NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Domain yang dicari Dimas bernama SixDegrees.com, dan karena semua orang sedang menunggangi gelombang dot-com, harga domain itu jadi jauh lebih mahal dari biasanya.

“Hah! Jadi situs ini dibuat tahun 1997… berarti aku agak telat, ya. Sudahlah, kalau bisa dibeli, aku beli saja.”

Dimas lalu mengajukan penawaran untuk domain tersebut. Ia mengetik empat lalu tiga angka nol sebagai penawaran awal.

Baginya, meskipun di masa depan domain ini bisa bernilai ratusan miliar rupiah, untuk sekarang ini hanyalah nama aneh sebuah situs web.

Setelah mengirimkan penawaran tersebut, Dimas tersenyum. “Kalau pemiliknya tidak mau, aku cari domain lain saja. Nama itu bukan segalanya. Yang penting produk yang akan kubangun.”

Meskipun cukup berisiko karena ia sendiri tidak yakin sepenuhnya dia tahu ia bisa mencoba menunggangi “gelombang internet” dan berharap mendapatkan “keju” yang cukup dari sana.

Dimas tidak yakin tentang banyak hal, tapi dia siap mencoba membuat semuanya berhasil.

Ia memasukkan ponselnya ke saku, lalu meninggalkan Asramanya dengan sebuah ransel berat berisi sekitar Rp5.000.000.000 sisa uang lainnya masih ada di dalam kamar kos.

Dimas lebih dulu membuka mobilnya, meletakkan ransel itu di dalam, lalu menguncinya kembali. Setelah itu ia kembali ke kamar kos untuk mengambil sisa uangnya. Sesampainya di kamar, ia mengambil tambahan Rp1.540.000 di sakunya dan kemudian memasukkan tumpukan uang lainnya ke kantong plastik hitam yang tebal dan tidak tembus pandang.

Ia butuh dua kantong plastik besar untuk mengisinya. Setelah memastikan kamar terkunci rapat, ia berjalan kembali menuju mobilnya.

Begitu melihat ransel tadi masih ada di dalam mobil, Dimas menghela napas lega. Dua kantong plastik besar ia letakkan di kursi belakang, sedangkan ransel berada di kursi penumpang depan. Ia pun langsung meluncur menuju bank.

Karena ini jam pertama bank buka, suasananya belum terlalu ramai. Dimas langsung mencari manajer cabang.

Dengan ransel di punggung, ia berjalan menuju ruang manajer dan mengetuk pintunya. Ada dua hal yang ingin ia lakukan hari ini:

Menyetor uang tunai,

Menaikkan limit transaksi kartu debitnya.

Limit kartu debitnya saat ini hanya Rp5.000.000 per hari, jelas tidak cukup untuk semua rencananya, jadi ia ingin langsung berbicara dengan orang berwenang.

“Masuk.”

Setelah mendapat izin, Dimas membuka pintu dan mengangguk sopan pada manajer, yang memandangnya dengan tatapan heran.

“Saya mau menyetor uang hasil jerih payah saya, Pak. Bapak kan yang paling berwenang di sini,” kata Dimas sambil melangkah masuk menuju meja manajer.

“Silakan duduk, Nak. Saya hanya agak terkejut saja,” jawab manajer yang tampak berusia akhir empat puluhan sambil tersenyum dan mempersilakan Dimas duduk.

Dimas duduk dan menaruh ransel di samping kursinya. Ruangan itu nyaman, harum, dan terasa seperti ruangan yang penuh urusan serius tentang uang.

“Jadi, berapa banyak dana yang ingin Anda setorkan? Semuanya dalam bentuk tunai?” tanya manajer, menunjuk ransel yang tampak berat itu.

“Ya, Pak. Uang tunai semua. Ini slip potongan gajinya, jadi Bapak tidak perlu khawatir saya jualan barang terlarang.” Dimas memberikan dua slip gaji yang ia dapatkan dari sistem.

“Hm? Anda membayar pajak sebesar Rp8.001.650.000?” Manajer itu terkejut, lalu tersenyum. “Pantas saja Anda langsung datang ke saya. Jadi, berapa total yang ingin Anda setorkan hari ini?”

“Saya akan menyetor Rp9.951.460.000,” kata Dimas.

“Saya juga berencana berinvestasi dan memakai seluruh dana di rekening saya untuk membangun bisnis. Saldo saya nanti pasti akan terus bertambah. Karena itu, saya butuh kartu dengan limit yang jauh lebih besar.”

Dimas menyampaikan permintaan itu kepada manajer. Manajer tersenyum tipis, lalu membuka komputernya.

“Baik. Dari data yang saya lihat, setelah Anda menyetor dana sebesar itu, status Anda di bank otomatis naik menjadi nasabah prioritas. Itu berarti Anda mendapatkan berbagai fasilitas khusus.”

Manajer mengetik beberapa kali dengan cepat.

“Saya akan memperbarui akun Anda ke kelas Business Priority. Kartu debit barunya bisa Anda ambil di konter setelah ini. Untuk kartu kredit, silakan datang besok limitnya akan saya setel ke Rp200.000.000 per hari, dengan plafon kredit tambahan Rp500.000.000. Kalau Anda perlu transfer dalam jumlah besar, Anda bisa langsung datang ke saya. Biar saya proseskan secara cepat.”

Manajer menyelesaikan semua masalah Dimas dalam waktu singkat.

“Makanya Bapak jadi bos di sini,” kata Dimas sambil tersenyum lebar. “Layanannya memuaskan sekali. Nama saya Dimas Martin.” Ia berdiri dan mengulurkan tangan.

Manajer ikut berdiri, menjabat tangan Dimas, dan berkata, “Johan Setiawan.”

“Senang bertemu, Pak Johan,” kata Dimas sambil memberikan ransel berisi uang. Manajer membukanya, menghitung, lalu memanggil beberapa staf untuk melakukan verifikasi kedua.

Dimas duduk dengan sabar meski sedikit cemas, khawatir ada salah hitung atau ada yang iseng menyelipkan uang. Setelah ransel selesai dihitung, ia kembali ke mobil untuk mengambil dua kantong plastik hitam besar berisi uang tunai.

Sepertinya aku harus beli koper besar… siapa tahu sistem memberi hadiah lebih gila dari ini, pikir Dimas sambil membawa tas ke dalam bank.

Para karyawan tampak terkejut saat melihat isi dua kantong plastik itu. Setelah semua selesai dihitung dan diverifikasi, Dimas menerima kwitansi deposito dan mengecek saldo di buku tabungannya.

Ia kemudian meninggalkan bank. Kartu debit lamanya ditahan sementara karena akan diganti dengan kartu prioritas. Untuk saat ini, ia hanya memegang Rp1.540.000 di sakunya serta mobil dengan tangki bensin penuh.

Lumayan. Sekarang fokus kelas dulu. Kayaknya aku sudah kelewat satu mata kuliah.

Dimas melihat jam di ponselnya saat mengemudi. Pukul 09.45 masih ada sekitar lima belas menit sebelum kelas berikutnya dimulai.

Ia menepi sebentar di parkiran asrama, mengambil buku-buku kuliah yang diperlukan, lalu bergegas menuju kelas. Dengan beban uang tunai yang kini sudah hilang dari pundaknya, ia merasa jauh lebih ringan.

Sekarang ia mengerti kenapa para miliarder tidak pernah bawa uang tunai:

berat, ribet, dan tidak praktis.

1
Dedeh Dian
keren bagus cerita nya.. semangat author ayo lanjut...makasih..
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!