"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Gila Kael
Bumi terdiam, menatap tangan pria misterius yang memiliki wajah sangat mirip dengannya. Namun, sebelum ia sempat membalas uluran tangan itu, pria tersebut mendadak memudar menjadi butiran data digital, meninggalkan Bumi sendirian di tengah sisa-sisa kehancuran Depot Sektor 7. Hanya sebuah bisikan yang tertinggal: "Cari Kael. Dia tahu kuncinya."
Dua jam kemudian, di sebuah bungker bawah tanah tersembunyi yang jauh dari jangkauan radar Iron Cage, Bumi duduk bersandar di dinding beton. Tubuhnya masih bergetar, sisik-sisik hitam di lengannya belum sepenuhnya menghilang—tanda bahwa parasit itu kini telah menyatu dengan DNA-nya. Di sudut ruangan, Sarah sedang mengobati luka Genta, sementara Kael sibuk dengan belasan layar monitor yang menampilkan barisan kode merah yang terus mengalir deras.
"Siapa pria itu, Bumi?" tanya Sarah lirih, matanya penuh kekhawatiran melihat kondisi fisik Bumi yang kian mengerikan.
"Aku tidak tahu. Tapi dia tahu segalanya tentang tempat ini," jawab Bumi pendek. Ia kemudian menatap Kael yang tampak berkeringat dingin di depan komputernya. "Kael, hentikan itu. Jelaskan padaku apa yang terjadi dengan sistem tadi. Kenapa Sang Arbitrator tiba-tiba dipanggil kembali?"
Kael menghentikan jemarinya, lalu berbalik dengan wajah pucat. Ia menekan satu tombol, dan sebuah peta global muncul di layar utama. Titik-titik merah besar berkedip di setiap distrik utama di seluruh dunia.
"Sesuatu yang mustahil baru saja terjadi, Bumi," Kael memulai, suaranya gemetar. "Seseorang... atau sesuatu... baru saja menyentuh Terminal Zero. Itu adalah root dari seluruh sistem Iron Cage. Selama ini kami pikir itu hanya legenda, tapi tadi, akses ke sana sempat terbuka selama 0,3 detik."
Bumi menyipitkan mata. "Di mana lokasinya?"
Kael menarik napas panjang, lalu memperbesar peta tersebut. Titik itu berada jauh di bawah permukaan laut, tepat di bawah pusat administrasi Central Iron Cage yang selama ini dianggap sebagai surga.
"Terminal Zero adalah otak dari sistem ini. Tapi untuk masuk ke sana, ada protokol keamanan yang tidak bisa ditembus oleh kekuatan fisik apa pun. Kau bisa menjadi peringkat Monarch sekalipun, tapi kau akan langsung terhapus jika menyentuh gerbangnya tanpa ijin," jelas Kael.
Genta, yang sudah mulai sadar, mencoba duduk tegak. "Lalu apa gunanya kita tahu lokasinya jika tidak bisa masuk?"
"Karena ada satu celah," Kael menatap Bumi dengan pandangan yang benar-benar gila. "Celah yang disebut sebagai The Great Reset. Sistem ini dibangun seperti sebuah jaring laba-laba. Setiap distrik memiliki District Core (Inti Distrik) yang menyuplai energi ke pusat. Jika... hanya jika... semua Inti Distrik di satu wilayah besar dihancurkan secara serentak, sistem akan mengalami kegagalan fungsi total. Dalam kondisi itu, sistem akan melakukan reboot otomatis selama 60 detik."
Bumi mulai memahami arah pembicaraan Kael. "Dan dalam 60 detik itu, protokol keamanan di Terminal Zero akan mati."
"Tepat," Kael mengangguk cepat. "Tapi ini gila. Menghancurkan satu Inti saja sudah memanggil monster kelas Guardian. Jika kita menghancurkan enam Inti di wilayah ini secara bersamaan, kita akan memicu kiamat kecil. Seluruh pasukan Iron Cage akan turun, dan monster-monster terkuat akan keluar dari celah dimensi."
Bumi berdiri, meski kakinya masih terasa berat. Ia bisa merasakan parasit di jantungnya berdenyut, seolah menyetujui rencana gila ini. Kekuatan "setengah monster"-nya memberikan ia persepsi baru: ia bisa merasakan getaran energi dari Inti-inti tersebut bahkan dari jarak jauh.
"Berapa banyak orang yang kita butuhkan?" tanya Bumi.
"Setidaknya enam tim tempur peringkat tinggi untuk menyerang enam titik secara bersamaan," jawab Kael. "Tapi kita tidak punya pasukan, Bumi. Kita hanya bertiga, ditambah aku yang hanya seorang peretas."
Bumi berjalan menuju layar monitor, menatap titik-titik Inti Distrik tersebut. "Kita punya pasar gelap. Kita punya para budak yang baru saja kubebaskan di Zona Merah. Dan yang terpenting... kita punya kemarahan rakyat bawah yang sudah dipendam selama sepuluh tahun."
"Bumi, kau tidak sedang berpikir untuk memimpin revolusi, kan?" Sarah bertanya dengan nada cemas.
Bumi menoleh ke arah Sarah. Wajahnya yang kini memiliki guratan hitam permanen tampak sangat berwibawa namun menakutkan. "Ini bukan lagi tentang bertahan hidup, Sarah. Ini tentang meruntuhkan tembok penjara ini. Kael, siapkan siaran ilegal ke seluruh distrik. Aku akan bicara kepada mereka."
Kael ragu sejenak, namun kemudian jemarinya bergerak cepat. "Tiga... dua... satu... kau mengudara di semua perangkat Awakened di Sektor 7 hingga Sektor 1."
Bumi menatap kamera kecil di depan monitor. Di seluruh distrik, di sela-sela pertempuran dan penderitaan, wajah Bumi Aksara muncul di layar hologram setiap orang.
"Namaku Bumi Aksara. Peringkat Satu Sipil," suara Bumi bergema di seluruh penjuru kota. "Kalian mengenalku sebagai simbol keberuntungan, atau mungkin sebagai monster baru. Tapi hari ini, aku bicara sebagai sesama tahanan. Iron Cage telah memanen nyawa kita, menjadikan kematian saudara-saudara kita sebagai poin untuk kemewahan mereka. Malam ini, aku akan menyerang Inti Sektor 7. Siapa pun yang masih memiliki keberanian untuk menjadi manusia, hancurkan Inti di distrik kalian sendiri. Ambil kembali poin kalian, ambil kembali kekuatan kalian, dan biarkan dunia ini gelap sejenak agar kita bisa melihat cahaya yang sebenarnya."
Bumi mematikan siaran itu. Hening sejenak di dalam bungker.
"Sekarang, kita hanya perlu menunggu," gumam Bumi.
Tiba-tiba, layar monitor Kael berkedip-kedip hijau. Ribuan pesan masuk. Bukan makian, melainkan koordinat posisi dan pernyataan kesediaan dari berbagai kelompok pemberontak yang selama ini bersembunyi di bayang-bayang.
"Mereka merespons, Bumi!" seru Kael tak percaya. "Bahkan kelompok-kelompok tentara bayaran di Zona Merah mulai bergerak menuju Inti Sektor 5 dan 6!"
Namun, kegembiraan itu terputus saat sebuah getaran hebat mengguncang bungker mereka. Debu berjatuhan dari langit-langit. Kael segera mengecek radar.
"Sial! Mereka melacak siaran kita!" Kael berteriak. "Bumi, bukan pasukan Cleaners yang datang. Ini sesuatu yang lebih buruk."
Bumi berjalan menuju pintu keluar bungker, memanggil gada Winter’s Wrath yang kini terselimuti aura hitam kemerahan. Melalui sensor monster di dalam kepalanya, ia merasakan kehadiran entitas yang sangat besar tepat di atas mereka.
"Harlen... atau Arbitrator?" tanya Bumi.
Kael menatap layar radar yang menunjukkan satu titik putih raksasa yang tidak bergerak. "Bukan keduanya. Sistem baru saja melepaskan The Executioner of Code. Monster itu dikirim khusus untuk membunuh siapa pun yang mencoba menyentuh protokol Inti."
Bumi melangkah keluar ke permukaan, dan pemandangan di depannya membuatnya tertegun. Di langit yang gelap, sesosok malaikat mekanis tanpa sayap setinggi lima puluh meter melayang, memegang pedang cahaya yang panjangnya menyamai lebar jalan raya. Di bawah kaki monster itu, puluhan gedung sudah rata dengan tanah.
Monster itu menunduk, matanya yang berupa lensa kamera raksasa mengunci posisi Bumi.
"Target: Bumi Aksara. Status: Virus Terdeteksi. Prosedur: Penghapusan Massal Dimulai."
Bumi mengepalkan tinjunya, sisik hitam di tubuhnya berpendar terang. "Kael! Berikan aku koordinat waktu untuk serangan serentak! Aku akan menahan benda ini!"
Kael berteriak dari dalam bungker, "Bumi! Kau punya waktu 10 menit sebelum semua Inti harus hancur! Jika kau gagal menghancurkan monster itu, revolusi ini akan mati sebelum dimulai!"
Bumi melesat ke udara, meninggalkan ledakan sonik di belakangnya, langsung menuju ke arah wajah raksasa sang Executioner. Di tengah terjangan itu, sebuah suara misterius kembali muncul di kepalanya.
"Gunakan parasit itu, Bumi. Ubah kode monster menjadi senjatamu. Jika kau ingin menang, kau harus berhenti menjadi manusia sepenuhnya."
Bumi berteriak keras saat ia menghantamkan gadanya ke pedang cahaya monster itu. "AKU AKAN MENJADI APA PUN UNTUK MENGHANCURKAN KALIAN!"
Di kejauhan, ledakan pertama mulai terlihat dari arah Sektor 5. Revolusi telah dimulai, namun mampukah Bumi bertahan sepuluh menit melawan algojo sistem yang tidak terkalahkan?
Apakah Bumi akan benar-benar kehilangan kemanusiaannya demi menghancurkan Executioner? Dan siapakah sebenarnya pria yang terus membisikkan instruksi di kepalanya?