NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Panggilan wawancara di grup Adiguna

Panggilan wawancara di grup Adiguna yang terpampang di papan pengumuman digital gedung itu seolah menjadi satu-satunya jalan masuk baginya untuk merebut kembali keadilan. Anindira berdiri mematung di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan terburu-buru. Ia menatap nanar ke arah layar raksasa yang menampilkan kebutuhan mendesak untuk posisi asisten pribadi pimpinan perusahaan.

Arkan menarik ujung baju ibunya dengan rasa penasaran yang sangat besar melihat gedung yang menjulang tinggi tersebut. Ia merasa atmosfer di tempat ini sangat berbeda dengan kedai mereka yang tenang di pinggiran pantai. Anindira segera menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh sangat kencang.

"Ibu, apakah kita akan masuk ke dalam istana kaca itu sekarang?" tanya Arkan sambil menunjuk ke arah pintu putar yang dijaga ketat oleh petugas keamanan.

"Belum sekarang, sayang, kita harus mencari tempat untuk menitipkanmu sejenak kepada Bibi Mirna," jawab Anindira dengan nada suara yang penuh dengan pertimbangan.

Bibi Mirna adalah satu-satunya kerabat jauh yang masih mau berhubungan dengan Anindira setelah pengusiran besar-besaran lima tahun yang lalu. Anindira tahu bahwa membawa Arkan ke dalam gedung itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam mulut singa yang sedang lapar. Ia harus memastikan keamanan putranya sebelum memulai langkah nekat untuk menyusup ke dalam kekuasaan ayahnya.

Setelah menitipkan Arkan di sebuah rumah petak yang cukup aman, Anindira mengganti pakaiannya dengan kemeja putih yang masih nampak sangat rapi. Ia memoles sedikit riasan pada wajahnya agar tidak terlihat terlalu pucat akibat kurang tidur selama perjalanan. Cermin kecil di tangannya memantulkan sosok wanita yang kini jauh lebih dewasa dan penuh dengan tekad baja.

"Aku bukan lagi gadis kecil yang bisa kalian injak-injak seperti dulu kala," gumam Anindira sambil merapikan kerah bajunya yang sedikit miring.

Langkah kaki Anindira bergema di atas lantai marmer lobi gedung grup Adiguna yang sangat megah dan sangat dingin. Ia berjalan menuju meja pendaftaran dengan kepala tegak, meskipun batinnya berteriak untuk segera lari sejauh mungkin dari tempat ini. Petugas resepsionis menatapnya dengan pandangan yang cukup ramah namun tetap memiliki jarak profesional yang sangat kaku.

"Selamat siang, saya datang untuk memenuhi panggilan wawancara posisi asisten pribadi yang diumumkan pagi ini," ujar Anindira dengan suara yang sangat stabil.

Petugas itu memeriksa daftar nama di komputer sebelum akhirnya memberikan sebuah kartu akses sementara kepada Anindira yang sedang memegang erat tasnya. Ia diarahkan menuju lantai tiga puluh, tempat di mana ruangan pimpinan tertinggi berada dengan pengamanan yang jauh lebih ketat. Anindira merasakan perutnya mual saat lift mulai meluncur naik dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Pintu lift terbuka dan menyingkap sebuah lorong panjang yang dilapisi oleh karpet merah yang sangat tebal dan sangat sunyi. Di ujung lorong, beberapa kandidat lain sudah duduk mengantre dengan pakaian yang jauh lebih mewah dan bermerek dibandingkan milik Anindira. Mereka saling melempar tatapan meremehkan seolah sedang menilai lawan yang dianggap tidak sebanding dengan kelas sosial mereka.

"Posisinya hanya satu, jadi sebaiknya Anda yang berpakaian biasa saja ini segera pulang sebelum dipermalukan," bisik seorang wanita berambut-pirang dengan nada mengejek.

Anindira tidak membalas ucapan itu dan lebih memilih untuk duduk di kursi paling ujung sambil menyiapkan berkas-berkas palsunya. Ia telah mengubah namanya menjadi Dira agar tidak mudah dikenali oleh sistem keamanan data milik ayahnya yang sangat canggih. Keheningan lorong itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah sepatu pantofel yang sangat keras dan penuh dengan otoritas.

Seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap berjalan melewati barisan kandidat tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka. Aura dingin yang terpancar dari tubuh pria itu membuat suhu di dalam ruangan seolah turun beberapa derajat secara mendadak. Anindira merasakan sensasi aneh yang menjalar di punggungnya saat pria itu berhenti sejenak tepat di depan kursi tempat ia duduk.

"Panggil kandidat berikutnya masuk ke dalam ruangan saya sekarang juga!" perintah pria itu kepada sekretarisnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Anindira berdiri dengan jantung yang seolah ingin melompat keluar karena ia menyadari bahwa giliran pertamanya sudah tiba. Ia masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian. Pria itu duduk di balik meja kayu jati yang sangat besar sambil membaca dokumen tanpa mempersilakan Anindira untuk duduk terlebih dahulu.

Ketegangan di dalam ruangan itu semakin mencekam saat pria itu perlahan-lahan mengangkat wajahnya untuk menatap Anindira secara langsung. Mata tajam itu seolah mampu menembus jauh ke dalam jiwa Anindira dan membongkar semua rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Anindira mematung saat menyadari bahwa pria di depannya bukanlah ayahnya, melainkan sosok yang jauh lebih berbahaya bagi hatinya.

"Nama Anda Dira, namun mengapa wajah Anda nampak begitu akrab di dalam ingatan saya yang sangat buruk ini?" tanya pria itu dengan suara berat yang menggetarkan meja kerja.

Anindira meremas ujung roknya di bawah meja sambil mencoba mempertahankan ekspresi wajah yang datar dan sangat tenang. Ia tahu bahwa satu kesalahan kecil dalam berbicara akan mengakhiri semua rencananya untuk menyelamatkan masa depan Arkan dari cengkeraman mereka. Berpapasan di lobi perusahaan tadi hanyalah awal, karena kini ia terjebak di dalam ruangan yang sama dengan pria yang memiliki rahasia malam berdarah itu.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!