NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Gibran mulai membacakan pembagian kelompok untuk sesi navigasi bintang. "Kelompok satu: Arkan, Clara, Bimo, dan Mika. Kelompok dua: Naura, gue, Rio, dan Nadira. Kelompok tiga raisa siska....."

"HAH?!"

Suara lengkingan Mika memotong pengumuman Gibran. Ia menatap kertas di tangan Gibran dengan ekspresi tidak percaya, lalu beralih menatap Naura dengan pandangan membunuh. "Kak Gibran, kok aku nggak sekelompok sama Kakak? Maksud aku, pembagiannya nggak adil!"

Gibran menaikkan sebelah alisnya, tetap tenang. "Ini berdasarkan nomor urut absensi yang tadi gue ambil di posko, Mika. Adil atau nggak, tujuannya adalah kerja sama tim, bukan milih teman nongkrong."

Mika menghentakkan kakinya ke tanah, bibirnya mengerucut tajam. "Tapi kan aku yang masak tadi! Masa nggak ada reward-nya sih? Seharusnya aku bisa bareng Kak Gibran!"

Sementara Mika sibuk protes, Arkan berdiri dari kegelapan. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sedikit lebih "tegang" sebuah akting yang sempurna untuk menutupi keresahan aslinya. Ia melangkah mendekati Gibran dengan tangan yang mengepal di samping tubuh.

"Gibran, gue keberatan," ujar Arkan dengan suara rendah yang terdengar dingin. "Gue nggak biasa kerja sama dengan orang yang... berisik. Gue lebih prefer di kelompok dua. Tukar posisi gue sama Rio."

Naura yang mendengar itu hampir saja tersedak pasta yang sedang ia kunyah. Ia tahu Arkan sedang berusaha masuk ke kelompoknya agar bisa mengawasi perangkat pemindai secara langsung, tapi melihat wajah Arkan yang dibuat-seolah-olah marah itu benar-benar menghibur.

Naura berdiri, menepuk-nepuk sisa remah makanan di jaketnya, lalu berjalan mendekati Arkan. Ia sengaja berdiri cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan, lalu menyunggingkan senyum jahil yang paling lebar.

"Duh, Arkan" goda Naura dengan nada yang dibuat semanis mungkin. "Segitu nggak bisanya ya jauh-jauh dari gue? Takut kangen apa takut nggak ada yang bantuin cuci piring nanti?"

Arkan menoleh, menatap Naura dengan tatapan tajam yang seolah berkata 'Diam lo, ini serius'. Namun, Naura justru semakin bersemangat. Ia melirik ke arah Gibran, lalu kembali ke Arkan.

"Sabar ya, Kan. Lo sama Clara kan cocok tuh, yang satu jago masak, yang satu jago makan. Gue sih aman bareng Kak Gibran, dia kan ketua, pasti gue dijagain banget," lanjut Naura sambil mengerlingkan mata, sengaja memancing emosi Arkan lebih jauh.

"Naura, gue nggak bercanda," desis Arkan pelan, namun cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Gue juga nggak bercanda, Kan. Kayaknya bintang-bintang di kelompok dua bakal kelihatan lebih jelas deh kalau gue bareng Kak Gibran," sahut Naura sambil tertawa kecil, menikmati wajah Arkan yang semakin mengeras menahan dongkol.

Gibran berdeham keras, memecah ketegangan. "Keputusan nggak bisa diganggu gugat. Arkan, lo tetap di kelompok satu. Rio sudah tahu tugasnya di kelompok dua. Kita berangkat lima menit lagi. Siapkan senter kalian."

Clara mendengus keras, melirik Naura dengan penuh dendam sebelum berjalan mendekati Arkan dengan gaya manja yang dipaksakan. "Ya udah deh, Arkan... Yuk, kita siap-siap!"

Arkan hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Naura yang menjauh mengikuti Gibran sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memberikan lambaian tangan kecil yang sangat mengejek. Di balik tawa jahilnya, Naura sempat menyentuh telinganya, sebuah kode bagi Arkan bahwa ia akan tetap memberikan laporan lewat transmisi audio selama perjalanan.

"Awas lo, Ra," gumam Arkan pelan sebelum berbalik mengikuti rombongannya yang mulai bergerak masuk ke kegelapan hutan pinus.

......................

Langkah kaki kelompok empat terdengar berat di atas permukaan tanah yang lembap. Siska, yang biasanya paling vokal, kini berjalan sangat rapat di belakang Raisa, bahkan sesekali tanpa sadar menarik ujung jaket Raisa karena ketakutan. Rendi dan Tio berada di posisi belakang, menjaga jarak pandang agar tetap bisa memantau situasi secara menyeluruh.

Suasana yang tadinya hanya diisi suara gesekan daun, tiba-tiba berubah mencekam.

“Hiks... hiks...”

Suara tangisan itu lirih, seperti suara anak kecil yang sedang tersedu-sedu di kejauhan. Suaranya timbul tenggelam di antara hembusan angin malam Gunung.

"R-Rai... lo denger itu nggak?" bisik Siska dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, dan tangannya dingin saat menyentuh lengan Raisa. "Itu... itu bukan suara anak sekolah kita kan? Nggak ada anak kecil yang ikut kemping!"

"Diam, Siska. Jangan panik," jawab Raisa pendek. Suaranya sangat tenang, kontras dengan Siska yang mulai gemetar.

Raisa tidak merasa takut. Baginya, ketakutan adalah variabel yang tidak berguna dalam sebuah misi. Alih-alih merinding, ia justru merasa ada yang janggal. Secara logika, sangat kecil kemungkinan ada anak kecil berkeliaran di area hutan pinus yang jauh dari pemukiman warga pada jam segini.

Ia menyentuh earpiece di telinganya, mencoba memfilter suara latar. "Suaranya punya frekuensi yang terlalu stabil," batin Raisa. Sebagai ahli strategi dan pengamat, ia mulai membedah kemungkinan: apakah ini teknik psikologis untuk menjauhkan orang dari area tertentu, ataukah benar-benar ada korban di tengah hutan?

"Rai, mending kita balik atau lari ke kelompok Gibran aja," ajak Tio yang juga mulai merasa tidak nyaman. "Suaranya kayak makin deket, tapi nggak ada bayangannya."

"Nggak," tolak Raisa tegas. Ia mengarahkan senter high-beam miliknya ke arah semak rimbun di sebelah kiri mereka, tempat asal suara itu. "Kalau ada anak kecil yang beneran tersesat, kita harus tahu. Kalau itu jebakan, kita harus lebih tahu lagi."

Raisa melangkah perlahan menjauhi jalur utama. Rendi segera sigap mengikuti di belakangnya, tangan kanannya sudah bersiap di balik saku, posisi siaga jika ada ancaman fisik yang muncul tiba-tiba.

"Hiks... tolong..."

Kali ini suaranya terdengar lebih jelas. Siska hampir saja berteriak dan lari jika Rendi tidak menahan bahunya. Raisa berhenti tepat di depan sebuah pohon besar yang akarnya menonjol keluar. Ia berjongkok, mengamati tanah di sekitar sana.

"Rai, lo ngapain?!" seru Siska tertahan. "Ayo pergi!"

Raisa mematung. Matanya menyisir setiap jengkal semak dan balik pohon besar menggunakan senter, namun hasilnya nihil.

Tidak ada pemutar suara, tidak ada kabel, bahkan tidak ada jejak kaki anak kecil di atas tanah yang lembap itu.

Namun, suara tangisan itu justru bukannya menjauh, malah terdengar semakin melengking dan kencang, seolah-olah sumber suaranya berdiri tepat di tengah-tengah mereka.

"Rai! Balik, Rai! Gue nggak kuat, ini beneran setan!" Siska sudah menangis sesenggukan, ia memeluk lengan Raisa begitu erat sampai kukunya menancap di jaket Raisa.

Tio dan Rendi juga mulai mundur teratur. Wajah Tio pucat pasi. "Rai, ayo jalan lagi. Ini nggak masuk akal, kita nggak nemu apa-apa tapi suaranya makin kencang."

Raisa tahu ia tidak bisa terus bersikap dingin. Jika ia tetap tenang di saat yang lain ketakutan setengah mati, identitasnya bisa terancam. Ia harus melebur.

Sambil pura-pura gemetar, Raisa mendekatkan tangan ke mulutnya sambil menunduk seolah sedang ketakutan.

"Kapten, ini Raisa," bisiknya sangat halus, hampir tertutup oleh isakan Siska. "Gue di koordinat sektor timur. Ada anomali audio, suara tangisan anak kecil tanpa sumber fisik. Gue nggak nemu device apa pun. Sepertinya mereka pakai teknologi directional ultrasonic yang ditembakkan dari jauh. Gue bakal fallback ke jalur utama."

Setelah mengirim pesan itu, Raisa langsung mengubah ekspresinya. Ia membelalakkan mata dan mengatur napasnya agar terdengar memburu.

"O-oke... Siska, ayo lari! Tio, Rendi, cepat jalan!" seru Raisa dengan nada yang dibuat panik. Ia menarik Siska untuk segera menjauh dari area tersebut, berakting seolah-olah ia adalah siswi yang baru saja kehilangan keberaniannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!