"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Karena rasa penasarannya tentang penyebab kematian Bu Sinta, Karin akhirnya menyetujui permintaan pria misterius itu dan menyerahkan uang seratus juta rupiah. Namun sebelum itu, Karin menegaskan satu syarat pria tersebut harus memberikan informasi yang benar dan akurat
“Oke, aku akan memberikan uang itu. Tapi aku minta kamu benar-benar memberikan informasi yang akurat. Jangan sekali-kali mencoba menipuku,” ucap Karin dengan nada tegas kepada pria itu.
“Kamu tenang saja, Rin. Aku tidak mungkin menipumu".
Karin menatap layar ponselnya sebentar, lalu langsung memasukkan nominal yang diminta. Tanpa banyak ragu, jarinya menekan tombol kirim. Notifikasi transaksi berhasil muncul.
“Uangnya sudah aku kirim seperti yang kamu minta. Sekarang, cepat katakan semuanya.” Karin menatap pria itu dengan sorot mata tajam, tanpa sedikit pun ragu.
“Hahaha..Oke, baiklah, Karin. Aku akan mengatakan semuanya padamu,” ucap pria itu sambil tertawa pelan.
"Dua puluh lima tahun yang lalu...."
Mona dan Bu Sinta dulu adalah sahabat dekat. Pada masa itu, Mona menaruh perasaan pada seorang lelaki bernama Sanjaya Aditama. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Sanjaya justru memilih Bu Sinta dan menjadikannya sebagai istri. Sejak mengetahui hal itu, kebencian dan dendam mulai tumbuh di hati Mona. Ia merasa Bu Sinta telah merebut Sanjaya darinya.
Singkat cerita, Sanjaya dan Bu Sinta menikah. Di luar, Mona tetap terlihat bersikap baik, seolah menerima kenyataan. Namun di balik senyum dan sikap ramahnya, tersimpan niat jahat yang ia pendam dalam diam. Beberapa bulan setelah pernikahan, Bu Sinta hamil. Pak Sanjaya sangat menyayangi istrinya, perhatian itu justru membuat kebencian Mona semakin menjadi-jadi.
Mona tidak bertindak gegabah. Ia menunggu dengan sabar hingga Bu Sinta melahirkan. Empat bulan setelah kelahiran bayi itu, Mona mulai menjalankan rencana liciknya. Ia dengan sengaja merusak mobil Bu Sinta hingga remnya blong, membuat kendaraan itu kehilangan kendali.
Rencana Mona berjalan mulus. Kecelakaan parah pun terjadi, dan nyawa Bu Sinta melayang seketika.
Sebelum meninggal dunia, Bu Sinta sempat dilarikan ke rumah sakit. Meski sudah mendapatkan penanganan, nyawanya tetap tidak dapat tertolong. Di detik-detik terakhir hidupnya, Bu Sinta menitipkan Karin kepada sahabat yang paling ia percaya Mona.
Bu Sinta menganggap Mona sebagai sahabat yang tulus dan baik hati, seseorang yang ia yakini mampu menjaga serta merawat putrinya dengan penuh kasih sayang. Tanpa pernah ia sadari, justru Mona-lah penyebab dari semua kecelakaan itu.
“Aku titip anakku, ya. Aku harap kamu bisa menjaga dan menyayangi putriku,” ucap Bu Sinta lirih, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Mona yang diliputi rasa bersalah karena telah menyebabkan kematian sahabatnya hanya mampu mengangguk lemah. Dengan suara bergetar, ia berjanji akan menjaga dan merawat anak Bu Sinta seperti anaknya sendiri, sebagai upaya menebus semua kesalahannya.
“Aku janji akan merawat anakmu, Sin. Aku akan menganggap Karin seperti anak kandungku,” jawab Mona sambil menangis tersedu-sedu.
Setahun setelah kepergian Bu Sinta, Pak Sanjaya akhirnya menikahi Mona. Ia menganggap Mona sebagai perempuan yang baik dan tulus, terutama karena kasih sayangnya yang begitu besar kepada putrinya.
Bahkan Pak Sanjaya tidak pernah berusaha mencari tahu penyebab kematian istrinya. Dengan kelicikannya, Mona meyakinkan bahwa kecelakaan yang menimpa Bu Sinta hanyalah takdir. Pak Sanjaya pun mempercayainya begitu saja, tanpa pernah mencoba menggali kebenaran yang sesungguhnya.
Karin menunduk diam setelah mendengar penjelasan pria misterius itu. Wajahnya tampak pucat, seolah belum mampu menerima semua kenyataan yang baru saja terungkap.
“Apakah semua yang kamu katakan itu benar?” tanya Karin, masih sulit mempercayainya.
Pria misterius itu menatap Karin dengan tajam, lalu berkata dengan tegas,
“Tentu saja semua itu benar, Karin.”
“Tapi kenapa Papah tidak pernah mencari tahu dan menyelidiki semua kejahatan Mamah Mona?” seru Karin dengan nada tinggi.
Pria misterius itu tidak langsung menjawab pertanyaan Karin. Ia justru tertawa pelan, seolah mengejek ketidaktahuan Karin.
“Mona itu wanita licik. Dia punya seribu cara untuk menutupi semua kejahatannya."
“Dan kamu tahu tidak, Karin? Sebelum Mona menikah dengan papah mu, dia sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak perempuan,” ucapnya dengan nada penuh teka-teki
Mendengar kata anak perempuan, Karin teringat saat pertama kali datang ke rumah Mona. Waktu itu, tanpa sengaja Karin mendengar Mona sedang menelepon seseorang. Saat itu pula, Karin merasa yakin bahwa orang yang sedang berbicara di telepon itu adalah anak kandung Mona.
“Apakah kamu ingin tahu siapa anak kandung Mona yang sebenarnya?” tanya pria misterius itu.
Tanpa ragu, Karin menjawab, “Ya. Siapa anak kandung Mamah Mona sebenarnya?”
Lelaki misterius itu hanya tertawa dan tidak langsung menjawab pertanyaan Karin.
“Aku tidak akan mengatakan siapa anak kandung Mona sekarang, Karin. Yang aku mau, kamu fokus mencari cara untuk mengungkap semua kejahatan Mona kepada papah mu,” ucapnya tegas.
Setelah mengatakan semuanya, lelaki misterius itu langsung pergi, meninggalkan Karin sendirian.
Karin berdiri terpaku, menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal tanpa sadar. Ada sesuatu yang masih mengganjal, terasa belum tuntas.
“Siapa sebenarnya anak kandung Mamah Mona?” gumamnya.
Sorot matanya mengeras, dan tekad mulai tumbuh. “Aku harus mencari tahu secepatnya,” ucapnya penuh semangat.
Jangan lupa like dan subscribe ya kak🙏
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak