NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: PENGEPUNGAN PARA UTUSAN

BAB 17: PENGEPUNGAN PARA UTUSAN

Udara di depan kontrakan Arga mendadak statis, terasa seperti tersengat listrik. Puluhan mesin motor yang menderu rendah terdengar seperti geraman anjing kelaparan. Arga berdiri di ambang pintu, melindungi ibunya yang masih lemah di belakang punggungnya.

Di depannya, paket besar yang dikirimkan oleh "Ayah" itu tergeletak diam. Labelnya berdenyut merah, seolah ada jantung yang berdetak di dalam kardus tersebut.

"Arga... jangan ambil paket itu," bisik ibunya dengan suara bergetar. "Itu adalah umpan."

Salah satu kurir di barisan depan, yang memiliki angka 28 di punggung jaketnya, turun dari motor. Ia membuka kaca helmnya, namun di baliknya tidak ada wajah—hanya ada kegelapan yang pekat dengan dua titik cahaya kuning kecil sebagai mata.

"Nomor 30 adalah posisi yang kosong," suara kurir itu bergema, dingin dan mekanis. "Gudang membutuhkan keseimbangan. Jika kau tidak mau menjadi bagian dari kami, maka kau harus menjadi paket kami."

Tiba-tiba, puluhan kurir itu serentak mengangkat tangan mereka. Cahaya dari angka-angka di telapak tangan mereka (1 hingga 28) menyatu, membentuk jaring laser gaib yang mengurung rumah Arga.

Arga melihat ke telapak tangannya yang kini berangka 0. Angka itu tidak bersinar seperti milik mereka. Angka itu hitam, seolah-olah menyerap semua cahaya di sekitarnya.

"Ibu, masuk ke dalam kamar mandi, kunci pintunya! Apapun yang terjadi, jangan keluar!" perintah Arga.

Begitu ibunya aman, Arga kembali menatap paket itu. Ia teringat aturan nomor satu yang kini terasa sangat ironis: Jangan buka paketnya. Namun, ia juga ingat apa yang dikatakannya di Sektor 00: bahwa ia adalah akhir dari kontrak ini.

Arga tidak membuka paket itu dengan tangan. Ia menginjak label pengiriman tersebut dengan kakinya yang kini terasa sangat berat.

BOOM!

Bukan ledakan api yang keluar, melainkan asap abu jenazah yang sangat tebal. Asap itu menyelimuti halaman rumah, menghalangi pandangan para kurir nomor 1-28. Di tengah kabut itu, sebuah suara muncul dari dalam paket yang masih tertutup.

"Arga... ambil kuncinya... di dalam dadaku..."

Itu suara ayahnya. Arga menyadari bahwa paket ini bukan berisi bom atau kutukan biasa, melainkan sisa raga ayahnya yang dijadikan alat oleh Gudang untuk menjebaknya.

Arga nekat. Ia merobek sedikit bagian samping paket tanpa melihat isinya (agar tidak melanggar aturan secara total). Ia merogoh ke dalam. Tangannya terasa seperti masuk ke dalam air yang sangat dingin, lalu ia merasakan sesuatu yang keras dan bergerigi.

Ia menariknya keluar. Sebuah Kunci Tulang.

Seketika, angka 0 di tangannya berubah. Angka itu terbelah dan membentuk simbol Infinity (∞).

"Kau mencuri kunci utama!" teriak kurir nomor 28. Mereka semua serentak menyerbu ke arah pintu rumah Arga.

Arga mengayunkan Kunci Tulang itu ke udara. "Kalian semua terikat kontrak! Dan aku adalah pemegang kuncinya sekarang!"

Sebuah gelombang kejut berwarna hitam legam terpancar dari kunci tersebut. Satu per satu kurir yang mendekat langsung terpental, angka-angka di tangan mereka pecah seperti kaca. Motor-motor mereka meledak menjadi tumpukan sampah tua.

Namun, di tengah kekacauan itu, kurir nomor 28 tidak terpental. Ia justru tertawa.

"Kau pikir kunci itu untuk membebaskanmu?" kurir itu menunjuk ke arah dada Arga.

Arga melihat ke bawah. Kunci Tulang yang ia pegang mulai meresap masuk ke dalam kulit dadanya, tepat di atas jantungnya. Arga berlutut, merasakan sakit yang luar biasa seolah tulang rusuknya sedang dipatahkan dan disusun ulang.

"Kunci itu adalah tanda bahwa kau telah menerima jabatan sebagai Kepala Gudang yang Baru," ucap kurir 28 sambil membungkuk hormat. "Selamat datang di keabadian, Arga. Tugas pertamamu sudah menunggu."

Ponsel Arga yang tadinya mati, tiba-tiba menyala sendiri. Sebuah pesan baru muncul di layar yang kini berwarna merah darah:

"Tugas Utama: Antarkan nyawa wanita yang ada di dalam rumah ini ke Sektor Pusat. Waktu: 10 menit."

Arga menatap pintu kamar mandi di mana ibunya bersembunyi. Tangannya yang memegang kunci tulang kini tidak bisa berhenti bergetar. Kunci itu mengendalikan otot-ototnya, memaksanya untuk berdiri dan berjalan menuju arah ibunya.

Apakah Arga akan menyerah pada kendali Kunci Tulang dan mengorbankan ibunya, atau ia akan menemukan cara untuk mematahkan jabatan "Kepala Gudang" tersebut?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!