NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Garis Yang Hampir Bersinggungan

Hidup Mira berjalan dalam ritme yang keras dan nyaris tanpa jeda. Pagi hingga sore ia bekerja di swalayan, lalu berlanjut hingga malam hampir menyentuh tengah malam. Dua shift itu menggerus tenaganya perlahan, tetapi Mira tidak pernah mengeluh. Ia tahu, setiap langkah lelahnya adalah bentuk tanggung jawab pada satu-satunya alasan ia bertahan: anaknya.

Setiap pagi sebelum berangkat, Mira selalu memastikan segalanya siap. Nasi hangat sudah ada, air minum terisi, pakaian anaknya rapi. Ia berjongkok, mengelus kepala kecil itu dengan jemari yang kasar karena kerja. Wajah polos itu menatapnya tanpa tahu betapa berat dunia yang sedang dipanggul ibunya.

“Doain ibu ya,” bisik Mira pelan, seperti doa yang ia ucapkan berulang kali.

Anaknya hanya tersenyum kecil, lalu kembali bermain. Senyum itu cukup membuat Mira menegakkan punggung dan melangkah keluar rumah. Anak itu ia titipkan pada Bu Siti, tetangga paruh baya yang baik hati. Tidak banyak tanya, tidak banyak komentar. Mira bersyukur, meski di dalam hatinya selalu ada rasa bersalah yang tak pernah benar-benar pergi.

Di swalayan, Mira dikenal sebagai pekerja yang patuh dan disiplin. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugas tanpa banyak bicara. Tangannya sigap menyusun barang, matanya awas memastikan rak tetap rapi. Saat pelanggan mulai sepi di malam hari, Mira sering berdiri di balik rak, memijat pergelangan tangannya sendiri. Lelah itu nyata, tetapi ia sudah lama berdamai dengannya.

Kadang, saat berdiri sendirian di lorong panjang swalayan, pikirannya melayang. Ia membayangkan masa depan anaknya. Sekolah, seragam, buku, biaya hidup. Semua terasa berat, tetapi ia menelan napas panjang dan kembali bekerja. Menyerah bukan pilihan.

Sementara itu, di tempat lain, Adit duduk di ruang kerjanya yang terang meski malam telah larut. Lampu meja menyala, berkas-berkas tertata rapi, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Tangannya berhenti menulis, pandangannya kosong menatap dinding.

Tanpa ia undang, masa lalu menyelinap masuk.

Empat tahun lalu.

Bayangan seorang perempuan muncul samar. Tangisan tertahan. Tatapan ketakutan. Suara pintu yang tertutup terburu-buru. Adit mengusap wajahnya, seolah ingin menghapus ingatan itu.

“Ya Allah…” gumamnya pelan.

Dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang ingin ia tolak, sesuatu yang selama ini ia simpan jauh di sudut pikirannya. Ia menegakkan tubuh, mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Kalau dari kejadian itu dia hamil… pasti dia datang,” batinnya.

“Pasti menuntut. Pasti mencari.”

Namun waktu berlalu, dan tidak ada siapa pun yang datang. Tidak ada kabar. Tidak ada tuntutan. Keyakinan keliru itu menjadi selimut yang menenangkan sekaligus menipu.

Adit lupa—atau memilih lupa—kalimat dingin yang pernah keluar dari mulutnya sendiri.

Kalau hamil, gugurkan saja.

Pintu ruang kerja terbuka perlahan. Adit tersentak kecil. Naya berdiri di ambang pintu dengan senyum lembut yang selalu sama. Senyum yang selama ini menjadi tempat pulangnya.

“Mas,” panggil Naya pelan, “kok melamun?”

Adit menarik napas, lalu tersenyum tipis. “Enggak, Sayang. Cuma lagi capek.”

Naya melangkah mendekat, merapikan kerah kemeja suaminya dengan gerakan yang penuh perhatian. “Sudah malam. Istirahat dulu.”

Adit mengangguk. Ia berdiri, mematikan lampu, dan mengikuti Naya menuju kamar. Di samping istrinya, Adit terlihat utuh. Tenang. Stabil.

Namun jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang ia kira telah terkubur rapi, padahal hanya tertidur sementara.

Di rumah dinas yang kini mereka tempati, Naya menjalani hari-harinya dengan keteraturan yang rapi. Pagi dimulai dengan salat, menyiapkan sarapan, lalu mencatat pemasukan dari kos-kosan yang ia kelola. Semua ia lakukan tanpa terburu-buru, seolah hidup akhirnya berjalan di jalur yang bisa ia kendalikan.

Ia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penghasilan Adit. Dari hasil kos-kosan, Naya mampu menabung, membayar perawatan, dan menyisihkan dana darurat. Kemandirian itu membuatnya merasa lebih tenang, meski ia tetap menempatkan Adit sebagai kepala keluarga.

Hari itu, Naya bersiap keluar rumah. Beberapa kosannya sudah waktunya ditarik setoran. Ia mengenakan gamis syar’i berwarna lembut, hijab menutup dada, dan membawa tas kecil berisi catatan. Tidak ada perhiasan mencolok. Kesederhanaan tetap menjadi pilihannya meski hidup mereka sudah jauh lebih mapan.

......................

Di sisi lain kota, Ratna duduk di ruang tamunya dengan wajah muram. Kabar tentang keberhasilan Adit sampai ke telinganya bukan sekali dua kali. Jabatan naik. Rumah dinas. Aset bertambah. Semua itu terjadi tanpa dirinya.

“Setelah menikah sama perempuan itu, hidupnya malah naik,” gumam Ratna dengan nada pahit.

Ia mengepalkan tangan. Bukan kebanggaan yang ia rasakan, melainkan perasaan kehilangan kendali. Sejak Adit menjauh, Ratna merasa posisinya sebagai ibu terancam. Ia tidak lagi menjadi pusat keputusan.

“Aku juga berhak,” katanya pelan, seperti meyakinkan diri sendiri.

Ratna menyandarkan tubuh, matanya menyipit penuh perhitungan. Dalam benaknya, Naya muncul sebagai sosok yang mudah dibaca. Terlalu lembut. Terlalu sopan. Terlalu ingin menjaga keharmonisan.

“Kalau aku datang baik-baik,” pikir Ratna, “dia pasti tidak akan menolak.”

Sementara itu, Naya tiba di kosan pertama. Penjaga kos menyambutnya dengan ramah dan menyerahkan amplop setoran. Naya menerimanya dengan senyum tulus, mencatat jumlahnya, lalu mendoakan kebaikan bagi para penghuni.

Kosan kedua pun sama. Semua berjalan lancar. Naya merasa bersyukur. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia menyimpan amplop-amplop itu rapi di dalam tas, lalu memutuskan singgah sebentar ke swalayan sebelum pulang. Beberapa kebutuhan rumah sudah hampir habis.

Di swalayan itulah, garis hidup yang selama ini berjalan terpisah mulai mendekat tanpa disadari siapa pun.

Mira sedang merapikan rak. Kepalanya sedikit tertunduk, wajahnya tampak lelah, tetapi tetap fokus. Ia tidak melihat siapa yang masuk. Pikirannya hanya pada jam kerja yang masih panjang.

Naya melangkah masuk dengan tenang. Ia mendorong keranjang belanja, matanya menyapu lorong demi lorong. Gamisnya bergeser lembut seiring langkahnya.

Mereka berada di lorong yang sama.

Hanya beberapa langkah jaraknya. Hanya satu belokan kecil yang memisahkan dua perempuan dengan luka dan rahasia yang saling terkait.

Namun tak satu pun berhenti.

Mira melangkah ke arah berlawanan. Naya terus berjalan menuju rak kebutuhan rumah tangga.

Tidak ada tatapan. Tidak ada sapaan. Tidak ada tanda.

Saat Naya tiba di rumah, suasana terasa berbeda. Pintu tidak terkunci rapat seperti biasanya. Ia sempat berhenti sejenak sebelum melangkah masuk. Hatinya berdesir tanpa alasan yang jelas.

Begitu masuk ke ruang tamu, langkahnya langsung terhenti.

Ratna duduk di sofa dengan posisi tegak, tas mahal tergeletak di sampingnya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya dingin dan penuh perhitungan. Seolah rumah itu adalah wilayah yang sudah ia kuasai.

“I… Ibu?” suara Naya bergetar tanpa ia sadari. “Ibu ada keperluan apa datang ke sini?”

Ratna menoleh perlahan. Bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.

“Kamu lama,” katanya datar. “Aku sudah menunggu.”

Naya menelan ludah. Ia meletakkan tas belanja di sudut ruangan, berusaha menata napas. “Maaf, Bu. Saya tadi ada urusan.”

Ratna melirik tas itu sekilas. “Urusan?” Ia tertawa kecil. “Sekarang kamu sibuk, ya. Pantas saja hidupmu kelihatan nyaman.”

Naya memilih duduk berhadapan, menjaga jarak. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

Ratna menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai. “Aku dengar kamu sekarang punya banyak kos-kosan. Penghasilanmu lumayan.”

Nada itu bukan bertanya. Lebih seperti memastikan.

Naya mengangguk pelan. “Alhamdulillah. Itu juga untuk masa depan kami.”

“Masa depan?” Ratna tersenyum tipis. “Anak saja belum ada, bicara masa depan.”

Kalimat itu jatuh seperti batu. Naya merasakan dadanya mengencang, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap mertuanya dengan sopan.

“Semua ada waktunya, Bu.”

Ratna mendengus. “Kamu selalu punya jawaban yang terdengar baik.” Ia lalu condong ke depan. “Aku ke sini bukan untuk ribut. Aku hanya ingin minta bantuan.”

Naya terdiam.

“Sebagai menantu,” lanjut Ratna, “harusnya kamu tahu diri. Adit sukses juga karena keluarganya. Sekarang dia sudah mapan. Aku butuh bagian.”

“Bagian… bagaimana, Bu?” tanya Naya hati-hati.

Ratna tersenyum. “Uang. Tidak banyak. Anggap saja bakti.”

Naya menunduk cukup lama. Tangannya menggenggam ujung gamisnya. Di dalam dirinya, ada pergulatan yang tidak terlihat. Ia tidak ingin memperpanjang konflik. Namun ia juga tidak ingin hidup mereka terus diintervensi.

“Maaf, Bu,” ucap Naya akhirnya, suaranya lembut tetapi jelas. “Semua yang kami punya adalah hasil kerja kami berdua. Saya tidak bisa memutuskan sendiri.”

Ratna menatapnya tajam. “Jadi kamu menolak?”

“Saya tidak menolak,” jawab Naya tenang. “Tapi saya tidak bisa memberi tanpa sepengetahuan Mas Adit.”

Keheningan menggantung di udara. Ratna bangkit perlahan. Senyumnya kembali muncul, lebih tipis dari sebelumnya.

“Kamu pintar sekarang,” katanya dingin. “Dulu waktu masih gadis desa, kamu tidak seperti ini.”

Naya berdiri juga, tetap menjaga adabnya. “Saya hanya berusaha adil, Bu.”

Ratna mengambil tasnya. “Baik. Kita lihat saja nanti.”

Ia melangkah keluar tanpa pamit panjang. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tetapi dampaknya terasa menghantam hati Naya.

Naya berdiri lama di ruang tamu. Tubuhnya lemas. Ia duduk perlahan, menutup wajah dengan kedua tangan. Bukan menangis, hanya menarik napas panjang berulang kali.

Ia tahu, kunjungan ini bukan akhir.

Di malam hari, Adit pulang dan langsung menyadari perubahan di wajah istrinya. “Kamu kenapa, Nay?”

Naya menatap suaminya. Ada keinginan untuk bercerita, tetapi ia ragu. Ia tidak ingin Adit kembali terluka karena ibunya.

“Tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya. “Cuma capek.”

Adit memeluknya tanpa banyak tanya. Dan Naya membiarkan dirinya bersandar, meski ada beban yang belum ia ungkapkan.

Di tempat lain, Ratna duduk di mobilnya dengan wajah kaku. Penolakan halus Naya membuatnya semakin yakin—perempuan itu bukan lagi gadis desa yang bisa ia tekan dengan mudah.

“Kalau begitu,” gumam Ratna, “aku harus cari jalan lain.”

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Mira menjemput anaknya setelah shift panjang. Ia menggendong tubuh kecil itu erat-erat, tidak tahu bahwa hari ini, hidupnya baru saja bersinggungan sangat dekat dengan perempuan yang menjadi bagian dari masa depan anaknya.

Semua masih berjalan seperti biasa.

Selamat malam selamat membaca

Like komennya dong terimakasih

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!