Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Baru
Saat malam berganti pagi, sinar matahari perlahan menyinari kamar mewah itu. Zafira membuka matanya perlahan, sempat memejamkannya kembali sebelum benar-benar terjaga.
Ia mencoba merenggangkan tubuhnya, namun sebuah perasaan asing membuatnya terhenti satu lengan besar melingkar di perutnya, hangat dan erat, membuat ingatannya seketika melayang pada kejadian semalam.
Zafira menoleh ke samping, wajahnya begitu dekat dengan wajah Atharv yang masih terlelap, napasnya teratur dan tenang. Jantung
Zafira berdebar sangat kencang hingga terasa menyakitkan, ia buru-buru memalingkan wajah lalu melirik ke bawah selimut, matanya melebar saat menyadari kenyataan yang tak bisa disangkal mereka benar-benar telah melakukannya. Napasnya tercekat, tubuhnya menegang, hingga tiba-tiba suara berat itu terdengar di dekat telinganya.
“Ada apa?” tanya Atharv pelan, matanya mulai terbuka, membuat Zafira terkejut dan semakin gugup, wajahnya memerah saat ia tak tahu harus menjawab apa di pagi yang terasa begitu berbeda itu.
Atharv membuka matanya sepenuhnya, menatap wajah Zafira yang tampak gelisah di pelukannya.
“Kau terlihat tegang,” ucapnya pelan, nadanya lembut namun penuh perhatian.
“T-tidak apa-apa,” jawab Zafira gugup, suaranya lirih sambil berusaha tersenyum, meski matanya masih menghindari tatapan Atharv.
Atharv tersenyum kecil, lalu menarik Zafira lebih dekat ke dadanya, lengannya mengeratkan pelukan seolah tak ingin melepaskannya.
“Kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku,” katanya lembut. “Ini pagi yang baru dan kita masih di sini, bersama.”
Zafira terdiam sejenak, mendengar detak jantung Atharv yang tenang.
“Aku hanya masih menyesuaikan diri,” gumamnya pelan.
“Aku juga,” jawab Atharv jujur, dagunya bertumpu ringan di atas kepala Zafira. “Tapi jika kau merasa ragu atau takut, katakan saja. Aku ingin kita berjalan pelan-pelan.”
Zafira menarik napas panjang, lalu mengangguk kecil dalam pelukan itu.
“Terima kasih, karena tidak memaksaku,” ucapnya lirih.
Atharv mengusap punggung Zafira dengan lembut. “Aku ingin kau merasa aman. Pagi ini dan seterusnya.”
Setiap usapan lembut di punggung Zafira membuat tubuhnya memberi respons kecil yang tak bisa ia sembunyikan.
Ada rasa hangat yang menjalar, asing namun tidak membuatnya ingin menjauh justru menenangkan. Menyadari perasaannya sendiri, Zafira buru-buru mengalihkan pikiran.
“K-kapan kita akan bangun?” tanyanya pelan, berusaha terdengar biasa saja meski suaranya sedikit bergetar.
Atharv tertawa kecil, nadanya rendah dan hangat.
“Kalau kau mau sekarang, kita bisa bangun. Tapi kalau belum, aku tidak keberatan tinggal sebentar,” jawabnya sambil mengendurkan pelukan sedikit, memberi Zafira ruang.
Zafira mengangkat wajahnya, menatap Atharv singkat lalu kembali menunduk.
“Aku hanya takut terlambat dan jadi bahan pertanyaan,” gumamnya.
“Tenang,” kata Atharv lembut. “Ibu belum akan memanggil sepagi ini. Dan kalau pun iya, aku yang akan menjelaskan.”
Zafira menarik napas lega, lalu mengangguk kecil.
“Baik, sebentar saja,” katanya, hampir berbisik.
Atharv tersenyum, mengusap punggung Zafira sekali lagi, kali ini lebih singkat dan menenangkan.
“Sebentar saja,” ulangnya pelan. “Lalu kita mulai hari ini bersama.”
Usapan itu berubah lebih terasa, membuat Zafira menahan napas. Ada sensasi asing yang berdesir pelan, membuat pikirannya sejenak kosong, meski ia berusaha tetap sadar dan memahami perasaannya sendiri.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Atharv tiba-tiba membalikkan posisi tubuhnya, menahan diri di atasnya cukup dekat untuk membuat jantung
Zafira berpacu, namun masih menjaga jarak.
“A-apa yang kau lakukan, Arthav?” tanyanya cepat, suaranya bergetar karena terkejut, kedua tangannya refleks mencengkeram seprai.
Atharv menatapnya, matanya penuh tanya dan kendali diri.
“Aku berhenti kalau kau ingin,” katanya pelan. Lalu, dengan nada lebih rendah, ia menambahkan, “Jika aku ingin lebih dekat lagi apakah kau mengizinkannya?”
Zafira menelan ludah, menatap balik dengan napas yang belum sepenuhnya tenang.
“Aku, aku masih belajar memahami perasaanku,” jawabnya jujur. “Tolong, jangan terburu-buru.”
Atharv mengangguk, perlahan mundur sedikit agar Zafira bisa bernapas lega.
“Baik,” ucapnya lembut. “Kita lakukan sesuai ritmemu. Aku menunggumu tanpa paksaan.”
Zafira menghembuskan napas panjang, ketegangan di bahunya mengendur.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Atharv tersenyum kecil, menyingkirkan rambut yang jatuh di dahi Zafira dengan sentuhan singkat.
“Pagi ini milik kita. Kita mulai pelan-pelan.”
Satu ciuman mendarat di bibir Zafira—singkat, lembut, seolah meminta izin lebih dulu. Zafira membeku sesaat, matanya terbelalak, napasnya tertahan.
“A-Arthav” panggilnya lirih, suaranya bergetar, bukan menolak tapi terkejut oleh keberanian yang tiba-tiba itu.
Atharv menarik wajahnya sedikit, menatap Zafira dengan sorot mata penuh tanya.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku hanya ingin dekat. Katakan kalau kau tidak nyaman.”
Zafira menelan ludah, jantungnya berdetak cepat. Ia menggeleng kecil.
“Aku hanya kaget,” jawabnya jujur. “Aku belum terbiasa.”
Atharv menghela napas lega, lalu tersenyum tipis.
“Baik. Kita pelan-pelan,” ucapnya, ibu jarinya mengusap ringan pipi Zafira. “Aku ingin setiap hal yang terjadi di antara kita kau setujui.”
Zafira menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
“Kalau begitu, jangan tiba-tiba,” katanya lirih, hampir tersenyum.
Atharv terkekeh pelan.
“Janji,” ujarnya. “Aku akan menunggu sinyal darimu.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, hangat dan canggung sekaligus. Zafira menyandarkan kepalanya ke bantal, menatap langit-langit, sementara Atharv tetap di dekatnya tidak mendesak, tidak menjauh memberi ruang, namun tetap ada.
Zafira memalingkan wajahnya perlahan, napasnya sedikit berubah. Atharv langsung menyadari gerakan kecil itu, dahinya mengernyit tipis.
“Kenapa kau memalingkan wajahmu, hm?” tanyanya pelan, suaranya rendah dan dekat.
Zafira menelan ludah, pipinya memerah.
“A-Aku, aku merasakannya,” jawabnya lirih, nyaris berbisik. “Tubuhmu membuatku sadar kalau ini benar-benar nyata.”
Atharv terdiam sesaat, lalu menghela napas pendek. Tangannya mengendur sedikit, namun ia tidak menjauh.
“Itu wajar,” katanya pelan, jujur. “Kau istriku, Zafira. Dan aku tidak akan berpura-pura tidak merasakannya.”
Zafira memejamkan mata sebentar, jantungnya berdebar.
“Aku hanya belum terbiasa,” ucapnya jujur. “Tapi, aku tidak menolakmu.”
Sorot mata Atharv melembut. Ia menunduk, dahi mereka hampir bersentuhan.
“Katakan saja kalau kau ingin aku berhenti atau kalau kau ingin aku tetap di sini,” katanya rendah.
Zafira membuka matanya, menatap Atharv ragu tapi mantap.
“T-tetap di sini,” ucapnya lirih. “Hanya jangan terburu-buru.”
Atharv tersenyum kecil, penuh kendali.
“Baik,” jawabnya pelan. “Aku akan mengikuti ritmemu. Tapi ketahuilah aku menginginkanmu.”
Zafira tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya perlahan menyentuh lengan Atharv, memberi jawaban yang cukup jelas.
Atharv menunduk, mencium keningnya lama, lalu bibirnya turun dengan lebih yakin ciuman yang tidak tergesa, penuh rasa, dan sepenuhnya sadar.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini sarat dengan keintiman yang nyata bukan lagi rasa canggung, melainkan penerimaan perlahan antara dua orang yang akhirnya belajar menjadi suami dan istri.