Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggal yang Ditentukan
Revan mematikan layar ponsel tanpa membalas. Ia kembali berbaring di tempat tidur, menarik napas panjang. Ia merasa hidupnya perlahan mulai ditarik ke arah yang tidak sepenuhnya ia pahami.
Dua hari kemudian, Aruna duduk di ruang tamu rumah orang tuanya dengan tangan saling bertaut. Jam dinding berdetak pelan, terdengar lebih nyaring dari biasanya. Surya duduk di seberangnya, wajahnya serius namun lembut.
“Ardian menghubungi Ayah tadi pagi,” ucap Surya akhirnya. “Mereka sudah menetapkan tanggal.”
Jantung Aruna berdegup lebih cepat. Meski ia sudah menduga, mendengar kalimat itu secara langsung tetap membuat dadanya terasa sesak.
“Kapan?” tanyanya pelan.
“Dua bulan lagi.”
Dua bulan. Waktu yang terlalu singkat untuk menyiapkan pernikahan dan terlalu cepat untuk menenangkan hati.
Aruna mengangguk pelan. “Baik, yah.”
Tidak ada penolakan. Tidak ada pertanyaan. Seolah ia sudah menyiapkan dirinya untuk jawaban itu sejak lama.
Surya menatap putrinya lama. “Aruna, ayah tidak ingin kamu merasa terpaksa.”
“Aku tidak terpaksa,” jawab Aruna jujur, meski suaranya bergetar tipis. “Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti.”
Ia bangkit, berjalan ke jendela. Di luar, hujan turun tipis, membasahi halaman. Pemandangan yang mengingatkannya pada banyak hal, tentang masa lalu, tentang rasa yang tidak sepenuhnya mati, dan tentang ketakutan yang belum sembuh.
Sementara itu, di rumah Maheswara, Ardian mengucapkan keputusan yang sama dengan nada yang tidak membuka ruang untuk perdebatan.
“Undangan akan mulai disiapkan minggu depan,” katanya di meja makan. “Pihak keluarga Aruna sudah setuju.”
Revan mengangguk singkat. “Baik.”
Jawaban itu membuat Ardian menatapnya tajam. “Kamu tidak keberatan?”
Revan mengangkat bahu. “Ini yang papa inginkan, bukan?”
Ardian tidak menjawab. Namun sebelum Revan beranjak, suara papanya kembali terdengar.
“Putuskan hubunganmu dengan Viona. Selesaikan secepatnya.”
Langkah Revan terhenti, ia terdiam beberapa saat.
“Papa tidak ingin ada bayangan masa lalu dalam pernikahan ini.”
Revan tidak menoleh. “Aku akan mengurusnya.”
Ia pergi dengan rahang mengeras, membawa satu beban lagi di dadanya.
Malam itu, Revan pergi menemui Viona. Mereka bertemu di sebuah kafe eksklusif yang biasa mereka datangi dulu. Viona sudah duduk lebih dulu, mengenakan gaun gelap yang mempertegas aura percaya dirinya.
“Kamu dari mana aja sih, aku udah nunggu lama,” katanya tanpa senyum.
“Maaf, tadi aku ada urusan sebentar,” jawab Revan singkat.
Viona menatapnya, lalu tersenyum miring. “Urusan mengenai perjodohanmu?”
Revan terdiam sesaat. “Tanggalnya sudah ditetapkan.”
Viona tertawa pelan, namun tidak ada kehangatan di sana. “Jadi kamu menerimanya. Kamu akan menikah.”
“Ini bukan sesuatu yang perlu kita perdebatkan, Vio.”
“Oh, justru ini perlu,” potong Viona. “Karena kamu sudah janji padaku.”
Revan menatapnya dingin. “Aku tidak pernah menjanjikan pernikahan.”
“Tapi kamu tidak pernah benar-benar melepaskanku.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia duga. Revan berdiri. “Aku akan menikah, Viona. Dan setelah itu, aku ingin semuanya selesai.”
Tatapan Viona mengeras. “Kamu pikir perempuan seperti aku akan menerima ditinggalkan begitu saja?”
Revan tidak menjawab. Ia melangkah pergi, tidak menyadari bahwa keputusan itu akan menyalakan api yang jauh lebih besar.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat. Undangan dicetak. Keluarga besar mulai dihubungi. Nama Aruna Pramesti dan Revan Maheswara tertera berdampingan di kartu undangan berwarna krem beraksen emas.
Aruna memegang satu undangan itu lama di kamarnya. Nama itu terlihat indah. Terlalu indah untuk kenyataan yang akan ia jalani.
“Akhirnya terjadi juga. Aku bisa, aku mampu menjalaninya.” Nayara berbicara sendiri.
Ia mencintai Revan. Dan justru karena itu, ia takut. Takut berharap. Takut kecewa. Takut kembali menjadi perempuan yang berdiri sendirian setelah cintanya ditolak.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Revan duduk sendirian di kamarnya. Undangan yang sama tergeletak di meja. Ia menatapnya tanpa ekspresi. Aneh. Ia yang dulu selalu merasa terjebak, kini justru merasa ada sesuatu yang hilang bahkan sebelum pernikahan itu dimulai.
Ponselnya bergetar. Nama Viona muncul di layar. “Kalau kamu menikah dengannya, kamu akan menyesal.”
Revan menatap pesan itu lama, tidak langsung membalas. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah pernikahan ini benar-benar jalan keluar atau awal dari kehilangan yang lebih besar.
Ia duduk di pinggir tempat tidur, lampu kamarnya menyala memantulkan cahaya terang. Bayangan Aruna yang berjalan menjauh dari restoran masih tertinggal jelas di benaknya, langkahnya tenang seolah tidak ada apa pun yang bisa menggoyahkannya.
Revan tahu, ia baru saja membuat kesepakatan. Menikah tanpa melibatkan perasaan. Menjaga jarak. Tidak berharap. Bukankah itu yang ia inginkan sejak awal?
Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Viona. “Aku mau kita bicara. Sekarang.”
Revan memejamkan mata sejenak, lalu mengetik balasan singkat. “Besok saja. Aku capek.”
Balasan Viona datang hampir seketika. “Capek mempersiapkan pernikahanmu dengan perempuan itu?”
Revan menghela napas panjang. Ia tidak menjawab. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memilih mematikan ponselnya dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Revan mencoba tidur untuk meredam kekacauan di kepalanya.
Dua hari kemudian, keputusan itu diumumkan. Semua persiapan dilakukan sematang mungkin.Mulai dari undangan, suvenir, gedung pernikahan, dekorasi, katering, hingga dokumentasi ditangani oleh pihak wedding organizer yang sudah terkenal dan bergengsi. Sementara itu, baju pengantin dirancang dan dibuat oleh desainer ternama, sedangkan rias wajah dan tata rambut dipercayakan kepada MUA yang telah memiliki nama.
Pernikahan Aruna dengan Revan akan menjadi perhelatan yang besar dan mewah, karena semua teman dan kenalan dari keluarga Maheswara akan diundang.
Malam itu, Aruna duduk sendirian di apartemennya. Gaun pengantin tergantung rapi, ia memandangi pantulan dirinya di cermin, tenang di luar, gemetar di dalam.
“Aku bisa,” bisiknya pada diri sendiri. “Aku hanya tidak boleh berharap.”
Sementara itu, di kamarnya, Revan berdiri menatap ponselnya yang kembali menyala. Puluhan pesan tidak terbaca dari Viona memenuhi layar. Nada-nada amarah, tuntutan, dan kecemburuan.
Akhirnya, Revan memutuskan untuk menghubungi Viona.
“Apa maksudmu akan menikah?” suara Viona tajam begitu panggilan tersambung.
Revan terdiam sesaat. “Itu keputusan keluarga.”
“Hanya itu?” Viona tertawa kecil, pahit. “Jadi aku ini apa, Revan?”
Revan mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.
“Sudahlah Vio, aku tidak ingin berdebat. Aku capek.” Kemudian panggilan terputus.
Tidak berapa lama, di layar ponselnya, sebuah pesan baru masuk. Dari Aruna.
“Terima kasih sudah jujur. Aku akan menepati kesepakatan kita. Kamu tidak usah khawatir.”
Revan menghela napas, dalam hidupnya ia bertemu dengan dua orang perempuan. Yang satu berisi ketenangan yang rapuh dan yang satunya berisi kemarahan yang menyala.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar. Ia mungkin akan kehilangan satu dari mereka atau justru menghancurkan keduanya.