NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Buruk

Aku mendorong pintu kamar Lily sampai terbuka, lalu menutupnya kembali dengan bantingan keras.

Brak!

Aku melepaskan cengkeramanku di pergelangan tangannya.

Lily terhuyung mundur, memegangi tangannya yang merah. Dia menatapku dengan campuran rasa sakit dan amarah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Matanya yang biasanya lembut kini berkilat menantang.

"Kakak jahat!" teriak Lily, suaranya pecah oleh isak tangis. "Oliver baik! Dia satu-satunya orang di rumah ini yang memperlakukan aku seperti manusia, bukan seperti pengemis! Dia mengajariku main piano! Dia tidak menghinaku seperti Isabella!"

"Dia seorang Vane, Lily!" bentakku balik, napasku memburu. "Kebaikan mereka itu racun! Semakin manis rasanya, semakin mematikan efeknya!"

"Itu tidak benar! Kakak cuma cemburu!" Lily menghentakkan kakinya. "Kakak cemburu karena aku bahagia! Kakak ingin kita menderita terus supaya Kakak bisa terus merasa benar!"

Kata-kata itu menampar lebih keras daripada tangan siapa pun.

Aku maju selangkah, mencengkeram kedua bahu Lily dengan kencang. Aku menatap matanya dalam-dalam, berusaha menyalurkan ketakutan yang mencekikku ke dalam otaknya yang naif.

"Kau pikir aku melakukan ini karena cemburu?" tanyaku dengan suara bergetar. "Aku melakukan ini supaya kau tetap hidup, bodoh!"

Aku mengguncang bahunya.

"Tidak ada yang baik di sini, Lily! Sadarlah! Buka matamu!" desisku di depan wajahnya. "Di rumah ini, cuma ada dua jenis makhluk: pemangsa dan mangsa. Kita adalah mangsa. Dan kalau kau mulai berpikir serigala itu temanmu, kau akan dimakan hidup-hidup."

"Lepaskan aku..." rintih Lily, mencoba mendorong dadaku.

"Dengar aku!" Aku tidak melepaskannya. "Ingat Ibu? Ingat ceritanya? Ibu juga dulu gadis polos yang naif sepertimu. Dia jatuh cinta pada pria Vane yang tampan, kaya, dan terlihat 'berbeda'. Dia pikir dia spesial. Dia pikir cintanya bisa mengubah segalanya."

Bayangan ibuku yang kurus kering di ranjang kematiannya melintas di kepalaku. Wajahnya yang hampa, matanya yang kehilangan cahaya.

"Dan lihat apa yang terjadi padanya, Lily," suaraku merendah, menjadi bisikan horor. "Pria itu menghancurkannya. Pria itu membuatnya menyerahkan segalanya, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan dan penyesalan. Kau mau berakhir seperti itu? Hah? Kau mau mati konyol karena cinta monyet pada pria yang bahkan tidak tahu cara mencintaimu kembali?"

Lily berhenti memberontak. Dia menatapku dengan mata melebar ketakutan.

Bukan takut pada cerita itu.

Dia takut padaku.

Dia melihat kegilaan di mataku. Dia melihat paranoia yang telah menggerogoti kewarasanku.

"Kakak..." bisik Lily, air matanya menetes jatuh ke tanganku. "Kakak menakutkan..."

Kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam diriku.

Aku melepaskan bahunya seolah tersengat listrik. Aku mundur selangkah, napasku tersengal.

Aku melihat tanda merah bekas jariku di kulit bahu Lily yang pucat.

Ya Tuhan. Apa yang kulakukan?

Aku bersumpah akan melindunginya dari monster di rumah ini. Tapi saat ini, di kamar yang sunyi ini, akulah monsternya.

Lily mundur menjauh dariku, memeluk tubuhnya sendiri, menatapku seperti menatap orang asing yang berbahaya.

"Keluar," cicitnya pelan. "Aku mau sendiri."

Aku ingin minta maaf. Aku ingin memeluknya. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.

Aku berbalik dan berjalan keluar dengan kaki gemetar, meninggalkan adikku yang menangis ketakutan di pojok kamarnya yang mewah namun terasa seperti penjara.

***

Sarapan di Vane Manor biasanya adalah acara yang sunyi dan membosankan, hanya diisi oleh denting sendok perak dan gesekan halaman koran Financial Times yang dibaca Julian.

Tapi pagi ini, kesunyian itu terasa berbeda.

Kesunyian itu tajam. Berduri. Dan berbau mesiu yang siap meledak.

Aku duduk di ujung meja, mengoleskan selai ke atas roti panggangku dengan gerakan sepelan mungkin, takut suara pisau rotiku akan memicu ledakan nuklir. Di sebelahku, Lily menunduk dalam-dalam, matanya terpaku pada sereal di mangkuknya yang sudah lembek karena tidak dimakan.

Di ujung meja sana, Julian Vane sedang menatap tabletnya dengan wajah merah padam. Urat di pelipisnya berdenyut-denyut mengerikan.

Di sebelah kanannya, Lucas, si kakak tertua yang biasanya sombong dan bermulut besar, duduk menyusut di kursinya. Wajahnya pucat pasi, matanya bergerak gelisah, dan keringat dingin terlihat jelas di dahinya.

Ciarán duduk di seberang Lucas. Dia tenang seperti biasa, meminum kopi hitamnya, tapi matanya yang gelap terpaku pada layar ponselnya dengan intensitas yang mematikan.

"Jelaskan ini," geram Julian tiba-tiba. Suaranya rendah, tapi getarannya membuat gelas air di meja bergetar.

Julian melempar tablet itu ke arah Lucas.

Tablet itu meluncur di atas meja kayu ebony yang licin, berhenti tepat di depan piring Lucas yang masih penuh. Layarnya menyala, menampilkan grafik saham yang menukik tajam ke bawah. Sebuah garis merah curam yang menandakan bencana.

VANE ENTERPRISES: SAHAM ANJLOK 15% DALAM PERDAGANGAN PRAPEMBUKAAN.

"Ayah, aku bisa jelaskan," kata Lucas cepat, suaranya pecah karena panik. "Itu... itu hanya fluktuasi pasar sementara. Sentimen investor sedang—"

"Sentimen investor?!" Julian meledak.

Dia berdiri kasar, melempar serbet kainnya ke piring dengan amarah yang tidak tertahankan.

"Jangan bicara omong kosong padaku, Lucas! Ini bukan sentimen! Ini kebodohan!" teriak Julian, suaranya menggema di seluruh ruang makan yang luas. "Kau menandatangani kontrak akuisisi dengan Valkov Industries tanpa due diligence! Kau membeli perusahaan cangkang kosong seharga lima puluh juta dolar!"

Nama itu membuat Ciarán akhirnya mendongak.

Valkov.

Aku tidak tahu siapa Valkov, tapi dari cara Ciarán menyipitkan matanya, aku tahu itu bukan nama sembarangan. Itu nama musuh.

"Mereka memalsukan laporan keuangannya, Ayah!" bela Lucas putus asa. "Data yang mereka berikan terlihat sah! Audit internal bilang—"

"Audit internal yang kau bayar supaya tutup mulut?" potong Ciarán.

Semua mata beralih ke Ciarán.

Ciarán meletakkan cangkir kopinya dengan pelan. Suaranya datar, tidak berteriak seperti Julian, tapi jauh lebih mematikan.

"Aku sudah memperingatkanmu minggu lalu, Lucas," kata Ciarán dingin. "Valkov sedang memancing. Dia butuh uang tunai cepat untuk menutupi kerugian kasino-nya di Makau. Dia melempar umpan, dan kau..." Ciarán menatap kakaknya dengan jijik murni. "...kau memakannya bulat-bulat seperti ikan bodoh."

"Kau iri padaku!" Lucas memukul meja, mencoba menyerang balik meski posisinya lemah. "Kau iri karena Ayah memberiku proyek ini! Kau cuma ingin melihatku gagal!"

"Aku ingin perusahaan ini bertahan, Lucas," balas Ciarán tajam. "Lima puluh juta dolar hilang dalam semalam. Reputasi kita hancur di bursa saham. Dan sekarang Valkov sedang tertawa sambil menghitung uang kita di kapal pesiarnya."

Julian memijat pelipisnya, terlihat sepuluh tahun lebih tua dalam sekejap. Dia menatap putra sulungnya dengan kekecewaan yang menghancurkan hati.

"Keluar," desis Julian pada Lucas.

"Tapi Ayah—"

"KELUAR DARI HADAPANKU SEBELUM AKU MEMECATMU DARI JABATAN DIREKTUR!"

Lucas tersentak. Dia berdiri dengan gemetar, wajahnya merah karena malu dan marah. Dia melirik Ciarán dengan tatapan penuh kebencian, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan, membanting pintu di belakangnya.

Keheningan kembali turun. Tapi kali ini, keheningan itu terasa berat oleh beban kegagalan.

Eleanor, yang sedari tadi diam mematung, mencoba menenangkan suaminya. "Julian, tensimu..."

Julian menepis tangan istrinya. Dia menatap Ciarán.

"Bereskan ini," perintah Julian lelah. "Lakukan apa saja. Jual aset, potong anggaran, aku tidak peduli. Selamatkan harga saham kita sebelum penutupan pasar sore ini."

Ciarán mengangguk sekali. "Akan kuberikan kepala Valkov di atas piring perak."

Dia berdiri, merapikan jasnya, dan berjalan keluar dengan aura seorang jenderal yang akan pergi berperang.

Aku mengamati punggung Ciarán yang menjauh.

Untuk pertama kalinya, aku melihat retakan di benteng keluarga Vane. Mereka tidak tak terkalahkan. Mereka bisa berdarah. Dan Ciarán... dia adalah satu-satunya orang yang menahan benteng itu agar tidak runtuh.

Dan orang yang memikul beban dunia di pundaknya, biasanya butuh tempat untuk bersandar. Atau setidaknya... seseorang untuk menuangkan kopinya.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!