Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Confrontation
Setelah keberangkatan Axel yang dramatis dari area kampus, atmosfer di Fakultas Kedokteran tidak lantas kembali normal. Ada keheningan panjang yang ditinggalkan oleh raungan mesin Rolls-Royce itu, menyisakan partikel-partikel kecemburuan yang melayang di udara.
Sesilia berjalan menyusuri lorong panjang menuju laboratorium anatomi. Langkahnya teratur dan tenang, namun dibalik ketenangan itu ada beban berat yang ia simpan rapat-rapat. Axel mungkin akan bersikap acuh tak acuh seperti biasanya, tetapi tidak dengan Sesilia. Tatapan orang-orang padanya setelah pengumuman pertunangan itu sangat intens. Satu kesalahan saja, bisa membuatnya menjadi bahan gosip seisi kampus, apalagi namanya akan selalu dikaitkan pada sosok sempurna Axel Steel. Sesilia benar-benar harus bersikap dan terlihat sesempurna mungkin, agar tidak ada seorangpun yang bisa mengkritik monster tampannya itu.
Sesilia memang terkenal sebagai ratu kampus karena kecerdasan dan kecantikannya. Tetapi itu tidak cukup bagi beberapa orang yang sedikit iri pada keberuntungannya. Gadis itu kerap kali mendapat perundungan verbal dari beberapa seniornya, apalagi seniornya yang bernama Andin.
Senior yang seharusnya memberi contoh teladan, malah sibuk merundung gadis tidak bersalah sepertinya. Ditambah adanya sistem sosial di fakultas kedokteran yang sangat mengerikan. Mahasiswa miskin dan tanpa koneksi akan menjadi target pasarnya.
Andin adalah mahasiswi tingkat akhir, putri dari seorang pemilik jaringan klinik ternama di Jakarta. Selama bertahun-tahun, ia menganggap dirinya sebagai "ratu" fakultas.
Gadis itu cantik, cerdas dan berasal dari keluarga konglomerat. Namun kehadiran Sesilia, seorang gadis yatim miskin dan anak beasiswa menghancurkan impian Andin. Sesilia berhasil mendapatkan predikat sebagai ratu kampus yang ia dambakan. Apalagi gadis itu kemudian menjadi tunangan Axel Steel, yang membuat Andin semakin membencinya.
....
Saat Sesilia hendak memasuki ruang praktikum, tiga orang barbie cantik dengan pakaian modis dan serba mahal menghadangnya. Andin berdiri di sana, dikelilingi oleh dua orang pengikutnya.
"Mereka lagi." Bisik Sesilia malas, pada dirinya sendiri.
Wajah cantik Andin terlihat tajam dan kaku karena dipoles oleh riasan mahal, bak pemain antagonis sinetron azab murahan. Bibir merahnya yang tebal tersenyum sinis menatap perempuan yang dianggap rivalnya itu.
"Look who it is! The queen of the handsome CEO of Steel Group." Andin berteriak heboh.
Sesilia berhenti melangkah, matanya berpendar muak dan menampakkan wajah frustasi pada manusia di depannya.
"Hi, kak Andin. Long time no see." Gadis itu menjawab santai.
"Yeah, blah blah blah." Andin mencemooh. Matanya menelusuri tubuh Sesilia yang dibalut pakaian super mahal pemberian Axel.
"Wow, baru beberapa hari penampilan Cinderella kita sudah beruban jadi Princess yah, Amazing!"
Sesilia tidak menjawab. Masih tetap diam, wajahnya menampakkan ketenangan bak air danau yang jernih.
"So, Sesi baby. How much did it cost?" Andin bertanya.
"Huh? What do you mean?" Sesilia bertanya bingung.
"Of course, The money to pay the shaman who made Axel Steel fall for you."
"Shaman? Dukun? Ha! Stop the bullshit, Andin, I'm busy."
Andin tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, memperpendek jarak hingga bisa mencium aroma parfum lili putih yang melekat di tubuh Sesilia, parfum eksklusif yang harganya mungkin setara dengan biaya kuliah Andin selama satu semester.
"Kalau tidak pake dukun untuk memelet Axel Steel, berarti pake tubuh loh 'kan? Tell me, how You do it?" Andin berbisik pelan, penuh amarah.
Beberapa mahasiswa yang lewat mulai memperlambat langkah, mencuri dengar. Suasana menjadi sangat mencekam dan penuh tekanan.
Sesilia mengepalkan tangannya di balik saku jas putihnya.
"It's not your business, kak Andin yang terhormat. Stop being jealous of what other people have."
"Ow, sorry to say baby girl. I'm not jealous, I have everything over you. And you know what, Sesi. You mean nothing without Axel Steel. Just poor little girl." Setelah mengatakan itu, Andin tertawa-tawa bersama dua orang dayangnya.
Selasar itu mendadak sepi, hanya suara tawa Andin dan dayangnya yang terdengar. Semua orang berbisik-bisik pelan, beberapa ada yang mengambil dan merekam momen suram itu.
Sesilia bisa merasakan adrenalinnya meningkat. Jika ini adalah ia yang dulu, sudah dari tadi gadis itu akan menangis atau lari seperti pengecut. Namun, Sesilia yang sekarang berbeda, ia sudah bersinggungan dengan sosok dingin dan kejam seperti Axel Steel. Gangguan ini, hanya secuil kecil dari kehoror-an Axel empat tahun lalu.
Sesilia menarik napas panjang, menghirup udara kampus yang berbau antiseptik. Ia menatap mata Andin lamat-lamat dengan intensitas yang menakutkan, sebuah ketenangan yang ia pelajari dari cara tunangannya menghadapi musuh bisnisnya.
"Done?" tanya gadis itu pelan.
Andin tampak terkejut melihat gadis miskin itu tidak hancur oleh kata-katanya. "W...what?"
"Thank you, Kak Andin. For your advice." ucap Sesilia dengan nada yang sangat sopan namun mengandung sarkasme.
"Now is my turn to give you advice. Aku sadar, aku hanya Sesilia Kira, si gadis miskin yang secara mendadak menjadi tunangan CEO tampan dan kaya. Tapi kakak lupa bertanya, kenapa pria sehebat Axel Steel memilih 'gadis miskin' sepertiku daripada wanita 'berkelas' seperti anda, kak Andin yang terhormat?"
Sesilia maju selangkah, membuat Andin secara tidak sadar mundur.
"Mungkin karena dia tahu bahwa kekayaan bisa dibeli, tapi otak dan martabat tidak. Seharusnya kakak kasihan pada diri sendiri. Karena bahkan dengan semua uang ayahmu, kakak tetap tidak bisa membeli perhatian dari pria manapun tanpa harus merendahkan orang lain untuk merasa hebat."
Sesilia tersenyum, senyum yang paling dingin yang pernah ia tunjukkan. "Duniaku tidak akan tamat tanpa Axel, tapi duniaku saat ini sedang sangat luas karena laki-laki itu. Jika kakak ingin membuktikan bahwa aku tidak cocok dengan Axel Steel, buktikan melalui nilai ujian, bukan melalui mulut yang berbau sampah busuk! "
Setelah mengatakannya, Sesilia melangkah melewati Andin yang berdiri mematung dengan wajah memerah karena malu dan marah. Para mahasiswa yang menonton mulai berbisik, kali ini bukan memuja keserasian Sesilia dan Axel, melainkan mengagumi keberanian Sesilia yang tak terduga.
Di dalam laboratorium, Sesilia duduk di depan mikroskop. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia menyadari satu hal bahwa Axel benar. Dunia luar memang sangat kejam terhadap mereka yang mendadak berada di puncak.
Namun, di pergelangan tangannya, jam tangan biometrik itu bergetar pelan. Sebuah pesan singkat muncul di layarnya.
"I saw you, little girl. Very brave and strong person. Good job. Kau mulai belajar bagaimana cara menghancurkan serangga tanpa mengotori tanganmu. Monster tampan milikmu ini akan menunggu di lobi sore nanti."
Sesilia tersentak kaget. Axel ternyata melihat dan mendengarkan semuanya. Rasa aman yang aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. Gadis itu merasa sangat dilindungi oleh lelaki seperti Axel. Satu hal yang tidak pernah ia rasakan selama hidupnya. Dari ayahnya, ia hanya mendapat cambukan dan pukulan setiap hari.
Setitik air mata lolos dari mata kanannya, tetapi segera ditepis kasar. Ia tidak boleh menampakkan sisinya yang lemah ini kepada siapapun. Termasuk kepada monster itu.
Setelah mengambil jeda beberapa saat, gadis itu kembali fokus pada lensa mikroskopnya. Tekadnya sudah bulat, ia akan membuktikan pada dunia bahwa tanpa nama Steel di belakangnya, nama Sesilia akan tetap bersinar terang.
...
Di seberang sana, CEO tampan milik Sesilia sedang tersenyum bangga. Mengamati bagaimana wajah gadis kecilnya yang penuh tekad itu, membuatnya malah berkali-kali lipat lebih mempesona. Axel Steel jatuh cinta lagi dan lagi, pada sosok yang dulu sangat dibencinya.
"Miss you so much, Mine." Bisiknya pada udara kosong.
bau bau bucin😍😄