NovelToon NovelToon
Boy Is My Future Wife

Boy Is My Future Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Semua pelayan telah dikumpulkan di ruang utama mansion.

Lima orang pelayan dan empat bodyguard berdiri berjejer rapi. Kepala mereka tertunduk, kedua tangan bertautan di depan tubuh. Tidak satu pun berani mengangkat wajah.

Di hadapan mereka, Steven duduk di sofa tunggal. Kakinya tersilang santai, satu tangan bertumpu di sandaran, sementara tatapannya menatap mereka satu per satu dengan tajam.

"Angkat kepala kalian."

Perintah itu dilontarkan pelan, tapi cukup membuat beberapa bahu menegang bersamaan.

Satu per satu, mereka patuh. Wajah-wajah tegang kini menghadap Steven.

"Sudah berapa lama kalian bekerja di mansion ini?" tanya Steven tenang, namun tajam.

Miko melirik sekilas, lalu salah satu pelayan memberanikan diri menjawab.

"D-dua tahun, Tuan."

"Empat tahun, Tuan."

"Empat bulan, Tuan."

Steven mengangguk pelan, seolah mencatat semuanya di kepalanya.

"Kalian tahu, aku tidak suka bertele-tele," lanjutnya, dengan nada suara yang tetap datar. Tatapannya berhenti pada seorang pelayan wanita di ujung barisan. Lalu, ia kembali berbicara. "Ada informasi pribadi tentang diriku yang bocor keluar. Dan itu hanya diketahui orang-orang di rumah ini."

Beberapa orang menelan ludah. Ada yang refleks mengepalkan tangan, ada pula yang menunduk kembali tanpa sadar.

"Siapa pun yang merasa pernah berbicara dengan orang luar, sekarang adalah waktu yang tepat untuk jujur."

Hening.

Tidak ada yang bersuara.

Steven terkekeh, tanpa sedikitpun bercanda. "Baik." Ia menggeser posisi duduk, kini tubuhnya condong ke depan. Sorot matanya berubah lebih gelap.

"Miko," panggilnya.

"Ya, Tuan."

"Mulai dari yang paling baru bekerja, aku ingin tahu dengan siapa mereka berkomunikasi tiga hari terakhir," perintah Steven.

"T-tuan, kami tidak—"

"Jangan menyela ucapanku," seru Steven dingin. Matanya melirik tajam bodyguard yang baru saja bersuara.

Suasana langsung mencekam.

"Di mansion ini, aku memberi kalian gaji, keamanan, dan kepercayaan. Tapi, jika ada yang mengkhianati ku—" Steven berdiri. Langkahnya pelan, mendekati barisan itu. Ia berhenti tepat di depan seorang pelayan wanita yang terlihat paling gelisah. "Aku tidak akan memberi kesempatan kedua."

Pelayan itu gemetar. Napasnya memburu. "K-kami tidak tahu apa-apa, Tuan," ucapnya terbata.

Steven menatapnya lama. "Bagus," ucapnya akhirnya. "Karena aku akan mencari tahu sendiri jika tidak ada yang mengaku. Dan, tentu saja hukumannya akan lebih berat.

Ia menoleh ke Miko. "Periksa semuanya rekaman CCTV!"

Miko mengangguk mantap. "Baik, Tuan."

Seorang pelayan wanita di barisan ketiga mulai gelisah. Napasnya tidak beraturan. Jemarinya saling meremas ujung apron hingga kusut. Kakinya bergeser sedikit ke belakang, seolah ingin menjauh dari tatapan dingin itu. Tapi, Steven menangkap pergerakannya.

"Kau!" Satu kata dingin dan mengintimidasi.

Pelayan itu tersentak. "S-saya, Tuan?"

"Sejak kapan kau bekerja di sini?" tanya Steven, matanya mengunci wajah wanita itu.

"E-empat bulan, Tuan," jawabnya cepat.

Steven mengangguk pelan. "Empat bulan," ulangnya. "Jadi, kau yang paling baru, ya?" Steven melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depannya.

"Kau terlihat gugup,” ujar Steven santai. "Kenapa?"

"T-tidak, Tuan. Saya hanya—"

"Jangan berbohong," potong Steven, suaranya rendah namun, mematikan. "Aku bisa melihat kebohongan dari cara tanganmu gemetar."

Pelayan itu menggeleng keras. "Saya tidak melakukan apa-apa, Tuan. Sungguh!"

Steven menoleh sedikit. "Miko!"

"Ya, Tuan." Miko mendekat, memperlihatkan hasil rekaman cctv yang ada di laptop. "Hanya dia yang terlihat saat anda dan nona Freya bertengkar."

Steven memperhatikan layar laptop, lalu beralih pada wanita itu. "Masih tidak mau mengaku?"

Wajah pelayan itu langsung pucat. Kakinya melemas. Ia jatuh berlutut. "S-saya—saya bisa jelaskan, Tuan!" isaknya pecah. "Saya hanya membutuhkan uang. Nyonya itu memberi saya bayaran besar. Saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun—"

Steven menatapnya tanpa sedikit pun ekspresi. "Siapa?" tanyanya singkat.

Pelayan itu terisak lebih keras. "N-nyonya Rena, Tuan."

Steven berjongkok perlahan, sejajar dengan wanita itu. Tatapannya dingin, tidak marah, justru terlalu tenang.

"Kau tahu apa yang paling aku benci?" ucapnya pelan.

Pelayan itu menggeleng panik.

"Orang yang mengkhianati kepercayaanku," lanjut Steven menekan. Lalu, ia berdiri kembali. "Miko!"

"Ya, Tuan."

"Serahkan dia pada keamanan. Hentikan semua aksesnya. Dan pastikan, dia tidak bisa bekerja di lingkungan mana pun yang berhubungan denganku lagi."

Pelayan itu menangis histeris. "Tidak! Tuan, tolong—!"

"Bawa dia," potong Steven dingin.

Miko memberi isyarat pada Bodyguard. Mereka maju, menarik wanita itu pergi, dengan Miko yang berjalan di depannya.

Steven kembali menatap barisan yang tersisa.

"Ini peringatan pertama, dan terakhir," ucapnya datar. "Mulai hari ini, tidak ada yang keluar masuk mansion tanpa izinku. Tidak ada telepon pribadi saat jam kerja. Dan satu hal lagi—" Nada suaranya merendah, penuh ancaman.

"Jika aku menemukan pengkhianat... orang itu tidak hanya akan kehilangan pekerjaannya. Kalian mengerti?"

"Mengerti, tuan," jawab mereka serempak.

Para pelayan bubar satu per satu dengan wajah pucat. Tidak ada yang berani saling menatap. Langkah mereka cepat, seolah ingin segera keluar dari aura dingin yang masih menggantung di udara.

Miko kembali setelah menjalankan perintah. Ia terdiam, memastikan hingga tidak ada lagi yang memperhatikan. Baru setelah itu, ia menghela napas pelan. Tangannya masuk ke saku jas, mengeluarkan ponselnya

Layarnya menyala samar. Jarinya bergerak cepat, mengetik sebuah pesan.

'Pelayan itu ketahuan. Dan, Boy belum terlihat sejak pagi ini.'

Ia menatap layar beberapa detik, seolah menimbang. Lalu, ia menekan tombol kirim.

Tidak berapa lama, terdengar notifikasi balasan. Miko hanya membacanya sekilas, lalu setelahnya, ia mengunci layar dan menyimpan kembali ponselnya. Wajahnya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia berbalik tepat saat suara langkah terdengar mendekat.

"Tuan!" Miko menunduk hormat.

Steven berhenti di depannya. Tatapannya tajam, dan menusuk.

"Pastikan tidak ada satu pun informasi bocor , terutama tentang Freya," ucap Steven dingin.

"Siap, Tuan," jawab Miko ragu.

"Ada apa?" tanya Steven.

"I-itu... Tuan Jacob mengumumkan ke media akan menggelar pesta untuk memperkenalkan nona Freya di depan umum.

Steven tersenyum miring. "Apa lagi yang mereka rencanakan?" gumamnya kesal. Dia berbalik, hendak kembali ke kamar. Namun, Miko menahannya.

"Tunggu, tuan!"

Steven berbalik, raut wajahnya terlihat kesal. "Apa lagi, hah?"

"Itu, ada hal penting yang harus saya sampaikan."

Steven melipat kedua tangannya di depan dada. "Katakan!"

"Ada gosip yang beredar, jika nona Freya membatalkan perjodohan nya. Dan sekarang, banyak pengusaha yang akan hadir ke pesta untuk mengambil hati nona Freya."

Steve melotot tajam. Kedua tangannya mengepal erat. "Apa?"

1
yumna
steve ayo lawan merka smeua
+62 al
happy fasting kaka gemoy❤️
🏫⃟Sᵐᵖpocing😹
marhaban ya ramadhan ka thor🙏
🇦 🇵 🇷 🇾👎
penasaran jg
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next
🇦 🇵 🇷 🇾👎
np korupsi kau
🇦 🇵 🇷 🇾👎
lp kn boy... skrg freya🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mokondo anjg.. ud lakor.. licik hdp pulak kau babi.... kpn mt ny mrk
🇦 🇵 🇷 🇾👎: ya lh kk🤣
total 2 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kasian
🇦 🇵 🇷 🇾👎: bnr... jgn biar kn mokondo tu dkt" ayag beibh😡
total 2 replies
yumna
eh jngan sMpe tuh william macam"
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Biar aja dia macem-macem, siapa tahu, Stepen yang untung 😆
total 1 replies
yumna
miko mata"dadynya evelin kah....?
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hohoho/Applaud//Applaud/
total 1 replies
ana
lanjut thor.bagus
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak 💜
total 1 replies
yumna
jangan sampe yaaa denis rena william ngingau d tempat acra 🤣🤣🤣🤣ngaku freya pacrnya
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Wah, bahaya inih😆
total 1 replies
yumna
jangan berantem xan ber2 yaaa🤭🤭🤭
indriyanii
wah salah paham STEV..tpi itu kan kata Miko..apa Miko kerja sama dengan di rena ya
yumna
miko mta"untk siapa
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next... miko o miko.... jgn"😡
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Jangan-jangan, apa? /Chuckle/
total 1 replies
🇦 🇵 🇷 🇾👎
miko aq crg jg sm dy
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Miko anak baik😆
total 1 replies
shabiru Al
lhooo miko... ? dia memberi laporan sama siapa ya... jadi miko itu pengkhianat juga apa gimana...
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Tidak mungkin /Scream/
total 1 replies
yumna
surh tlfn rena yg jd mata"nya 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!