"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sergapan di Jalur Hitam
Langit Jakarta malam itu tampak seperti hamparan tinta hitam tanpa bintang. Pukul 23.00, jalan tol dalam kota yang biasanya padat kini mulai lengang, menyisakan truk-truk logistik dan beberapa mobil pribadi yang memacu kecepatan tinggi.
Di dalam sedan Mercedes-Benz S-Class berlapis baja milik William, keheningan terasa nyaman. William tertidur di kursi penumpang depan ia bersikeras duduk di depan karena bosan duduk sendirian di belakang. Napasnya teratur, kepalanya bersandar miring ke arah jendela.
Adinda Elizabeth duduk di balik kemudi. Matanya tidak berkedip. Tangan kanannya memegang setir dengan santai namun mantap, sementara tangan kirinya sesekali mengecek spion tengah dan samping.
Tiga puluh menit berlalu tanpa insiden. Namun, saat mereka memasuki ruas jalan yang sepi menuju exit tol Cawang, bulu kuduk Adinda meremang.
Instingnya berteriak.
Di spion, sebuah SUV hitam besar dengan kaca film gelap terus menempel di belakang mereka. Jaraknya terlalu dekat untuk kecepatan 100 km/jam. Adinda mencoba berpindah jalur ke kiri. SUV itu ikut berpindah. Adinda kembali ke kanan. SUV itu juga ke kanan.
"Pak," panggil Adinda pelan, tidak ingin mengagetkan William. "Bangun, Pak."
William mengerang pelan, membuka matanya yang berat. "Sudah sampai?"
"Belum. Tapi kita punya ekor. Dua mobil. Satu di belakang, satu lagi di blind spot kiri Bapak."
Kantuk William lenyap seketika. Ia menegakkan duduknya, menoleh ke kiri. Benar saja, sebuah sedan sport tanpa plat nomor melaju sejajar dengan mereka, kacanya tertutup rapat.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya William, suaranya tegang namun terkendali.
"Pasang sabuk pengaman Bapak lebih kencang. Tundukkan kepala. Pegangan."
Baru saja Adinda selesai bicara, sedan di sebelah kiri membanting setir ke kanan, mencoba menghantam sisi mobil William.
BRAKK!
Bunyi logam beradu dengan logam terdengar mengerikan. Mobil William berguncang hebat. Jika ini mobil biasa, mereka pasti sudah terpelanting menabrak pembatas jalan. Tapi mobil ini adalah benteng berjalan.
"Mereka mau menggiring kita ke bahu jalan!" teriak Adinda. Wajahnya berubah dingin, fokus penuh. "Bapak, tunduk sekarang!"
Adinda menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin V8 mobil itu meraung. Adinda tidak menghindar. Ia justru membanting setir ke kiri, membalas hantaman sedan penyerang itu dengan kekuatan penuh mobil lapis bajanya.
DUMM!
Sedan penyerang itu kalah bobot. Mobil itu terpental, kehilangan kendali, berputar-putar di aspal sebelum menghantam tembok pembatas beton dengan ledakan percikan api.
Satu musuh tumbang. Tinggal SUV di belakang.
Namun, mimpi buruk baru dimulai. Dari sunroof SUV di belakang, muncul seorang pria bertopeng ski. Di tangannya ada senjata otomatis laras pendek.
TAT-TAT-TAT-TAT-TAT!
Hujan peluru menghantam kaca belakang mobil William. Kaca antipeluru itu retak membentuk pola sarang laba-laba, namun tidak pecah.
"Sialan!" umpat William, menutupi kepalanya dengan tangan. "Mereka bawa senapan mesin?!"
"Mereka profesional, Pak! Mereka ingin Bapak mati, bukan diculik!" Adinda berteriak di atas deru mesin dan suara tembakan.
Adinda melakukan manuver zig-zag gila-gilaan untuk menyulitkan penembak. Tapi jalan di depan menyempit karena ada perbaikan jalan. Beton-beton pembatas menumpuk, hanya menyisakan satu lajur sempit.
Ini jebakan.
Di depan, sebuah truk kontainer berhenti melintang, memblokir jalan sepenuhnya. Adinda menginjak rem sekuat tenaga. Ban mobil memekik, mengeluarkan asap putih berbau karet terbakar, sebelum berhenti hanya satu meter dari badan truk.
"Kita terjebak," desis Adinda. Ia melepas sabuk pengamannya dengan cepat. "Pak, ambil pistol di laci dashboard. Tetap di dalam mobil apapun yang terjadi. Kaca ini masih bisa menahan beberapa ronde lagi."
"Kau mau kemana?!" William menahan lengan Adinda. Matanya terbelalak horor.
"Saya harus mengalihkan perhatian mereka. Kalau mereka menembak ban atau tangki bensin, kita berdua jadi abu."
Adinda menatap mata William sekilas. "Kunci pintu setelah saya keluar."
Tanpa menunggu jawaban, Adinda membuka pintu, berguling keluar ke aspal, dan menutup pintu kembali dengan tendangan kakinya.
SUV pengejar itu berhenti sepuluh meter di belakang. Tiga pria bersenjata turun. Mereka mengenakan rompi taktis dan topeng.
Adinda tidak punya senjata api. Pistolnya tertinggal di laci bersama William karena dia tidak memiliki izin kepemilikan senjata api di luar jam dinas kantor. Yang dia miliki hanya sebuah pisau lipat taktis dan tongkat baton teleskopik yang ia cabut dari pinggangnya.
"Keluar dari mobil, Bagaskara!" teriak salah satu penyerang.
Mereka belum melihat Adinda yang bersembunyi di balik kegelapan badan mobil.
Saat penyerang pertama mendekat ke pintu pengemudi, Adinda muncul dari bayangan seperti hantu.
Sret!
Tongkat besi Adinda menghantam pergelangan tangan si penyerang, menjatuhkan senjatanya. Detik berikutnya, tendangan memutar Adinda menghantam helm taktis pria itu. Pria itu ambruk.
Dua penyerang lain kaget. Mereka mengarahkan senjata ke Adinda.
"Matilah kau!"
Adinda melompat ke balik kap mesin mobil William saat peluru berdesing. Kaca depan mobil retak lagi. Di dalam, William melihat bayangan Adinda melompat lincah di atas kap mobilnya, menghindari maut hanya dengan selisih milimeter.
Jantung William serasa berhenti berdetak. Dia gila. Dia benar-benar gila.
Adinda meluncur turun dari sisi lain, menerjang penyerang kedua. Ia menggunakan tubuh kecilnya untuk masuk ke blind spot lawan, menusukkan pisau lipatnya ke celah rompi anti-peluru di bagian paha.
Pria itu menjerit, jatuh berlutut. Adinda menggunakan punggung pria itu sebagai pijakan untuk melompat dan menendang wajah penyerang ketiga.
Itu adalah tarian kematian yang brutal. Satu wanita melawan tiga pria bersenjata berat. Adinda mengandalkan kecepatan dan serangan ke titik vital, karena ia tahu ia kalah dalam kekuatan fisik.
Namun, stamina Adinda ada batasnya.
Seorang penyerang keempat turun dari truk di depan. Dia membawa tongkat baseball besi. Saat Adinda sibuk melumpuhkan penyerang ketiga, pria keempat ini mengayunkan tongkatnya ke punggung Adinda.
BUKK!
Suara hantaman itu terdengar sakit sekali. Adinda terlempar, menabrak pintu mobil tempat William duduk.
"ADINDA!" teriak William dari dalam. Ia tidak peduli lagi. Ia membuka kunci pintu, mendorongnya terbuka, dan mengarahkan pistol Glock-nya keluar.
DOR!
William menembak penyerang yang hendak memukul Adinda lagi. Tembakannya meleset, tapi cukup membuat pria itu mundur kaget.
Adinda terbatuk darah. Punggungnya terasa remuk. Tapi melihat William terekspos, insting pelindungnya mengalahkan rasa sakit.
"MASUK!" teriak Adinda parau.
Ia memaksakan tubuhnya bangkit. Dengan sisa tenaga terakhir, Adinda menyapu kaki penyerang pembawa tongkat, lalu merebut tongkat besi itu.
Ketika penyerang itu jatuh, Adinda menghantamkan tongkat itu ke kepala lawannya. Sekali. Dua kali. Sampai pria itu pingsan.
Sunyi.
Keempat penyerang tergeletak di aspal. Mengerang kesakitan atau pingsan.
Adinda berdiri terhuyung-huyung. Napasnya memburu, terdengar kasar dan menyakitkan. Darah mengalir dari pelipisnya yang tergores aspal. Bajunya sobek di sana-sini.
Ia berbalik menghadap William yang masih memegang pistol dengan tangan gemetar di ambang pintu mobil.
Adinda memaksakan senyum tipis, meski bibirnya berdarah. "Area... aman... Pak..."
Dan detik berikutnya, mata Adinda terbalik. Tubuhnya ambruk ke depan.
"TIDAK! ADINDA!"
William melempar pistolnya, menangkap tubuh Adinda sebelum menyentuh tanah. Tubuh gadis itu terasa ringan, namun panas.
"Adinda! Bangun! Hei, bangun!" William menepuk pipi Adinda panik.
Suara sirine polisi mulai terdengar meraung-raung dari kejauhan. Bantuan yang terlambat.
Adinda membuka matanya sedikit, tatapannya sayu. Tangan kanannya yang gemetar terangkat, meraba dada William. Memastikan jantung bosnya masih berdetak.
"Bapak... tidak luka... kan?" bisiknya, suaranya hampir hilang ditelan angin malam.
Air mata William jatuh, menetes ke wajah Adinda yang kotor oleh debu dan darah.
"Saya baik-baik saja, bodoh! Kamu yang tidak baik-baik saja!" teriak William frustrasi. Ia memeluk Adinda erat, seolah ingin mentransfer nyawanya sendiri untuk gadis ini. "Bertahanlah. Kumohon, bertahanlah. Jangan berani-berani mati padaku, Adinda Elizabeth."
Adinda ingin menjawab, ingin bilang bahwa dia hanya butuh tidur sebentar, tapi kegelapan menariknya terlalu kuat. Kesadarannya memudar. Hal terakhir yang ia rasakan adalah pelukan hangat William dan aroma parfum mahalnya yang bercampur dengan bau mesiu.
Di tengah jalan tol yang menjadi medan perang itu, William Bagaskara, pria yang memiliki segalanya, merasa menjadi orang paling miskin di dunia. Karena ia sadar, jika nyawa di pelukannya ini hilang, semua hartanya tidak akan ada artinya lagi.
Bersambung..
terimakasih