Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: BLACKOUT, WHITE NOISE, & THE SOUND OF SILENCE THAT SCREAMS
Disclaimer: Bab ini mengandung ujian pada sinyal terkuat sekalipun, keheningan yang lebih keras daripada teriakan, dan satu kebenaran yang terpaksa keluar dalam keadaan darurat.
---
< The Calm Before The Static >
Fase "Low-Intensity, High-Fidelity" telah berjalan dengan nyaris sempurna selama dua bulan. Mereka telah menjadi ahli dalam seni connected solitude. Hubungan mereka seperti ambient music yang bagus selalu ada di latar belakang, menenangkan, tidak pernah menuntut perhatian penuh.
Hingga Gempa Bumi 5.8 SR mengguncang Jakarta dan sekitarnya.
Pukul 14.17. Getaran dahsyat. Lantai bergoyang, gelas berdentang, lampu bergoyang-goyang. 3 menit yang terasa seperti satu abad.
Pukul 14.21. Getaran berhenti. Lalu, blackout total. Listrik padam. Sinyal seluler hilang. Jakarta yang biasanya berisik, tiba-tiba tenggelam dalam keheningan yang mencekam, hanya diselingi teriakan dan klakson di kejauhan.
Di Kosan Ardi, Bandung.
Ardi merasakan getaran ringan. Notifikasi gempa dari aplikasi HP berdering. Epicenter: Jakarta, 5.8 SR.
Jantungnya langsung jatuh. Kinan ada di Jakarta. Dia sedang libur panjang dari magang, pulang ke rumah keluarganya.
Dia segera menelepon. "Panggilan tidak dapat dihubungi."
Chat. "Terkirim. Belum terbaca."
Dia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tidak ada. Sinyal hilang total di Jakarta.
Di Rumah Keluarga Kinan, Jakarta Selatan.
Kinan sedang di lantai dua saat gempa mengguncang. Dia berpegangan pada pintu. Saat getaran reda, dia bergegas turun mencari adik dan ibunya. Semua aman, panik, tapi selamat.
Lalu dia melihat HP-nya. No Signal. Kota lumpuh.
Dalam kepanikan kolektif itu, satu pikiran mendominasi Kinan: Ardi.
Dia tahu Ardi pasti panik. Dia harus memberi kabar. Tapi tidak bisa. Koneksi terputus bukan oleh pilihan, tetapi oleh bencana.
---
< The Descent Into Static >
Jam 1 Pasca-Gempa.
Ardi sudah seperti orang gila. Dia refresh Twitter tanpa henti, mencari info dari akun-akun berita. Foto-foto kerusakan mulai bermunculan di daerah yang sinyalnya masih ada. Setiap gambar bangunan retak membuat dadanya sesak.
Dia mengirim pesan ke Bowo, ke Pak Suryo, ke siapapun yang kenal Kinan di Jakarta. Tidak ada yang bisa dihubungi.
Jam 3 Pasca-Gempa.
Kinan berhasil naik ke atap rumah, mencoba mencari sinyal. Satu bar. Dia cepat-cepat mencoba mengirim pesan ke Ardi. "Safe. Fam safe. No signal. Don't worry."
Pesan terkirim berputar-putar, lalu gagal. Sinyal hilang lagi.
Frustrasinya memuncak. Dia merasa terperangkap. Dunia digital yang selama ini dia kuasai, yang menjadi alatnya untuk mengkurasi realita, sekarang mati total. Dan satu-satunya realita yang penting memberi tahu Ardi bahwa dia baik-baik saja tidak bisa dia sampaikan.
Jam 6 Pasca-Gempa (Malam).
Kegelapan menyelimuti Jakarta. Hanya genset-genset rumah sakit dan beberapa gedung yang masih berderum. Keluarga Kinan memutuskan mengungsi ke lapangan terbuka karena khawatir dengan gempa susulan.
Di tengah kerumunan orang yang ketakutan, duduk di atas tikar darurat, Kinan menyadari sesuatu: Ini pertama kalinya sejak mereka kenal, dia benar-benar terputus dari Ardi. Bukan oleh algoritma, bukan oleh kesepakatan, tetapi oleh dinding fisik ketiadaan sinyal. Dan itu sangat, sangat menakutkan.
Sementara di Bandung, Ardi sudah dalam kondisi white noise mental. Kekhawatirannya telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih primitif: ketakutan akan kehilangan yang mutlak. Dia baru menyadari betapa rapuhnya semua sistem yang mereka bangun. Satu gempa bumi bisa menghapusnya dalam sekejap.
Dia mengambil gitar, mencoba menenangkan diri. Tapi jari-jarinya gemetar. Dia hanya bisa memetik satu kord, berulang-ulang, seperti mantra yang rusak.
---
< The Breaking Point & The Static Scream >
Jam 22.00 Pasca-Gempa.
Listrik dan sinyal di beberapa wilayah Jakarta mulai pulih secara sporadis. Tapi tidak di lokasi Kinan.
Ardi mendapatkan kabar dari Bowo yang berhasil menghubungi temannya di Jakarta. "Daerah itu masih gelap total, bro. Tapi katanya gak ada korban jiwa parah."
Itu belum cukup. Ardi perlu mendengar suaranya. Melihat wajahnya. Sekarang.
Dengan keputusan yang tergesa-gesa dan dipenuhi adrenalin, Ardi naik ke motornya. Dia akan menyetir ke Jakarta. Malam itu juga. Jarak 150 km, dalam kondisi jalan yang mungkin rusak, dengan keadaan mental yang tidak stabil.
Bowo berusaha menghentikannya. "Gila lo! Nunggu aja besok! Bahaya!"
"Gue nggak bisa nunggu!" teriak Ardi, suaranya parau. "Gue harus tau dia beneran oke! Chat dan telepon nggak cukup! Gue harus liat dia dengan mata gue sendiri!"
Itu adalah teriakan dari jiwa yang lelah dengan semua abstraksi digital. Tubuh butuh tubuh. Mata butuh mata. Di saat-saat seperti ini, semua filosofi "low-intensity" dan "high-fidelity" runtuh. Yang tersisa hanya insting purba: mendekat, menyentuh, memastikan.
Di Lapangan Pengungsian, Jakarta.
Kinan, dalam keputusasaannya, melakukan hal yang paling analog: dia menulis surat. Dengan penerangan senter HP yang hampir habis, di atas selembar kertas dari buku catatan adiknya, dia mencoret-coret dengan tangan yang gemetar.
"Ardi—
Kita aman. Gue di lapangan dekat rumah. Gelap. Dingin. Adik gue nangis. Ibu gue cemas. Tapi kita utuh.
Gue cuma bisa mikir satu hal: lo. Lo pasti panik. Lo pasti kirim seribu pesan. Maaf gue nggak bisa bales. Maaf sinyal mati. Maaf teknologi gagal.
Gue janji, kalau kita bisa ketemu lagi, gue nggak akan pernah lagi anggap remeh satu detik pun buat ngobrol sama lo. Gue nggak akan nunda balas chat karena 'sibuk'. Gue nggak akan mikir aesthetic atau konten.
Gue cuma mau pegang tangan lo. Dengar suara lo. Pastiin lo nyata dan baik-baik saja.
Kalau surat ini bisa sampai ke lo (gue akan coba kirim foto kalo sinyal pulih), tolong ketahui: Gue baik-baik saja. Tapi gue nggak akan pernah benar-benar 'baik-baik saja' lagi sebelum gue tau lo juga baik-baik saja.
- Kinan, di dalam gelap yang paling gelap."
Dia memotret surat itu. Dan seperti keajaiban, HP-nya mendapatkan 2 bar sinyal H+. Dia segera membuka WhatsApp, memilih chat Ardi, mengunggah foto itu. Terkirim. Lalu sinyal hilang lagi. Tapi pesannya terkirim.
---
< The Collision Course >
Pukul 00.30, di Tol Cipularang.
Ardi sedang melaju kencang. HP-nya bergetar di docking motor. Getaran notifikasi WhatsApp.
Dia berhenti di bahu jalan, jantung berdegup kencang. Foto dari Kinan. Sebuah surat tulisan tangan.
Dia membacanya, di bawah lampu jalan tol yang redup. Kata demi kata menghujam seperti paku. Air matanya yang selama ini tertahan, akhirnya meledak. Dia menangis, sesenggukan, di bahu jalan tol yang sepi, sementara truk-truk besar melintas dengan deru yang menggelegar.
Dia membalas, jarinya gemetar: "JANGAN KEMANA-MANA. GUE DATANG. GUE DI JALAN. SETENGAH JAM LAGI."
Tapi pesannya tidak terkirim. Sinyal di jalan tol itu lemah.
Dia tidak peduli. Dia sudah mendapat kabar. Kinan baik-baik saja. Dan dia akan sampai ke sana. Apapun yang terjadi.
Pukul 01.15, di Pinggiran Jakarta.
Polisi memberhentikan Ardi di pos pemeriksaan. Jalan menuju pusat kota macet total karena warga mengungsi dan pemeriksaan kerusakan.
"Enaknya balik aja, Nak. Bahaya masuk sekarang."
"Tapi pacar saya di dalam! Saya harus ketemu dia!" protes Ardi, hampir putus asa.
Polisi itu melihat wajahnya yang penuh keringat, mata yang bengkak. "Pacar? Coba telepon."
"Gak bisa. Sinyal mati."
Polisi itu menghela napas. "Alamatnya dimana? Nanti saya bantu konfirmasi lewat radio posko."
Ardi memberikan alamat lengkap Kinan. Dia menunggu dengan jantung di tenggorokan, sambil melihat kota gelap di kejauhan, seperti raksasa yang tertidur atau mati.
---
< The Reunion in the Ruins of Noise >
Pukul 02.47, di Perbatasan Lapangan Pengungsian.
Sebuah sepeda motor Polisi mendekat, diiringi motor Ardi. Polisi itu memberi isyarat. "Itu dia! Yang di tikar merah!"
Ardi melompat dari motornya, berlari menyusuri lautan orang yang tidur di atas tikar. Matanya menyapu kerumunan, mencari wajah yang paling dia kenal di dunia ini.
Dan dia melihatnya.
Kinan sedang duduk, memeluk adiknya yang tertidur, selimut darurat disampirkan di bahu. Wajahnya terlihat pucat dan lelah di bawah cahaya lampu tempel.
"KINAN!"
Kinan menoleh. Matanya membesar, tidak percaya. Seperti melihat hantu atau malaikat yang muncul dari kegelapan.
Ardi berhenti beberapa langkah di depannya, napas terengah-engah. Mereka saling memandang, di tengah kehancuran dan kepanikan ini, seolah dunia lain yang hanya berisi mereka berdua.
Dan kemudian, tanpa kata-kata, Kinan berdiri, melepaskan pelukan adiknya, dan berlari ke pelukan Ardi.
Itu bukan pelukan romantis ala film. Itu pelukan pertahanan hidup. Kuat, erat, gemetar. Kinan menyembunyikan wajahnya di bahu Ardi, tubuhnya bergetar hebat. Ardi memeluknya, satu tangan menahan punggungnya, satu tangan menahan kepala Kinan, seperti melindunginya dari seluruh dunia yang berantakan ini.
"Gue baca surat lo," bisik Ardi, suaranya serak. "Gue datang."
"Gila... lo gila..." isak Kinan di bahunya. "Ngebut malam-malam..."
"Harus. Chat nggak cukup. Telepon nggak cukup. Harus liat lo."
Mereka berdiri seperti itu untuk waktu yang lama. Di sekeliling mereka, orang-orang terlantar, petugas berjaga, kota yang luka. Tapi dalam pelukan itu, ada sebuah keutuhan yang selama ini mereka cari-cari dengan segala analogi digital mereka. Keutuhan yang fisik, yang nyata, yang tidak bisa direplikasi oleh satelit atau server manapun.
---
LAST LINE: Saat fajar menyingsing, menerangi Jakarta yang porak-poranda dan penuh dengan jiwa-jiwa yang trauma, Ardi dan Kinan masih duduk bersandar di sebuah mobil polisi yang sedang tidak dipakai. Tangan mereka terjalin erat, seperti akar yang saling mengait di tanah yang baru saja diguncang gempa. Mereka tidak bicara banyak. Tidak perlu. Mereka telah menemukan kebenaran paling purba dan paling modern sekaligus: bahwa di akhir hari, ketika semua jaringan mati, semua algoritma gagal, dan semua platform runtuh, yang tersisa hanyalah dua orang yang memilih untuk menemukan jalan bahkan melalui kegelapan dan puing-puingbhanya untuk mencapai satu sama lain. Dan mungkin, cinta yang sebenarnya bukan tentang memiliki sinyal 5 bar setiap saat, tetapi tentang kemauan untuk melakukan perjalanan malam buta ke zona tanpa sinyal, hanya untuk memastikan orang yang kamu cintai masih ada di sana, bernapas, dan utuh. 🌍📡➡️🧑🤝🧑