NovelToon NovelToon
Cinta Di Tapal Batas

Cinta Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Romansa pedesaan / Diam-Diam Cinta / Cintamanis
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.

"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."

"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."

Bagaimana kisah selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Dada Marini terasa mau copot ketika sedang membicarakan bu Lusi tiba-tiba yang bersangkutan muncul. Bibirnya terkunci rapat tidak mampu menjawab ketika Lusi bertanya dengan nada membentak. Inilah hukuman dari Allah yang ditunjukkan langsung karena mereka membicarakan orang lain.

"E-eh, saya... kami... cuma..." Marini gugup ketakutan.

"Saya punya rencana apa, Mar?!" Lusi mengulangi pertanyaan dengan nada tinggi.

"Ti-tidak Bu, saya cuma bilang sama Dini kalau ibu cantik. Iya, Ibu cantik" Marini tersenyum dipaksakan. Ia remas telapak tangan Dini agar membantu bicara.

"Maaf Bu, saya tadi mendengar percakapan Ibu dengan Pak Aksa. Ibu sedang sakit dan akan berobat ke kota. Itulah yang kami bicarakan. Semoga Ibu cepat sembuh" Dini seketika mendapat jawaban walau berbeda dengan Marini tapi lebih bisa diterima Lusi. Dini tidak bohong juga ketika Lusi ngobrol bersama Aksa tadi sempat mendengar.

Lusi berpaling dari Marini menatap Dini sekilas lalu melengos pergi ke arah toilet.

Dini hanya bisa Istigfar menatap Lusi yang sangat membencinya. Padahal ini baru permulaan, entah bagaimana hari-hari selanjutnya menghadapi sikap bu Lusi yang nyata-nyata menyerang bukan hal sekolah, tapi sudah merambah ke ranah pribadi.

"Ya ampun... untung saja" Marini akhirnya bernapas lega.

"Kamu sih... Ah, eh, oh saja" Dini yang awalnya sedih pun tersenyum melihat ekspresi Marini.

"Tapi kamu memang berbakat akting Dini" Marini senang karena Dini mampu membuat Lusi diam.

"Kamu baru tahu kalau aku sedang menunggu audisi akting berbakat, hihihi" Dini mentertawakan kata-katanya diikuti Marini. Dua gadis itu akhirnya berpisah hendak masuk kelas masing-masing karena bel terdengar nyaring.

Ketika di depan pintu masuk, Dini berpapasan dengan Handoko. Pria itu akhir-akhir ini terlihat mendiamkan dirinya tanpa Dini tahu apa penyebabnya.

"Han, kamu kenapa sih?" Tanya Dini selagi ada kesempatan.

"Tidak... tidak apa-apa Dini, kita masuk yuk" Handoko masuk lebih dulu meninggalkan Dini kemudian ke kursi masing-masing.

"Handoko kok sekarang menjauhi aku kira-kira kenapa ya, Ri?" Dini akhirnya bertanya kepada Lestari.

"Kamu tidak peka sih Ni, Dia itu kecewa karena kamu jadian sama Pak Aksa" bisik Lestari agar tidak didengar Handoko.

"Ya Allah kenapa jadi begini sih..." Dini menjatuhkan rahangnya ke genggaman tangan, siku di atas meja. Dia merasa hubungannya dengan Aksa semakin rumit. Banyak sekali yang tidak senang. Yang pertama ibunya sendiri, Lusi, Handoko dan entah siapa lagi.

"Tenang Dini, anggap saja ini ujian sebelum kamu dan Pak Aksa nanti akhirnya hidup bahagia" Lestari mengusap bahu sahabatnya.

"Iya, Ri..." Dini menurunkan tangan lalu ambil buku pelajaran jam pertama sebelum gurunya tiba. Ia harus semangat tidak mau terlalu berpikir diluar pelajaran sekolah. Ia ingin mendapat nilai bagus dan bisa masuk perguruan tinggi negeri, itulah cita-cita nya.

Tidak lama kemudian terdengar derap langkah sepatu guru Kimia yang akan mengisi materi pagi itu. Dini membuang semua masalah fokus belajar hingga waktu istirahat.

Jika semua siswa siswi berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi perut, Dini tetap duduk membuka handphone.

"Dini... aku berangkat."

Dini membaca chat Aksa yang baru saja dikirim, tapi tidak mau membalas pesan tersebut justru berjalan tergesa-gesa ke parkiran motor.

Tidak jauh dari tempat itu Dini berhenti, matanya menyapu ratusan motor mencari sosok pria yang ia sayang, dan ternyata sudah berada di samping kendaraan roda dua itu. Bibir Dini tersenyum lalu melanjutkan perjalanan menghampiri Aksa.

 Aksa ambil jaket yang ia gantung di stang motor lalu memasang di badan tidak menyadari kehadiran Dini.

"Pak..." Dini berdiri dari jarak satu meter menunggu Aksa yang akan melewati tempat itu.

"Kamu..." Aksa tersenyum menatap Dini yang tampak menjaga jarak darinya. Aksa menarik motornya mundur berhenti di depan Dini.

"Hati-hati ya, Pak" ucap Dini tulus memandangi Aksa yang sudah starter.

Aksa yang sudah memasang helm hanya mengangguk kemudian pergi meninggalkan Dini. Matahari siang itu cukup terik tapi dengan banyaknya pohon tidak membuat tubuhnya kepanasan. Sebelum lanjut ke kota, Aksa ke rumah ibunya dulu.

"Kamu yakin akan ke rumah Ayah kamu?" Tanya Wati masih tidak rela harta satu-satunya pergi ke rumah orang yang dulu pernah berniat menjualnya.

"Ibu... doakan aku ya, aku bukan anak balita lagi. Jadi, ibu jangan khawatir" Aksa mengusap punggung tangan Wati agar tenang. Ibu kandungnya sendiri pun sangat takut kepada Burhan, apa lagi Dini. Aksa semakin tidak sabar ingin tahu sejahat apa ayahnya hingga usianya sekarang pun bu Wati masih trauma.

"Tapi..." Wati meneteskan air mata membayangkan hal buruk akan menimpa putranya.

"Ibu... binatang buas pun tidak akan makan anaknya sendiri. Percayalah" Aksa mencium punggung tangan Wati lalu pergi.

"Berangkatlah Nak" pada akhirnya Wati melepas putranya setelah sekian tahun selalu ia larang.

Aksa menyusuri jalan berliku yang membentang di pinggir sawah-sawah perkampungan. Siang itu tampak sepi karena belum ada kegiatan cocok tanam. Keadaan tanah pun masih retak-retak belum dialiri irigasi.

Suara mesin motornya menggumam keras melewati jalan tanah bebatuan, hingga satu jam kemudian mesin berubah lembut ketika jalanan mulai berubah. Dari jalanan terjal menjadi jalan aspal yang lebar yaitu kota. Aksa mempercepat motornya, merasakan adrenalin yang meningkat hingga tiba di depan rumah yang di pagar tinggi.

"Ini alamat yang ibu berikan, jika benar rumah ini milik Ayah, berarti sangat kaya" gumam Aksa menoleh kanan kiri tapi tidak ada bangunan lain di sekitar. Entah mengapa ayahnya mendirikan tempat tinggal yang jauh dari penduduk. Hingga usianya 29 tahun ia belum pernah datang ke rumah itu karena ibunya selalu melarang. Minta alamat pun baru malam tadi diberikan.

Aksa menekan bel, cukup lama juga ia menunggu pagar dibuka. Hingga akhirnya muncul pria berbadan tegap.

"Siapa Anda?" Tanya dua pria berseragam seperti algojo hendak memenggal leher Aksa.

"Benarkah ini kediaman Pak Burhan?" Aksa balik bertanya.

"Ditanya malah tanya! Siapa kamu?!" Bentak satu pria dan yang satu lagi melotot tajam.

"Saya anaknya Pak Burhan" Aksa tetap menjawab sopan walau disambut sinis.

"Hahaha... sudah biasa, orang miskin selalu mengaku-ngaku!" Dua pria yang tak lain penjaga rumah tersebut tertawa lebar. Dia pikir Aksa pura-pura. Ia merasa jika Aksa hanya ingin minta sesuatu. "Kalau mau ngemis ke tempat lain saja!" Lanjutnya sinis.

Mendengar kata mengemis Aksa naik darah, tangannya mengepal kuat, jika pria itu bukan pekerja rasanya ingin menonjok.

"Saya memang anak Burhan, izinkan bertemu sebenar saja" Aksa masih juga menahan emosi. Namun, dua pria itu bukan mengizinkan Aksa masuk justru mengusir.

Kesabaran Aksa pun habis lalu nekat menerobos dua penjaga dengan mudah. Tiba di dalam pagar Aksa harus melawan mereka. Dua lawan satu Aksa masih bisa menandingi. Namun, mata Aksa membelalak ketika satu pria dari mereka menarik pistol dari pingggang.

Dooorrr....

...~Bersambung~...

1
Darti abdullah
luar biasa
Eka ELissa
knpa tu Lusi..... entahlah hy emk yg tau.....
Buna Seta: Jangan jangan bunting
total 1 replies
Attaya Zahro
typo kak..yang memberi Burhan bukan Ringgo
Attaya Zahro: Iya kak 😍😍
total 2 replies
Ita rahmawati
ada apa nih dg bu lusi
Ita rahmawati
polisi dateng,,apakah 22 nya ditangkep 🤔
Eka ELissa
nah lohh.... Burhan Ringgo msuk bui.,. tu bersiap udh di jmput mo di bawa ke hotel 🏨🏨🏨 prodeo 😄😄😄😄🤭
Buna Seta: Kapok dia 😁
total 1 replies
neng ade
aku hadir disini thor .. 🙏😍
Buna Seta: Lanjut ya
total 1 replies
Ita rahmawati
aksa kah yg dateng atau orang lain
vj'z tri
🫣🫣🫣🫣 semoga selamat 🫣🫣
Eka ELissa
Lusi pa Ringgo.....yg culik....dini... entahlah hy emak yg tau...
Eka ELissa
aduh....Bu ..dini....di culik tau ...smoga GK knpa2....yaaa......🤦🤦🤦
Bu Kus
lanjut
Fitriah Fitri
pleazee thor ... 2 bab tudey. nti sore up lg kan dr kmrn 1 bab trs up nya
Buna Seta: Lagi galau say, retensi buruk 😭
total 1 replies
vj'z tri
sabar Mak sabar tanya pelan pelan jangan langsung gas 🤭🤭🤭🤭
Ita rahmawati
siapa ya yg nyulik,,lusikah atau ringgo kah atau ada lg orang baru 🤔
Eka ELissa
dini....pak....msih inget kan kmu...😡😡😡
Ita rahmawati
hadeuh siapa nih yg bekap dini
Attaya Zahro
Jangan² nih kerjaan si Bu Lusi,.dan malah membuat Aksa jadi salah paham ma Burhan..
Attaya Zahro
Waduh..Dini di culik..tolong Dini Bang Aksa
Bu Kus
lebih baik jujur aja dini kan Aska gak tahu dengan kamu jujur pasti akan bertindak jangan main curiga nanti kamu nyesel lho
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!