NovelToon NovelToon
MEMPERBAIKI WALAU SUDAH TERLAMBAT

MEMPERBAIKI WALAU SUDAH TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ongoing

Feng Niu dan Ji Chen menikah dalam pernikahan tanpa cinta. Di balik kemewahan dan senyum palsu, mereka menghadapi konflik, pengkhianatan, dan luka yang tak terucapkan. Kehadiran anak mereka, Xiao Fan, semakin memperumit hubungan yang penuh ketegangan.

Saat Feng Niu tergoda oleh pria lain dan Ji Chen diam-diam menanggung sakit hatinya, dunia mereka mulai runtuh oleh perselingkuhan, kebohongan, dan skandal yang mengancam reputasi keluarga. Namun waktu memberi kesempatan kedua: sebuah kesadaran, perubahan, dan perlahan muncul cinta yang hangat di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Hari-hari setelah kejadian itu tidak bergerak lurus.

Waktu terasa aneh—kadang lambat, kadang meloncat tanpa peringatan. Pagi datang tanpa benar-benar membawa siang, dan malam turun sebelum siapa pun siap.

Xiao Fan masih dirawat di rumah sakit beberapa hari. Bukan karena lukanya parah, melainkan karena dokter ingin memastikan tidak ada dampak lanjutan. Retak di tangan kanan memang bisa sembuh, tapi trauma—itu yang sulit dipastikan.

Ji Chen hampir tidak pernah meninggalkan sisi ranjang kecil itu.

Ia tidur di kursi, kadang menyandarkan kepala di sisi ranjang, kadang terbangun karena Xiao Fan merengek pelan dalam tidurnya. Setiap kali anak itu bergerak sedikit, Ji Chen akan terjaga, refleks, seolah tubuhnya sendiri sudah diprogram untuk waspada.

Tangan kanan Xiao Fan terbungkus gips putih yang terlalu besar untuk lengannya yang kecil. Anak itu beberapa kali menatapnya dengan ekspresi bingung, seakan tidak mengerti mengapa tubuhnya tidak lagi menuruti perintah sederhana.

“Aku mau pegang mobilnya,” katanya suatu sore, suaranya lirih.

Ji Chen menelan napas. “Pakai tangan kiri dulu, ya.”

Xiao Fan mencoba. Mobil kecil itu jatuh.

Matanya langsung berkaca-kaca, bukan karena sakit, tapi frustrasi yang belum bisa ia beri nama.

“Kenapa tanganku nggak bisa?” tanyanya.

Ji Chen tidak langsung menjawab. Ia memungut mobil itu, menyerahkannya kembali. “Lagi istirahat. Biar cepat sembuh.”

Xiao Fan diam. Bibirnya bergetar, lalu ia menoleh ke arah jendela, memilih tidak menangis. Sikap itu—menahan—lebih menyakitkan daripada tangisan keras.

Dokter anak menjelaskan dengan nada profesional, tapi tegas.

“Anak seusia ini bisa pulih cepat secara fisik,” katanya. “Tapi ada tanda-tanda ketakutan berlebih. Ia mudah terkejut, menolak disentuh tangan kanannya, dan menunjukkan respons cemas saat mendengar suara keras.”

Ji Chen mengangguk. “Apa yang harus saya lakukan?”

“Stabilitas,” jawab dokter. “Rutinitas. Lingkungan aman. Dan… sebisa mungkin, hindari sumber stres.”

Kata terakhir itu menggantung.

Sumber stres.

Ji Chen tahu betul apa—atau siapa—yang dimaksud.

Feng Niu datang ke rumah sakit keesokan harinya. Ia berdiri lama di depan pintu kamar, ragu masuk. Wajahnya terlihat lelah, matanya sembab, tapi sikapnya masih terjaga—seperti seseorang yang belum siap sepenuhnya mengakui kesalahan.

Saat ia akhirnya masuk, Xiao Fan sedang duduk di ranjang, menyusun balok dengan tangan kiri. Ji Chen duduk di sampingnya.

Begitu melihat Feng Niu, Xiao Fan langsung berhenti bergerak.

Tubuh kecilnya menegang.

Ia tidak menangis. Ia hanya memalingkan wajah, mendekat ke sisi Ji Chen.

Reaksi itu seperti tamparan.

Feng Niu membeku di tempat.

“Aku… aku bawa buah,” katanya canggung, mengangkat kantong plastik kecil.

Tidak ada yang menyambut.

Ji Chen tidak menoleh. Suaranya datar. “Letakkan saja.”

Feng Niu melakukannya, lalu melangkah mendekat satu langkah. “Fan…”

Xiao Fan tidak menjawab.

Tangannya yang sehat mencengkeram lengan Ji Chen.

Feng Niu menghela napas, dadanya terasa sesak. “Mama di sini.”

Kata itu terdengar asing di ruangan itu.

Ji Chen akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, bukan meledak, tapi dingin. “Jangan paksa.”

Feng Niu menggigit bibir. “Aku ibunya.”

“Dan dia anakku,” balas Ji Chen pelan. “Yang hampir kehilangan fungsi tangannya.”

Hening jatuh.

Xiao Fan mulai mengusap matanya, tanda kelelahan. Ji Chen langsung mengangkatnya perlahan, menenangkan, mengelus punggung kecil itu dengan ritme yang sudah ia hafal.

Feng Niu berdiri di sana, tidak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa tidak punya tempat.

Beberapa hari kemudian, Xiao Fan diizinkan pulang.

Rumah terasa berbeda.

Tangga yang dulu biasa dilewati kini seperti ancaman. Ji Chen memasang pengaman tambahan, karpet anti-selip, bahkan memindahkan beberapa perabot agar jalur lebih luas. Ia melakukan semuanya sendiri, hampir obsesif.

Xiao Fan tidak lagi berlarian. Ia berjalan pelan, selalu menempel di sisi Ji Chen atau pengasuh. Jika Feng Niu lewat, anak itu akan berhenti bergerak, menunduk, menunggu.

Feng Niu memperhatikan semua itu.

Rasa bersalahnya tidak muncul sebagai tangis atau penyesalan dramatis. Ia muncul sebagai iritasi, sebagai keinginan membela diri.

“Dia jatuh sendiri,” katanya suatu malam, saat mereka berdiri di dapur. “Itu kecelakaan.”

Ji Chen menatapnya lama. “Kecelakaan tidak terjadi di ruang hampa.”

Feng Niu mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

“Maksudku,” Ji Chen menjawab pelan, “anak itu sudah hidup dalam ketakutan bahkan sebelum jatuh.”

Feng Niu tertawa kecil, pahit. “Kau menyalahkanku atas segalanya sekarang?”

Ji Chen tidak menjawab. Ia hanya berbalik, membawa segelas susu ke ruang tamu, ke arah Xiao Fan yang duduk diam di sofa.

Diamnya Ji Chen lebih menyakitkan daripada tuduhan.

Hari-hari berlalu. Luka di tangan Xiao Fan mulai membaik, tapi kebiasaannya berubah. Ia tidak mau menggunakan tangan kanan meski sudah mulai bisa. Ia takut sakit, takut salah, takut dimarahi.

Saat gips dilepas beberapa minggu kemudian, Xiao Fan menangis—bukan karena sakit, tapi karena ketakutan.

“Papa… jangan,” katanya saat dokter mencoba menggerakkan jarinya.

Ji Chen memeluknya erat. “Tidak apa-apa. Papa di sini.”

Feng Niu berdiri di belakang, tangannya mengepal. Ia ingin maju, ingin memeluk juga, tapi kakinya tidak bergerak.

Ia mulai sadar—retaknya tangan itu bukan sekadar cedera.

Itu garis.

Garis yang memisahkan sebelum dan sesudah.

Suatu malam, setelah Xiao Fan tertidur, Feng Niu berdiri di depan kamar anak itu lama. Ia mendengar napas kecil yang teratur, melihat tangan kanan yang kini bebas dari gips tapi masih sering digenggam ke dada.

“Dia membenciku,” katanya lirih saat Ji Chen muncul di belakangnya.

Ji Chen tidak langsung menjawab. “Dia takut.”

“Dan kau?” tanya Feng Niu, nyaris berbisik.

Ji Chen menatap pintu kamar itu. “Aku lelah.”

Jawaban itu sederhana, tapi berat.

Malam itu, Feng Niu duduk sendirian di kamar. Untuk pertama kalinya, tidak ada pesta, tidak ada telepon dari teman-temannya, tidak ada Qin Mo yang membisikkan pembenaran.

Hanya sunyi.

Dan kesadaran bahwa sesuatu yang ia anggap kecil—amarah, sikap acuh, kata-kata kasar—telah meninggalkan bekas yang nyata. Terukur. Terlihat.

Di tangan kecil seorang anak.

Dan Ji Chen, di kamar lain, memandangi berkas-berkas di meja kerjanya. Dokumen cerai masih ada di sana, belum ditandatangani, tapi tidak lagi terasa seperti ancaman kosong.

Ia mencintai Feng Niu.

Tapi setiap kali ia melihat tangan kanan Xiao Fan, setiap kali ia melihat anaknya ragu menggapai sesuatu—

Cinta itu mulai terasa seperti beban yang berbahaya.

Dan Ji Chen tahu, cepat atau lambat, ia harus memilih.

1
Midah Zaenudien
terllu bodoh untuk seorang wanita yg pintar mudah percaya kt2 yg blum tentu ia tau kemana tujuan org tersebut benar memang kdang yg dekat kelihatan baik padhl iy iri dgn kehidupan org lain tolg Thor jgn seperti mengulang alur yg SM dr berapa puluh episode stak d tempat Ndak ad perubahan x
Amilawati
👎
Amilawati
novel bikin pusing
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!