Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaji Guru di Sekolah Swasta
Kalender menunjukan tanggal 10. Sebagai guru di sekolah swasta, waktunya bagi Dimas menerima honorarium mengajar selama sebulan. Tak seperti bekerja di perusahaan yang mencatumkan nominal gajinya di awal saat lolos interview, namun di sekolah swasta non elit hal semacam itu tidak di informasikan dari awal sehingga Dimas pun tidak tahu berapa gaji yang akan ia terima.
Keluar dari ruang tata usaha, Dimas tak ingin berekspektasi terlalu tinggi dengan gajinya. Saat jam kosong, di ruang guru, Dimas mulai membuka amplop yang terbuat dari kertas bekas pakai. Di dalamnya berisi uang sejumlah 875 ribu. Betapa kagetnya dia ketika membaca slip honorarium yang tertulis 35 ribu x 25 jam \= 875 ribu yang berarti bahwa dalam sebulan, Dimas hanya di anggap mengajar selama 25 jam padahal sebenarnya 25 jam adalah jumlah jam mengajarnya nya selama seminggu.
Merasa ada yang aneh, Dimas kembali lagi ke ruang tata usaha kemudian menanyakan perihal tersebut.
“Mohon maaf bu, saya mau tanya, mengapa gaji saya cuma 875 ribu ? padahal dalam seminggu jumlah jam mengajar saya 25 jam, harusnya dalam sebulan di kali 4 kan, 35 ribu x 25 jam x 4 jadi mestinya honor saya 3 juta 500 ribu” protes Dimas kepada bendahara sekolah.
Bendahara sekolah yang mendengar perkataan tersebut tertawa lebar seolah ada yang lucu dengan keluhan Dimas.
“Kalau pak Dimas protes, itu hal yang wajar karna pak Dimas pasti belum tau aturannya” sahut bendahara sekolah.
“Maksudnya bagaimna bu ?” tanya Dimas lebih lanjut.
“Begini pak Dimas, hampir di setiap sekolah swasta dimana pun, ngitung honornya begitu pak, honor per jam di kali jumlah jam mengajar dalam seminggu jadi dalam sebulan honornya segitu pak, tidak di kalikan 4” begitu penjelasan bendahara sekolah SMA Al-Ikhlas.
“Oh begitu ya bu, maaf bu saya tidak tau, kalau begitu saya permisi bu, terimakasih bu, monggoh” ucap Dimas lalu keluar dari ruang tersebut.
Di sela langkah kakinya menuju ruang guru, Dimas sedikit kecewa dengan aturan tersebut. Dia merasa sudah mengorbankan banyak hal untuk mengajar di sekolah itu namun aturan gaji telah merugikannya.
“Kalau kaya gini aku rugi dong, rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran, masa iya ngajar sebulan, gajinya cuma di hitung seminggu” gerutu Dimas di dalam hatinya.
Di ruang guru Dimas duduk sejenak. Tak lama berselang, handphone nya berdering tanda ada pesan whatsApp masuk. Sebuah group whatsApp khusus dewan guru menginformasikan akan ada rapat interen di ruang guru pada jam istirahat kedua.
“Assalamualaikum wr.wb, di informasikan kepada seluruh dewan guru SMA Al-Ikhlas bahwa hari ini akan di adakan rapat interen bersama Bapak kepala sekolah dan Bapak ketua yayasan pada jam istirahat kedua di ruang guru, mohon semua dewan guru mengikutinya” begitu lah isi pesan group WA.
Pukul 11.30 WIB, bel istirahat kedua berbunyi, para dewan guru bergegas mengikuti rapat yang di pimpin oleh kepala sekolah dan ketua yayasan. Pengarahan pertama di sampaikan oleh kepala sekolah SMA Al-Ikhlas. Dalam sambutannya bapak kepala sekolah menekankan pentingnya bagi seorang guru untuk selalu disiplin mematuhi aturan yayasan. Hal senada juga di sampaikan bapak ketua yayasan pak Nur Cahyo namun ia juga menambahkan tentang pentingnya ikhlas mengabdi di sekolah.
“Bapak, ibu guru, kalau kita mengajar di sini harus ikhlas, gaji sedikit gak papa yang penting berkah” ucap pak Nur Cahyo dalam pengarahannya.
Terkadang perkataan bijak tak selalu menjadi motivasi namun justru menusuk hati. Meskipun apa yang di ucapakan pak Nur Cahyo benar adanya namun melukai hati sejumlah guru karna selama ini mereka mendapatkan kesejahteraan yang minim sementara ketua yayasannya tersebut tiap tahun bisa melaksanakan umroh.
“Halah ngomong ma gampang, guru di peres keringatnya buat di bayar dikit tapi yayasan ambil keuntungannya gede” gerutu salah satu guru di dalam hatinya.
Di sisi lain, Dimas dilanda kegundahan, haruskah ia bertahan mengajar di sekolah tersebut atau memilih mengundurkan diri. Apa yang Dimas pikirkan berujung pada nasibnya bisa tidaknya melamar sang pujaan hati. Dalam sebulan pendapatan Dimas melalui les privat bisa mencapai 2 juta. Sementara gajinya sebagai guru sekolah hanya 800 ribuan.
“Kalau uang segitu, buat kasih ibu, buat nabung ngelamar dan menikahi Nayla mana cukup” isi lamunan Dimas di tengah rapat.
Dimas terus terbawa arus lamunannya, tiba-tiba dari arah samping tempat duduknya, seorang guru menepuk pundaknya dengan lirih ia berbisik.
“Kok malah ngelamun, lagi mikirin apa sih pak Dimas ?” tanya pak Fuad, salah seorang guru seni budaya di sekolah tersebut.
“Ah .. gak kok pak” jawab Dimas sembari tersenyum.
“Gak usah di pikirin pak, gaji guru swasta ya segitu pak he.he..” kata pak Fuad sedikit tertawa.
“Pak Dimas baru pertama mengajar di sini pasti kaget yah, saya sudah 12 tahun mengajar disini dari mulai honor per jam nya masih 20 ribu” lanjut pak Fuad.
“Luar biasa ya pak, bisa bertahan hingga puluhan tahun” ucap Dimas.
“Ya mau gimana lagi pak, bagi saya yang sudah berumur, yang penting di telateni aja” ujar pak Fuad.
***
Hafidz membuktikan perkataannya kepada Diana jika dia akan sering berkunjung ke warung makan bu Ratih. Jam makan siang tiba, ia datang dan memesan makanan di warung tersebut. Hatinya seakan terbang ke langit ketujuh karna kembali di pertemukan dengan Diana, gadis manis nan imut.
“Hai mba Diana, apa kabar ?” tanya Hafidz.
“Hai kak Hafidz, alhamdulillah, baik kak” respon Diana.
“Pasti ketagihan nih mau makan disini, iya kan ?”
“Iya dong, kan makanannya enak, penjualnya juga cantik” canda Hafidz.
Diana tersenyum, “mau makan apa nih kak Hafidz ?”
“Emm .. apa yah ? nasi lengko aja deh sama minumnya biasa eh teh manis tapi gulanya sedikit aja ya mba Diana” ujar Hafidz.
“Loh kalau gulanya sedikit namanya bukan es teh manis dong” gurau Diana.
“Ya kan manisnya udah ada di kamu” Hafidz tertawa pelan.
Di pertemuan kedua ini, sikap Diana mulai membaik seperti ada ketertarikan dengan pria tersebut. Hatinya tak bisa memungkiri lagi jika Hafidz memang memiliki paras yang tampan layaknya artis K-pop. Tak hanya tampan namun tutur katanya juga lemah lembut.
“Kak Hafidz kerja dimana ?” tanya Diana saat Hafidz sedang menyantap nasi lengkonya.
“Saya kerja di event organizer mba” respon hafidz.
“Oh ya jangan panggil mba dong berasa udah tua, panggil Diana aja” sahut Diana.
“Siap nona cantik”
“Ih apaan sih kak hafidz, aku jadi malu” cakap Diana.
Setelah selesai makan, Hafidz langsung berdiri, sepertinya sedang ada projek yang harus di selesaikan.
“Oh ya totalnya berapa Diana ?" tanya Hafidz.
“10 ribu kak”
“Hah .. murah banget”, ucap Hafidz.
“Ini uangnya ya Diana, oh ya maaf saya harus pergi sekarang, ada projek yang harus di selesaikan"
“Iya kak, hati-hati di jalan ya kak !”
“Siap” respon Hafidz sembari membalikan badan ke arah mobilnya.
Baru beberapa detik melangkah, Hafidz kembali lagi ke warung.
“Oh ya, Diana, maaf, sepertinya ada yang ketinggalan” ujar Hafidz.
“Perasaan dari tadi gak ada yang ketinggalan deh” respon Diana.
“Itu loh maksudnya nomor whatsApp mu berapa ?” tanya hafidz sembari tersenyum.
“Owalah modus banget, ini nomor whatsApp aku yah” ucap Diana sambil meyodorkan handphone ke arah Hafidz.
“Thank you, Diana”
“Sama-sama kak Hafidz”