NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konspirasi Berdarah

​Tembakan pecah. Hutan yang sunyi berubah menjadi neraka api. Tim Zian merangsek maju, tetapi mereka terjepit oleh tembakan senapan mesin berat dari truk tengah.

​"Zian! Menunduk!" teriak Elara.

​Dia menekan pelatuk. Dor!

​Peluru menembus kaca depan truk dan menghantam kepala penembak senapan mesin dengan presisi milimeter. Elara tidak berhenti. Dia melepaskan tiga tembakan beruntun, menjatuhkan dua penembak jitu musuh yang bersembunyi di balik semak-semak.

​Zian memanfaatkan celah itu untuk melempar granat ke arah jip pengawal. Ledakan besar menerangi langit malam. Zian bergerak maju dengan senapan serbu, menembak dengan keakuratan yang menakutkan. Dia adalah mesin penghancur yang murni.

​Di tengah kekacauan, Elara melihat sesuatu melalui teropongnya yang membuat darahnya membeku. Seorang pria di truk ketiga sedang mengarahkan peluncur roket (RPG) tepat ke arah punggung Zian yang sedang fokus pada musuh di depannya.

​Elara tidak punya waktu untuk membidik dengan tenang. Dia menarik pelatuk sambil menggeser laras senapannya mengikuti insting.

​Peluru Elara menghantam moncong peluncur roket tepat saat pria itu menekan pelatuknya. RPG itu meledak di tangan si penembak, menghancurkan truk ketiga dan menciptakan bola api raksasa.

​Zian terlempar oleh gelombang kejut ledakan, tetapi dia segera bangkit. Dia menoleh ke arah pohon tempat Elara berada, lalu mengacungkan jempolnya singkat sebelum kembali menghabisi sisa-sisa tentara bayaran.

​Sepuluh menit kemudian, area itu aman. Zian berdiri di depan truk yang hancur, wajahnya tercoreng jelaga dan darah. Elara turun dari pohon dan mendekatinya.

Zian membuka pintu truk kedua yang masih utuh. Di dalamnya bukan emas atau dokumen, melainkan seorang pria yang terikat dan disumbat mulutnya. Pria itu mengenakan seragam perwira tinggi militer negara tetangga.

​"Ini bukan misi penghentian logistik," bisik Elara, menyadari sesuatu yang besar. "Ini adalah penculikan politik."

​Zian menatap pria itu, lalu menatap Elara. "Gedeon ingin pria ini mati agar perang pecah. Aku ingin pria ini hidup agar konspirasi Gedeon terungkap. Sekarang kau tahu rahasianya, Mayor. Apa kau masih 'Tentara Seksi' milik Gedeon, atau kau adalah bagian dari Phoenix?"

​Zian mengarahkan senjatanya ke arah Elara, bukan untuk menembak, tetapi sebagai sebuah tantangan terakhir. Keheningan di antara mereka lebih tajam dari suara tembakan tadi.

​"Aku bukan milik siapa pun, Zian," jawab Elara, sambil perlahan menurunkan senapan sniper-nya. "Aku adalah orang yang akan memastikan kebenaran tidak terbakar bersama truk ini."

​Zian menurunkan senjatanya dan untuk pertama kalinya, sebuah senyuman tipis yang tulus muncul di bibirnya. "Selamat datang di perang yang sebenarnya, Elara."

*

​Asap hitam membubung dari bangkai truk yang hancur, menciptakan siluet mengerikan di bawah cahaya rembulan yang pucat. Perwira tinggi yang terikat itu, Jenderal Marek dari negara tetangga, menatap Elara dan Zian dengan mata yang dipenuhi ketakutan murni. Dia bukan sekadar tawanan; dia adalah bom waktu politik yang siap meledak.

​"Kau gila, Arkana," bisik Elara, sambil terus memantau perimeter melalui teropong malamnya. "Menculik perwira tinggi negara tetangga adalah deklarasi perang. Jika Gedeon tahu kau membiarkannya hidup, dia tidak akan hanya mengirim tim pembersih. Dia akan menghapus Unit Phoenix dari peta."

​Zian tidak berkedip. Dia menarik Jenderal Marek keluar dari truk dengan kasar dan mendorongnya ke arah Kael. "Bawa dia ke titik ekstraksi sekunder. Jangan gunakan radio. Jika ada yang menghalangi, habisi tanpa jejak."

​Kael mengangguk dan menghilang ke dalam kegelapan hutan bersama sisa tim Phoenix. Kini, hanya tinggal Zian dan Elara yang berdiri di tengah puing-puing yang membara.

​"Gedeon ingin kekuasaan absolut," kata Zian, suaranya dingin seperti es pegunungan. "Dia membiayai pemberontak di perbatasan untuk menciptakan krisis, lalu dia muncul sebagai pahlawan yang menyelesaikannya. Marek tahu lokasi gudang senjata rahasia yang didanai oleh dana hitam kementerian pertahanan kita. Jika kita membunuhnya, rahasia itu mati bersamanya. Jika dia hidup, Gedeon tamat."

​Elara mengepalkan tangannya. Selama bertahun-tahun ia melayani intelijen, ia tahu dunia ini kotor, tapi tidak pernah membayangkan skalanya sebesar ini. "Dan kau? Apa motifmu, Zian? Jangan bilang kau melakukan ini demi moralitas. Aku tahu tipe pria sepertimu. Kau tidak bergerak tanpa keuntungan."

​Zian melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menghilang. "Keuntunganku adalah kelangsungan hidup, Elara. Gedeon sudah merencanakan untuk membubarkan Phoenix setelah misi ini selesai. Dia ingin saksi-saksinya lenyap. Termasuk aku. Dan mungkin... termasuk kau."

​Sebelum Elara sempat membalas, suara gemuruh helikopter terdengar dari arah selatan. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan. Itu bukan helikopter penyelamat Unit Phoenix. Itu adalah Viper Attack Heli milik Pasukan Khusus Pusat—unit elit yang melapor langsung pada Gedeon.

​"Mereka datang untuk membereskan kekacauan," desis Elara. "Kita harus pergi. Sekarang!"

​Zian menarik tangan Elara, namun Elara menahannya. "Tunggu. Jika kita lari begitu saja, mereka akan tahu kita berkhianat. Kita harus membuat ini terlihat seolah-olah kita diserang oleh pihak ketiga."

​Dengan kecepatan yang menakjubkan, Elara mengambil granit dari sabuk taktisnya dan melemparkannya ke arah jip yang tersisa. Dia juga mengambil beberapa selongsong peluru dari senjata tentara bayaran yang tewas dan menaburkannya di sekitar posisi mereka.

​"Cerdas," puji Zian singkat. "Ayo!"

​Mereka berlari menembus hutan pinus, melompati akar pohon dan batu besar dengan kecepatan atletis. Di belakang mereka, suara ledakan terdengar saat helikopter Viper mulai menghujani area tersebut dengan roket untuk menghapus semua bukti fisik.

​Pelarian mereka tidaklah mudah. Medan pegunungan itu sangat curam. Elara merasa napasnya mulai pendek, tetapi adrenalin terus memacu jantungnya. Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari samping kiri.

​Ting!

​Sebuah peluru memantul dari pohon tepat di depan wajah Elara.

​"Kontak! Jam sembilan!" teriak Elara sambil menjatuhkan diri ke balik batu besar.

​Dua orang penembak jitu dengan pakaian kamuflase hutan muncul dari balik kabut. Mereka bukan tentara bayaran; mereka memakai seragam taktis hitam tanpa atribut.

​Zian membalas dengan tembakan presisi dari senapan serbu HK416 miliknya. Salah satu penembak jatuh, tetapi yang lain terus menekan mereka.

​"Aku akan memutar!" teriak Elara.

​Dia bergerak lincah, memanjat tebing kecil di samping mereka dengan jari-jari yang kuat. Dari ketinggian, dia melihat penembak jitu itu sedang bersiap melempar granat asap untuk mendekati Zian. Elara mencabut pisau komandonya. Tanpa suara, dia melompat dari tebing, mendarat tepat di punggung lawan, dan menghujamkan pisaunya ke celah rompi antipeluru di leher musuh.

​Pria itu tumbang tanpa sempat berteriak. ​Zian muncul dari balik pohon, senjatanya masih siaga. Dia menatap Elara yang berlumuran darah musuh, dadanya naik turun karena kelelahan. Ada kilatan kekaguman yang tak bisa disembunyikan di mata Zian.

​"Kau benar-benar bukan sekadar wajah cantik, Vanya," bisik Zian.

​"Simpan pujianmu untuk nanti. Kita belum aman," balas Elara sambil mengusap darah di pipinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!