Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 SWMU
Lampu gantung kristal di aula utama kediaman Mahendra memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Nadia, setiap kilau itu terasa seperti mata-mata yang mengawasi gerak-geriknya. Pagi ini, mansion itu terasa berbeda. Sunyi yang biasanya menenangkan kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam, seolah-olah dinding-dinding marmer itu menyimpan jeritan yang tertahan.
Nadia duduk di meja makan panjang, menyesap teh camomile yang sudah mulai mendingin. Di hadapannya, Bramantya sedang membaca koran bisnis digital di tabletnya, tampak tenang seolah kejadian di gudang pelabuhan semalam hanyalah mimpi buruk yang tidak berarti.
"Kau tidak menyentuh sarapanmu, Nadia," ucap Bramantya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Chef sudah menyiapkan omelette truffle kesukaanmu."
Nadia meletakkan cangkirnya dengan gerakan perlahan, memastikan tidak ada denting keramik yang terdengar gemetar. "Aku hanya tidak merasa lapar, Bram. Efek udara laut semalam sepertinya masih tertinggal di paru-paru-ku."
Bramantya menurunkan tabletnya, menatap Nadia dengan tatapan yang sulit dibaca. "Udara laut memang keras, tapi ia juga memurnikan. Anggap saja semalam adalah proses pembersihan. Sekarang, kita mulai lembaran baru."
Ia menjentikkan jarinya ke arah seorang pelayan yang berdiri di sudut ruangan. "Bawa kemari."
Pelayan itu mendekat dengan baki perak berisi sebuah kartu kecil berwarna hitam dengan chip emas di tengahnya. Bramantya mengambil kartu itu dan meletakkannya di samping piring Nadia.
"Itu kunci akses digital yang kau minta. Aku sudah menginstruksikan tim IT untuk memberimu otoritas pada level 'Direktur Konsultan'. Kau bisa melihat sejarah akuisisi, laporan audit sepuluh tahun terakhir, hingga arsip filantropi," ucap Bramantya dengan senyum tipis yang menakutkan.
Nadia menyentuh kartu itu. Dingin. "Terima kasih, Bram. Aku tidak ingin hanya menjadi hiasan di lenganmu saat gala dinner nanti malam. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya aku wakili."
"Ambisi yang bagus," puji Bramantya. "Tapi ingat satu hal, Nadia. Pengetahuan adalah pedang bermata dua. Jika kau tidak tahu cara memegangnya, kau bisa melukai dirimu sendiri."
"Aku akan belajar memegangnya dengan benar," balas Nadia, menatap lurus ke mata suaminya.
Setelah Bramantya berangkat ke kantor, Nadia segera menuju ruang kerja pribadi suaminya yang terletak di lantai dua. Ruangan itu biasanya terlarang, namun dengan kartu akses di tangannya, pintu kayu jati yang berat itu terbuka dengan desisan pelan sistem elektronik.
Bau kayu cendana dan cerutu mahal menyeruak. Nadia mengunci pintu dari dalam, jantungnya berdegup kencang. Ia teringat pesan dari 'Y' semalam. Kunci brankas yang sesungguhnya ada di balik lukisan ibunya di ruang kerja.
Pandangan Nadia tertuju pada sebuah lukisan minyak berukuran besar yang menggambarkan sosok wanita cantik dengan gaun bergaya tahun 70-an. Itu adalah mendiang ibu Bramantya, satu-satunya orang yang kabarnya pernah dicintai pria itu dengan tulus.
Nadia melangkah mendekat. Ia menyentuh bingkai lukisan yang berukir rumit. Dengan hati-hati, ia mencoba meraba sisi-sisinya. Saat tangannya mencapai sudut kanan bawah, ia merasakan sebuah tonjolan kecil. Begitu ditekan, lukisan itu bergeser secara otomatis, menyingkap sebuah panel baja dengan pemindai sidik jari dan kode angka.
"Brengsek," bisik Nadia. Ia tidak punya sidik jari Bramantya.
Namun, ia teringat sesuatu. Bramantya adalah pria yang sangat terobsesi dengan simbolisme. Ia mencoba memasukkan tanggal kematian Maya—tidak berhasil. Ia mencoba tanggal pernikahan mereka—gagal.
Tiba-tiba, ia teringat kartu akses hitam yang diberikan Bramantya tadi pagi. Apakah Bramantya sengaja memberikannya agar ia bisa sampai di titik ini sebagai ujian? Atau apakah kartu itu sendiri adalah kuncinya?
Nadia menempelkan kartu hitam itu ke sensor di bawah panel angka. Beep. Panel itu menyala hijau dan meminta input suara.
"Siapa yang memegang kendali?" suara mesin bertanya datar.
Nadia teringat kata-kata Bramantya di gudang. "Realitas," ucap Nadia dengan suara bergetar.
Klik.
Pintu kecil baja itu terbuka. Di dalamnya tidak ada tumpukan uang atau batangan emas. Hanya ada sebuah buku harian tua bersampul kulit hitam dan beberapa flashdisk yang diberi label tahun. Nadia mengambil buku harian itu dan membukanya secara acak.
Matanya terbelalak melihat tulisan tangan di dalamnya. Itu bukan tulisan Bramantya. Itu tulisan Maya.
"Dia melihatku. Dia tahu aku melihat apa yang dilakukan Adrian. Tapi Bramantya tidak menghentikannya. Dia justru menyuruhku diam dan membantunya mengarahkan aliran dana itu ke yayasan. Aku takut. Rumah ini bukan tempat tinggal, ini adalah kuburan bagi mereka yang punya nurani."
Nadia menutup buku itu dengan cepat saat mendengar suara langkah kaki di koridor luar. Ia segera mengembalikan lukisan ke posisi semula dan duduk di kursi kerja Bramantya, berpura-pura sedang mempelajari monitor komputer.
Pintu terbuka. Itu adalah Bi Inah, membawa nampan berisi jus jeruk.
"Non Nadia? Saya kira Tuan Besar belum berangkat," ucap Bi Inah dengan wajah cemas.
Nadia tersenyum menenangkan, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. "Tuan sudah berangkat, Bi. Aku hanya ingin mulai belajar bekerja. Bi, apa Bi tahu tentang lukisan di sana?" Nadia menunjuk lukisan ibu Bramantya.
Bi Inah menatap lukisan itu dengan pandangan sedih. "Itu Nyonya Besar, Non. Beliau meninggal saat Tuan Bramantya masih kecil. Sejak saat itu, Tuan Besar berubah menjadi anak yang sangat tertutup. Hanya Nona Maya dulu yang berani mendekati ruangan ini selain Tuan."
Nadia mencondongkan tubuhnya. "Maya sering ke sini, Bi?"
Bi Inah mendekat dan berbisik pelan, "Nona Maya pernah bertengkar hebat dengan Tuan Adrian di depan pintu ini, Non. Saya tidak sengaja mendengar Nona Maya mengancam akan membongkar sesuatu tentang 'dana abadi'. Setelah itu... Nona Maya menghilang."
Nadia merasa tenggorokannya kering. "Terima kasih, Bi. Tolong jangan bilang siapa-siapa kalau aku bertanya soal ini."
"Saya mengerti, Non. Saya di pihak Non Nadia," bisik Bi Inah sebelum pergi.
Malam harinya, Gala Dinner Mahendra Foundation berlangsung dengan kemegahan yang memuakkan. Nadia berdiri di samping Bramantya, mengenakan gaun merah darah yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Setiap kali seseorang menyapanya, Nadia memberikan senyuman terbaiknya—senyuman yang ia asah di depan cermin selama berjam-jam.
"Kau tampak luar biasa malam ini, Nadia," bisik Bramantya di telinganya sambil menggandeng pinggangnya dengan erat. "Semua orang melihat kita sebagai pasangan paling harmonis di negara ini."
"Bukankah itu yang kau bayar, Bram?" sahut Nadia dengan nada manis yang mengandung racun.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal mendekati mereka. Dia adalah Komisaris Wilson, salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan.
"Bramantya! Luar biasa acaramu malam ini. Tapi sayang sekali Adrian tidak bisa hadir. Kudengar dia sedang di Singapura untuk urusan mendesak?" tanya Wilson dengan nada menyelidik.
Bramantya tertawa elegan. "Benar, Komisaris. Ada ekspansi kecil yang membutuhkan perhatian pribadinya. Anda tahu sendiri, Adrian sangat berdedikasi."
Nadia merasa mual mendengar kebohongan itu. Saat mereka sedang berbincang, seorang pelayan pria mendekati Nadia dan menawarkan segelas sampanye. Saat Nadia mengambil gelas itu, pelayan tersebut menyelipkan sebuah kertas kecil ke telapak tangan Nadia.
"Selamat menikmati malam Anda, Nyonya," ucap pelayan itu sebelum menghilang di kerumunan.
Nadia segera izin ke toilet untuk membaca pesan itu. Di dalam bilik yang mewah, ia membuka kertas kecil tersebut.
“Dokumen di flashdisk 2022 adalah kunci pembunuhan Maya. Bramantya tidak membunuhnya sendiri, tapi dia membiarkan Adrian melakukannya, lalu dia merekamnya untuk memeras adiknya selamanya. - Y.”
Nadia meremas kertas itu dan membuangnya ke toilet. 'Y'—Yudhistira. Bagaimana dia bisa mengirim pesan di tengah pengawasan ketat seperti ini? Apakah dia benar-benar berada di rehabilitasi, atau dia punya kaki tangan di dalam sini?
Saat Nadia keluar dari toilet, ia berpapasan dengan Bramantya yang sedang menunggu di depan pintu.
"Kau lama sekali, Sayang. Ada masalah?" tanya Bramantya, matanya menatap tajam ke arah tas kecil Nadia.
"Hanya memperbaiki riasan, Bram. Kau tahu sendiri wanita butuh waktu lama untuk tetap terlihat sempurna bagimu," ucap Nadia sambil berjalan melewati suaminya.
Namun Bramantya mencekal pergelangan tangannya. "Nadia, jangan pernah berpikir kau bisa menipuku. Aku tahu kau mencari sesuatu di ruang kerjaku tadi siang. Aku melihat log kartu aksesmu."
Nadia membeku. Ia lupa bahwa setiap pergerakan kartu itu tercatat. Namun, ia tidak boleh mundur sekarang.
"Tentu saja aku mencari sesuatu, Bram," sahut Nadia berani. "Aku mencari bukti bahwa kau benar-benar hebat seperti yang dunia katakan. Dan aku menemukannya. Laporan keuangan tahun lalu menunjukkan kau berhasil menutupi kerugian di divisi properti dengan sangat cerdik. Aku terkesan."
Bramantya melepaskan cengkeramannya perlahan. Ketegangan di wajahnya sedikit mengendur. "Hanya itu?"
"Hanya itu. Apa kau mengharapkan aku menemukan mayat di balik rak bukumu?" canda Nadia dengan tawa kering.
Bramantya menatapnya sesaat, lalu tersenyum tipis. "Mungkin suatu hari nanti aku akan menunjukkannya padamu. Ayo, dansa dimulai."
Di lantai dansa, di bawah iringan musik klasik yang mendayu, Nadia berdansa dengan monster itu. Ia bersandar di dada Bramantya, pura-pura menikmati momen itu, sementara otaknya berputar cepat.
Ia harus mendapatkan flashdisk tahun 2022 itu. Dan ia harus melakukannya sebelum Bramantya menyadari bahwa istrinya bukan lagi pion, melainkan ancaman terbesar yang pernah masuk ke dalam hidupnya.
"Bram," bisik Nadia di tengah dansa.
"Ya?"
"Setelah acara ini, aku ingin kita bicara soal masa depan yayasan. Aku punya beberapa ide tentang transparansi dana."
Bramantya menghentikan langkah dansanya sejenak, menatap Nadia dengan pandangan yang sulit diartikan. "Transparansi adalah kata yang berbahaya di rumah ini, Nadia. Tapi jika itu membuatmu tetap di sampingku, kita akan bicarakan itu besok pagi."