas seiring dengan melemahnya ritme pergerakan dadanya yang menunjukkan paru-paru gadis itu berhenti memompa.
Rey tak melakukan apapun dalam beberapa detik, rahangnya berderak, mata dan hembusan napasnya pun terasa memanas. "Kalian sudah berani melawanku! Siapa yang memprovokasinya!" gertaknya tanpa bergerak ataupun mengubah ekspresi wajahnya.
Rey masih berdiri di tengah ruangan, sorot mata tajamnya memindai setiap gerik gadis yang tersisa.
Rey kemudian melangkah semakin mendekat pada gadis yang terbaring diam di meja. Dia membungkukkan badan, untuk menyesuaikan tinggi badannya, memeriksa detail luka di pergelangan tangan gadis itu.
Rey menghela napas, kemudian menegakkan tubuhnya dan melangkah ke arah Khalila. "Khalila….” panggilnya dengan suara parau mendesis, menyeringai penuh tekanan. “Apa kamu tahu siapa yang memprovokasinya?" tanyanya ulang seolah sengaja menguji keteguhan hati Khalila.
Khalila mengangkat kepala, matanya merah karena tangis yang tertahan. "A-aku tidak tahu," jawabnya dengan suaranya bergetar disertai gelengan kepala samar.
Rey tertawa kecil, gurat bibirnya terangkat ke atas, menunjukkan sebagian gigi yang berderet rapi, tapi sorot matanya begitu dingin dan tajam seolah bersedia menguliti semua korban di depan matanya. “Baiklah, akan kucari tahu sendiri!”
Rey bangkit meninggalkan ruangan itu dengan senyum dingin tanpa emosi, seolah memang sengaja menyembunyikan ancaman yang lebih besar.
Tak lama kemudian Rey kembali dengan sebilah pisau tajam, bukan pisau yang biasa ia gunakan, melainkan pisau lain yang tampak masih baru.
Rey kembali berdiri di tengah ruangan dengan bertumpu berat pada satu kaki, membuat tubuhnya sedikit condong ke bagian kanan, ia mengedarkan tatapan kejinya pada satu demi satu gadis yang ia tawan dalam bilik kaca, satu gadis dalam satu bilik.
"Gadis ini memotong pergelangan tangannya, dia berani mengacaukan cerita yang susah payah kubuat," ucapnya menyeringai.
"Terpaksa dia harus dieliminasi, lalu salah satu dari kalian akan menggantikannya sebagai tokoh keempat!"
Mendengar itu, sontak para gadis yang tersisa semakin menggigil, wajah-wajah pucat mereka, semakin menjelaskan betapa mereka semakin tertekan.
"Ada apa Khalila? Kau tampak terkejut sepertinya," seru Rey lagi diakhiri dengan tawa keras yang memekik, seolah menarik setiap helai bulu kuduk gadis itu.
Rey berjalan mendekati Khalila, melemparkan tatapan tajam seolah bersiap menguliti siapapun yang mengganggunya. "Kau pikir aku tak tahu rencana kalian? Haha!"
"Apa maksudnya?" lirih Khalila berusaha menghapus air matanya.
"Dia sengaja menelan puntung rokok yang kutinggalkan, itu puntung rokok yang meninggalkan jejak DNA ku, itulah sebabnya kubiarkan pisauku tergeletak disana, dan gadis itu pun sengaja tak kuikat. Kalian pikir bisa menggunakan jasadnya untuk menangkapku?"
Khalila terbelalak, matanya membulat dan bola matanya bergerak tak tenang, 'Habis sudah!' pikirnya. Air mata yang tadinya hampir bisa dihentikannya, kini justru semakin tak terkendali. Satu-satunya harapan untuk membuat Rey tertangkap, kini justru berbalik keadaan, dan memojokkan dirinya.
"Habisi dia dulu! Dia gadis sok pintar yang akhirnya membuat gadis di meja itu mengakhiri hidupnya!" seru lantang salah satu gadis dari biliknya sembari menunjuk tegas pada Khalila.
"Benar! Dia yang tadi sok berani menjanjikan kebebasan pada kami! Dia yang harusnya kau habisi lebih dulu, lalu... lalu lepaskan kami!" sahut yang lain.
Rey terbahak mendengar keributan para gadis. Lalu berjalan mengitari meja tempat mayat gadis sebelumnya terbaring. Lalu dengan satu gerakan kuat, Rey menarik rambut jasad penuh darah itu dan melemparkan tubuh tak bernyawa itu hingga terbentur ke dinding kosong dan berakhir tergeletak di lantai.
"Baiklah! Aku sudah terlalu lelah, sebaiknya kuakhiri saja kalian semua!" seru Rey berjalan tegas menuju ke salah satu bilik tempat gadis berambut pirang sebahu di dalamnya.
Gadis itu meronta saat Rey mencengkeram lengan kakinya kemudian menyeretnya tanpa ampun.
Rey menarik gadis pirang itu keluar dari bilik kacanya, membuatnya berteriak dan meronta. "Tidak! Tolong! Jangan!" teriaknya, tapi Rey tidak peduli.
Khalila masih duduk di sudut biliknya, matanya melebar karena takut. Dia tahu bahwa dia adalah yang berikutnya. "Tidak, hentikan!" teriaknya, tapi suaranya tenggelam oleh teriakan gadis pirang itu.
Rey menarik gadis pirang itu ke tengah ruangan. Dengan pisau panjang yang tergenggam erat di tangan kanan, membuat gadis itu tak berani melawan saat lengan Rey seolah menyeret dan menggerakkannya hingga ke atas meja, lalu mengikatnya dengan tali yang sudah disiapkan.
Gadis pirang itu menangis dan berteriak, "Tolong! Aku tidak ingin mati, ampuni aku… akan kulakukan apapun untukmu, tapi ampuni aku,” pinta gadis itu dengan suara bergetar bahkan tubuhnya yang basah karena keringat pun menggigil hebat.
Rey tak menjawab, tangan kirinya mencengkeram erat leher gadis itu, menekannya semakin erat dan erat, hingga menimbulkan suara kret halus karena Rey mengenakan sarung lateks yang sedikit tebal dari biasanya. Otot lengan pria itu terlihat menonjol, menunjukkan betapa ia sedang memusatkan seluruh tenaganya disana.
Kedua mata gadis itu terbelalak, namun kedua tangannya terikat ke belakang, jadi hanya kedua kakinya yang berusaha menendang ke arah tak jelas. Namun cengkraman Rey terlalu kuat, gadis itu tak punya cukup tenaga untuk melepaskan diri. Kemudian tubuh kurus itu menggelepar, sesaat kemudian mengejang dan berakhir lemas.
Gadis-gadis lainnya menggigit erat bibir mereka, tak berani berteriak. Rasa mual menyergap, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Kali ini Rey bergerak cepat, ia menyayat daging di tungkai gadis itu dengan cepat, hingga membuat bentuk luka seperti gadis-gadis korbannya sebelumnya.
“Tinggal dua gadis tersisa, dan satu lagi anak pelacur itu!” gumam Rey seraya menyeka darah yang terciprat di wajahnya.
Rey menatap dingin pada Khalila, “Ini kesempatan terakhirmu, siapa yang akan kau selamatkan?” tanyanya dingin. “Dia… atau dia?” tegas Rey bergantian menunjuk dua gadis tersisa.
Ponsel Rey yang terletak di meja kecil di sudut ruangan pun bergetar. Rey melepas sarung tangannya, kemudian menghampiri ponsel itu.
Sebuah video terkirim ke ponselnya. Rey mengernyit sesat kemudian menyunggingkan senyum licik di satu sudut bibirnya. “Ketemu!” gumamnya seolah menyembunyikan maksud lain.
Rey membuka laci kecil di meja itu, mengambil sarung tangan baru, dan mengenakannya. Kemudian kembali menuju ke meja tempat jasad gadis pirang tergeletak penuh darah.
Dengan cekatan Rey menyiramkan cairan cairan disinfektan, membersihkan mayat itu dengan sempurna, kemudian membungkusnya dengan lembaran plastik yang tebal yang telah ia siapkan juga di ruangan itu.
Tak ada raut wajah jijik terlihat, Rey pun membungkus jasad yang tergeletak di lantai menggunakan plastik hitam, plastik yang biasanya digunakan untuk membuang sampah, kemudian memanggulnya dengan mudah dan memasukkannya pada kotak pendingin di dapurnya.
Rey kembali ke ruangan sebelumnya, dengan sebuah mantel di tangannya. Raut wajahnya masih terlihat serius seperti sebelumnya. Dengan cepat Rey menempatkan jasad gadis itu, tepat seperti yang diperkirakan Jack sebelumnya.
“Kalian tunggu sebentar, aku tak akan lama!” serunya dingin.
Namun baru saja Jack hendak mengenakan mantel yang di dalamnya terdapat jasad gadis itu, seseorang menekan bel di pintunya. Rey melihat ke layar dan berdecak kesal, “Ck! Para polisi bodoh itu!” umpatnya seraya meletakkan lagi mantel itu di atas meja.
...****************...
Bersambung...