Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Jalanan masih sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Lampu-lampu jalan tampak seperti mata hantu yang mengawasi. Cintya celingukan kekiri dan ke kanan, mencari tanda-tanda kehidupan.
"Di mana halte bus terdekat ya? Apa aku harus jalan kaki sampai tujuan?"
Tak sengaja pandangannya menangkap sosok bapak-bapak tua sedang menyapu halaman rumahnya dengan gerakan lambat dan misterius.
"Bingo! Target pertama! Semoga dia nggak gigit." kekeh Cintya pelan.
Dengan langkah ragu-ragu, gadis muda rambut yang di ikat ekor kuda dengan topi hitam itu mendekati si bapak tersebut. Setiap langkahnya diiringi suara gemerisik daun kering yang membuatnya merinding sendiri.
"Permisi, Pak ... maaf mengganggu. Saya mau tanya, kalau halte bus ke arah pinggiran kota di ada mana ya?" tanyanya dengan sopan.
Bapak itu berhenti menyapu dan menatap Cintya dari atas sampai bawah, tatapannya setajam silet. Cintya menelan ludah dengan susah payah.
"Semoga dia bukan salah satu musuh keluarga Baby Al yang sedang menyamar jadi tukang sapu," doa Cintya dalam hati.
"Oh, mau ke pinggiran kota?" tanya bapak itu dengan suara serak dan berat.
"Itu jalan terus aja, nanti ada perempatan. Belok kanan, halte-nya di situ." lanjutnya lalu tersenyum ramah.
"Oh, gitu ... makasih ya, Pak!
"Sama-sama Neng!" balas si bapak.
Cintya gegas berbalik dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan bapak itu.
"Eh, tunggu!" panggil bapak itu tiba-tiba.
Cintya membeku di tempat. "Apa bapak itu mencurigai sesuatu?" Ia berbalik dengan dengan perlahan sambil memasang wajah polosnya.
Bapak itu mendekat dan menatap Baby Al dengan tatapan yang aneh, seperti sedang menganalisis sesuatu. Cintya siap siaga, siap menerjang jika bapak itu bertindak. "Bayinya lucu sekali, perempuan atau laki-laki?" tanya sibapak akhirnya, membuat Cintya menghela napas lega.
"Oh ternyata dia cuma penasaran sama Baby Al. Dasar, bikin jantungan aja!" batin Cintya sedikit kesal.
"Laki-laki, Pak," jawabnya sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kesalnya.
"Wah, ganteng sekali," puji bapak itu. "Semoga jadi anak yang berbakti sama orang tua." lanjutnya.
"Amin ... makasih ya, Pak," balas Cintya tulus. meskipun jantungnya masih berdebar-debar. "Ternyata dia cuma bapak-bapak biasa. Gue aja yang lebay!" cibik Cintya.
Ia melanjutkan perjalanannya menuju halte bus. Setelah berjalan agak jauh, ia akhirnya menemukan perempatan yang dimaksud bapak tadi. Di sana, ia melihat sebuah halte bus yang tampak seperti tempat menunggu kematian. Bagaimana tidak bangku-bangkunya berkarat, dindingnya penuh coretan, dan udaranya dipenuhi aroma pesimis.
"Tempatnya mendukung sekali untuk adegan bunuh diri," pikir Cintya sinis.
Cintya duduk di bangku halte dan menghela napas panjang. Ia menatap Baby Al yang sedang tertidur lelap di pangkuannya.
"Tenang saja, Al. Bunda akan melindungimu. Meskipun Bunda nggak punya kekuatan super apalagi senjata canggih. Palingan kalau ada musuh kita ajak banter sama sandal lempar." Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa hidup baru saja berubah menjadi lebih menantang.
Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari semak-semak di dekat halte. Cintya tersentak kaget dan langsung menegang. "Apa itu? Beruang? Serigala? Zombie?" tebaknya asal, di halte itu hanya ada dirinya dan baby Al.
Ia memeluk Baby Al erat-erat dan menajamkan pendengarannya. Suara gemerisik itu semakin mendekat. Cintya siap siaga, siap melarikan diri atau melawan apa pun yang keluar dari semak-semak itu.
"Cintya, jangan panik. Ingat, kamu adalah superhero dadakan. Superhero yang bersenjatakan popok dan botol susu!" celotehnya ngasal.
Dari dalam semak-semak, muncul seekor kucing putih besar dengan mata menyala. Kucing itu menatap Cintya dengan tatapan penuh arti, lalu mengeong pelan.
Cintya menghela napas lega. "Oh, cuma kucing. Aku kira monster!" Ia tertawa kecil, menyadari betapa konyolnya dirinya.
Kucing itu mendekat dan menggesekkan tubuhnya ke kaki Cintya. Cintya mengelus kepala kucing itu dengan lembut. Kasihan, pasti lapar, pikirnya.
Tiba-tiba, kucing itu melompat ke pangkuan Cintya dan berbaring di samping Baby Al. Kucing itu seolah ikut menjaga Baby Al.
Cintya terkejut. "Lho, kok kucingnya malah akrab sama Baby Al? Apa mereka punya telepati? Apa ini pertanda baik? Atau pertanda buruk?" Ia menatap Baby Al dan kucing itu dengan tatapan bingung.
Baby Al membuka matanya dan tersenyum pada kucing itu. Kucing itu membalas senyuman Baby Al dengan mengeong pelan.
Cintya terheran-heran sendiri. "Ini sudah di luar nalar. Apa aku harus panggil paranormal?' Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.
"Ah! Sudahlah, mungkin ini memang takdir, pikirnya. Aku dan Baby Al ... dan kucing misterius ini ... akan memulai petualangan baru bersama. Ia tersenyum, merasa sedikit lebih rileks dengan kehadiran makhluk berbulu itu.
Tak belama lama Dari kejauhan, terdengar suara deru mesin bus. Cintya bangkit dari bangku dan bersiap naik ke dalam bus. Ia melirik Baby Al dan kucing itu. Lalu ketiganya gegas masuk ke dalam bus.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, bus yang ditumpangi Cintya akhirnya tiba di halte terakhir. Cintya turun dari bus dengan perasaan lega sekaligus cemas. Ia menatap sekelilingnya, berusaha mengenali daerah asing tersebut.
Daerah itu tampak sepi dan tenang, jauh berbeda dengan hiruk pikuk kota yang baru saja ia tinggalkan. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di sepanjang jalan, dikelilingi oleh kebun dan pepohonan yang rindang. "Udara di sini terasa lebih segar dan bersih, namun juga terasa lebih dingin dan sepi," lirih Cintya.
Cintya mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Di kertas itu tertulis sebuah alamat yang ia dapatkan dari dalam dompet yang diberikan oleh ibunya Al. Ia menatap alamat itu dengan cermat, lalu membandingkannya dengan nomor-nomor rumah di sekitarnya.
"Saatnya jadi detektif dadakan. Sherlock Holmes, minggir dulu!" kelakarnya.
Cintya mulai berjalan menyusuri jalan itu. Ia memperhatikan setiap rumah dengan seksama, mencari nomor yang sesuai dengan alamat di kertas.
Setelah berjalan cukup jauh, Cintya mulai merasa lelah dan putus asa. Ia duduk di bangku taman yang berada di pinggir jalan dan menghela napas panjang.
"Sepertinya aku nyasar. Apa aku harus balik ke kota lagi?" Ia menatap Baby Al yang sedang tertidur lelap di pangkuannya.
"Nggak, aku nggak boleh menyerah. Aku harus melindungi bayi ini!"
Tiba-tiba, seorang ibu-ibu dengan menenteng keranjang sayuran lewat dan menghampirinya. Wanita itu tersenyum ramah dan menatap Baby Al dengan tatapan lembut.
"Bayinya lucu sekali," sapa wanita itu.
Cintya tersenyum tipis. "Semoga dia nggak punya niat jahat." batinnya berbisik.
"Makasih Bu. Saya lagi nyari alamat, tapi keknya kami nyasar.
"Oh, nyari alamat? Alamatnya di mana?" tanya si ibu.
Cintya menunjukkan secarik kertas yang berisi alamat tersebut. Wanita itu membaca alamat itu dengan cermat, lalu mengangguk-angguk.
"Oh, alamat ini ... ada di ujung jalan sana. Rumah yang paling bagus diantara rumah-rumah di sini," jelas sang ibu dengan ramah.
"Serius, Bu? Di ujung jalan sana?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Iya, betul. Rumah yang paling pojok. Nanti kelihatan kok, soalnya desain dan bentuk rumahnya beda dari rumah-rumah warga sini," jawab wanita itu sambil tersenyum ramah.
Bersambung ...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus