NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 : RUNTUHNYA DINASTI SERAPHINE

Udara di depan pabrik manufaktur pusat Seraphine terasa panas, bukan hanya karena terik matahari pagi, tapi karena kemarahan ribuan buruh yang mendidih. Aris Seraphine berdiri di atas podium baja, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi guratan kepanikan. Di bawahnya, barikade polisi anti-huru-hara mulai kewalahan menahan dorongan massa yang terus merangsek maju.

Aluna berdiri di atas pagar beton pembatas, rambutnya tertiup angin kencang, tangannya menggenggam dokumen-dokumen yang menjadi bukti pengkhianatan Aris. Ia tampak seperti dewi pembalasan di tengah lautan manusia yang mengenakan seragam biru kusam.

"Kalian dengar itu?!" Luna berteriak melalui pengeras suara yang dipasang Kevin di sistem audio pabrik. "Aris Seraphine ingin menjual masa depan kalian! Dia ingin menghancurkan apa yang dibangun dengan keringat kalian selama puluhan tahun demi mengisi kantong pribadinya di Cayman Islands!"

Aris meraung, suaranya pecah saat berteriak pada komandan polisi di sampingnya. "Apa yang kalian tunggu?! Tembakkan gas air mata! Tangkap dia atas tuduhan provokasi dan penggelapan dana!"

Pshhh! Pshhh! Pshhh!

Tabung-tabung gas air mata meluncur ke udara, menyebarkan asap pedih di tengah kerumunan. Massa mulai kocar-kacir, terbatuk-batuk dan berteriak. Aris tersenyum licik, mengira kekuasaannya telah memenangkan babak ini. Namun, ia lupa satu hal: Luna tidak datang sendirian.

Dari balik asap putih, Xavier muncul dengan kain penutup wajah. Ia tidak menyerang polisi; ia justru menuntun sekelompok buruh untuk membentuk barikade manusia pelindung di sekitar Luna.

"Tetap di tempat kalian!" teriak Xavier pada para buruh. "Jangan biarkan mereka memadamkan api ini! Jika satu dari kita jatuh, sepuluh lagi akan berdiri!"

Di tengah kekacauan di luar, Kevin bekerja dalam diam dari sebuah van tua yang terparkir di radius aman. Jemarinya menari di atas keyboard yang sudah retak, mencoba menembus sistem keamanan satelit yang menghubungkan Aris dengan Madam Celine.

"Luna, aku masuk!" suara Kevin terdengar melalui earpiece yang dikenakan Luna. "Aku berhasil menyiarkan rekaman ini ke seluruh stasiun televisi nasional dan semua layar digital di Jakarta. Dunia sedang menonton sekarang!"

Tiba-tiba, layar-layar raksasa di sepanjang jalan protokol Jakarta, termasuk layar di depan pabrik, berubah. Bukan lagi wajah Luna, melainkan rekaman percakapan rahasia Aris dengan broker asing semalam.

"...Seraphine Global hanyalah bangkai tua. Begitu aku mendapatkan tanda tangan Madam Celine pagi ini, kalian bisa membelinya dengan harga sampah dan aku akan mendapatkan komisi 20%..."

Suara Aris yang begitu sombong dan licik terdengar jelas ke seluruh pelosok pabrik. Para polisi yang tadi menembakkan gas air mata mulai menurunkan senjata mereka. Mereka juga memiliki keluarga yang bekerja di sektor manufaktur. Mereka menatap Aris dengan tatapan penuh kebencian.

Aris mundur dari podium, tubuhnya gemetar. "Ini rekayasa! Ini AI! Ini palsu!"

Luna melompat turun dari pagar beton, berjalan menembus kabut gas air mata yang mulai menipis. Ia mendekati barikade polisi, menatap mata sang komandan. "Pak, apakah Anda akan melindungi pria yang baru saja berencana menghancurkan ekonomi ribuan rakyat, atau Anda akan membiarkan keadilan bekerja?"

Sang komandan terdiam, lalu perlahan ia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membuka jalan bagi Luna. "Buka barikade. Biarkan Nona Aluna lewat."

Luna berjalan perlahan menuju podium, langkahnya mantap di atas aspal yang dipenuhi selongsong gas air mata. Aris mencoba melarikan diri menuju limusinnya, namun pintu mobil itu tiba-tiba terkunci secara otomatis kerja keras Kevin dari jarak jauh.

Xavier melompat ke atas podium, mencegat Aris sebelum ia sempat melarikan diri lebih jauh. Dengan satu gerakan cepat, Xavier memiting tangan Aris dan memaksanya berlutut di hadapan Luna dan ribuan buruh yang kini bersorak sorai.

"Kamu kalah, Aris," ucap Luna dingin. Ia berdiri tepat di depan sepupunya yang kini tampak menyedihkan itu. "Kamu meremehkan orang-orang yang kamu anggap angka. Kamu meremehkan kesetiaan. Dan yang paling penting... kamu meremehkan aku."

Luna mengambil mikrofon dari podium. "Tanda tangan Madam Celine tidak akan pernah keluar. Karena pagi ini, dewan direksi yang sah setelah melihat bukti kejahatanmu telah sepakat untuk membekukan seluruh wewenangmu."

Tiba-tiba, sebuah mobil mewah lain tiba. Pintu belakang terbuka, dan Madam Celine keluar dengan bantuan kursi rodanya. Wajahnya yang tua tampak sangat lelah, namun matanya menatap Luna dengan binar yang belum pernah terlihat sebelumnya kebanggaan yang murni.

Madam Celine menatap Aris dengan jijik. "Aku memang tua, Aris. Tapi aku belum pikun. Aku tahu kamu berkhianat sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di Jakarta. Aku hanya menunggu Aluna menunjukkan padaku bahwa dia layak menjadi Seraphine yang sesungguhnya... bukan dengan uang, tapi dengan hati rakyatnya."

Aris tertunduk lesu saat polisi sungguhan unit kriminal khusus datang untuk memborgol tangannya. Di tengah sorak-sorai ribuan buruh yang memanggil namanya, Luna menatap Madam Celine. Tidak ada lagi pelukan, tidak ada lagi kata "Nenek". Hanya sebuah anggukan hormat antar dua pemimpin.

Namun, di tengah kemenangan itu, Xavier menyentuh bahu Luna. Wajahnya tegang. "Luna, kita harus pergi. Seseorang baru saja mengirim pesan. Valerie... dia tidak benar-benar pergi ke bandara. Dia menuju rumah Bibi Siti."

Darah Luna seolah membeku. Kemenangan ini mendadak terasa hambar.

Api mulai merambat naik ke dinding kayu rumah kontrakan Bibi Siti yang kering. Suara kayu yang terbakar berderak-derak, menciptakan suasana mencekam di bawah langit malam yang memerah. Luna berhasil menyeret Bibi Siti keluar ke halaman, namun hatinya mencelos saat menoleh ke belakang.

Xavier masih bergulat dengan Valerie di dekat genangan bensin yang mulai terjilat api. Valerie seperti kesurupan; dia mencakar, menggigit, dan memegang kaki Xavier agar pria itu tidak bisa lari.

"Kalau aku hancur, kita semua hancur, Xavier!" teriak Valerie dengan suara melengking di tengah deru api.

"Xavier! Keluar dari sana!" Luna berteriak histeris. Ia ingin berlari kembali, tapi Bibi Siti menahan lengannya sambil terbatuk-batuk karena asap.

Xavier melihat lidah api mulai mendekati jerigen bensin yang tadi ia tendang. Jika api menyentuh jerigen itu, ledakan tidak akan terhindarkan. Dengan satu sentakan tenaga terakhir, Xavier menyikut rahang Valerie hingga gadis itu terlepas, lalu ia menyambar tubuh Valerie dan membantingnya menjauh dari pusat api.

BOOM!

Ledakan kecil terjadi saat api menyambar jerigen. Hawa panas melontarkan Xavier dan Valerie ke arah berlawanan. Luna jatuh terduduk, matanya membelalak melihat gubuk kenangannya kini ditelan si jago merah.

Beberapa menit kemudian, sirene pemadam kebakaran dan polisi mulai terdengar mendekat. Kevin tiba dengan van tuanya, langsung melompat turun membawa alat pemadam api ringan.

Xavier bangkit dengan tertatih-tatih, pakaiannya hangus dan wajahnya dipenuhi jelaga. Ia berjalan mendekati Valerie yang terkapar di tanah. Valerie tidak lagi melawan. Dia hanya menatap langit dengan mata kosong, menyadari bahwa rumah yang dia bakar adalah simbol terakhir dari kegilaannya.

Polisi segera mengepung area tersebut dan memborgol Valerie untuk kedua kalinya kali ini dengan pengamanan yang jauh lebih ketat. Saat Valerie diseret melewati Luna, ia berhenti sejenak.

"Kamu menang lagi, Luna..." bisik Valerie parau. "Tapi kamu tidak punya rumah lagi. Aku sudah menghancurkan tempat satu-satunya kamu merasa aman."

Luna menatap reruntuhan rumahnya yang kini sedang disiram air oleh petugas pemadam. Ia kemudian menatap Bibi Siti yang aman di pelukannya, lalu menatap Xavier yang berdiri tegak di sampingnya meski terluka.

"Kamu salah, Valerie," ucap Luna dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Rumahku bukan bangunan ini. Rumahku adalah orang-orang yang berdiri di sampingku saat ini. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu bakar."

Valerie tertunduk, akhirnya menangis tersedu-sedu saat pintu mobil polisi ditutup. Kali ini, tidak akan ada jalan keluar baginya.

Pagi harinya, di depan puing-puing rumah yang masih berasap, Madam Celine tiba dengan pengawalan resmi. Ia melihat Luna yang duduk di kursi plastik pinjaman tetangga, sedang menyuapi Bibi Siti bubur.

Madam Celine turun dari mobilnya, mendekati Luna dengan langkah yang tidak lagi seangkuh dulu. "Aluna... dewan direksi sudah membersihkan nama baikmu. Aris telah mengakui semua perbuatannya. Kursi CEO Seraphine Global menunggumu kembali."

Luna berdiri, menatap Neneknya dengan pandangan yang sangat dewasa. "Aku tidak akan kembali sebagai CEO, Madam."

Madam Celine tertegun. "Lalu apa maumu? Kamu sudah memenangkan semuanya."

"Aku ingin mengubah Seraphine menjadi yayasan publik," jawab Luna tegas. "Aku ingin perusahaan itu dimiliki oleh para pekerjanya. Aku akan mengambil porsi yang cukup untuk menjamin masa tua Bibi Siti dan biaya sekolah anak-anak yang tidak mampu. Sisanya? Aku kembalikan pada rakyat."

Luna menoleh ke arah Xavier. "Dan aku... aku ingin pergi ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenalku sebagai seorang Seraphine. Aku ingin hidup sebagai Luna."

Madam Celine terdiam lama, lalu ia mengangguk pelan. Ada rasa hormat yang tulus di matanya. "Kamu benar-benar melampaui aku, Nak. Kamu adalah Seraphine yang paling kuat karena kamu berani melepaskan."

Xavier mendekat ke arah Luna, ia memberikan sebuah kunci motor baru. "Jadi, ke mana kita akan pergi, Luna?"

Luna tersenyum, senyuman paling lepas yang pernah ia miliki selama hidupnya. "Ke mana saja, Xavier. Selama kamu yang memegang kemudinya."

Mereka berdua menaiki motor, meninggalkan puing-puing masa lalu dan kemewahan yang palsu, menuju ufuk fajar yang baru. Dendam telah padam, dan kini saatnya mereka menulis cerita mereka sendiri.

Luna akhirnya melepaskan takhta berdarahnya dan memilih kebebasan sejati. Dari seorang gadis yang diinjak di sekolah, menjadi ratu korporasi, hingga berakhir sebagai pejuang kemanusiaan. Apakah kalian puas dengan akhir perjalanan Luna?

🔥 LIKE jika kalian terharu dengan keputusan Luna memberikan perusahaannya kepada rakyat!

💬 KOMEN DI BAWAH: Apa bagian paling berkesan bagi kalian selama mengikuti perjalanan Luna? Dan apakah menurut kalian Xavier dan Luna akhirnya akan menikah?

📢 SHARE episode terakhir ini! Terima kasih sudah setia menemani Luna dari selokan hingga ke puncak dunia!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!