Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 5.
Viera datang ke rumah sakit sendirian, dia tak meminta ditemani Damian. Ia mengenakan kemeja longgar warna krem dan celana hitam sederhana. Rambutnya diikat rendah, wajahnya pucat tapi sorot matanya tidak lagi ragu.
Ruang tunggu itu sunyi, hanya suara pendingin ruangan dan langkah perawat yang lalu-lalang. Viera duduk di sudut, kedua tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya terlalu erat. Seolah jika ia melepaskannya, dirinya akan runtuh.
Tubuhnya masih lelah, hatinya masih berantakan. Namun, langkahnya hari ini mantap.
Ketika dokter memanggil namanya, Viera berdiri dengan napas teratur. Ia duduk di hadapan meja putih itu, menatap wajah dokter perempuan paruh baya yang tersenyum hangat sambil membawa map hasil pemeriksaan.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Viera pelan, nyaris tanpa harapan.
Dokter membuka map itu, lalu mendongak. Senyumnya melebar, jenis senyum yang biasanya disambut tangis bahagia.
“Selamat, programnya berhasil.”
Viera terdiam.
“Tes kehamilan Anda positif, Anda sudah mengandung.”
Dua garis.
Kata-kata itu jatuh perlahan ke dalam kepala Viera, menggema… lalu berhenti. Anehnya, tidak ada ledakan bahagia seperti yang selama ini ia bayangkan. Tidak ada tangan gemetar karena haru, dan tidak ada air mata.
Yang ada hanyalah keheningan panjang.
Ia hamil, di saat pernikahannya runtuh. Di saat kepercayaannya mati perlahan, disaat ia akhirnya berhenti berharap pada seorang suami.
“Nyonya Viera?” panggil dokter hati-hati.
Viera tersadar, lalu mengangguk kecil. “Terima kasih, Dok.”
Keluar dari rumah sakit, ia duduk di dalam mobilnya cukup lama. Tangannya terangkat, menyentuh perutnya dengan gerakan halus.
Masih rata, dan belum ada pergerakan.
“Nak, meski pernikahan Mama hancur... Mama akan melindungimu.” Bisiknya lirih.
Malam itu, Viera memutuskan untuk memberitahu Damian.
Damian sedang duduk di sofa ruang keluarga, menatap layar ponselnya ketika Viera berdiri di hadapannya.
“Aku hamil.”
Damian mendongak seketika, ponsel itu terlepas dari tangannya.
Wajahnya berubah kaget, campuran tak percaya dan lega.
“Benarkah?” suara pria itu bergetar. “Kamu… kamu yakin?”
Viera mengangguk pelan. “Tadi siang, aku dari rumah sakit.”
Damian sontak berdiri, ia melangkah mendekat. Matanya berkaca-kaca, senyum tipis muncul seolah ini jawaban dari semua harapan yang selama ini ia panjatkan.
“Ini… ini kesempatan kita, Viera.” Katanya terbata. “Kesempatan memperbaiki semuanya, kita bisa mulai lagi dari awal.”
Viera menatap tak berkedip suaminya dengan dalam, seperti sedang menimbang semua luka yang pernah ia telan sendirian.
“Tidak,” kata Viera akhirnya. Suaranya pelan, tapi tegas. “Ini bukan tentang kita lagi.”
Damian terdiam. “Apa maksudmu?”
Viera menatap Damian dengan tekad kuat. “Sekarang, ini hanya tentang aku... dan anakku.”
Kalimat itu menghantam Damian lebih keras dari sebuah pukulan.
“Viera—”
“Kehamilan ini bukan lah alasan untuk melupakan pengkhianatan mu,” potong Viera. “Dan juga, bukan sesuatu yang bisa menghapus luka yang sudah kau torehkan begitu dalam padaku... Damian.”
Damian refleks ingin memeluk Viera, tangannya terulur. Namun, Viera mundur satu langkah. Jarak kecil itu terasa seperti jurang diantara mereka.
Melihat keteguhan sikap Viera, Damian akhirnya mengerti satu hal. Anak yang sedang tumbuh di rahim perempuan itu bukanlah jembatan, bukan pula alasan untuk tetap bertahan. Anak itu tidak akan menjadi pengikat di antara mereka, karena apa yang telah retak sejak awal, tak pernah benar-benar bisa disatukan kembali.
Sejak saat itu pula, Viera membuat keputusan akan bercerai secepatnya. Ia berkonsultasi dengan pengacara, memisahkan keuangannya. Ia mengumpulkan dan memindahkan dokumen penting ke tempat aman.
Dalam prosesnya, Viera tetap berada di rumah tapi kehadirannya berbeda.
Suatu malam, Damian tidak tahan lagi.
“Kau benar-benar berbeda, kau menjauh dariku,” suara pria itu rendah terdengar frustasi.
Viera menoleh. “Tidak, aku masih sama. Sejak lama... kau lah yang berubah. Damian, bukan aku yang meninggalkanmu. Tapi kau, yang lebih dulu meninggalkanku.”
Jawaban itu membuat Damian terdiam, karena ia tahu, Viera tidak lagi berharap ia berubah menjadi laki-laki seperti dulu.
Suatu hari, ponsel Viera bergetar.
Satu pesan masuk.
Calista.
[Kita perlu bicara.]
Viera menatap layar itu, ia hanya tersenyum tipis. Dia begitu tenang, dingin, dan penuh kendali.
[Tidak, tak ada yang harus dibicarakan diantara kita.]
Setelah membalas pesan Calista, dia menekan tombol block tanpa ragu.
Viera berdiri di depan cermin kamar, ia menatap wajahnya sendiri. Masih ada bayangan lelah, masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Tapi matanya tidak lagi kosong.
“Mulai sekarang,” katanya pada pantulannya, “Aku tidak akan pernah lagi melihat masa lalu, karena aku pantas bahagia.”
Di luar kamar, Damian duduk sendirian di sofa. Ia menatap ke arah pintu kamar, kini perempuan yang dulu ia abaikan telah membalikkan keadaan. Viera tak lagi memperdulikan dirinya, dan tak lagi ada untuknya.
“Viera, apa aku benar-benar sudah kehilanganmu?“ lirih pria itu dalam kegelapan, suaranya sarat penyesalan.
Hari itu hujan turun, Viera datang ke kantor pengacaranya pukul sembilan pagi tepat. Gaun midi abu-abu membingkai tubuhnya yang kini sedikit berubah, sepatu datar menggantikan hak tinggi yang dulu sering ia pakai demi terlihat elegan bagi orang lain.
Kini ada kehidupan kecil yang bertumbuh di dalam rahimnya. Viera mulai belajar melindungi anaknya, bukan dengan hal besar terlebih dahulu, melainkan dari hal-hal sederhana. Ia memilih pakaian yang lebih longgar, dan sepatu yang lebih nyaman. Dia memastikan tubuhnya aman, karena dari sanalah perlindungan pertama seorang ibu bermula.
“Apakah Anda yakin ingin melanjutkan gugatan ini, Nyonya Viera?” tanya pengacara itu terdengar profesional, tanpa nada menghakimi.
Viera mengangguk. “Saya sudah sepenuhnya yakin.”
Ia menandatangani berkas perceraian tanpa tangan gemetar. Tinta hitam mengalir mulus, seperti akhir yang sudah lama tertunda.
Tak berapa lama, Damian menerima surat itu di kantornya. Sebuah amplop putih, dengan nama lengkapnya tertulis rapi. Ia membukanya dengan perasaan tak menentu, lalu dunia seolah mengecil di sekelilingnya.
Gugatan cerai.